20/09/2026
Jadi gini lurr. Keterbatasan armada mobil tangki menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap dalam menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Di tengah meluasnya wilayah yang mengalami krisis air akibat kemarau panjang, BPBD harus mengatur distribusi secara bergantian agar kebutuhan warga di berbagai daerah tetap dapat terpenuhi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan saat ini BPBD hanya memiliki empat unit mobil tangki air.
Armada tersebut tersebar di sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPBD dan digunakan untuk melayani masyarakat yang tersebar di 18 kecamatan terdampak kekeringan.
“Armada tersebut tersebar di masing-masing UPT BPBD dan harus melayani warga terdampak kekeringan yang tersebar di 18 kecamatan,” kata Taryo, Jumat (18/9/2026).
Jumlah armada yang terbatas membuat proses distribusi air bersih membutuhkan waktu lebih lama, terutama ketika permintaan bantuan meningkat pada puncak musim kemarau.
Setiap hari, petugas harus menyusun jadwal pengiriman secara bergiliran agar bantuan air dapat menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan.
Menurut Taryo, pengaturan distribusi dilakukan secara cermat agar tidak ada daerah yang terlewat.
Mobil tangki harus berpindah dari satu desa ke desa lain dengan mempertimbangkan jumlah kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan.
“Petugas harus mengatur pengiriman secara bergantian agar bantuan bisa menjangkau wilayah yang membutuhkan,” ujarnya.
Selain keterbatasan jumlah kendaraan, kondisi geografis Kabupaten Cilacap juga menjadi tantangan tersendiri.
Sejumlah desa yang mengalami kekeringan berada di kawasan perbukitan dan pegunungan, terutama di wilayah Cilacap bagian barat.
Medan jalan yang cukup berat dan jarak tempuh yang jauh menyebabkan proses distribusi membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan wilayah lain.
“Jarak dan kondisi medan membuat proses pengiriman air membutuhkan waktu lebih lama,” jelas Taryo.
Kondisi tersebut membuat BPBD harus mencari solusi agar distribusi air bersih dapat dilakukan lebih efektif.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggandeng pemerintah desa untuk menyiapkan tempat penampungan air sementara di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat.
Penampungan air tersebut dapat dibuat secara sederhana, misalnya menggunakan terpal atau bak penampung yang disiapkan oleh pemerintah desa maupun masyarakat.
Dengan adanya titik penampungan bersama, mobil tangki tidak perlu mendatangi rumah warga satu per satu.
BPBD akan memusatkan pengiriman air ke titik penampungan tersebut. Setelah air tersedia, masyarakat dapat mengambil sesuai kebutuhan masing-masing.
Cara ini dinilai lebih efisien karena dapat mempercepat proses distribusi sekaligus memungkinkan armada yang terbatas melayani lebih banyak desa dalam waktu yang sama.
“Air yang dikirim BPBD nantinya dipusatkan ke lokasi penampungan, sehingga mobil tangki tidak harus mendatangi rumah-rumah warga satu per satu,” tambah Taryo.
Selengkapnya : Banyumas Ekspres