Buku Muslim Banyuwangi

Buku Muslim Banyuwangi Berbagi faedah berharap berkah Berbagi Faedah Berharap Berkah

Semua kaum Muslimin insya Allah paham dengan apa-apa yang membatalkan wudhu, Shalat dan Puasa. Tentu ini adalah suatu ya...
08/09/2018

Semua kaum Muslimin insya Allah paham dengan apa-apa yang membatalkan wudhu, Shalat dan Puasa. Tentu ini adalah suatu yang menggembirakan, karena mengetahui apa-apa yang membatalkan suatu ibadah adalah suatu kewajiban.

Akan tetapi yang lebih wajib dari itu adalah mengetahui apa-apa yang membatalkan
Iman dan Islam yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, atau terjatuh ke dalam kekufuran.

Yang membatalkan Iman bisa berupa keyakinan, ucapan dan perbuatan, dan bentuknya banyak, yaitu syirik, mencaci Allah, mengingkari sesuatu dari Syariat, menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengingkari kebangkitan kembali di akhirat, mengaku sebagai nabi, dan sebagainya.

Dan buku kita ini, yang aslinya adalah disertasi doktoral, mengulas setiap masalah tersebut secara akademis, menyeluruh, metodologis, dan kuat berdasarkan al-Qur`an, as-Sunnah yang shahih, dan ijma’ serta dilengkapi dengan perkataan-perkataan ulama dalam masing-masing masalah.

Kajilah buku ini agar Anda dan orang-orang di sekitar Anda terhindar dari ketergelinciran ke dalam kekufuran tanpa disadari.

01/08/2018

📃📃📃📃📃📃📃📃

🔥🔥 ANTARA KEMAKSIATAN DAN KETAATANMU

Al Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata,

🔹 "Setiap kemaksiatan yang karenanya engkau mencela saudaramu, maka kemaksiatan itu (dosanya) akan kembali kepadamu".

Kemudian beliau -rahimahullahu- berkata,

🔴 "Sesungguhnya celaanmu terhadap saudaramu (karena dosa yang dilakukannya), itu lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan oleh saudaramu dan lebih dahsyat kemaksiatannya, karena terkandung padanya (anggapan bahwa dirimu memiliki) kehebatan untuk melakukan ketaatan, penyucian diri, serta pujian atas dirimu sendiri dan anggapan bahwa dirimu terbebas dari dosa, dalam keadaan (kamu memandang) saudaramu kembali dengan memikul dosa-dosa.

🔥Mungkin saja penyesalan saudaramu atas dosa-dosanya dan segala yang terlahir dari dosa-dosa tersebut seperti: rasa hina, ketundukan, kecaman atas dirinya sendiri, dan selamatnya dia dari penyakit ingin diakui, sombong serta bangga diri dan (ditambah lagi) dengan dia senantiasa mengahadap kepada Allah dengan kepala yang tertunduk, pandangannya yang khusyu, dan hatinya yang luluh lantah (itu semua) adalah lebih bermanfaat dibandingkan dengan kehebatanmu untuk melakukan ketaatan, upaya kerasmu memperbanyak ketaatan, rasa banggamu dengan ketaatan, dan anggapanmu bahwa dirimu telah memberikan nikmat kepada Allah dan makhluknya dengan ketaatan tersebut.

🔖 Sungguh alangkah dekatnya pelaku kemaksiatan ini kepada rahmat Allah dan alangkah dekatnya orang yang sombong dengan amalannya ini kepada kemurkaan Allah".

Sumber :
📚 (Madarijussalikin 1/134).

