22/08/2026
Takut Ditertawakan dan Takut Tidak Ada yang Membeli? Tetap Mulai
Ada satu ketakutan yang kadang lebih besar daripada takut teknologi.
Takut dilihat orang lain.
“Bagaimana kalau teman kantor melihat?”
“Nanti mereka bilang saya sok jadi pengusaha.”
“Bagaimana kalau posting saya jelek?”
“Bagaimana kalau tidak ada yang membeli?”
Ketakutan seperti ini sangat manusiawi.
Tetapi ada satu hal yang perlu kita pahami.
Orang lain tidak terlalu memperhatikan kita
Kita sering merasa semua orang memperhatikan apa yang kita lakukan.
Padahal kenyataannya, sebagian besar orang sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Teman Anda juga mungkin sedang memikirkan:
Tagihan.
Pekerjaan.
Anak.
Keluarga.
Cicilan.
Kesehatan.
Rencana masa depan.
Jadi ketika Anda membuat satu posting sederhana, kemungkinan besar dunia tidak berhenti untuk menertawakan Anda.
Dan kalau ada seseorang yang benar-benar menertawakan?
Tidak apa-apa.
Anda tidak sedang membangun masa depan untuk memenuhi pendapat semua orang.
Jangan takut kalau belum ada yang membeli
Ini juga penting.
Ketika pertama kali menjual sesuatu secara online, mungkin tidak langsung ada pembeli.
Bahkan mungkin tidak ada yang bertanya.
Jangan langsung mengatakan:
“Berarti saya tidak cocok bisnis online.”
Bayangkan seseorang membuka warung.
Hari pertama belum ada pembeli.
Apakah berarti makanan yang dijual pasti tidak enak?
Belum tentu.
Mungkin orang belum tahu warung itu ada.
Mungkin lokasinya kurang terlihat.
Mungkin harga perlu diperbaiki.
Mungkin penjelasan produknya kurang jelas.
Mungkin waktunya belum tepat.
Dalam bisnis online juga demikian.
Tidak ada pembeli bukan selalu berarti produknya buruk.
Bisa jadi kita masih belajar cara menawarkan.
Bisnis adalah proses belajar
Tidak perlu langsung menjual produk mahal.
Mulailah belajar menawarkan sesuatu yang sederhana.
Misalnya Anda mempunyai keahlian memasak.
Bagikan satu tips memasak.
Jika Anda pandai Excel, bagikan satu tips Excel.
Jika Anda seorang guru, bagikan tips belajar.
Jika Anda memahami akuntansi, bagikan pengetahuan keuangan sederhana.
Jika Anda pandai membuat kerajinan, tunjukkan prosesnya.
Keahlian yang selama ini Anda anggap biasa bisa jadi berharga bagi orang lain.
Tindakan sederhana dengan smartphone
Hari ini, rekam video menggunakan kamera smartphone selama 30 detik.
Tidak perlu langsung diposting.
Katakan:
“Halo, saya ingin mulai berbagi sedikit pengetahuan tentang ______. Saya masih belajar, tetapi mudah-mudahan pengalaman saya bisa bermanfaat bagi Anda.”
Simpan videonya.
Tonton kembali.
Jangan menilai wajah.
Jangan menilai suara.
Jangan mencari kesalahan.
Cukup katakan kepada diri sendiri:
“Saya sudah berani memulai.”
Besok, kalau sudah lebih percaya diri, buat video kedua.
Kemudian ketiga.
Lama-kelamaan berbicara di depan kamera akan terasa lebih biasa.
Dari takut menjadi terbiasa
Digital confidence bukan berarti tidak takut.
Orang yang percaya diri pun bisa merasa gugup.
Bedanya, ia tetap mencoba.
Hari ini mungkin masih takut membuat video.
Minggu depan mungkin sudah berani membuat satu video.
Bulan depan mungkin sudah berani menawarkan produk.
Beberapa bulan kemudian mungkin sudah mempunyai pelanggan pertama.
Semuanya dimulai dari satu tindakan kecil.
Jadi jangan mengatakan:
“Saya gaptek.”
Jangan p**a berkata:
“Saya tidak bisa bisnis online.”
Katakan:
“Saya belum terbiasa. Saya akan belajar sedikit demi sedikit.”
Karena orang biasa pun bisa belajar.
Anda tidak harus langsung menjadi ahli.
Anda hanya perlu berani memulai sebelum merasa benar-benar siap.
Jika Anda ingin melanjutkan perjalanan tersebut dan mencari inspirasi untuk membangun pilihan finansial yang lebih luas tanpa harus langsung meninggalkan pekerjaan, Anda dapat mengenal ebook “Kerja Boleh, Terikat Jangan” melalui https://yustinakamidi.com
Kerja boleh tetap terikat hari ini. Tetapi belajar membangun pilihan untuk masa depan bisa dimulai sekarang.