07/05/2026
Ada pertanyaan sederhana yang jawabannya ternyata tidak sederhana: kenapa daerah penghasil komoditas unggulan tidak otomatis menjadi daerah yang makmur?
Jawabannya tentu tidak tunggal. Namun, salah satu faktor kunci terletak pada klaster khususnya pada bagaimana klaster industri belum berkembang secara utuh.
Ambil kakao sebagai contoh. Sulawesi menjadi tulang punggung produksi kakao nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen, sekitar 378 ribu ton per tahun, dari total produksi nasional 617 ribu ton. Angka yang besar. Tapi selama ini sebagian besar diekspor dalam bentuk biji mentah. Nilai tambahnya terbentuk di tempat lain, dinikmati oleh industri cokelat di negara lain.
Yang menarik, pendekatan klaster berbasis UMKM mulai dicoba di sana. Sulawesi Tengah kini ditetapkan sebagai lokasi piloting hilirisasi kakao nasional yang mengedepankan pengolahan berbasis UMKM, dengan program holding UMKM yang dirancang membangun kemitraan klaster antara pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga pembiayaan. Ini merupakan penataan ulang ekosistem dari hulu ke hilir.
Kopi punya cerita lain. Indikasi Geografis seperti Gayo, Java Preanger, dan Bali Kintamani sudah berhasil membangun identitas produk yang kuat di pasar global. Tapi tidak semua daerah penghasil kopi punya ekosistem pendukung yang sama dari pengolahan, pengemasan, akses ke buyer specialty, sampai infrastruktur pasca panen. Sertifikasi IG hanya efektif jika klaster di belakangnya juga kuat.
Inilah yang membedakan klaster industri yang efektif dengan yang belum berfungsi maksimal: bukan pada skala kawasannya, tetapi pada kuatnya keterhubungan antar aktor di dalamnya: petani, pengolah, lembaga riset, pembiayaan, dan pasar.
Daerah yang berhasil membangun koneksi itu tidak hanya mengekspor komoditas. Mereka mengekspor nilai.