Fakhrillah Aykar

Fakhrillah Aykar Halaman ini dibuat untuk memuat tulisan saya yang berhubungan dengan kajian keislaman

17/12/2024

Pandangan ulama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab

Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan tokoh yang mendirikan paham Wahabi. Dia dilahirkan pada tahun 1111 H. di kota Ainat, salah satu kota di negara Najd. Dia tumbuh kembang di sana dan belajar ilmu agama terhadap orang tuanya sendiri yang bernama Abdul Wahhab. Keluarga abdul Abd Wahhab merupakan keluarga yang terkenal memiliki lingkungan keilmuan yang luar biasa. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh para sejarawan.

Beberapa tahun kemudian, Muhammad menunaikan ibadah haji dan pergi ke kota Madinah. Setelah itu, dia pindah ke desa Huraimala bersama Ayahnya. Huraimala merupakan salah satu desa di negara Najd. Semenjak Ayahnya wafat, dia kembali lagi ke desa Ainat. Di usianya pada saat itu, dia masih belum memiliki penguasaan ilmu yang mendalam, sehingga dia tetap belajar ilmu kepada ulama-ulama di negaranya. Anehnya di usianya yang seharusnya menekuni ilmu, dia justru tampil dan memulai dakwahnya kepada masyarakat. Padahal ilmunya masih seumur jagung. Dia pada saat itu berperan sebagai tokoh yang berdakwah amar makruf nahi munkar, padahal syarat orang yang ber amar makruf nahi munkar harus memiliki ilmu yang mumpuni, karena apabila tugas tersebut diperankan oleh orang yang tidak memiliki kapasitas ilmu yang memamadai, maka bahaya yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada maslahat yang dihasilkan.

Benar saja, dengan keilmuannya yang belum matang, dia berani membid'ahkan dan memfasikkan ajaran masyarakat bahkan ulama-ulama pada saat itu. Komentar ini tidak berlebihan, karena pengikut setianya yang bernama Ibni Baz membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan rihlah ke negara Iraq, tepatnya ke kota Bashrah. Menurut pernyataan Ibnu Baz, Muhammad menemui ulama-ulama di sana dan belajar ilmu kepada mereka. Setelah itu, dia berdakwah kepada masyarakat, mengajak mereka bertauhid kepada Allah Swt dan mengajak mereka kembali kepada Sunnah. Muhammad mengajak agar masyarakat beragama dengan berpegang Teguh langsung kepada Kitab Allah dan sunnah Rasulullah Saw. Muhammad sendiri, berdebat dengan ulama yang masih mempertahankan ajaran lamanya. Demikian pernyataan Ibnu Baz dalam mengomentari sosok Muhammad bin Abdul Wahhab.

11/09/2024

Jangan pernah putus asa atas Rahmat Allah Swt

إِنْ كُنْتَ تَغْدُو فِي الذُّنُوبِ جَلِيْدًا # وَتَخَافُ فِي يَوْمِ الْمَعَادِ وَعِيْدًا

Jika kamu selalu berbuat dosa, lalu kamu takut atas ancaman Allah Swt.

ًفَـلَـقَـدْ أَتَـاكَ مِـنَ الْـمُـهَـيْـمِـنِ عَفْوُهُ # وَأَفَـاضَ مِـنْ نِـعَـمٍ عَـلَـيْـكَ مَـزِيـدَ

Pasti datang ampunan dari Tuhanmu, akan mengalir nikmat-nikmat terhadapmu.

لَا تَيْأَسَنُ مِنْ لُطْفِ رَبِّكَ فِي الْحَشَا # فِي بَطْنِ أُمِّكَ مُضْغَةٌ وَوَلِيْدًا

Jadi, jangan putus asa dari kelembutan Tuhanmu tentang takdir sebelum kamu lahir, pada saat perut Ibumu terdapat segumpal daging dan seorang anak.

لَـوْ شَـاءَ أَنْ تَـصْـلَـى جَـهَـنَّـمَ خَالِدًا # مَــا كَـانَ أَلْـهَـمَ قَـلْـبَـكَ الـتَّـوْحِـيـدَ

Seandainya Allah Swt mengkehendakimu tinggal di neraka Jahannam selamanya, niscaya Allah tidak akan menginsprasi cahaya ketauhidan atas hatimu.

