04/08/2026
Malam per tama pernik ahan, suamiku memilih ti dur di sofa daripada menyen tuhku. Dan ternyata alasan di baliknya adalah....
***
Luruh sudah tub uh Nisa di balik pintu ka mar. Rasa ses ak di dadanya sudah tak mampu ia tahan. Nisa mengusap da danya berkali-kali. Berharap rasa s a k i t dalam hatinya itu bisa sedikit berkurang. Nisa berdiri dan langsung menjatuhkan tub uhnya di atas kas ur. Ia berjanji dalam hatinya tak akan tid ur sebelum lelaki halalnya itu pulang.
Nisa akan menuntut penjelasan pada lelaki halalnya itu, apa sebenarnya lelaki itu tutupi? Atau, mungkin saja lelaki itu tengah melakukan permainan tanpa melibatkan Nisa?
Jam dua puluh tiga lebih, Nisa mendengar deru mesin motornya mendekat ke kontrakan. Ia menatap cermin, membersihkan air mata yang telah mengering menghiasi wajah putihnya agar lelaki halalnya itu tak tahu. Nisa berusaha bangkit dan segera membuka pintu menyambutnya dengan senyuman.
Tak ada yang berubah, wanita itu seperti biasa mengambil tas dan menyimpan jaket lelaki halalnya di k a m a r. Yusuf pun langsung menuju k a m a r m a n d i untuk segera membersihkan diri.
B a j u tidu r dengan lengan panjang telah membalut tu buh kekar Yusuf. Nisa hanya duduk di ujung ranj ang menunggunya, ingin menanyakan Yusuf pergi kemana belakangan ini. Jika tidak masuk kerja, lalu lelaki itu kemana?
"Nisa, kenapa belum ti dur? Tadi pagi udah dibilangin, kan?"
"Nisa belum ngantuk, Mas. Nisa ingin menanyakan sesuatu pada Mas, sebenarnya. Mas, pergi kemana?" tanya Nisa dengan berusaha menatap mata Yusuf. Akankah di mata itu tersimpan banyak keboho ngan?
"Maksud kamu apa, Nisa? Saya kerja!"
Nisa tersenyum getir mendengar jawaban lelaki halalnya.
"Jangan b o h o n g kamu, Mas. Tadi Nisa ke kantor tempat kerjanya Mas, untuk mengantarkan makan malam. Nisa enggak tega kalau Mas sampai lupa makan karena sibuk kerja. Tapi, kata Pak satpam Mas cuti selama tiga hari. Lalu, Mas pergi kemana?" tanya Nisa dengan sedikit gemetar.
"Kamu tak perlu tahu urusan saya!" jawabnya dengan singkat. Wajah lelaki halalnya memerah.
"Mas, Nisa juga berhak tahu. Nisa itu istri sah Mas Yusuf."
"Nisa, dengarkan, saya terpaksa menikahi kamu. Pernik ahan kita itu tak lebih dari perni kahan di atas kertas. Saya cuma tak ingin disebut a n a k durha ka. Ngerti!"
Deg!
Da rah Nisa berde sir hebat. Nisa pikir Yusuf menik ahinya karena Allah. Namun, ternyata pikiran Nisa salah. Lalu, sekarang Nisa harus apa? Haruskah Nisa bercerita kepada Abi? Ah, tidak. Abi pasti kecewa berat. Lagi pula Abi pernah bilang. Cinta akan datang secara perlahan. Nisa tidak bisa memaksa Yusuf mencintainya, tapi Nisa yakin Yusuf akan luluh seiring berjalannya waktu. Bukankah Allah m a h a membolak balikkan h a t i?
Nisa, menahan lautan air matanya. Nisa tak akan membiarkan lautan air matanya tumpah di depan lelaki halalnya itu. Jangan perlihatkan bahwa dirinya itu lemah.
"Mas, apa Mas menganggap pernik ahan itu sebuah lelucon? Sehingga Mas menyebutnya perni kahan di atas kertas. Mas, pernik ahan itu ikatan suci. Bukan sebuah lelucon. Astaghfirullahal'adziim." Nisa berucap dengan da da yang semakin sesak.
"Saya capek! Saya mau istirahat!" sambungnya seraya membaringkan tubuhnya di kas ur dan menutup seluruh tubu hnya oleh selimut.
