21/05/2026
Mengapa Banyak Aktivis Keluar dari Cita-Cita Reformasi?
Dulu mereka berada di garis depan perjuangan menuntut demokrasi, keadilan, dan kebebasan. Mereka melawan korupsi, otoritarianisme, serta penyalahgunaan kekuasaan atas nama Reformasi 1998.
Namun setelah puluhan tahun berlalu, sebagian aktivis justru dianggap berubah arah. Banyak yang masuk ke lingkar kekuasaan dan tidak lagi sejalan dengan semangat perjuangan yang dulu mereka suarakan. Pertanyaan pun muncul: apakah idealisme kalah oleh kekuasaan?
Cita-Cita Reformasi 1998
Reformasi 1998 muncul akibat krisis ekonomi, korupsi, otoritarianisme, dan pemerintahan yang dianggap mengekang kebebasan rakyat selama puluhan tahun.
Mahasiswa, aktivis, dan masyarakat turun ke jalan menuntut perubahan besar: demokrasi, penegakan HAM, kebebasan pers, serta pemerintahan yang bersih dari KKN.
Puncaknya terjadi pada 21 Mei 1998 ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah tekanan besar dari gerakan rakyat. Reformasi menjadi simbol harapan lahirnya Indonesia yang lebih adil dan demokratis.
Sebagian Aktivis Justru Berkompromi Dengan Kekuasaan
Banyak aktivis Reformasi dahulu dikenal vokal mengkritik militerisme, korupsi, dan pelanggaran HAM. Namun setelah memasuki dunia politik dan pemerintahan, sebagian memilih bekerja sama dengan elite kekuasaan yang dulu mereka lawan.
Bahkan ada yang mendukung atau berada dalam barisan politik bersama tokoh yang pernah dituduh terkait pelanggaran HAM era Reformasi 1998.
Kondisi ini memunculkan kritik bahwa sebagian aktivis telah menjauh dari cita-cita awal Reformasi dan lebih memilih posisi, jabatan, serta kepentingan politik praktis.
Seolah-olah Aktivis?
Banyak masyarakat merasa kecewa melihat sebagian aktivis Reformasi berubah setelah dekat dengan kekuasaan. Dahulu mereka berbicara tentang idealisme, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat.
Namun ketika memiliki akses politik, sebagian justru terlihat kompromistis dan kehilangan keberanian untuk mengkritik penguasa. Fenomena ini dianggap sebagai bentuk oportunisme politik: perjuangan tidak lagi berpusat pada nilai dan prinsip, tetapi pada kepentingan kekuasaan.
Sangat disayangkan karena Reformasi 1998 dibangun melalui pengorbanan besar, termasuk korban penculikan, kekerasan, dan perjuangan mahasiswa di jalanan. Ketika mantan aktivis akhirnya berdiri bersama aktor yang dulu mereka tuduh sebagai simbol represi dan pelanggaran HAM, banyak orang merasa cita-cita Reformasi telah dikhianati.
Reformasi akhirnya terlihat belum benar-benar selesai, karena kekuasaan masih mampu mengubah arah perjuangan banyak.
Selamat Hari Reformasi Nasional!
Reformasi bukan sekadar sejarah, tetapi pengingat bahwa demokrasi dan kebebasan lahir dari perjuangan besar rakyat Indonesia.
Generasi muda perlu tetap kritis, berani mengawasi kekuasaan, serta menjaga nilai keadilan dan keberpihakan kepada rakyat.
Reformasi belum selesai selama korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hak rakyat masih terus terjadi di negeri ini.