02/01/2026
Bandung, 2001: Kota yang Belajar Hidup dari Ide
Pada awal 2001, di sebuah sore yang dinginnya menempel di kulit, deretan motor tua memenuhi halaman sebuah rumah kontrakan di Tubagus Ismail. Di dalamnya, lantai keramik ditutupi kaus polos berwarna putih, bau tinta sablon masih hangat, dan suara radio kecil memutar lagu dari Pure Saturday. Beberapa anak muda duduk mengelilingi meja lipat, menghitung uang receh hasil penjualan minggu lalu. Jumlahnya tidak banyak. Tapi cukup untuk menunda kepulangan ke rumah orang tua.
Indonesia belum sepenuhnya pulih dari krisis 1998. Banyak perusahaan masih menahan rekrutmen. Di Bandung, kota yang sejak lama menumpuk sekolah seni, desain, dan teknologi—Institut Teknologi Bandung, UNIKOM, Universitas Pasundan, ISBI Bandung—jumlah lulusan terus bertambah, sementara lowongan kerja berjalan lebih pelan. Banyak dari mereka yang tinggal di kos-kosan sekitar D**o dan Dipatiukur harus mencari jalan sendiri.
Pada masa itulah distro mulai tumbuh. UNKL347 dan Ouval Research sudah membuka toko kecil mereka sekitar pergantian milenium. Wadezig, Screamous, dan Airplane System menyusul tidak lama kemudian. Mereka menjual kaus, jaket, dan poster buatan sendiri. Barang-barang itu tidak dijual lewat etalase mengilap, melainkan lewat rekomendasi teman, titip jual di toko kecil, dan meja lipat di depan gigs kampus. Banyak yang pertama kali tahu sebuah merek karena melihatnya dipakai teman satu tongkrongan.
Malam hari di Bandung terasa akrab. Kafe kecil di sekitar D**o dan Jalan Riau menjadi tempat berkumpul. Poster konser dicetak hitam putih, ditempel di papan pengumuman kampus dan tiang listrik. Band-band seperti Mocca, Koil, Burgerkill, dan Pure Saturday mengisi ruang-ruang kecil itu, dan di antara penonton selalu ada desainer muda yang pulang membawa pesanan baru: membuat poster, sampul CD, atau logo sederhana.
Perlahan, aktivitas yang bermula dari kebutuhan itu mulai membentuk pola ekonomi. BPS Jawa Barat mencatat sejak pertengahan 2000-an, subsektor fashion dan desain menjadi salah satu yang pertumbuhannya paling konsisten di Kota Bandung. Bandung mulai dikenal sebagai tempat lahirnya merek lokal.
Tahun 2008, sekelompok arsitek, desainer, dan pegiat kota mendirikan Bandung Creative City Forum. Ridwan Kamil, yang saat itu dikenal sebagai arsitek dan penggerak komunitas, termasuk di antara pendirinya. Mereka mulai memetakan aktivitas kreatif yang tersebar di kota, menghubungkannya dengan pemerintah, dan merancang program Kampung Kreatif. Pada 2012, D**o Pojok, Cigondewah, Cicadas, dan Cibunut mulai dikenal sebagai simpul awalnya.
Angkanya kemudian menjadi jelas. Dalam laporan BPS Kota Bandung dan Bekraf antara 2013 hingga 2018, ekonomi kreatif tercatat menyumbang lebih dari dua puluh persen PDRB kota ini, dengan fashion, kuliner kreatif, desain, dan aplikasi digital sebagai tulang punggung.
Pada 2015, UNESCO memasukkan Bandung ke dalam jaringan Creative Cities Network sebagai City of Design. Pengakuan itu didasarkan pada kepadatan sekolah desain, studio arsitektur, ruang kreatif independen, dan keterkaitan desain dengan kebijakan tata kota—hal-hal yang sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari keseharian kota ini.
Jika sore ini kamu duduk di sebuah kafe kecil di Braga, mendengar suara mesin espresso dan melihat anak-anak muda bekerja di depan laptop, kamu sedang melihat kelanjutan dari cerita yang dimulai lebih dari dua puluh tahun lalu. Banyak dari mereka mungkin tidak tahu nama rumah kontrakan di Tubagus Ismail itu. Tapi mereka mewarisi jalannya: jalan di mana ide menjadi cara hidup.
Bandung tidak pernah benar-benar memilih untuk menjadi kota kreatif. Ia hanya menyesuaikan diri dengan orang-orang yang memutuskan bertahan di dalamnya—dan menemukan bahwa di antara dingin, kopi, dan lantai keramik yang dingin, selalu ada ruang untuk mencoba sekali lagi.