Wahai pelaku maksiat! Jika kamu selalu melakukan dosa dan takut akan ancamannya, maka ketahuilah bahwa ampunan dan rahmat-Nya akan selalu menyertaimu. Jangan pernah putus asa dari kelembutan Tuhanmu, karena takdir dan nasibmu sudah tercatat sebelum kamu lahir ke dunia, yaitu ketika kamu masih berupa segumpal daging dalam perut Ibumu. Seandainya Allah Swt mengkehendaki kamu berada di dalam neraka Jahannam selamanya, mestinya Allah Swt tidak akan pernah memberikan secuil pun ketauhidan pada hatimu.

08/09/2024

Kabur dari Perdebatan Ilmiyah Bukan Termasuk Ciri-Ciri Ahlussunnah wal Jamaah.

Sebelum saya menjelaskan panjang lebar tentang fenomena al Kaburi, saya ingin mengutip ayat yang menjadi ciri khas Aswaja sekaligus sebagai pembeda dengan kelompok-kelompok lainnya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهِ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت: 69).
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami Sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-'Ankabut: 69)

Ayat di atas memberikan penegasan, orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah akan memberinya hidayah dan petunjuk, dan Ia akan selalu memberinya pertolongan di dunia serta pahala dan ampunan di akhirat. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam agama ada istilah jihad, dan termasuk jihad ialah berdebat secara ilmiyah terhadap kelompok yang sudah menyimpang.
Menghadiri perdebatan ilmiah, menghadapi orang- orang yang menyimpang dari kebenaran, dengan tujuan menegakkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan merupakan bagian dari jihad. Perdebatan menegakkan kebenaran ini selalu dimenangkan oleh Ahlussunnah wal Jama'ah menyangkut ilmu fikih, teologi dan ushul fikih, baik perdebatan secara dialogis dalam forum terbuka maupun perdebatan secara polemis melalui karya tulis ilmiah.
Pada abad pertengahan, saat aktivitas keilmuan mencapai puncak kemajuan, ulama mazhab al-Asy'ari dan al-Maturidi mendirikan forum-forum perdebatan (majelis munazharah) secara terbuka. Hal ini tidak pernah berani dilakukan oleh sekte Hasyawiyyah, Mujassimah dan Musyabbihah yang menjadi benang merah lahirnya pemikiran aliran Wahabi.
Dalam perdebatan dialogis, Ahlussunnah wal Jama'ah selalu mempunyai nyali dan meraih kemenangan. Sedangkan orang- orang ahli bid'ah, kebanyakan mereka tidak mempunyai nyali dan enggan untuk melayani debat terbuka dengan orang-orang Ahlussunnah wal Jama'ah sebagaimana dikatakan oleh al-Imam as-Syathibi. Apabila mereka berani, mereka selalu dikalahkan seperti yang dialami orang-orang Khawarij dalam perdebatan menghadapi Ibn Abbas Ra.

Galis, 09 September 2024
Referensi : Buku Khasanah Aswaja

03/09/2024

Tradisi Rabu Wekasan

Sering kita dengar dari para guru tentang istilah Rabu Wekasan, hari di mana pada saat itu diturunkannya beberapa bala dari Allah Swt. Bala' tersebut katanya diturunkan terlebih dahulu kepada seorang wali Qutub, kemudian diturunkan ke muka bumi. Di sebagian daerah terdapat kebiasaan melakukan beberapa ibadah agar selamat dari bala tersebut. Ada yang melakukan shalat, membaca yasin, memasang azimat pada air dan lain semacamnya. Tradisi tersebut biasanya diselenggarakan saat hari rabu terakhir bulan Shafar dan terkenal dengan sebutan Rabu Wekason (Jawa red.) atau Rabbuh Bungkasan (Madura red.)

Adapun mengenai dalil yang melandasi tradisi tersebut masih tidak ditemukan satu dalil pun dari Alqur'an atau hadis yang menjelaskan secara rinci terkait tradisi yang sudah mengakar di masyarakat tersebut. Namun, mengenai dawuh ulama tentang keistimewaan beribadah di hari itu ternyata ada dalam kitab Jausahir Al-Khamsi yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Ibn Khattiruddin Ibnu Bayazid Ibnu Khawajah Al-Atthas. Menurut Tim Bohstul Masa'il Buku Lirboyo yang salah satu pengarangnya terdapat Lora saya sendiri, yaitu buku 'Sangu Urip', kitab Jaushir Al-Khamsi sudah diterbitkan melalui rekomendasi pengurus besar Thariqat Al-Maktaberah Tipaniyah Kubra, yaitu Asy-Syarif Al-'Ala Idris Ibnu Muhammad Ibnu Ahid Al-Husaini Al-'Iroqi

