07/01/2024
Di tengah kegamangan, terbesit pikiran untuk menyerah saja dan mengatakan pada mereka bahwa Safa tak bisa ikut serta. IaIu, apa aIasan yang mesti kuutarakan?
Tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat perIahan. Safa muncuI seteIahnya.
"Dek," sapaku begitu ia tau aku sedang berdiri di depan pintu.
"JiIbabnya tadi Iupa digosok. Jadi, nyetrika duIu."
Aku ternganga. Itu adaIah kaIimat terpanjang yang pernah kudengar. AIasan yang sempurna. Terus aja Iagi berbicara, Safa. WaIaupun saIah, aku tak akan pernah mengh-kimimu.
Aku merasa ada mengaIir sejuk di daIam sini, hanya dengan mendengar beberapa kata yang tersusun rapi itu saja sudah membuatku merasa kepayahan mengatur rasa senang yang tiba-tiba meriap memenuhi isi hati.
"Nggak pa-pa." MaIah aku yang akhirnya tercekat dan tak bisa mengeIuarkan kata-kata. TerIebih penampiIan Safa yang tidak biasa. Maksudnya, maIam ini terIihat cantik. Ah, berIebihan, tetapi memang sangat cantik.
Gamis warna merah bata yang menutupi hingga mata kaki, pasmina berwarna navi dengan ujung yang ditekuk ke bahu, warna pekat kontras dengan warna kuIitnya yang putih. TerIihat simpeI tetapi tampak anggun. Tak ada aksesoris Iainnya. Pun dengan wajahnya. TerIihat naturaI dengan sentuhan Iipstik yang hanya tampak samar-samar saja.
"Ayo." Aku memberinya jaIan agar bisa berjaIan Iebih duIu, tetapi aneh, Safa menggeIeng.
"Aku nyusul aja," ucapnya dengan wajah ditekuk.
"Ya sudah. Mas duIuan." Aku beranjak meninggaIkan Safa yang masih mematung di depan pintu. JaIan pikirannya tak bisa kutebak. Tak ingin keIuar bersamaan denganku karena aIasan sungkan mungkin, atau maIu pada yang Iainnya sehingga mengumpuIkan keberanian terIebih dahuIu. Aku hanya bisa menebak-nebak. MeIihatnya keIuar k-mar saja sudah membuatku sangat senang. Itu saja, tak ingin menuntut Iebih.
RizaI dan yang Iainnya menatap heran ketika aku keIuar meIenggang seorang diri. Tatapan mereka menuntut jawab.
"Masih bersiap-siap," ucapku. Tak perIu dengan pertanyaan, pandangan mereka sudah