Desa Gembongan

Desa Gembongan Update Informasi Desa Gembongan, Kec. Babakan, Kab. Cirebon | Bukan akun resmi

Kenapa Alfamart dan Indomaret sekarang tak didemo, Muhammad Aisar Fatih atau dikenal dengan Kang Amad, berkomentar.Konte...
02/04/2026

Kenapa Alfamart dan Indomaret sekarang tak didemo, Muhammad Aisar Fatih atau dikenal dengan Kang Amad, berkomentar.

Konteksnya dulu:

1. Ada motor mengggerak. Pemuda-pemuda yang gelisah dengan situasi sekitarnya. Sekarang pemuda sudah kehilangan arah, sibuk mabar, dan membuat kerumunan-kerumunan antar blok yang tak ada faedah.

Dulu dimotori oleh Karang Taruna. Sekarang? Entah Karang Taruna kemana?

2. Para pedagang dulu masih kompak. Diajak berkoordinasi mudah, diajak apapun mudah. Sekarang? Disuruh kumpul sebentar saja susahnya minta ampun. Padahal merekalah kelompok yang pertama akan dirugikan dengan keberadaan gerai toko modern.

3. Pemerintah desa dulu masih mengindahkan saran & kritik. Pemerintah desa sekarang? Summun bukmun umyun tanpa ampun.

---

Begitu komentar Kang Amad, beliau pemuda yang titik lokasinya ada di Sragsragan. Pemuda Sragsragan tahun lalu juga menjadi satu-satunya yang berani mengkritik pemerintah melalui spanduk di perempatan jalan Gembongan. Respect.

Bagiamana komentar kalian?

Dulu sekali, mungkin masih banyak yang ingat, Desa Gembongan pernah berdenyut dalam ketegangan. Jalan-jalan yang biasany...
30/03/2026

Dulu sekali, mungkin masih banyak yang ingat, Desa Gembongan pernah berdenyut dalam ketegangan. Jalan-jalan yang biasanya lengang oleh sapaan warga, mendadak dipenuhi suara lantang para pemuda. Spanduk terbentang, suara tuntutan bergema, dan langkah kaki menjadi satu irama yang menolak satu hal: pembangunan sebuah gerai ritel modern bernama Indomaret.

Hari itu, bukan sekadar soal bangunan. Ia menjelma menjadi simbol kekhawatiran. Masyarakat melihat lebih dari sekadar toko—mereka melihat bayangan tergesernya warung kecil, hilangnya ruang ekonomi tradisional, dan perubahan wajah desa yang mungkin tak lagi mereka kenali. Para pemuda berdiri di barisan depan, membawa suara kolektif yang lahir dari rasa memiliki. Demonstrasi berlangsung besar-besaran, menjadi salah satu momen yang membekas dalam ingatan sosial Desa Gembongan.

Waktu kemudian bergerak, perlahan namun pasti. Ketegangan yang dulu terasa padat seperti udara sebelum hujan, kini seakan menguap tanpa jejak yang jelas. Tidak ada penanda pasti kapan perubahan itu mulai terjadi. Tidak ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik. Namun hari ini, jika seseorang melintasi Desa Gembongan, ia akan menemukan sesuatu yang dulu begitu ditolak—sebuah bangunan Indomaret berdiri kokoh.

Menariknya, kehadiran bangunan itu tidak lagi diiringi suara protes. Tidak ada kerumunan massa. Tidak ada spanduk penolakan. Desa Gembongan justru tampak seperti biasa—tenang, anteng, dan damai. Aktivitas warga berjalan sebagaimana mestinya. Anak-anak masih bermain di sore hari, para ibu berbelanja, dan para bapak duduk di warung kopi. Tidak tampak gesekan yang dulu sempat mengemuka.

Perubahan ini memunculkan banyak pertanyaan yang menggantung di ruang-ruang percakapan. Apa yang sebenarnya terjadi di antara dua fase waktu tersebut? Apakah telah terjadi dialog yang mendalam antara pihak terkait dan masyarakat? Apakah ada kesepakatan yang perlahan meredakan penolakan? Ataukah ini sekadar bentuk adaptasi—di mana masyarakat memilih diam sebagai cara baru untuk berdamai dengan perubahan?