Dalam kitab tersebut, sebelumnya menjelaskan tentang amaliah yang dilakukan di bulan Shafar, juga terdapat anjuran doa yang juga dilakukan di bulan itu, yang mana orang yang membacanya akan selamat dari musibah yang akan terjadi di bulan tersebut. Setelah itu sang Muallif mengutip sebuah pendapat ulama yang bernama Syaikh Al-Kamil Fariduddin. Sakarjanjin, bahwa beliau pernah melihat Aurad Khunaja Syaikh Mu'inuddin yang menjelaskan bahwa di setiap tahun turun sekitar 320 ribu bala', yang semuanya turun di hari Rabu terakhir bulan Shafar. Hari itu merupakan hari yang sangat berat untuk dijalani. Barang siapa yang melakukan shalat empat rakaat at di hari itu, dengan membaca surah Al-Kautsar 17 kali setelah surat Alfatihah, ditambah surah Al-Ikhlas 5 kali dan surah Al-Falaq dan. An-Nas satu kali, lalu membaca doa yang terdapat dalam kitab tersebut, maka Allah akan menjaganya dari bala' yang akan turun pada hari itu dan ia akan selamat dari bala sampai tahun itu berakhir.

Dalam kitab Minhaj As-Surur sebelumnya menjelaskan bahwa Syaikh Zainuddin yang merupakan murid Ibnu Hajar Al Makki, mengatakan shalat raglanb merupakan tindakan bid'ah yang tercela. Sebab hadis-hadis yang mendasarinya termasuk hadis palsu. Pengarang kitab tersebut menganalogikan shalat yang dilakukan di bulan Shafar dengan shalat ragliaih yang difatwakan oleh Ibnu Hajar. Menurut beliau shalat di bulan Shafar merupakan tindakan bid'ah yang tercela. Jika ingin melakukan. shalat Shafar, maka sebaiknya melakukan shalat dengan berniat melakukan shalat sunnah mutlak dengan tanpa membatasi dengan limitasi waktu atau sebab apapun.

Oleh : Fakhrillah Aykar
Rabu 03 September 2024

26/08/2024

*Persamaan dan Perbedaan Pendapat al-Asy'ari dan al-Maturidi*

Kedua Imam ini memiliki kesamaan dan perbedaan, tapi meskipun memiliki perbedaan keduanya tidak saling menyesatkan dan mengkafirkan, tidak seperti kelompok-kelompok yang lainnya.

Kesamaan pendapat dari keduanya bukan karena faktor mereka saling mengenal dan saling mengutip pendapat. Keduanya berada di negeri berbeda dan tidak pernah bertemu antara satu sama lain. Al-Maturidi hidup di negeri belakang sungai, dari berbagai referensi tidak ada yang menyebutkan kalau beliau pernah keluar dari negerinya tersebut. Begitup**a dengan Imam al-Asy'ari, beliau hidup dan meninggal di Irak. Tidak ada satupun literatur ulama yang menyebutkan keluarnya beliau dari megerinya. Jadi, keduanya bisa dipastikan tidak saling mengenal satu sama lain.

Setidaknya ada tiga kemungkinan yang di analisa oleh ulama kenapa pendapat keduanya cinderung sama.
Pertama, pendapat yang di kemukakan oleh Abu Zahrah, beliau berpendapat, kemungkinan pendapat keduanya sama, karena faktor musuh yang di hadapinya sama, yakni sama-sama melawan pemikiran kaum Rasionalis, yaitu golongan Muktazilah. Dalam kitabnya beliau berkata,

وَلا تُحَادِ الْخَصْمِ الَّذِي كَانَ يَلْقَاهُ كُلُّ مِنَ الْمَاتُرِدِيَّ وَالْأَشْعَرِيِّ تَقَارَبَتِ النَّتَائِجُ.

"Karena musuh yang dihadapi oleh masing-masing al-Maturidi dan al-Asy'ari sama, maka hasil kajian mereka saling berdekatan." (Tarikhul Madzahib al-islamiyah) hlm 176.

