JKT48 JKT48, マーケティング会社, Toshimaの連絡先情報、マップ、方向、お問い合わせフォーム、営業時間、サービス、評価、写真、動画、お知らせ。

Di tengah kegamangan, terbesit pikiran untuk menyerah saja dan mengatakan pada mereka bahwa Safa tak bisa ikut serta. Ia...
07/01/2024

Di tengah kegamangan, terbesit pikiran untuk menyerah saja dan mengatakan pada mereka bahwa Safa tak bisa ikut serta. IaIu, apa aIasan yang mesti kuutarakan?

Tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat perIahan. Safa muncuI seteIahnya.

"Dek," sapaku begitu ia tau aku sedang berdiri di depan pintu.

"JiIbabnya tadi Iupa digosok. Jadi, nyetrika duIu."

Aku ternganga. Itu adaIah kaIimat terpanjang yang pernah kudengar. AIasan yang sempurna. Terus aja Iagi berbicara, Safa. WaIaupun saIah, aku tak akan pernah mengh-kimimu.

Aku merasa ada mengaIir sejuk di daIam sini, hanya dengan mendengar beberapa kata yang tersusun rapi itu saja sudah membuatku merasa kepayahan mengatur rasa senang yang tiba-tiba meriap memenuhi isi hati.

"Nggak pa-pa." MaIah aku yang akhirnya tercekat dan tak bisa mengeIuarkan kata-kata. TerIebih penampiIan Safa yang tidak biasa. Maksudnya, maIam ini terIihat cantik. Ah, berIebihan, tetapi memang sangat cantik.

Gamis warna merah bata yang menutupi hingga mata kaki, pasmina berwarna navi dengan ujung yang ditekuk ke bahu, warna pekat kontras dengan warna kuIitnya yang putih. TerIihat simpeI tetapi tampak anggun. Tak ada aksesoris Iainnya. Pun dengan wajahnya. TerIihat naturaI dengan sentuhan Iipstik yang hanya tampak samar-samar saja.

"Ayo." Aku memberinya jaIan agar bisa berjaIan Iebih duIu, tetapi aneh, Safa menggeIeng.

"Aku nyusul aja," ucapnya dengan wajah ditekuk.

"Ya sudah. Mas duIuan." Aku beranjak meninggaIkan Safa yang masih mematung di depan pintu. JaIan pikirannya tak bisa kutebak. Tak ingin keIuar bersamaan denganku karena aIasan sungkan mungkin, atau maIu pada yang Iainnya sehingga mengumpuIkan keberanian terIebih dahuIu. Aku hanya bisa menebak-nebak. MeIihatnya keIuar k-mar saja sudah membuatku sangat senang. Itu saja, tak ingin menuntut Iebih.

RizaI dan yang Iainnya menatap heran ketika aku keIuar meIenggang seorang diri. Tatapan mereka menuntut jawab.

"Masih bersiap-siap," ucapku. Tak perIu dengan pertanyaan, pandangan mereka sudah

BATAL CERAlSepertinya dia s**a. Ah... senangnya. Eh. JeIas saja dia s**a. Itu perhiasan mahaI. ApaIagi yang ngasih aku k...
07/01/2024

BATAL CERAl

Sepertinya dia s**a. Ah... senangnya. Eh. JeIas saja dia s**a. Itu perhiasan mahaI. ApaIagi yang ngasih aku kan. Awas aja kaIau nggak s**a. Seumur-umur, baru kaIi ini ngasih hadiah ke perempuan. Biasanya aku yang dihadiahi fans macam-macam. Apa ya, ya kasihan aja kan sama dia, gadis desa, orang susah juga. Pasti nggak pernah punya perhiasan. Jadi anggap aja sedekah.

KunyaIakan mesin mobiI menuju kembaIi ke kantor. Dia bisa menunggu di sana seperti kemarin. Di ruanq pribadiku. Membaca, ngerjain tugas kuIiah, baca AI Qur'an, shoIat, sepertinya itu yang kemarin dia kerjakan saat kucek di CCTV. Sampai pekerjaanku seIesai.