Beberapa warga yang enggan disebutkan namanya menyiratkan bahwa waktu sering kali memiliki caranya sendiri untuk melembutkan sikap. Apa yang dulu terasa mengancam, perlahan menjadi sesuatu yang diterima, meski mungkin tidak sepenuhnya disetujui. Ada p**a yang berpendapat bahwa dinamika ekonomi dan kebutuhan praktis sehari-hari ikut memengaruhi perubahan sikap tersebut.

Di sisi lain, generasi muda yang dulu berdiri di garis depan demonstrasi kini tidak lagi terlihat dalam posisi yang sama. Sebagian telah merantau, sebagian sibuk dengan pekerjaan, dan sebagian lainnya mungkin telah memandang persoalan itu dari sudut yang berbeda. Idealisme yang dulu menyala, kini bertransformasi—bukan padam, tetapi mungkin berubah bentuk.

Fenomena ini mencerminkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar satu bangunan ritel di sebuah desa. Ia berbicara tentang bagaimana masyarakat bernegosiasi dengan perubahan. Tentang bagaimana suara keras bisa berubah menjadi diam yang penuh makna. Dan tentang bagaimana realitas, pada akhirnya, sering kali lebih kompleks daripada sekadar hitam dan putih.

Kini, Indomaret di Desa Gembongan berdiri sebagai penanda waktu—menghubungkan masa lalu yang penuh gejolak dengan masa kini yang tenang. Ia bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga simbol dari perjalanan sosial sebuah komunitas.

Dan mungkin, di balik ketenangan itu, tersimpan cerita-cerita yang tidak pernah sepenuhnya diucapkan. Cerita tentang kompromi, tentang kelelahan, tentang penerimaan, atau bahkan tentang harapan yang diam-diam disesuaikan dengan kenyataan.

Desa Gembongan hari ini tidak lagi bersuara lantang seperti dulu. Namun justru dalam diamnya, tersimpan narasi yang lebih dalam—bahwa perubahan tidak selalu datang dengan gemuruh, kadang ia hadir perlahan, hingga akhirnya kita menyadari: sesuatu telah benar-benar berbeda.

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat desa, keputusan penting diambil oleh Desa Kalimaro terkait pelaksanaan arak-arak...
30/03/2026

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat desa, keputusan penting diambil oleh Desa Kalimaro terkait pelaksanaan arak-arakan. Tradisi yang selama ini menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat tersebut kini resmi dilarang. Kebijakan ini muncul setelah adanya berbagai pertimbangan, terutama terkait dampak yang ditimbulkan serta munculnya beragam komentar negatif dari masyarakat.

Sejumlah warga menilai bahwa pelaksanaan arak-arakan dalam beberapa waktu terakhir kerap menimbulkan gangguan, baik dari segi ketertiban maupun kenyamanan lingkungan. Hal ini kemudian menjadi bahan evaluasi bersama hingga akhirnya pemerintah desa mengambil langkah dengan meniadakan kegiatan tersebut.

Keputusan Desa Kalimaro tersebut kini menjadi perhatian di wilayah sekitar, termasuk di Desa Gembongan. Masyarakat mulai mempertanyakan langkah apa yang akan diambil oleh pemerintah desa setempat terkait pelaksanaan arak-arakan ke depan.

Apakah Desa Gembongan akan mengambil langkah serupa dengan meniadakan arak-arakan? Ataukah akan mempertahankannya dengan pertimbangan tertentu?

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari pihak Desa Gembongan. Berbagai kemungkinan masih menjadi pembahasan di tengah masyarakat dan pemangku kebijakan setempat.

Situasi ini menunjukkan adanya proses penyesuaian di tingkat desa dalam menyikapi tradisi yang telah lama berjalan, dengan mempertimbangkan kondisi serta dinamika sosial masyarakat saat ini. Keputusan akhir dari Desa Gembongan masih dinantikan oleh warga.

Follow Facebook Desa Gembongan supaya belih ketinggalan info.

Salah satu Warga Desa Gembongan mengeluhkan semakin seringnya hajatan yang berlangsung di waktu bersamaan. Kondisi ini m...
27/03/2026

Salah satu Warga Desa Gembongan mengeluhkan semakin seringnya hajatan yang berlangsung di waktu bersamaan. Kondisi ini membuat warga bingung mengatur kehadiran, bahkan sampai mengatur isi dompet.

