14/11/2017
Pemuda, Politik, dan
Berita
Baru-baru ini, terjadi sebuah diskusi tentang keterlibatan pemuda Malaysia dalam . Ada laporan media bahwa para di negara ini semakin tidak tertarik pada politik. Hal ini disimpulkan dari minimnya partisipasi pemuda dalam diskusi-diskusi atau aktivitas politik yang dilakukan oleh partai politik, serta persentase pemilih muda di Malaysia yang menurun. Dilaporkan bahwa sekitar 14 juta pemilih yang telah mencapai usia 21 tahun telah terdaftar, namun, lebih dari 3,8 juta pemilih muda belum mendaftar untuk memberikan suara. Beberapa survei juga menunjukkan bahwa banyak kaum muda, karena berbagai alasan, hanya memiliki sedikit minat terhadap politik. Diperkirakan bahwa di antara faktor-faktor kuncinya adalah persepsi negatif di kalangan pemuda terhadap para politisi dan partai politik. Hal ini membuat mereka tidak lagi menaruh harapan, yang akibatnya membuat mereka memutuskan untuk tidak peduli dengan politik.
Komentar
Sekilas, kita menyadari bahwa pemuda Malaysia mungkin telah kehilangan minat pada politik berdasarkan pendaftaran pemilih dan kehadiran dalam diskusi-diskusi politik. Namun, jika kita meneliti masalah ini secara mendalam, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi kaum muda untuk tidak tertarik pada politik.
Tidak benar-benar akurat untuk mengukur fenomena ini hanya berdasarkan persentase pendaftaran pemilih atau kehadiran dalam diskusi-diskusi politik. Jika kita melihat secara mendalam tentang perkembangan kaum muda, kita akan menemukan bahwa hilangnya minat atau ketidaktahuan dalam politik memiliki sejarah panjang dan melibatkan berbagai faktor. Selain dibuat frustrasi oleh politik dan partai politik, kebanyakan pemuda berjuang untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah kehidupannya, yang konsekuensinya membuat mereka hanya fokus pada urusan-urusan pribadi.
Ada juga sebagian pemuda yang sekedar acuh tak acuh terhadap politik dan hanya peduli dengan hiburan dan kesenangan. Sebagian yang lain peduli dengan masalah keluarga, memprioritaskan tanggung jawab untuk melayani orang tua mereka di atas masalah-masalah lain. Yang tidak kalah pentingnya adalah mereka yang takut melibatkan diri dalam dunia politik, terutama saat berpihak pada oposisi, karena takut akan dimata-matai, disingkirkan, atau ditangkap. Lebih jauh lagi, rintangan-rintangan politik di masjid-masjid dan kampus-kampus, melalui Undang-undang seperti UU Provokasi, UU Pers Percetakan, SOSMA, POCA, dan undang-undang kejam lainnya, menciptakan ketakutan di kalangan pemuda dan akibatnya membuat mereka kehilangan minat pada bidang politik. Selain itu, tekanan-tekanan yang muncul di bawah sistem sekuler-demokrasi mengalihkan fokus kehidupan kaum muda pada titik dimana sebagian di antara mereka tidak hanya mengabaikan politik, tapi yang lebih buruk lagi, berakhir sebagai sampah masyarakat!
Alasan-alasan ini benar berkontribusi pada hilangnya minat pada politik di kalangan pemuda, namun, alasan sebenarnya lebih mendasar. Yakni, pemahaman keliru yang dipahami tentang makna politik, yang menciptakan persepsi negatif di kalangan pemuda. Politik dipahami dalam pengertian yang sangat sempit. Bagi banyak orang, politik berarti pemilihan umum atau parlemen, dan hanya menyangkut kekuasaan dan perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan. Akibat kesalahpahaman ini, kegagalan pemerintah dan nuansa politik negara yang mengerikan, politik dipandang sebagai hal yang kotor dan menjijikkan, penuh dengan kecurangan, kebodohan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penindasan, skandal, dan tirani.
Agar benar-benar memahami politik, kita harus kembali kepada Alquran dan Sunnah. Secara bahasa, politik mengacu pada pemeliharaan dan pengelolaan kepentingan. Menurut Syari'ah, politik didefinisikan sebagai pemerintahan, atau pengurusan, atas urusan-urusan warga negara di dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, dalam Islam, mengurusi urusan warga negara di dalam semua aspek kehidupan termasuk pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain, merupakan politik. Dalam Islam, politik dalam arti umum ada di semua bidang kehidupan, apalagi penanganan urusan warga negara!
Setiap muslim tidak punya pilihan selain dipolitisasi, dengan makna sebenarnya. Hal ini karena politik adalah bagian dari Islam, dan itu tidak bisa dipisahkan dari Islam. Oleh karena itu, apa yang wajib dilakukan sekarang oleh pemuda adalah tidak menjauhkan diri dari politik atau mengabaikan politik, melainkan memahami politik dengan cara yang benar. Generasi muda harus merangkul politik sejati untuk memahami sifat kejam dari politik sekuler masa modern dan memantik perubahan. Perubahan ini melibatkan mereka untuk memfokuskan hati dan pikiran sehingga bercita-cita dan berjuang demi sebuah negara yang akan mengemban tanggung jawab menerapkan Islam dalam memelihara urusan warga negara. Sebuah negara yang, melalui politik, akan mengantarkan kemakmuran dan keseimbangan kekuasaan melalui penerapan Hukum Allah dan menggapai keridhaan Allah (swt), InsyaAllah.
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh
Dr. Muhammad – Malaysia
http://www.hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/news-comment/14143.html
================
Iringi geliat kebangkitan umat dengan Menyebarkan Opini ini
Dari Redaksi
Menggiatkan opini untuk Kebangkitan Islam dari Timur
Facebook: https://m.facebook.com/MuslimahTimurJauh
Twitter
Instagram
Telegram channel https://t.me/FareasternMuslimah