Kedua, pendapat yang dilontarkan oleh Ali al-Maghribi, menurut analisa beliau, persamaan pendapat keduanya karena faktor manhaj yang sama. Keduanya dikenal menggunakan manhaj moderat yang mengkolaborasikan antara naqli dan akal. Beliau berkata,

وَيُمْكِنُ تَفْسِيرُ وُجُوهِ الشَّبَهِ بِيَنْهُمَا فِي الْآرَاءِ بِأَنَّهُ يَرْجِعُ إِلَى تَشَابُهِ مَنْهَجٍ كُلَّ مِنْهُمَا إِلَى حَدٌ مَا فِي التَّوَسُّطِ بَيْنَ الْعَقْلِ وَالنَّقْلِ.

"Faktor yang membuat kesamaan pendapat al-Maturidi dan al-Asy'ari dapat dijelaskan, yaitu kembali pada kesamaan manhaj masing-masing yang seimbang dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil naqli." (Imamu Ahlussunnah wal Jamaah Abu Manshur al-Maturidi) hal. 424

Ketiga, versi Ahmad bin Awadlullah al-Harbi, beliau memiliki analisis berbeda dengan yang lainnya, menurut beliau kesamaan itu muncul karena keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu sama mengikuti metode Ibnu Kullab. Di mana Imam al-Asy'ari setelah keluar dari paham muktazilah beliau menempuh metode Ibnu Kullab, sementara Imam al-Maturidi juga mengikuti Ibnu Kullab, di mana madzhab Ibnu Kullab menyebar ke negeri belakang sungai, yaitu tempat lahir dan wafatnya al-Maturidi. Ahmad al Harbi berkata,

لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْمَاتُرِدِيُّ قَدْ أَخَذَ عَنْ شُيُوخِهِ مِنَ الْكُلَّابِيَّةِ وَتَأْثَرَ بِهِمْ وَبِهَذَا يَتَّضِحُ السِّرُّ فِي التَّقَارُبِ بَيْنَ الْأَشْعَرِيَّةِ وَالْمَاتُرِدِيَّةِ.

"Pasti al-Maturidi telah belakar dari guru-gurunya yang termasuk golongan Kullabiyyah dan terpengaruh oleh mereka. Dengan hal ini menjadi jelas rahasia keidentikan antara golongan al-As'ariyyah dan al-Maturidiyyah." (Al-Maturidiyah Dirasatan wa Taqwiman) hal. 492

Setelah kedua mazhab ini menyebar, pengikut dua mazhab berdiskusi dan menemui perbedaan. Perbedaan itu dipetakan, didiskusikan, lalu
disimpulkan. Ulama menjelaskan aspek-aspek perbedaan antara kedua mazhab ini, sebagaimana dirilis dalam al-Maturidiyah Dirasatan wa Taqwiman, as-Subki berkata:

تَفَحَصْتُ كُتُبَ الْحَنَفِيَّةِ فَوَجَدْتُ جَمِيعَ الْمَسَائِلِ الَّتِي بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْحَنَفِيَّةِ خِلَافٌ فِيهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ مَسْأَلَةً مِنْهَا مَعْنَوِيٌّ سِتُّ مَسَائِلَ وَالْبَاقِي لَفْظِيُّ. وَتِلْكَ السَّتُ الْمَعْنَوِيَّةُ لَا تَقْتَنِي مُخَالَفَتُهُمْ لَنَا وَلَا مُخَالَفَتُنَا لَهُمْ فِيهَا تَكْفِيرًا وَلَا تَبْدِيعًا.

"Aku meneliti kitab-kitab Hanafiyyah (Maturidiyyah), maka aku dapati semua masalah yang antara kita dan Hanafiyyah terdapat perbedaan, ada 13 masalah. Di antaranya enam ma'nawi, dan lainnya lafzhi. Sementara enam yang ma'nawi itu, perbedaan mereka dengan kita, atau perbedaan kita dengan mereka tidak menuntut pengafiran dan pembid'ahan." (Ibid)

26/08/2024

*Spintas Tentang Bermadzhab*

Bermadzhab dalam kata lain adalah orang yang tidak mempunyai pengetahuan mengikuti orang yang berpengetahuan. Bermadzhab merupakan keniscayaan bagi umat muslim. Karena sejatinya orang awam lebih banyak daripada orang yang ahli di bidang tertentu. Jadi, dalam persoalan apapun kita dituntut untuk mengikuti orang yang mengetahui. Ibarat orang yang ingin mengetahui penyakit atau resep obat, maka dia harus bertanya dan mengikuti arahan dokter. Dalam persoalan agama kita juga dituntut mengikuti para ahli, yaitu para imam-imam mujathid. Karena setingkat kita tidak akan mampu mengambil hukum secara langsung dari al-quran dan hadis.