Seketika, Nisa keluar k a m a r seraya membawa selimut. Nisa m e m a t i k a n lampu ruang depan. Ia membaringkan tub uhnya di atas kursi. Untuk pertama kalinya Nisa tak sera njang dengan Yusuf. Meskipun satu ranj ang pun Yusuf tidak pernah menye ntuhnya.
Ada yang lebih menyakitkan dari sekedar memendam rasa, ialah saat kita melabuhkan cinta. Namun, pada seseorang yang salah. Jika ada orang yang menanyakan berapa kali Nisa menyerah dalam satu tahun ini, ketahuilah ia lupa untuk menghitungnya.
Namun, Rabbnya sungguh m a h a baik. P e r t o l o n g a n selalu datang dengan cara terbaik, melalui ayat-ayatNya, melalui berbagai peristiwa yang menorehkan hikmah. Semuanya berhasil menghapus air mata yang terlanjur jatuh itu.
***
Pagi ini Nisa bangun kesiangan. Ia tak sempat membuat sarapan. Ia langsung membeli nasi dan sate, juga beberapa aneka gorengan. Saat ia terbangun tadi, ternyata lelaki halalnya telah berangkat kerja.
Saat nasi telah berpindah ke perut, Nisa langsung mengumpulkan p a k a i a n ko tor untuk segera ia cuci. Seperti biasa, Nisa selalu mengecek setiap saku. Tiba-tiba ....
"Bekas Mas Yusuf belanja," ucap Nisa dengan lirih. Mata Nisa menyipit, mencoba mencerna hitam di atas putih itu. Namun ....
'Dddrrtt.'
"Mamah," ucap Nisa dengan pelan.
[Assalamu'alaikum, menantu Mamah yang cantik dan shalihah?]
[Wa'alaikumussalam, Mah. Iiih, Mamah bisa aja deh menggoda Nisa. Mamah, gimana kabarnya?]
[Mamah enggak menggoda, S a y a n g. Semua itu fakta. Alhamdulillah sehat, Nak. Gimana kabar kamu sama Yusuf?]
[Alhamdulillah kami sehat, Mah.] Nisa mengingat kejadian semalam. Namun, ia tak akan pernah permasalahan r u m a h tangganya itu terdengar oleh siapapun.
[Nak, nanti ke sini, ya? Mau ada acara empat bulanan keha milan Teh Arini.]
[In Syaa Allah, Mah. Nisa sama Mas Yusuf ke sana. Alhamdulillah, akhirnya Teh Arini mau jadi Ibu.] Nisa berucap bahagia mendengar kabar baik itu. Sehingga rasa sedih di hatinya sedikit teralihkan.
[Iya, semoga Nisa juga cepat nyusul, ya? Mamah pengen banget punya cucu dari Nisa.]
[In Syaa Allah, Mah. Doakan terus Nisa sama Mas Yusuf ya, Mah?] Nisa berharap, semoga r u m a h tangganya kedepannya baik-baik saja.
[Iya, Nak. Doa sudah pasti Mamah panjatkan untuk seluruh a n a k dan menantu Mamah. Mamah tutup dulu, ya, telponnya?]
[Baik, Mah.]
[Assalamu'alaikum? ]
[Wa'alaikumussalam.]
Setelah sambungan telpon itu berhenti, Nisa langsung kembali dengan niat awal yang akan mencuci p a k a i a n. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti saat matanya melirik kertas kecil itu. Dengan perlahan tangan putih itu mengambilnya, menatap setiap tulisan yang tertera di sana.
Bedak, s u s u ibu ha mil, b a j u atasan, rok, aneka jajanan, dan aneka minuman.
"Astaghfirullahal'adziim, Mas Yusuf membeli semua ini untuk siapa? S u s u ibu ha mil? Siapa yang h amil? Apa ini semua titipan Mbak Arini? Tapi kenapa enggak sama Mas Adit." H a t i Nisa menj erit. Entah akan ada drama apa lagi dalam r u m a h tangganya. Namun, Nisa berusaha berprasangka baik pada lelaki halalnya itu. Meskipun kejadian semalam mampu membuat hatinya itu berkeping-keping.
Nisa kembali menyimpan p a k a i a n yang akan dicucinya itu. Ponsel menjadi tujuannya, Mas Miqu tertera di layar ponsel yang menyala itu.
