The Uncle Stories

The Uncle Stories Sharing stories, ideas, and conversations about creativity with Uncle Yunan

Ketika Ruangguru hadir, pendidikan Indonesia tidak lagi sekadar ruang belajar fisik atau soal yang harus diselesaikan. D...
04/02/2026

Ketika Ruangguru hadir, pendidikan Indonesia tidak lagi sekadar ruang belajar fisik atau soal yang harus diselesaikan. Dari meja kecil dua sahabat pada 2014, lahirlah platform yang menjembatani guru dan siswa, membuka akses, dan membentuk pemahaman. Melalui teknologi, pendanaan strategis, dan layanan edukatif, Ruangguru mengubah ribuan layar menjadi ruang belajar yang bermakna, mengajarkan bahwa setiap anak berhak didengar, dipandu, dan tumbuh.

Intinya begini:Kopi Kenangan dan Kopi Tuku bukan saling mengalahkan, tapi jalan di jalur yang beda. Kenangan menang kare...
03/02/2026

Intinya begini:
Kopi Kenangan dan Kopi Tuku bukan saling mengalahkan, tapi jalan di jalur yang beda. Kenangan menang karena ada di mana-mana dan selalu siap diminum. Tuku menang karena rasanya dekat dan bikin orang balik lagi. Dua-duanya berhasil, karena dari awal mereka tahu mau jadi apa dan konsisten di situ.

Jadi...kalau mau brand-mu dicintai, harus berani punya sikap.
25/01/2026

Jadi...kalau mau brand-mu dicintai, harus berani punya sikap.

Zero Post Syndrome adalah saat orang tidak pergi dari sosial media, mereka hanya berhenti terlihat. Like dan komentar tu...
13/01/2026

Zero Post Syndrome adalah saat orang tidak pergi dari sosial media, mereka hanya berhenti terlihat. Like dan komentar turun, tapi aktivitas pindah ke DM, grup kecil, save, dan share diam-diam yang tetap dibaca sistem namun tidak membangun keramaian publik. Akibatnya, brand tampak sepi padahal minat masih ada. Dampaknya, reach organik makin sulit, biaya iklan naik, dan keputusan beli makin sering lahir di ruang privat. Di era ini, yang tumbuh bukan yang paling ramai di feed, tapi yang paling sering dibicarakan diam-diam.

Di hiruk pikuk timeline yang isinya semua orang teriak “promo”, kita sering lupa satu hal kecil, manusia lebih percaya c...
11/01/2026

Di hiruk pikuk timeline yang isinya semua orang teriak “promo”, kita sering lupa satu hal kecil, manusia lebih percaya cerita dibanding produk itu sendiri.

Seth Godin menulis Purple Cow pada 2003, intinya sederhana, kalau produkmu tidak “remarkable”, ia lewat seperti angin. Dan data mendukung itu: Nielsen mencatat mayoritas orang paling percaya rekomendasi dari orang yang mereka kenal.

Jadi mungkin masalahnya bukan kamu kurang promosi. Mungkin kamu cuma belum memberi orang alasan untuk spontan bilang, “eh, ini kamu harus coba.”

Toko-tokonya pernah ramai.Angkanya pernah naik.Tapi fokusnya bocor pelan-pelan.7-Eleven Indonesia tutup bukan sekadar ka...
06/01/2026

Toko-tokonya pernah ramai.
Angkanya pernah naik.
Tapi fokusnya bocor pelan-pelan.

7-Eleven Indonesia tutup bukan sekadar karena rugi,
melainkan karena energinya habis di bertahan
dan tidak lagi punya ruang untuk menanam masa depan.

Tidak semua yang tutup itu kalah.
Sebagian berhenti karena sadar
masa depannya tidak ada lagi di sana.

Banyak kota kreatif di Indonesia  lahir dari meja kayu, cangkir kopi, dan pertemuan kecil lintas komunitas.Semua dibentu...
05/01/2026

Banyak kota kreatif di Indonesia lahir dari meja kayu, cangkir kopi, dan pertemuan kecil lintas komunitas.