Salah satu warga mengatakan dengan nada bercanda, “Saya ini bukan nggak mau datang, tapi kalau semua barengan, saya jadi kayak manajer logistik… bedanya ini yang diatur bukan orang, tapi sisa uang di amplop.”

Menurut warga, dalam satu hari bisa ada lebih dari satu hajatan di waktu yang hampir sama. Akibatnya, banyak warga harus memilih dengan berat hati hajatan mana yang didatangi terlebih dahulu.

“Baru sampai satu tempat, sudah kepikiran tempat lain juga ada makanan enak. Tapi saldo di kepala langsung bilang: cukup satu saja, jangan serakah,” ujar warga lain sambil tertawa.

Situasi ini juga makin terasa di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak terlalu ringan. Warga mengaku harus lebih hati-hati dalam “mengatur partisipasi sosial”.

“Dulu datang kondangan bawa niat baik. Sekarang bawa niat baik… plus hitung-hitungan,” kata seorang warga.

Meski begitu, warga tetap menganggap hajatan adalah momen penting untuk silaturahmi. Hanya saja, mereka berharap ada sedikit koordinasi antar tuan rumah agar tidak saling bertabrakan.

“Kalau bisa, hajatan jangan barengan. Biar kami bisa hadir dengan tenang, bukan datang sambil mikir cicilan,” tambah warga tersebut.

Hingga kini, belum ada aturan resmi terkait penjadwalan hajatan di desa. Namun warga berharap ke depan ada kesepakatan tidak tertulis agar kondangan tetap meriah, tanpa membuat dompet ikut merintih.

Arak-Arakan yang Disalahkan, Jalan Rusak yang DilupakanAda hal-hal yang sengaja dibuat tampak lebih besar dari yang sebe...
27/03/2026

Arak-Arakan yang Disalahkan, Jalan Rusak yang Dilupakan

Ada hal-hal yang sengaja dibuat tampak lebih besar dari yang sebenarnya, agar hal lain bisa mengecil tanpa disadari. Seperti sorotan yang terlalu terang ke satu arah, hingga mata kita lupa bahwa di sudut lain, sesuatu sedang runtuh perlahan.

Belakangan ini, arak-arakan di Desa Gembongan menjadi bahan perbincangan. Festival yang semestinya menjadi ruang ekspresi, kebersamaan, dan napas budaya, tiba-tiba dipersempit maknanya. Ia dibingkai sebagai kegiatan yang tak berfaedah, seolah-olah kegembiraan masyarakat adalah kesalahan yang perlu dipertanyakan.

Namun, di balik riuhnya narasi itu, ada sesuatu yang terasa janggal.

Mengapa perhatian begitu deras diarahkan ke arak-arakan? Mengapa energi kritik terpusat pada perayaan rakyat, sementara di saat yang sama, jalan-jalan rusak tetap terhampar tanpa kejelasan?

Seakan-akan, kita sedang diajak untuk melihat satu panggung, sementara panggung lain sengaja dipadamkan lampunya.

Jalan rusak bukan sekadar soal infrastruktur. Ia adalah urat nadi aktivitas warga—tempat ekonomi bergerak, anak-anak berangkat sekolah, dan kehidupan berjalan setiap hari. Ketika jalan itu rusak, yang terganggu bukan hanya kenyamanan, tapi juga masa depan kecil yang dilalui di atasnya.

Namun isu itu perlahan tenggelam.

Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak cukup “menarik” untuk dijadikan tontonan. Jalan rusak tidak menciptakan sensasi. Ia tidak gaduh. Ia hanya diam—dan justru dalam diam itulah, ia paling mudah diabaikan.

Sementara arak-arakan, dengan warna, suara, dan keramaiannya, menjadi sasaran empuk. Ia mudah dipotong-potong, diberi label, lalu disebarkan sebagai narasi yang seolah-olah lebih mendesak untuk dibicarakan.

Padahal, masyarakat tidak pernah benar-benar bermasalah dengan kebahagiaan mereka sendiri.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perhatian publik digiring menjauh dari hal-hal yang lebih substansial. Ketika diskusi tentang jalan rusak tergeser oleh perdebatan tentang layak atau tidaknya sebuah tradisi.

