26/08/2026
Menjaga Akal Sehat di Tengah Badai Provokasi: Belajar Kebangsaan dari Jusuf Hamka
Di era disrupsi informasi saat ini, jari kita seringkali bergerak lebih cepat daripada pikiran kita. Klik, share, dan tiba-tiba sebuah narasi liar meledak menjadi kegaduhan nasional. Dalam sebuah perbincangan mendalam, tokoh pengusaha dan sosial, Jusuf Hamka (Babah Alun), memberikan "vaksin" mental yang sangat dibutuhkan bangsa ini: ajakan untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan tidak membiarkan diri kita menjadi "bahan bakar" bagi agenda para provokator.
1. Provokasi Menjual Ketakutan, Bukan Fakta
Jusuf Hamka dengan tegas menyoroti beredarnya narasi-narasi menakutkan yang sengaja diembuskan untuk membangkitkan trauma masa lalu, seperti tragedi 1998. Targetnya jelas: membuat kelompok minoritas, khususnya etnis Tionghoa, merasa terancam dan ketakutan hingga berpikiran untuk eksodus.Ulasannya: Ini adalah pola lama provokator. Mereka tidak menggunakan data, melainkan emosi (ketakutan). Kita harus sadar bahwa kemajuan teknologi, termasuk deepfake, kini digunakan untuk memfitnah secara personal dan menciptakan kekacauan. Menelan mentah-mentah informasi ini sama saja dengan membiarkan rumah kita (Indonesia) dibakar oleh orang lain.
2. Narasi Kebencian Meragukan Kesetiaan yang Sudah Final
Menjawab keraguan yang sering dilemparkan provokator, Jusuf Hamka menegaskan kembali cinta mati masyarakat minoritas pada Indonesia. Bagi mereka, Indonesia bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi tanah air tempat mereka dilahirkan, dibesarkan, dan kelak menutup usia.Ulasannya: Provokasi sering kali menggunakan sentimen rasisme untuk mengadu domba. Dengan memahami bahwa kesetiaan seluruh elemen bangsa—termasuk etnis Tionghoa—sudah final pada NKRI, kita mematahkan senjata utama para pemecah belah. Jangan biarkan stereotip yang dibangun hoaks merusak persaudaraan kita.
3. Move On dari Kebencian Politik, Fokus pada Kontinuitas
Alih-alih terjebak dalam dikotomi "pendukung si A" atau "pembenci si B" yang sering dipicu hoaks politik, Jusuf Hamka menunjukkan kedewasaan dengan mengapresiasi warisan kedelapan Presiden Indonesia. Dari Soekarno hingga Jokowi, semua memiliki jasa besar.Ulasannya: Provokasi politik sering membuat kita buta warna. Kita diajak untuk melihat keberlanjutan pembangunan, bukan sibuk mencari celah untuk membenci. Memahami sejarah dengan adil membuat kita tidak mudah disetir oleh narasi politik sesaat yang memecah belah.
4. Optimisme Adalah Racun Bagi Provokasi
Jusuf Hamka menularkan optimisme besar terhadap era pemerintahan Prabowo Subianto, yang ia juluki "Bapak Pemberantas Koruptor", serta fokusnya pada gizi anak bangsa.Ulasannya: Provokator menyukai keputusasaan. Ketika masyarakat optimis dan mendukung fokus pemerintah pada pemberantasan korupsi serta kesejahteraan rakyat, ruang gerak hoaks yang bertujuan menciptakan mosi tidak percaya pada negara akan menyempit dengan sendirinya.
5. Lawan Konflik dengan Kepedulian Nyata
Mungkin poin terkuat dari Jusuf Hamka adalah tindakannya. Ia mengingatkan bahwa ketimpangan sosial adalah bahan bakar konflik. Solusinya bukan saling curiga, tapi aksi nyata para pengusaha dan mereka yang mampunyai kecukupan untuk peduli dan membantu rakyat kecil.Ulasannya: Daripada sibuk berdebat di media sosial menyebarkan narasi kebencian yang dipicu hoaks, alangkah baiknya energi itu digunakan untuk berbagi (seperti gerakan nasi kuning gratis Babah Alun). Kepedulian sosial adalah perekat bangsa yang paling ampuh melawan provokasi.
Kesimpulan: Jadilah Pemilih Informasi yang Cerdas
Pesan Jusuf Hamka sangat jelas: Damai itu mahal, dan konflik itu menyengsarakan. Jelang masa transisi pemerintahan, angin provokasi akan berembus kencang. Kita berhak, bahkan wajib, menuntut ketegasan hukum bagi para provokator.
Namun, pertahanan utama ada pada diri kita sendiri. Jangan mau diadu domba. Mari kita saring sebelum sharing, lawan kebencian dengan kepedulian, dan jaga persatuan dengan akal sehat. Indonesia adalah rumah kita bersama.