Semua dibentuk oleh pertemanan, kepercayaan, dan keberanian merumuskan masa depan bersama.

Pariwisata hari ini tidak lagi dimulai dari brosur dan slogan. Ia dimulai dari rasa familiar yang tumbuh pelan-pelan di ...
05/01/2026

Pariwisata hari ini tidak lagi dimulai dari brosur dan slogan. Ia dimulai dari rasa familiar yang tumbuh pelan-pelan di layar.

Algoritma tidak mengangkat yang paling rapi—
ia mengangkat yang paling terasa dekat.

Orang jatuh hati dulu, baru beli tiket.

Pariwisata hari ini tidak lagi dimulai dari brosur dan slogan. Ia dimulai dari rasa familiar yang tumbuh pelan-pelan di ...
05/01/2026

Pariwisata hari ini tidak lagi dimulai dari brosur dan slogan. Ia dimulai dari rasa familiar yang tumbuh pelan-pelan di layar.

Algoritma tidak mengangkat yang paling rapi—
ia mengangkat yang paling terasa dekat.

Orang jatuh hati dulu,baru beli tiket.

Dari Limbah Rumah Tangga di Jombang, Miniatur Sepeda Ini Kini Dikoleksi DuniaDi Dusun Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jomba...
04/01/2026

Dari Limbah Rumah Tangga di Jombang, Miniatur Sepeda Ini Kini Dikoleksi Dunia

Di Dusun Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Jombang, pagi datang tanpa tergesa. Udara masih dingin, ayam baru sekali dua kali berkokok, dan dari sebuah rumah sederhana terdengar bunyi halus yang berulang. Suaranya bukan mesin. Hanya gunting kecil yang memotong plastik bekas. Pelan, rapi, sabar.

Di situlah Aji Wahyu Santoso duduk hampir setiap hari.

Sekitar tahun 2016, ketika usianya masih tujuh belas tahun, Aji mulai menghabiskan waktu di ruang tamu rumahnya untuk merakit miniatur kendaraan. Ia belajar sendiri dari internet, mencoba dan gagal, lalu mencoba lagi. Bahan-bahannya bukan dari toko kerajinan, melainkan dari apa yang tersisa di sekitar rumah. P**a PVC bekas, spons sandal, kabel tembaga, sedotan minuman, potongan kartu perdana seluler. Barang-barang yang sudah dianggap selesai tugasnya, ia kumpulkan dan ia bentuk kembali.

Awalnya yang lahir dari tangannya adalah miniatur motor kecil. Tidak lama kemudian ia jatuh cinta pada sepeda. Ia menemukan bahwa sepeda bisa dibongkar menjadi bahasa bentuk yang indah. Rangka, kabel rem, lipatan, jeruji roda, semuanya bisa diciptakan ulang dalam ukuran telapak tangan. Dari kartu perdana ia membentuk bidang rangka. Dari kabel bekas ia melilit detail. Dari p**a PVC ia membuat struktur yang kokoh. Lalu semuanya ia lapisi cat, perlahan, satu demi satu.

Miniatur-miniatur itu mula mula ia jual di car free day. Orang-orang berhenti, memandangi sepeda kecil yang tampak seperti sepeda sungguhan yang dikecilkan oleh waktu. Harganya masih ratusan ribu rupiah. Sebagian orang membeli karena kagum. Sebagian hanya bertanya bagaimana mungkin barang bekas bisa berubah jadi benda seindah itu.

Tahun 2020, Aji mulai dikenal sebagai pengrajin miniatur sepeda berbahan limbah rumah tangga. Ia sudah dibantu satu orang teman. Dalam sehari, dua sepeda mini bisa selesai. Pesanan datang dari luar kota, lalu dari luar pulau. Di rumahnya yang tenang itu, ia mulai mengirim karya kecilnya menyeberangi lautan.