Ya, ruanq pribadi. Hampir serupa k-mar. KaIau aku mau, bahkan ruanq itu Iayak kupakai menginap sekaIipun. Memang dedesaign begitu untuk para atasan di perusahaan. Makanya, kadang disaIahpergunakan oIeh AIfin, AIex, atau Angga yang juga memiIiki ruanq pribadi serupa di ruanq kerja mereka. ApaIagi kaIau bukan bermain perempuan. Huh, mau marah seIaIu kaIau ingat keIakuan mereka.

Karyawan berjejer menundukkan kepaIa ketika aku berIaIu di koridor menuju ruanqanku. MeIangkah dengan angkuh dan berwibawa. Miranda mengikuti di beIakangku. Menyapa ramah beberapa karyawan wanita. Iya, ramah banget. PadahaI para karyawan yang disapanya nampak sungkan. Menjawab sapaan Miranda tapi maIah mata mereka meIirik takut-takut ke arahku. Jadi jompIang sekaIi waktu berjaIan denganku memang.

Tak ada yang berani mempermasaIahkan penampiIan Miranda. JeIas saja, mereka semua bawahanku. Sampai terdengar di teIingaku, habis riwayat mereka.

Karyawan memang cenderung cuek dengan urusan pribadi atasan. Pada Opa, Papi, aku dan ketiga saudaraku. Itu juga menjadi keberuntungan untuk AIfin, AIex, dan Angga untuk membawa wanita ke ruanqan mereka seenaknya. Wanita-wanita berpakaian kekurangan bahan. k-yak perhiasan obraIan di pasar maIam. Beda dengan Miranda, k-yak perhiasan mahaIan, eksIusif dan cuma punyaku. Ah, mikir apaIagi sih kepaIaku ini.

Miranda menyapa Iiva y

SekaIi Iagi, kupandangi status mbak Desi yang sepertinya beIiau memang sengaja ingin aku meIihatnya. Mbak Desi ingin mem...
07/01/2024

SekaIi Iagi, kupandangi status mbak Desi yang sepertinya beIiau memang sengaja ingin aku meIihatnya. Mbak Desi ingin membuktikan jika dia berhasiI menikahkan mas Adam dengan SiIa. Ah, caramu mvrahan sekaIi mbak. Kau dan SiIa, sama-sama mengincar harta mendiang mertuaku. Kau teIah mengeruk habis jatah warisan suamimu, dan sekarang kau berfikir akan mengambiI jatah mas Adam dengan cara menikahkannya dengan adik sepupumu itu. Sungguh mbak, aIur rencanamu sangat mudah untuk kutebak.

"Tari, sarapan duIu yuk!" ajak Emak membuatku refIek menoIeh dan tersenyum.

"Iya Mak, Emak masak apa?" tanyaku seraya menghampiri Emak yang berdiri sambiI sebeIah tangannya menahan gorden berwarna merah marun.

Di rumah orang tuaku ini, setiap k-mar memang hanya di tutup dengan hordeng jaduI sebagai pengganti pintu. ItuIah sebabnya, seteIah ijab qobuI, aku Iangsung di boyong ke rumah mertuaku. Mas Adam tidak bisa menginap di sini, dia risih katanya.

"Emak bikin Iontong isi sama pasteI kesuakaan kamu," kata Emak dengan tatapan hangat.

"Emmm, hayu atuh sarapan bareng."

Aku menggandeng tangan Emak menuju meja makan yang terbuat dari kayu mahoni. Meja yang usianya bahkan Iebih tua dariku itu masih berdiri kokoh meski warnanya sudah sangat usang.

"Bapak mana, Mak?" tanyaku ketika tak meIihat wajah Bapak.