======================

ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :
" ﻭ ﻛﻞ ﻣﻌﺼﻴﺔ ﻋﻴﺮﺕ ﺑﻬﺎ ﺃﺧﺎﻙ ﻓﻬﻲ ﺇﻟﻴﻚ
ﻭ ﻗﺎﻝ ﺇﻥﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭ ﺃﺷﺪ ﻣﻦ
ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭ ﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭ
ﺷﻜﺮﻫﺎ ﻭ ﺍﻟﻤﻨﺎﺩﺍﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺑﺎﻟﺒﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻭ ﺃﻥ
ﺃﺧﺎﻙ ﺑﺎﺀ ﺑﻪ، ﻭ ﻟﻌﻞ ﻛﺴﺮﺗﻪ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻟﻪ ﻣﻦ
ﺍ ﻟﺬﻟﺔ ﻭﺍﻟﺨﻀﻮﻉ ﻭ ﺍﻹﺯﺭﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭ ﺍﻟﺘﺨﻠﺺ ﻣﻦ
ﻣﺮﺽ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ ﻭ ﺍﻟﻜﺒﺮ ﻭ ﺍﻟﻌﺠﺐ ﻭ ﻭﻗﻮﻓﻪ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ
ﺍﻟﻠﻪ ﻧﺎﻛﺲ ﺍﻟﺮﺃﺱ ﺧﺎﺷﻊ ﺍﻟﻄﺮﻑ ﻣﻨﻜﺴﺮ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﺃﻧﻔﻊ
ﻟﻪ ﻭ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﻃﺎﻋﺘﻚ ﻭ ﺗﻜﺜﺮﻙ ﺑﻬﺎ ﻭ ﺍﻻﻋﺘﺪﺍﺩ
ﺑﻬﺎ ﻭ ﺍﻟﻤﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺧﻠﻘﻪ ﺑﻬﺎ، ﻓﻤﺎ ﺃﻗﺮﺏ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﻌﺎﺻﻲ ﻣﻦ ﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﻣﺎ ﺃﻗﺮﺏ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺪﻝ ﻣﻦ
ﻣﻘﺖ ﺍﻟﻠﻪ

مدارج السالكين ١ / ١٣٤

◼◼◼

✍🏻 tim S©🇮🇩

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪
🌐 Chanel telegram :
http://t.me/salafy_cirebon

◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻◻

31/07/2018

AGAR POHON KEIMANAN TUMBUH DAN BERBUAH!

Oleh
Syaikh Abdurazaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahumallâh

Hal terpenting yang wajib diperhatikan oleh seorang Mukmin dalam kehidupannya di dunia ini adalah masalah keimanan. Karena keimanan itu merupakan bagian terbaik yang diproleh jiwa dan yang diraih oleh hati; Dengannya dia bisa meraih kemuliaan di dunia dan akhirat; bahkan semua usaha yang dicurahkan oleh seorang hamba sangat tergantung (nilai dan manfaatnya-pent) pada keimanan yang benar.

Iman merupakan tujuan dan maksud terbaik dan teragung.

Dengannya seorang hamba akan merasakan kehidupan yang tenteram di dunia dan di akhirat; Juga dengannya dia terhindar dari hal-hal yang tidak menyenangkan, keburukan dan siksa.

Dengannya p**a dia akan mendapatkan anugerah terindah dan terluas.

Dengan keimanan, seseorang akan meraih pahala akhirat sehingga dia akan dimasukkan ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga itu berisi kenikmatan abadi dan anugerah yang agung, kenikmatan yang tidak pernah terlihat mata dan tidak pernah terdengar telinga serta tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Dengan keimanan, seseorang akan terselamatkan dari neraka yang azabnya keras, lubangnya dalam serta sangat panas apinya.

Dengan keimanan, seseorang akan beruntung bisa meraih ridha Rabbnya sehingga dia akan terhindar dari murka-Nya dan dia juga akan merasakan kenikmatan melihat wajah Rabbnya pada hari kiamat tanpa ada yang membahayakannya atau menyesatkannya.