Di titik ini, kita perlu bertanya dengan jujur: Apakah kita sedang benar-benar mencari solusi, atau hanya sibuk mengomentari apa yang paling terlihat?

Arak-arakan bukan musuh. Ia adalah cermin bahwa masyarakat masih punya ruang untuk merayakan hidup, meski di tengah keterbatasan. Justru yang patut dipertanyakan adalah mengapa di tengah perayaan itu, persoalan mendasar seperti jalan rusak belum juga menemukan jawaban.

Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya. Melainkan arah perhatian kita. Jika arak-arakan ada dampak buruknya, yang harus kita lakukan kan mengantisipasi dampak buruk itu, bukan menghilangkan arak-arakannya. Setuju tidak?

Karena sering kali, yang paling berbahaya bukanlah masalah yang besar— tetapi masalah yang berhasil dibuat tampak kecil.

Silakan berpendapat.

Dulu di Desa Gembongan, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan sebuah panggung kehidupan yang menyatukan banyak h...
19/03/2026

Dulu di Desa Gembongan, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan sebuah panggung kehidupan yang menyatukan banyak hati. Setiap pertandingan terasa seperti perayaan kecil, tempat orang-orang berkumpul, melupakan lelah, dan larut dalam sorak-sorai yang sederhana namun penuh makna. Lapangan tanah yang kadang berdebu, kadang becek setelah hujan, tetap menjadi ruang yang dihormati—sebuah tempat di mana harga diri, mimpi, dan kebersamaan saling bertaut dalam satu irama.

Pada masa itu, ada sosok-sosok yang bersinar dengan caranya masing-masing. Wasja, sang penjaga gawang, berdiri seperti tembok yang sulit ditembus. Ketenangannya menjadi peneduh bagi tim, dan refleksnya seakan lahir dari naluri yang terasah oleh waktu. Di sisi lain, ada Anto Gatot, pemain dengan kepercayaan diri yang melampaui batas. Setiap langkahnya di lapangan seolah membawa pesan: bahwa keberanian adalah separuh dari kemenangan. Ia membabat habis lawan dengan gaya bermain yang tegas, tanpa ragu, tanpa gentar.

Lalu hadir Almarhum Ayeng, sosok yang tak hanya dikenang karena kelincahannya, tetapi juga karena aura yang ia bawa. Wajahnya yang rupawan berpadu dengan gerakan yang lincah, menjadikannya magnet di tengah lapangan. Ia bukan hanya pemain, melainkan inspirasi yang hidup—sebuah gambaran bahwa bakat, ketika disertai ketulusan, dapat meninggalkan jejak yang abadi di hati banyak orang. Ketiganya, Wasja, Anto Gatot, dan Ayeng, menjadi tiga cahaya yang menerangi sepak bola Gembongan. Mereka bukan sekadar pemain, melainkan simbol dari masa kejayaan yang sederhana namun bermakna.

Namun, seperti kisah yang terus bergerak, datanglah sosok baru bernama Opik. Kehadirannya seperti angin segar yang mengubah arah permainan. Ia tidak hanya bermain, tetapi menghidupkan lapangan dengan caranya sendiri. Gaya bermainnya membuat banyak mata terbelalak, seolah setiap gerakannya menyimpan kejutan. Ia menggemparkan, menghadirkan warna baru dalam dunia sepak bola Gembongan. Nama Opik melambung, menjadi buah bibir di antara penonton, menjadi cerita yang diceritakan ulang di warung-warung, di teras rumah, dan di bawah cahaya senja.

Di titik itu, sepak bola Gembongan bukan lagi sekadar pertandingan. Ia telah menjadi kisah tentang generasi, tentang estafet cahaya yang terus berpindah dari satu nama ke nama lainnya. Setiap pemain datang membawa waktunya sendiri, menorehkan kisahnya sendiri, lalu perlahan memberi ruang bagi yang berikutnya untuk bersinar.