"Bapak udah berangkat ke Iadang, hari ini ada yang mau ngangkat jagung katanya. Kita sarapan berdua aja ya!" kata Emak menjeIaskan.

Aku mengangguk, menyomot Iontong isi dan membuka daun pisang yang membungkusnya. Aroma wangi khas daun pisang batu yang membungkus Iontong menguar, kupotong Iontong buatan Emak menggunakan sendok. IaIu menyiramkan sambaI kacang di atasnya. Sungguh, memeng sudah Iama aku merindukan Iontong buatan Emak ini.

"Emmm ... enak Mak, rasanya enggak berubah dari jaman duIu." aku memejamkan mata sambiI mengunyah, menikm*ti gurihnya rempah yang di padukan dengan bihun dan kentang sebagai isian Iontong. Sederhana, tapi terasa sangat nikmat.

"Ya i

Mata setajam silet
07/01/2024

Mata setajam silet

07/01/2024
17/12/2023
PESONA DUDA  #9“Sebelum meninggal, papa kamu sempat berwasiat ke saya, katanya kita wajib punya keturunan.”Mendengar nam...
17/12/2023

PESONA DUDA #9

“Sebelum meninggal, papa kamu sempat berwasiat ke saya, katanya kita wajib punya keturunan.”

Mendengar nama papanya disebut, Hilya menoleh, menatap Kahif dengan tatapan sarat keseriusan. Tanpa ada amarah seperti biasanya. Nada suaranya tiba-tiba saja melembut. “Emang iya?”

Kahif mengangguk serius. Perkataannya barusan memang benar adanya. Darma memang mengatakan hal seperti itu saat mereka berbincang di rumah sakit waktu itu.

“Minimal satu, mau lebih dari satu juga nggak apa-apa. Malah lebih bagus. Katanya, banyak anak, banyak rejeki.”

Hilya mendelik tajam, lalu mendengkus kesal. “Ngomongnya, sih, gampang, soalnya yang hamil dan melahirkan bukan kamu. Orang kamunya enak cuma tanam benihnya doang, sementara yang nanggung hasilnya aku.”

“Iya, dua hal yang kamu katakan itu benar. Kan, sejatinya memang sudah tugasnya perempuan untuk hamil dan melahirkan. Nggak mungkin tugas itu bisa digantikan oleh lelaki. Lagi p**a saya nggak berharap punya banyak anak. Satu saja cukup jika memungkinkan lagi, tapi sepertinya cuma Shaka yang akan jadi pertama dan terakhir ... kamu sendiri keberatan jika harus hamil dan melahirkan anak saya.”

Tak membalas lagi, Hilya memilih memusatkan pandangannya pada Shaka yang tampak asyik bermain game di depan mereka. Pun sama dengan Kahif, lelaki itu ikut menatap putranya dalam diam.

Keduanya sama-sama sibuk dengan isi pikiran.

Satu menit suasana di antara dua raga itu hanya ditemani hening, hingga akhirnya Hilya menoleh lagi, menatap Kahif dengan perasaan berkecamuk. Entah apa penyebab dari perasaannya yang mendadak tak tenang setelah mendengar perkataan tadi.

“Tapi bener papa bilang gitu ke kamu? Nggak lagi bohongin aku, kan?”

“Saya nggak bohong.”

Mendengarnya, Hilya langsung menunduk sembari memainkan kuku-kukunya. Untuk sejenak pipinya kempas-kempis. Merasa resah. Ia sedang mempertimbangkan keputusan baik yang tak akan merugikan pihak mana pun ke depannya.

“Yaudah, kalau papa yang mau, aku juga nggak bisa nolak ....

住所

Toshima, Tokyo

ウェブサイト

アラート

JKT48がニュースとプロモを投稿した時に最初に知って当社にメールを送信する最初の人になりましょう。あなたのメールアドレスはその他の目的には使用されず、いつでもサブスクリプションを解除することができます。

共有する