Kalau zaman sekarang cukup mengikuti kitab kuning yang otoritatif. Karena kandungan kitab kuning merupakan rumusan yang telah dicetuskan oleh Imam mujtahid yang kemudian di jabarkan lebih lanjut oleh ulama setelahnya melalui karya mereka.

Rumusan yang tersusun rapi menjadi kitab kuning tidak ubahnya seperti halnya rambu-rambu jalan, siapapun yang bepergian mengikuti rambu-rambu tersebut akan sampai ke tujuan. Karena rambu-rambu itu dibuat oleh orang yang mengetahui arah jalan dan tempat tujuan. Demikian p**a kitab kuning seperti rambu-rambu yang sudah di rumuskan oleh para ahlinya, yaitu imam-imam mujtahid.

21/08/2024

MENGENAL SOSOK AGUNG HABIB ABDULLAH BIN ALAWI AL-HADDAD DAN KEDAHSYATAN ROTIBNYA

Ada kisah menarik dalam kitab yang memuat tentang diwan-diwan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, yaitu kitab ad-Dzurrul Mandzum Lidawil Uqul wal Fuhum. Suatu saat Sayyid Abdullah Abdurrahman terbesit di hatinya suatu pertanyaan..? Mana yg saya harus beliau dahulukan di saat ada majlis di sana berkumpul Sayyid Faqih Al-Muqaddam, Sayyid as-Segaf, Sayyid Mihdor, Sayyid al-Aydrus dan Syekh Abd Qadir al Jailani dan di sana terdapat juga Habib Abdullah bin Alawi al Haddad..? Kemudian Beliau di buka hatinya oleh Habib
Abdullah bin Alawi al Haddad dan beliau berkata; "Aku adalah pintu bagi mereka, tidak bisa masuk pada mereka terkecuali lewat pelantaraku.

Sayyid Abdullah Abdurrahman mengerti sekarang dengan kejadian tersebut dan beliau menjadi faham sekarang dengan perkataan Habib Abdullah bin Alawi al Haddad:

إني من أهل القرن الثاني، إنما أخرني الله رحمة لأهل هذا الزمان

"Sebenarnya aku merupakan orang-orang yg
seharusnya hidup di qurun ke 2 yakni di zaman para sahabat, tapi Allah Swt membiarkan aku hidup di zaman ini, karena sebagai bentuk rahmat dan belas kasih dari Allah Swt untuk orang-orang di zaman ini".

Habib Abdullah al Haddad memiliki wiridan yang sangat masyhur dan hampir semua kalangan menjadikannya sebagai wiridan khusus. Hal itu, tidak lain karena kedahsyatan fadilah rotib yang sudah dirasakan oleh banyak orang.
Al Faqir mendengar langsung tentang fadilah rotib tersebut dari guru saya, yaitu Syaikhuna Ahmad Barizi Mf. Beliau menceritakan keistimewaan rotibul haddad di saat beliau menghadiri pembacaan rotib di mushallah beliau oleh para santri. Beliau berkata:

راتب الحداد يحرس البلد

"Rotib al-Haddad bisa menjaga suatu negara"

Beliau sangat mahabbah sekali kepada pengarang rotib tersebut, sehingga rotibul haddad dijadikan wiridan khusus dan rutinitas yang dibaca setiap malam rabu oleh sebagian santri.

Oleh : Fakhrillah Aykar
21 Agustus 2024 M.

21/07/2024

*KH. Imaduddin al-Bantani Vs Imam an-Nawawi al Bantani*.

