22/08/2026
Prasakku jak laek seminggu sekali berpakaian adat🤔
Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Lombok Timur akan memiliki agenda baru dalam penggunaan seragam kerja. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tengah mematangkan kebijakan yang mengatur penggunaan pakaian adat secara rutin satu kali setiap bulan.
Kebijakan tersebut merupakan arahan Bupati Lombok Timur yang kini sedang diterjemahkan ke dalam aturan teknis. Sekretaris Daerah Lombok Timur, H. M. Juaini Taofik, mengatakan pemerintah daerah sedang menyiapkan pedoman sebagai dasar penerapan penggunaan pakaian adat bagi ASN.
Menurut Juaini, arahan Bupati cukup jelas, yakni menghadirkan penggunaan pakaian adat secara rutin dalam aktivitas kedinasan ASN setidaknya sekali dalam sebulan.
“Keinginan Bapak Bupati adalah agar penggunaan pakaian adat ini dijadwalkan secara rutin, minimal satu kali dalam setiap bulan,” ungkap Juaini.
Saat ini, Pemkab Lombok Timur tengah menyusun ketentuan yang akan dimasukkan dalam e-pairbook. Pedoman tersebut nantinya menjadi acuan, termasuk dalam menentukan hari penggunaan serta bentuk pakaian adat yang akan dikenakan.
Pemerintah daerah menargetkan penyusunan pedoman tersebut dapat dituntaskan pada 31 Agustus 2026. Setelah ketentuan resmi diterbitkan, kebijakan penggunaan pakaian adat diharapkan mulai diterapkan pada September mendatang.
Di tengah rencana tersebut, sejumlah netizen justru menilai penggunaan pakaian adat tidak cukup jika hanya dilakukan sebulan sekali. Mereka mendorong agar ASN bisa mengenakan pakaian adat setidaknya satu kali dalam seminggu, sehingga keberadaan budaya lokal benar-benar terlihat dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat seremoni atau peringatan hari tertentu.
Bagi sebagian masyarakat, ASN dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi contoh. Ketika para pelayan publik mengenakan pakaian adat secara rutin, masyarakat, terutama generasi muda, akan semakin akrab dengan identitas budaya daerahnya.
“Kalau bisa jangan sebulan sekali, tapi seminggu sekali. ASN itu bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Jangan sampai anak-anak kita lebih hafal budaya luar daripada pakaian adat daerahnya sendiri,” tulis salah seorang netizen.
Komentar lainnya menyebut pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan berbicara tentang adat, tetapi harus diwujudkan melalui kebiasaan.
“Budaya tidak akan luntur kalau terus dipakai dan diperkenalkan. Pakaian adat bukan sekadar kain dan model pakaian, tetapi ada identitas, sejarah dan jati diri di dalamnya,” tulis netizen lainnya.
Dorongan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan semata-mata tugas budayawan atau pemerintah. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal.
Sebab, budaya yang hanya disimpan di lemari lama-kelamaan bisa menjadi kenangan. Sebaliknya, budaya yang dikenakan, diperkenalkan dan dibanggakan akan terus hidup bersama zaman.
Pada akhirnya, pakaian adat bukan hanya tentang apa yang dikenakan di tubuh, tetapi tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Di tengah derasnya perubahan zaman, mengenakan pakaian adat bisa menjadi cara sederhana untuk berkata kepada generasi berikutnya: jangan sampai kita mewariskan kemajuan, tetapi kehilangan jati diri.