Dengan keimanan, hati dan jiwa akan menjadi tenang dan bahagia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allâh Azza wa Jalla . Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allâh Azza wa Jalla -lah hati menjadi tenteram. [ar-Ra’d/13:28]

Alangkah banyaknya faidah, pengaruh positif, buah serta kebaikan iman yang tak pernah putus dalam kehidupan dunia dan akhirat, tidak ada yang bisa menghitung dan mengetahuinya kecuali Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. [as-Sajdah/32:17]

Sesungguhnya keimanan itu adalah (ibarat-pent) pohon yang penuh berkah, yang sangat banyak faidahnya. Pohon ini memiliki tempat khusus yang memungkin dia tumbuh subur, memiliki minuman khusus, juga memiliki akar dan cabang-cabang serta memiliki buah yang manis. Tempat tumbuhnya iman itu adalah hati. Di sana, bibit dan pokok keimanan diletakkan (ditanam-pent) dan darinya p**a cabang-cabangnya akan bermunculan. Adapun minumannya adalah wahyu Allâh yaitu al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dengan wahyu inilah pohon keimanan itu harus disiram, tanpa itu pohon keimanan tidak bisa hidup dan tidak akan bisa tumbuh.

Adapun akar dari pohon keimanan adalah rukun iman yang enam yaitu beriman kepada Allâh Azza wa Jalla , para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir serta beriman kepada takdir baik dan buruk-Nya. Yang tertinggi adalah beriman kepada Allâh Azza wa Jalla . Dialah inti dari semua akan pohon keimanan tersebut. Sedangkan cabang-cabang pohon keimanan itu adalah semua amal-amal shaleh, ketaatan-ketaatan yang bervariasi dan berbagai ibadah yang dilakukan oleh seorang Mukmin, seperti shalat, puasa, zakat, haji, perbuatan bakti kepada orang lain dan lain sebagainya.

Adapun buahnya, dialah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh seorag Mukmin di dunia dan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an-Nahl/16:97]

Kaum Muslimin dalam masalah keimanan terbagi menjadi banyak tingkatan sesuai dengan kuat atau lemahnya sifat-sifat tersebut di atas pada diri mereka. Oleh karena itu, seorang Muslim yang sangat menginginkan kebaikan untuk dirinya, seyogyanya dia berusaha keras untuk mengetahui sifat-sifat tersebut di atas, merenunginya dan menerapkannya dalam kehidupannya agar keimanannya bertambah, keyakinannya semakin kuat dan agar kebahagiaan yang diraihnya semakin sempurna. Sebagaimana dia juga harus menjaga dirinya agar tidak terjebak dalam hal-hal yang bisa menyebabkan keimanannya berkurang dan semakin lemah, sehingga dia terselamatkan dari akibat-akibat yang buruk serta menyakitkan.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan keimanan itu bertambah dan semakin kuat. Diantaranya yang paling penting adalah mempelajari ilmu yang bermanfaat, membaca dan merenungi al-Qur’an, mengetahui nama-nama Allâh yang Maha Indah dan mengatahui sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi, merenungi keindahan dan kebaikan agama kita yang hanif ini, mempelajari sejarah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para shahabatnya g , melihat dan merenungi alam yang begitu luas beserta isinya yang menjadi bukti yang menakjubkan dan nyata. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali Imran/3:191]

Keimanan juga bisa tumbuh dan bertambah dengan sebab kesungguh-sungguhan dan keseriusan seseorang dalam mentaati Allâh Azza wa Jalla , terus menerus melaksanakan berbagai perintah-Nya serta memanfaatkan waktu dalam melaksanakan perbuatan taat dan semua yang bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allâh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [al-‘Ankabut/29:69]

Sebagaimana keimanan itu bisa tumbuh dan bertambah dengan banyak hal, begitu sebaliknya, keimanan itu juga bisa berkurang dan semakin melemah dengan banyak sebab yang harus dihindari. Diantaranya yang terpenting adalah kebodohan (ketidaktahuan) seseorang tentang agama Allâh Azza wa Jalla ini, lalai dan berpaling darinya, melakukan perbuatan dosa dan maksiat, terus memperturutkan hawa nafsu yang senantiasa menggiring kepada perbuatan buruk, sering bergaul dengan orang-orang fasiq dan pelaku dosa, terbawa bisikan setan, tertipu dengan keindahan dunia sehingga dia menjadi dunia ini sebagai tujuan tertinggi dan terbesar.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhum, beliau Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوْا اللهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ

Sesungguhnya keimanan itu bisa usang dalam hati salah seorang diantara kalian sebagaimana baju bisa usang, oleh karena itu, mohonlah kepada Allâh Azza wa Jalla agar Dia memperbaharui keimanan yang ada dalam hati kalian. [HR al-Hâkim (1/4) dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîhah, no. 1585]

Dalam hadits ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyematkan sifat usang pada keimanan sebagaimana baju bisa usang, maksudnya iman itu bisa rusak, melemah dan berkurang, dengan sebab kenekatan seseorang dalam melakukan perbuatan maksiat dan dosa serta banyaknya hal-hal yang bisa melalaikan dan menipu yang ditemui dalam perjalanan hidupnya yang bisa menghilangkan kebagusan kwalitas iman seseorang, kekuatannya serta pertumbuhannya. Oleh karena itu, dalam hadits ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk agar kaum Mukminin menjaga keimanannya, menguatkan keimanannya dan senantiasa berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla agar imannya semakin bertambah dan semakin berkembang. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Tetapi Allâh menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, [al-Hujurat/49:7]

Maka sebaiknya seorang hamba senantiasa menasehati dirinya sendiri agar terus-menerus menjaga sesuatu yang paling berharga dan bekal terbaik yang dia miliki saat menjumpa Allâh Azza wa Jalla yaitu keimanannya.

Saat para Salaful Ummah (pendahulu umat) ini dan generasi terbaik mereka telah benar-benar menyadari keagungan iman dan tingkat kebutuhan manusia terhadap keimanan, maka perhatian mereka terhadap keimanan itu luar biasa dan lebih dikedepankan daripada perhatian mereka terhadap segala sesuatu. Karena kebutuhan manusia terhadap keimanan itu lebih mendesak dibandingkan kebutuhan kita terhadap makanan, minuman dan udara. Para assalafusshaleh selalu menjaga keimanan mereka, memperhatikan amal perbuatan mereka dan mereka saling nasehat-menasehati dengannya.

Suatu ketika Umar bin al-Khattab Radhiyallahu anhu pernah mengatakan kepada para shahabat beliau Radhiyallahu anhu , “Marilah kita menambah keimanan kita.”

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhuma juga pernah mengatakan, “Duduklah bersama kami untk menambah keimanan kita.” Beliau Radhiyallahu anhuma juga memanjatkan do’a :

اللَّهُمَّ زِدْنِي إِيْمَانًا وَيَقِيْنًا وَفِقْهًا

Wahai Allâh Azza wa Jalla ! Tambahkanlah untukku keimanan, keyakinan dan pemahaman.

Abdullah bin Rawâhah Radhiyallahu anhu pernah meraih tangan beberapa shahabatnya seraya mengatakan, “Ayo kita beriman sejenak! Mari kita mengingat Allâh Azza wa Jalla dan menambah keimanan dengan (melakukan) ketaatan! Semoga Allâh Azza wa Jalla mengingat kita dengan maghfirah-Nya.”

Abu Darda’ Radhiyallahu anhu mengatakan, “Diantara tanda faqihnya seseorang adalah dia mengetahui apakah dia termasuk yang bertambah ataukah berkurang imannya? Dan diantara tanda faqihnya seseorang yaitu dia mengetahui darimana tipu daya setan itu berdatangan?”

Umair bin Hubaib al-Khathami Radhiyallahu anhu mengetakan, “Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Beliau ditanya, ‘Apa yang bisa menambahnya dan apa yang bisa menguranginya?’ Beliau Radhiyallahu anhu menjawab, “Jika kita berdzikir (mengingat) Allâh Azza wa Jalla , bertahmîd (memuji-Nya) dan bertasbih kepada-Nya. Itulah yang bisa menambahnya. Jika kita lalai, menyia-nyiakan-Nya dan melupakan-Nya, maka itu bisa menguranginya.”