Pada 2023, pesanan dari luar negeri menjadi rutinitas. Kolektor dari Amerika, Eropa, dan negara negara Asia memesan miniatur yang dibuat menyerupai sepeda asli milik mereka. Setiap minggu, hingga sepuluh paket berangkat dari Jombang menuju dunia luar. Harganya pun berubah, menyesuaikan detail dan kerumitan, dari ratusan ribu menjadi jutaan rupiah, bahkan setara ratusan dolar Amerika.

Usahanya dikenal dengan nama ACA Company. Bukan studio besar. Bukan pabrik. Hanya sebuah bengkel kecil di rumah, tempat bau cat masih menggantung di udara dan kartu kartu perdana bekas masih menumpuk di sudut ruangan.

Dan di sana, sampai hari ini, Aji masih duduk dengan posisi yang sama. Memotong. Menekuk. Menempel. Merakit. Seolah dunia belum benar benar mengetuk pintunya.

Mungkin karena baginya, yang terpenting bukan sejauh apa karyanya pergi, melainkan ketenangan yang ia temukan dalam mengubah sesuatu yang dianggap selesai menjadi sesuatu yang kembali bernilai.

Dari benda benda kecil yang pernah dibuang, ia belajar satu hal sederhana. Bahwa masa depan kadang tidak lahir dari hal besar, melainkan dari tangan yang sabar dan ruang kecil yang dibiarkan tetap jujur pada kerja sunyinya

Bandung, 2001: Kota yang Belajar Hidup dari IdePada awal 2001, di sebuah sore yang dinginnya menempel di kulit, deretan ...
02/01/2026

Bandung, 2001: Kota yang Belajar Hidup dari Ide

Pada awal 2001, di sebuah sore yang dinginnya menempel di kulit, deretan motor tua memenuhi halaman sebuah rumah kontrakan di Tubagus Ismail. Di dalamnya, lantai keramik ditutupi kaus polos berwarna putih, bau tinta sablon masih hangat, dan suara radio kecil memutar lagu dari Pure Saturday. Beberapa anak muda duduk mengelilingi meja lipat, menghitung uang receh hasil penjualan minggu lalu. Jumlahnya tidak banyak. Tapi cukup untuk menunda kepulangan ke rumah orang tua.

Indonesia belum sepenuhnya pulih dari krisis 1998. Banyak perusahaan masih menahan rekrutmen. Di Bandung, kota yang sejak lama menumpuk sekolah seni, desain, dan teknologi—Institut Teknologi Bandung, UNIKOM, Universitas Pasundan, ISBI Bandung—jumlah lulusan terus bertambah, sementara lowongan kerja berjalan lebih pelan. Banyak dari mereka yang tinggal di kos-kosan sekitar D**o dan Dipatiukur harus mencari jalan sendiri.

Pada masa itulah distro mulai tumbuh. UNKL347 dan Ouval Research sudah membuka toko kecil mereka sekitar pergantian milenium. Wadezig, Screamous, dan Airplane System menyusul tidak lama kemudian. Mereka menjual kaus, jaket, dan poster buatan sendiri. Barang-barang itu tidak dijual lewat etalase mengilap, melainkan lewat rekomendasi teman, titip jual di toko kecil, dan meja lipat di depan gigs kampus. Banyak yang pertama kali tahu sebuah merek karena melihatnya dipakai teman satu tongkrongan.

Malam hari di Bandung terasa akrab. Kafe kecil di sekitar D**o dan Jalan Riau menjadi tempat berkumpul. Poster konser dicetak hitam putih, ditempel di papan pengumuman kampus dan tiang listrik. Band-band seperti Mocca, Koil, Burgerkill, dan Pure Saturday mengisi ruang-ruang kecil itu, dan di antara penonton selalu ada desainer muda yang pulang membawa pesanan baru: membuat poster, sampul CD, atau logo sederhana.

Perlahan, aktivitas yang bermula dari kebutuhan itu mulai membentuk pola ekonomi. BPS Jawa Barat mencatat sejak pertengahan 2000-an, subsektor fashion dan desain menjadi salah satu yang pertumbuhannya paling konsisten di Kota Bandung. Bandung mulai dikenal sebagai tempat lahirnya merek lokal.