Kh. Imad sapaan akrab beliau dan Imam An-Nawawi al Jawi al-Bantani merupakan dua tokoh yang sama-sama berasal dari Banten. Kh. Imaduddin yang saat ini sedang viral karena isu nasab yang selalu beliau gembor-gemborkan. Beliau mempunyai tesis yang katanya membantah bahwa nasab Bani Alawi terputus, sehingga para Sadah yang keturunan Bani Alawi tidak pantas disebut keturunan Rasulullah Saw. Pernyataan ini kemudian menjadi trending dan masih menjadi isu hangat sampai saat ini, banyak para tokoh mencoba menanggapi semua pernyataan beliau, baik melalui kajian ilmu nasab atau sejarah Sadah Bani Alawi.
Kali ini, posisi saya bukan antitesis yang dapat membantah pendapat beliau. Karena kelas saya hanya seorang santri yang berpegang teguh pada ajaran seorang Guru yang selalu mengajarkan rasa hormat pada keturunan Rasulullah Saw yang terkenal dengan sebutan Habaib atau Sayyid. Tapi, setidaknya saya harus bersuara dan menyampaikan pendapat para ulama yang saya ketahui, bukan pendapat saya sendiri, karena bukan level saya untuk berbicara masalah ini. Saya hanya bisa mengutip komentar-komentar para ulama di tengah isu nasab saat ini.
Pertama, saya ambil dari pernyataan Imam an-Nawawi al-Jawi dalam kitab Syarh Uqudul Lujain hlm 10.

(قالَ سَيْدُنَا) أي أكرمنا (الْحَبِيبُ) أي المحبوب السيد عبد)
اللهِ الْحَدَّاد صاحب الطريقة المشهورة، والأسرار الكثيرة. فاصطلاح
بعض أهل البلاد أن ذرية رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان ذكرا يقال له: "حبيب"، وإن كانت أنثى يقال لها: "حبابة"، واصطلاح
الأكثر يقال له: "سيد وسيدة".

Redaksi di atas merupakan penggalan dari kitab Uqudul Lujain yang mengutip dawuh Habib Abdullah al-Haddad. Sebelum memaparkan perkataan beliau, Imam an-Nawawi mengomentari sosok Habib Abdullah. Beliau memaparkan bahwa Habib Abdullah al-Haddad adalah shahibut thariqah yang sangat masyhur. Kemudian beliau menjelaskan bahwa istilah yang disematkan kepada dzurriyah Rasulullah Saw oleh sebagian Negara kalau laki-laki disebut Habib dan kalau perempuan disebut Hubabah. Dan mayoritas Negara menyebutnya Sayyid dan Sayyidah. Hal itu mungkin dipicu karena ada lafadz الحبيب pada redaksi matan, sehingga menurut beliau mungkin penting untuk dijelaskan.
Kitab Syarah Uqudul Lujain merupakan kitab yang menerangkan hak-hak suami isteri. Di Pondok saya dulu pernah diajarkan di kelas 5 Ibtidaiyah setelah maghrib. Kitab tersebut di karang oleh salah satu ulama besar yang dibanggakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu Imam an-Nawawi salah satu ulama yang sangat produktif asal Indonesia yang menetap di kota Mekkah.
Kembali ke pembahasan, narasi yang beliau sampaikan penulis kira sudah cukup untuk mengatakan bahwa beliau mengakui bahwa Habib Abdullah bin Alawi al Haddad adalah seorang tokoh keturunan Rasulullah Saw. Di mana beliau termasuk dzurriyah Rasul dari klan Bani Alawi. Seandainya beliau tidak mengakui kehabiban Habib Abdullah, pastinya Imam Nawawi tidak akan menjelaskan panjang lebar terkait istilah habib atau sayyid yang disematkan kepada Habib Abdullah.
Jadi, tidak berlebihan apabila saya beri judul tulisan ini Kh. Imaduddin al Bantani Vs Imam Nawawi al Bantani. Karena narasi yang di sampaikan oleh keduanya tidak sama.
Sekarang terserah pembaca menilai keduanya seperti apa, tapi yang jelas Imam Nawawi merupakan ulama berkelas yang kredibilitasnya sudah diakui oleh para ulama di masanya dan setelahnya. Saya tidak menafikan kalau Kh. Imad juga orang yang pintar dan cerdas, tapi dibandingkan Imam an Nawawi saya kira keilmuan beliau masih jauh untuk diakui kealimanya sekelas Imam Nawawi. Sekian terima kasih.

Oleh, Fakhrillah Aykar
Kajuanak, 21 Juli 2024.

Diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah menghidupkan separuh malam dengan berzikir kepada Allah Swt. Lalu beliau mendengar or...
01/07/2024

Diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah menghidupkan separuh malam dengan berzikir kepada Allah Swt. Lalu beliau mendengar orang bercerita tentang dirinya, yang menurut orang tersebut beliau menghidupkan semalaman. Lantas beliau mengubah rutinitasnya yang separuh malam menjadi semalaman. Hal itu dilakukan karena beliau merasa malu atas berita viral tentang dirinya yang tidak sesuai dengan fakta aslinya.