Nukilan-nukilan tentang hal itu sangat banyak.

Berdasarkan uraian ini, maka seorang hamba yang mendapatkan taufiq dari Allâh Azza wa Jalla akan senantiasa berusaha dalam hidupnya untuk merealisasikan dua perkara besar yaitu :

1. Memperkuat keimanan dan cabang-cabangnya serta merealisasikan secara ilmiyyah juga amaliyah

2. Berusaha menangkal segala yang bisa melenyapkan, membatalkan dan menggerus keimanannya, seperti fitnah-fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Juga berusaha menutupi segala kekurangannya pada point pertama ataupun kekurangan akibat kenekatannya melanggar sebagian hal pada point kedua dengan bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan melakukan apa yang ditinggalkan sebelum masanya lewat.

Terakhir, kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kemampuan untuk merealisasikan dan menyempurnakan semuanya sesuai dengan keridhaan Allâh Azza wa Jalla . Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita keimanan yang benar, keyakinan yang sempurna dan taubat yang benar. Semoga Allâh Azza wa Jalla juga mengampuni kita, kedua orang orang tua kita dan semua kaum Muslimin, baik laki-laki mapun yang perempuan, karena sesungguhnya Allâh itu Maha Pengampun dan Maha penyayang.

(Diangkat dari al-Fawâ’idul Mantsûrah, hlm. 42-45)

Sumber: https://almanhaj.or.id/4138-agar-pohon-keimanan-tumbuh-dan-berbuah.html

📓 10 PERKARA YANG MEMBUAT HATI MATI📖 "Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia...
27/07/2018

📓 10 PERKARA YANG MEMBUAT HATI MATI

📖 "Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’. Sudah sekian lama kami berdoa tapi tidak dikabulkan?”

Beliau menjawab,

يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ، الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

“Wahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,

Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.

Kedua, kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkannya.

Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.

Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.

Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.

Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.

Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.

Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.

Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.

Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”

[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyâ` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan), dan Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329.]

perbanyak amalan pada hari jum'at

Barakallahu fiikum

Cara Shalat (Paket Belajar Shalat)👉 Bagaimana Rasulullah Mengerjakan dan Menyempurnakan Shalatnya?Shalat adalah kewajiba...
21/07/2018

Cara Shalat (Paket Belajar Shalat)

👉 Bagaimana Rasulullah Mengerjakan dan Menyempurnakan Shalatnya?

Shalat adalah kewajiban yang utama dalam syariat islam. Shalat merupakan amalan yang pertama kali ditanyakan dan dinilai di hari pembalasan. Jika kualitasnya baik, amalan lainnya juga menjadi baik. Kalau shalatnya jelek, amalan lainnya bisa dipastikan jelek p**a.

Kualitas Shalat seseorang dikatakan BAIK jika dikerjakan dengan ikhlas mengharap pahala dari Allah, tatacara shalatnya sesuai dengan tuntunan Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam, sertaditunaikan dengan khusyu dan sepenuh hati.

Bagaimana cara memperbaiki kualitas shalat? JANGAN KHAWATIR!! Kini kami hadirkan Paket Buku Belajar Shalat KHUSUS Membekali Anda untuk dapat Shalat secara benar dan khusyu’. Sehingga Shalat Anda diterima dan menjadi simpanan pahala terbaik di akhirat kelak.

Keistimewaan Paket Buku Belajar Shalat ini semua pembahasannya didasarkan dalil-dalil yang shahih dari Al-Qur’an dan Sunnah, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami, serta membahas seluk beluk shalat secara ringkas dan menyeluruh. HARGA TERJANGKAU!