Kini, kemewahan sepak bola Gembongan hampir tak terdengar lagi. Lapangan yang dulu ramai kini terasa lebih sunyi, seakan menyimpan kenangan yang enggan pergi. Nama-nama besar itu tetap hidup dalam ingatan, tetapi gema sorakan yang dulu mengiringi mereka kini hanya tinggal bayangan samar.

Namun dalam sunyi itu, ada sesuatu yang tetap hidup: ingatan. Ingatan tentang semangat, tentang persaudaraan, tentang bagaimana sebuah desa kecil bisa melahirkan kisah besar. Sepak bola Gembongan mungkin meredup di permukaan, tetapi di dalam hati mereka yang pernah menyaksikannya, ia tetap menyala—seperti api kecil yang tak pernah benar-benar padam, hanya menunggu untuk kembali ditiupkan oleh angin waktu.

Kira-kira ada yang masih ingat gak?

Semalam Admin lewat Blok Bagong, ternyata sudah dipasang spanduk untuk spot foto dan joget. Ini sih asyoooy banget!!!Pem...
12/03/2026

Semalam Admin lewat Blok Bagong, ternyata sudah dipasang spanduk untuk spot foto dan joget. Ini sih asyoooy banget!!!

Pemuda yang lain gimana? Terpantau baru sragsragan dan Ancubag, ya?

Pemuda Sragsragan sudah eksis di pinggir jalan, pemuda lainnya manaa nih? 🔥
08/03/2026

Pemuda Sragsragan sudah eksis di pinggir jalan, pemuda lainnya manaa nih? 🔥

Lukisan ini bekerja seperti sebuah satire sosial yang tajam. Ia tidak hanya menggambarkan seorang pemimpin yang nyaman d...
07/03/2026

Lukisan ini bekerja seperti sebuah satire sosial yang tajam. Ia tidak hanya menggambarkan seorang pemimpin yang nyaman di atas singgasana, tetapi juga memperlihatkan struktur kekuasaan yang timpang di mana kesejahteraan segelintir orang berdiri di atas penderitaan banyak orang.

Mari kita lihat unsur-unsurnya satu per satu.

1. Pemimpin berperut buncit di atas singgasana

Tokoh utama digambarkan duduk santai di kursi mewah dengan tubuh gemuk dan perut besar. Dalam bahasa simbolik, tubuh yang berlebihan sering dipakai dalam seni kritik politik untuk menggambarkan keserakahan, kerakusan, dan kekuasaan yang berlebihan. Ia tidak terlihat bekerja. Ia hanya duduk menikmati kenyamanan. Ini memberi pesan bahwa kekuasaan yang korup sering kali hidup dari hasil yang bukan mereka usahakan sendiri.

2. Uang yang berjatuhan dari tangannya

Di tangannya terlihat uang yang berhamburan. Simbol ini bisa ditafsirkan sebagai uang hasil korupsi, uang rakyat yang disia-siakan, atau kekayaan negara yang diperlakukan seperti milik pribadi. Menariknya, uang itu jatuh ke bawah tanpa benar-benar memberi manfaat bagi orang yang memikulnya. Seolah menggambarkan bahwa kekayaan negara berputar di lingkaran elit, bukan kembali ke rakyat.

3. Singgasana yang dipikul rakyat

Bagian paling kuat dari lukisan ini adalah empat orang kurus yang memikul kursi pemimpin tersebut. Mereka tampak kurus, berpakaian minim, wajah lelah, dan tubuh membungkuk. Ini adalah metafora yang sangat jelas bahwa rakyatlah yang sebenarnya menopang kekuasaan. Tanpa rakyat tidak ada negara, tidak ada pajak, dan tidak ada kekuasaan. Namun ironinya, mereka justru berada di posisi paling berat.

4. Kontras antara kemewahan dan penderitaan

Lukisan ini sengaja menciptakan kontras yang ekstrem. Pemimpin digambarkan duduk santai, gemuk, berpakaian rapi, dan berada di kursi mewah. Sementara rakyat terlihat kurus, berkeringat, membungkuk, dan memikul beban. Kontras ini menyampaikan kritik moral bahwa ketimpangan sosial bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah etika kekuasaan.

5. Tulisan “SRAGSRAGAN” di bagian atas

Tulisan besar di atas memberi identitas karya sekaligus nuansa perlawanan. Kata ini terasa seperti teriakan atau simbol gerakan anak muda yang ingin menyuarakan kegelisahan terhadap realitas sosial. Ia memberi kesan bahwa karya ini lahir dari kemarahan kolektif generasi muda terhadap ketidakadilan.