Tahun 2008, sekelompok arsitek, desainer, dan pegiat kota mendirikan Bandung Creative City Forum. Ridwan Kamil, yang saat itu dikenal sebagai arsitek dan penggerak komunitas, termasuk di antara pendirinya. Mereka mulai memetakan aktivitas kreatif yang tersebar di kota, menghubungkannya dengan pemerintah, dan merancang program Kampung Kreatif. Pada 2012, D**o Pojok, Cigondewah, Cicadas, dan Cibunut mulai dikenal sebagai simpul awalnya.

Angkanya kemudian menjadi jelas. Dalam laporan BPS Kota Bandung dan Bekraf antara 2013 hingga 2018, ekonomi kreatif tercatat menyumbang lebih dari dua puluh persen PDRB kota ini, dengan fashion, kuliner kreatif, desain, dan aplikasi digital sebagai tulang punggung.

Pada 2015, UNESCO memasukkan Bandung ke dalam jaringan Creative Cities Network sebagai City of Design. Pengakuan itu didasarkan pada kepadatan sekolah desain, studio arsitektur, ruang kreatif independen, dan keterkaitan desain dengan kebijakan tata kota—hal-hal yang sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari keseharian kota ini.

Jika sore ini kamu duduk di sebuah kafe kecil di Braga, mendengar suara mesin espresso dan melihat anak-anak muda bekerja di depan laptop, kamu sedang melihat kelanjutan dari cerita yang dimulai lebih dari dua puluh tahun lalu. Banyak dari mereka mungkin tidak tahu nama rumah kontrakan di Tubagus Ismail itu. Tapi mereka mewarisi jalannya: jalan di mana ide menjadi cara hidup.

Bandung tidak pernah benar-benar memilih untuk menjadi kota kreatif. Ia hanya menyesuaikan diri dengan orang-orang yang memutuskan bertahan di dalamnya—dan menemukan bahwa di antara dingin, kopi, dan lantai keramik yang dingin, selalu ada ruang untuk mencoba sekali lagi.

“Benang-Benang Kebahagiaan: Ketika Fashion Menjadi Rumah bagi Perempuan dan Tanahnya”Pernahkah kamu berada di sebuah rum...
29/12/2025

“Benang-Benang Kebahagiaan: Ketika Fashion Menjadi Rumah bagi Perempuan dan Tanahnya”

Pernahkah kamu berada di sebuah rumah kecil di kaki bukit, ketika siang melebur jadi jingga, dan suara jangkrik mulai saling bersahut di rerumputan? Di sana, di tengah desiran angin yang mengusap kain indigo dan putih, ada perempuan-perempuan yang duduk bersila, tangan mereka bergerak lincah — bukan sekadar untuk menjahit kain, tetapi untuk menenun masa depan.

Itulah suasana yang dilihat Denica Riadini-Flesch ketika mulai menjalani perjalanan yang kemudian menjadi cerita panjang bernama SukkhaCitta — sebuah brand fesyen berakar di Indonesia yang lahir pada tahun 2016. Nama itu sendiri, SukkhaCitta, berasal dari kata Sansekerta yang berarti “kebahagiaan”; sebuah pilihan yang tak sekadar estetis, tetapi mencerminkan niat yang lebih dalam untuk menautkan kehidupan, kerja, dan makna. 

Denica datang ke dunia kerajinan tradisional dengan latar yang tak biasa: sebelum SukkhaCitta lahir, ia adalah seorang ekonom pembangunan yang bekerja di World Bank. Dalam pekerjaannya itu, ia sering bepergian ke pelosok negeri, menyaksikan dari dekat bagaimana para perempuan perajin dengan cekatan membatik, menganyam, dan menyulam kain — namun usaha mereka sering kali tak dihargai secara adil. Bayaran rendah, peluang terbatas, serta praktik industri fesyen yang kerap merusak lingkungan membuat Denica bergumam: “Harus ada cara yang lebih baik.” 