[Assalamualaikum, Mas. Maaf mengganggu waktu kerjanya.]
[Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, iya, ada apa Nis, nelpon saya?]
[Mas, kata Mamah nanti kita harus ke r u m a h Mamah. Ada acara empat bulanan Teh Arini. Acaranya setelah salat Maghrib.]
[Iya, saya usahakan pulang sore.]
[Baik, Mas. Nisa tunggu di kontrakan.]
Wanita itu akan menunggu lelaki halalnya itu. Kembali ia akan menuntut penjelasan. Meskipun pada akhirnya mungkin ia akan terluka. L uka bekas semalam pun tak kunjung sembuh, lalu akan ada kejutan apa lagi?
*
Setelah salat ashar, Nisa langsung berdandan di depan cermin. Matanya menatap wajah cantiknya dari pantulan cermin itu.
"Mas, apa Nisa seburuk itu di mata Mas Yusuf?" Nisa tersenyum ge tir menatap pantulan wajahnya.
Nisa menunggu Yusuf dengan duduk di kursi ruang depan dengan memakai pak aian serba hitam. Saat lelaki itu tiba di r u m a h, Nisa menyambutnya. Tak ada yang berubah dari sikapnya itu. Nisa kembali duduk menunggu lelaki itu selesai m a n d i. Karena, Nisa menunggu Yusuf dingin dulu. Jika pas pulang kerja menanyakan semua itu, Nisa takut yang ada hanya em osi dan am arah yang menyetir lelakinya.
"Sudah, siap?"
"S--sudah." J a n t u n g Nisa berdebar kencang, kala mata itu sedikit menatapnya.
"Mas, sebelum berangkat ada yang ingin Nisa tanyakan."
"Ada apa lagi sih, Nisa?" tanyanya dengan wajah yang kurang enak untuk dipandang.
Kerongkongan Nisa sedikit tercekat.
"Coba, Mas jelaskan ini semua?" pinta Nisa seraya menyodorkan kertas putih itu yang ditemukan tadi pagi.
Seketika Yusuf mengambilnya dari tanga putih Nisa. Rona wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Kamu dapat ini dari mana, Nisa?" tanyanya seraya mengusap ka sar wajah tampannya itu. Nisa tersenyum menatap wajah lelaki itu.
"Dari saku kemeja, Mas. T o l o n g jawab jujur, Mas. Nisa tak ingin ada keboho ngan dalam r u m a h tangga ini." Nisa berucap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Nisa! Kejujuran ini akan sangat menya kitkan, untukmu." Yusuf menatap Nisa dengan senyuman yang sulit Nisa artikan. Antara rasa bahagia atau sedih.
"Rasa sa kit? Semua itu sudah biasa untuk Nisa, Mas."
"Nisa, sudah saya bilang, bahwa perni kah an kita hanya pern ikahan di atas kertas! Saya tidak pernah mencintai kamu Nisa. Saya hanya menuruti keinginan Mamah saja, enggak lebih." Lelaki itu menjelaskan.
"Kenapa?"
"Kenapa, Mas tidak belajar untuk mencintai Nisa?" tanya Nisa dengan air mata yang mulai mengambang. Siap meluncur begitu saja.
"Tidak! Saya tidak ingin belajar mencintai kamu."
"Sekeras itukah hatimu, Mas?" Nisa menatap mata lelakinya itu.
"Lalu, s u s u ibu ha mil, siapa yang ha mil, Mas?"
"Sudah! Sekarang rapikan semua pakaianmu, masukkan ke tas! Nanti saya jelaskan di r u m a h Mamah," ucapnya seraya pergi menuju teras meninggalkan Nisa yang masih mematung di dekat kursi.
Seketika, lautan air mata sudah tak mampu dibendung lagi. Terlalu sak it.
"Sehi na inikah aku di matamu, Mas? Sehingga aku tak layak untuk kamu cintai?" D a d a Nisa semakin terasa se sak.
.
Bab 05
Baca sselengkapnya di KBM App sudah TAMAT hanya 25 bab saja
Yuk, lanjut baca kisah selengkapnya di aplikasi KBM!
📖 Judul: Berlian yang Ditemukan
✍️ Karya: TehAmiLaila