18/03/2018
"JEJAK KECIL KAYLA"
Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Kayla, seorang anak penyandang tunarungu dan tunadaksa yang sebelumnya sempat berusaha digugurkan oleh ibu kandungnya sendiri. Kemudian Kayla mengalami proses adopsi dua kali dari keluaga yang berbeda. Ibu kandungnya kini pergi tanpa jejak dan tidak ada satupun dari keluarga yang sempat mengadopsi tahu keberadaannya.
Setelah perempuan pertama yang mengadopsi meninggal dunia, Kayla pun diasuh oleh pasangan suami istri, Samsul Hadi dan Sriyatun yang berprofesi sebagai peternak sapi. Mereka tinggal di Dusun Pancoran, Desa Ketapang.
Karena Kayla mengalami keterbatasan fisik, orang tua angkatnya merasa tidak tega menyekolahkannya.
Padahal Kayla sangat ingin sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Hal itu ditunjukkan dengan kebiasaan Kayla yang sering pergi tanpa pamit hanya untuk melihat anak-anak bermain dan belajar di sekolah dekat rumahnya. Tak jarang ketika Kayla keluar dari halaman rumahnya, ia mendapatkan bulliying (cemooh) dari warga dan anak-anak seusianya.
Atas dasar kisah ini, Rumah Literasi Indonesia ingin menyampaikan pesan melalui karya film kepada masyarakat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk bermain dan belajar.Film pendek ini diproduksi dengan cara , melibatkan beberapa komunitas diantaranya : Rumah Literasi Indonesia, Teater Negri Dongeng Teater Langgas, Rumah Baca Gubug Laskmi, YOE Cinema Studio, Banyuwangi TV dan Slb Kalipuro Banyuwangi.
Pendidikan sudah seharusnya mampu memfasilitasi potensi anak-anak untuk berkarya di berbagai bidang, termasuk seni drama, pantomim, tari, musik bahkan berkarya di bidang cinematography.
Ini adalah karya kedua yang dimainkan oleh anak-anak disabilitas. Setelah sebelumnya mereka memproduksi film bergenre horror.
Tonton karya terbaru mereka dalam film pendek yang berjudul - “Jejak Kecil Kayla”.
Link : https://www.youtube.com/watch?v=ZGG1G2J6TU0
NB : karya film yang berdurasi panjang, akan kami putar bergilir ke jaringan rumah baca yang telah bersinergi dengan kami. sebagai upaya kampanye tentang pendidikan inklusi berbasis kolaborasi.
Thanks to : Faisal Riza, Ayoel Laksmi Wardhani, Faradina Rachmi, Dynee Alvaro, Faqih Faruqu Ende Riza, Edi Irawan, Tunggul Harwanto, Rahmadinata Syafa'at, Faiz Zathur Rosida, Nurul Hikmah, Nurul Hidayat, John Tata, Janabijana Nia, Maliki Kusuma, Absor, Nugroho Widhi A, Molla Maulidi, Achmad Iqbal, Siska Yuliana, Laili Qomariyah, Ufa Kupunya Indonesia, Wahyu Sasmita K, Harsono, Erika Saraswati, Siti Ainurachma, Ahmad Rosyidi, Lukman Hakim, Suharno Edi Santoso, Danial M Zaki, Akromul Insan, Andi Sep Kurniawan, Eris Utomo, Sayu Fitriani N, Sayu Eva Utomo, Ika Ningtyas, Prie Subakir, Emi Hidayati, Rizqif Pangestuti