Jika ditarik secara filosofis, lukisan ini menyampaikan satu gagasan besar: kekuasaan yang korup sering berdiri di atas punggung rakyat yang diperas. Namun ada lapisan makna lain yang lebih dalam. Lukisan ini juga seolah mengingatkan bahwa rakyat sebenarnya memiliki kekuatan yang sama besar dengan beban yang mereka pikul. Jika mereka berhenti memikul, singgasana itu akan jatuh.

Itulah paradoks kekuasaan dalam banyak masyarakat. Pemimpin terlihat kuat, padahal kekuatannya bergantung pada orang-orang yang berada di bawahnya. Karya ini terasa seperti pengingat sunyi bahwa kekuasaan yang tidak adil mungkin bisa bertahan lama, tetapi ia selalu berdiri di atas fondasi yang rapuh. Dan ketika kesadaran rakyat bangkit, kursi yang paling mewah pun bisa runtuh dalam sekejap.

Terakhir, apresiasi sebesar-besarnya kepada Pemuda Sragsragan.

06/03/2026

TKW asal Cirebon, Turini binti Mashari, Jawa Barat, ditemukan setelah 21 tahun hilang di sebuah kampung di pedalaman Arab Saudi. Selama 21 tahun Turini tidak menerima gaji dan tak bisa berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia.

Masih ingat berita ini?

Wong Gembongan, priben wis siap sembayang idul fitri durung?
06/03/2026

Wong Gembongan, priben wis siap sembayang idul fitri durung?

Di Desa Gembongan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, cerita tentang minimarket bukan hal baru. Dulu sekali, rencana ...
13/12/2025

Di Desa Gembongan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, cerita tentang minimarket bukan hal baru. Dulu sekali, rencana pembangunan minimarket pernah ditolak besar-besaran oleh warga. Waktu itu banyak yang turun ke jalan, menyuarakan keresahan. Akhirnya, minimarket tersebut tidak jadi dibangun. Desa kembali tenang, warung-warung kecil tetap hidup, dan warga berjualan seperti biasa.

Namun waktu berjalan. Beberapa tahun belakangan, Alfamart akhirnya berdiri di Desa Gembongan. Awalnya, respon warga terbelah. Ada yang menolak karena takut warung kecil mati. Ada juga yang membiarkan dengan pikiran sederhana, toh pembangunan sudah berjalan. Sampai akhirnya Alfamart berdiri kokoh, menjadi bagian dari pemandangan desa sehari-hari. Warga pun perlahan beradaptasi, meski perasaan di hati tidak semuanya sama.

Kini, muncul lagi rencana pembangunan Indomaret. Reaksinya pun hampir sama seperti sebelumnya. Ada yang mendukung, ada yang menolak. Ada warga yang berkata, “Rezeki sudah ada yang ngatur.” Kalimat itu lahir dari keyakinan bahwa Tuhan tidak akan salah memberi bagian. Namun di sisi lain, ada suara yang lebih kritis. Salah satunya datang dari komentar Ajat Sudrajat di kolom postingan Jabar Publisher. Ia menulis bahwa pejabat seharusnya berpikir panjang, tidak hanya mencari keuntungan di atas penderitaan warganya. Menurutnya, jika punya hati nurani, lebih baik membangun warung desa di bawah naungan BUMDes agar ekonomi rakyat kecil ikut terangkat.

Dua pandangan ini sama-sama lahir dari kepedulian, hanya jalannya berbeda. Yang satu pasrah dan percaya, yang lain berharap ada keberpihakan nyata. Di desa, persoalan seperti ini bukan sekadar soal bangunan, tapi soal masa depan warung kecil, soal penghasilan tetangga, dan soal rasa adil di tengah masyarakat. Mungkin yang paling dibutuhkan bukan hanya izin dan modal, tapi musyawarah yang benar-benar mendengar suara warga desa.

Jadi menurut warga Gembongan setuju belih kiye?

Address

Kantor Pemerintah Desa Gembongan
Babakan
45191

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desa Gembongan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share