14/04/2024

Hukum Mengangkat Pengurus yang Sebenarnya Masih Banyak yang Lebih Layak

مَنِ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا مِنْ عِصَابَةٍ، وَفِي تِلْكَ الْعِصَابَةِ مَنْ هُوَ أَرْضَى لِلَّهِ مِنْهُ
فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَخَانَ رَسُولَهُ وَخَانَ الْمُؤْمِنِينَ.

"Barang siapa mengangkat seseorang untuk meng- urus suatu kaum, sementara di antara mereka ada orang yang lebih disukai Allah daripada orang ter- sebut, maka ia benar-benar telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin."57
Dalam hadits lain dikatakan:

وَمَنْ تَوَلَّى مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ شَيْئًا فَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ فِيهِمْ مَنْ هُوَ أَوْلَى بذلِكَ وَأَعْلَمُ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ وَجَمِيعَ الْمُؤْمِنِينَ.

"Barang siapa menjadi pemimpin untuk mengurusi persoalan umat Islam, kemudian ia mengangkat seseorang untuk mengurusi suatu persoalan, sementara ia tahu bahwa di antara mereka ada orang yang lebih layak menangani persoalan itu dan lebih paham tentang al-Qur'an dan sunnah rasul- Nya, maka ia benar-benar telah berkhianat kepada Allah, rasul-Nya, dan seluruh orang mukmin (HR. Bukhari)

11/04/2024

*CERITA LUCU TAPI BERBOBOT*

Di hari ke 10 bulan Ramadhan Syaikhuna Ahmad Barizi Mf menyampaikan cerita menarik dan lucu di saat materi kajian siang sampai pada hadis:
الحكمة ضالة المؤمن حيث وجدها التقطها
"Ilmu yg bermanfaat itu benda hilang dari orang mukmin, di manapun menemukannya maka ambillah"
Bermula dari hadis ini beliau menyampaikan bahwa yg penting berupa ilmu maka ambillah, siapapun yang mengatakannya walaupun hewan.
Kemudian beliau melanjutkan dan bercerita tentang seekor burung kecil yang hinggap, lalu oleh seseorang burung tersebut ditangkap dan berkata pada burung itu, "Wahai burung kecil ! aku akan memakan dan menyembelihmu". Tidak lama berselang burung itu berkata, "Wahai Insan ! Kalau engkau melepaskanku aku akan memberimu tiga faidah penting". Karena merasa ingin diberi faidah, orang itupun melepaskannya. Akhirnya burung itu lepas dan hinggap di rantai pohon di atasnya. Lalu orang itu menagih janji terkait faidah yg akan diberikan oleh burung kecil, lalu sang burungpun memberikannya. Dia berkata, faidah yang pertama adalah :
لا تندم على ما فاتك
"Janganlah engkau menyesal terhadap apa yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu"
Perkataan ini sebagai bentuk isyarah karena orang itu melepaskannya.
Lalu sang burung kecil berkata, "Wahai Insan! Di kepalaku ini terdapat emas satu cobek" . Dengan perkataan itu orang tadi merangsak naik mendekati sang burung kecil untuk menangkapnya lagi. Di hatinya bergumam, "emas itu mahal". Akhirnya si burung justru semakin naik dan berkata :
لا تصدق للمستحيل
"Jangan percaya terhadap hal-hal yang mustahil"
Masak dalam kepala seekor burung kecil ada emas satu cobek.
Kemudian si burung kecil semakin tinggi dan orang itu ikut naik ingin menghampiri burung kecil. Pada saat seperti itu, burung kecil pun berkata :
لا تعلق آملك بما لا تستطيع
"Jangan engkau gantungkan impianmu dengan hal-hal diluar kemampuanmu".
Sembari burung kecil menjauh dari hadapan orang tersebut.

Dari kisah ini bisa kita petik sebuah faidah, kalau apapun yang berbentuk ilmu dan siapapun yang mengucapkannya walaupun seekor burung sekalipun kita harus mengambilnya.

By. Fakhrillah Aykar
Kamis 10 Romadhan.
Kajian kitab Tadzkiru as-Sami' wal-Mutakallim.

Address

Kajuanak Galis
Bangkalan

Telephone

+81292225542

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fakhrillah Aykar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Fakhrillah Aykar:

Share