Awal cerita SukkhaCitta bukan di meja kantor atau ruang rapat; ia dimulai di desa-desa, di kebun kapas di Ambarawa dan Jawa Timur, dan di rumah-rumah para ibus — sebutan hangat untuk para ibu perajin yang kemudian menjadi jiwa dari perjalanan ini. Denica belajar langsung dari mereka tentang warna tumbuhan: biru pekat dari daun indigo, coklat lembut dari kayu mahoni, kuning dari kulit buah jalawe. Alam — bukan pabrik — menjadi tempat pertama di mana setiap kisah kain dimulai. 

Kain yang lahir di tangan para ibus itu bukan sekadar produk. Ia adalah rekaman sejarah: hasil cengkeraman akar kapas yang ditanam secara tumpang sari — praktik pertanian tradisional di mana beberapa tanaman tumbuh bersama untuk memulihkan tanah yang lelah — dan pewarna alami yang tak mencemari sungai. Sebuah kain bisa memakan waktu hingga enam bulan sejak benih kapas ditanam hingga siap dipakai, mengingat setiap helainya dibuat dengan sabar dan sadar akan ritme alam. 

Aku membayangkan pagi di sebuah desa dekat Magelang. Kabut tipis belum sepenuhnya tertinggalkan, dan ibu-ibu sudah mengayunkan pena lilin batik di atas kain putih, sementara anak-anak mereka berlarian tanpa merasa tergesa. Suara tawa ringan dan obrolan kecil tentang cuaca atau tentang pupuk alami yang baru ditaburkan mengisi udara. Di luar, gentong-gentong besar berisi pewarna dibuat dari proses fermentasi daun; aroma tumbuhan basah berpadu dengan bau tanah yang baru digarap — wangi kehidupan yang tak bisa ditiru oleh mesin. 

SukkhaCitta bukan hanya soal batik, pewarna, atau kapas. Ia adalah perjalanan untuk memberi kembali nilai kepada perempuan-perempuan yang selama puluhan tahun menjaga tradisi, namun sering luput dari penghargaan ekonomi yang layak. Denica menolak model fast fashion yang serba cepat dan serba limbah, dan ia mengajak pembelinya untuk memikirkan ulang hubungan mereka dengan apa yang mereka pakai — bukan sebagai gaya semata, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada tangan yang membuatnya. 

Pengakuan internasional datang pada tahun 2023, ketika Denica menerima Rolex Award for Enterprise, sebuah penghargaan yang menghormati mereka yang menghadirkan solusi nyata sekaligus menantang cara lama kita melihat bisnis dan lingkungan. Namun dalam setiap pidato atau senyum kebanggaan, yang selalu kembali dalam benaknya adalah cerita para ibu di desa, bukan lampu sorot di panggung global. 

Kini, apa yang dilakukan SukkhaCitta telah melibatkan ratusan keluarga di beberapa wilayah Indonesia — dari Ambarawa hingga Lombok — dan terus memperluas jejaknya tanpa melupakan asal mula kisahnya: komunitas kecil, tanah yang subur, dan tangan-tangan yang tak pernah menyerah. 

Jika kamu pernah memegang sehelai kain SukkhaCitta, mungkin kamu akan merasakan beratnya yang berbeda — bukan sekadar karena seratnya yang alami, tetapi karena di dalamnya terkandung waktu, keringat, dan kebahagiaan yang dijahit bersama. Bukan kebahagiaan yang datang instan, tetapi kebahagiaan yang tumbuh perlahan, seperti kapas di ladang yang siap dipanen, saban musimnya.

Dan dari semuanya itu, kita diingatkan satu hal sederhana: bahwa nilai sejati bukan selalu berada di balik label atau harga, tetapi pada cerita siapa yang membuatnya, bagaimana mereka hidup, dan apa yang terjadi ketika tujuan bukan hanya tentang keuntungan — melainkan tentang rumah yang makin layak bagi semua yang tinggal di dalamnya.

Address

Manado

Telephone

+82188844481

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when The Uncle Stories posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share