🔎 Detail Paket Buku Belajar Shalat :

☑ Sifat Shalat Nabi | Syaikh Muhammad Al-Albani | Darul Haq | Rp. 45.000 | 460 gram | 404 halaman

☑ Kump**an Shalat Sunnah dan Keutamaannya | DR. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani | Darul Haq | 300 gram | 242 halaman

☑ 221 Kesalahan Dalam Shalat Beserta Koreksinya | Abdul Aziz bin Nashir al Musainid | Darul Haq | 100 gram | 110 halaman

☑ Dzikir Pagi dan Petang | Yazid bin Abdul Qadir Jawwas | Pustaka Imam Syafii | 100 gram | 134 halaman

🛒 Tunggu apa lagi! Miliki paket bukunya sekarang juga!

🛒 Dapatkan sekarang juga buku Cara Shalat (Paket Belajar Shalat)

💶 Harga 107 ribu

☎ 081217668648

Beberapa buku kecil
21/07/2018

Beberapa buku kecil

Buku Fiqih Dakwah Para NabiPenulis: Prof. DR. Rabi bin Hadi Al-MadkhaliPenerbit: Media TarbiyahUkuran: 16,5 cm  x 24,5 c...
19/07/2018

Buku Fiqih Dakwah Para Nabi
Penulis: Prof. DR. Rabi bin Hadi Al-Madkhali
Penerbit: Media Tarbiyah
Ukuran: 16,5 cm x 24,5 cm
Cover: Hard Cover
Berat: 550 Gram
Tebal: 264 halaman
Harga: 65.000

“Dan Allah memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna it...
12/07/2018

“Dan Allah memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu.” (QS. Al-A’raaf: 180)

Mengenal Allah, nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan-perbuatan-Nya merupakan semulia-mulia ilmu agama, semurni-murni tujuan yang dicapai seorang hamba, dan jalan satu-satunya untuk meraih kemuliaan, kejayaan dan kebaikan di dunia serta di akhirat.

Ada kaidah-kaidah tertentu dalam memahami Asma`ul Husna (nama-nama Allah yang baik) dan juga sifat-sifat-Nya. Hal ini telah dibahas secara panjang lebar para ulama -salafus shalih- yang sekaligus menjadi manhaj mereka. Kesalahan dalam hal ini berakibat fatal, sebab melakukan kesalahan yang berhubungan dengan Dzat Maha mulia, Allah Azza wa Jalla.

Dalam buku “Fikih Asma’ul Husna”, penulis membahas secara jelas, detail, dan sistematis tentang Asma`ul Husna dan sifat-sifat Allah yang agung dengan menyandarkan setiap pembahasannya pada dalil-dalil dari Al-Qur’an, sunnah Rasulullah yang shahih, dan manhaj salafus shalih yang lurus. Penulis mengawali pembahasannya dengan mukaddimah yang sangat berharga tentang kedudukan dan keutamaan ilmu yang bermanfaat ini, kaidah-kaidah penting dalam memahami asma` dan sifat Allah, pengaruhnya terhadap penciptaan alam semesta dan peribadahan, kesesatan dan kesalahan dalam pembahasan Asma`ul Husna, dan juga penjelasan dari sisi ibadah serta pengaruh keimanan yang merupakan perwujudan iman terhadap nama-nama Allah.

Harga: Rp. 115.000
Penulis: Syeikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr
Penerbit: Darus Sunnah
Ukuran/Tebal:16 x 24,5 cm, 558 halaman

Benarkah Bilal membuat bid'ah shalat wudhu? Mohon penjelasannya Ustadz syukran.Jawab: Sebelum menjawab pertanyaan, perlu...
13/04/2018

Benarkah Bilal membuat bid'ah shalat wudhu? Mohon penjelasannya Ustadz syukran.

Jawab: Sebelum menjawab pertanyaan, perlu kita pahami bersama apa yang dimaksud dengan bid'ah menurut syariat. Para Ulama menjelaskan:

كل اعتقاد أو لفظ أو عمل أحدث بعد موت النبي صلى الله عليه والسلام بنية التعبد والتقرب ولم يدل عليه الدليل من الكتاب ولا من السنة ولا إجماع السلف

"Bid'ah adalah setiap keyakinan, ucapan atau perbuatan yang diada-adakan sepeninggal Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dengan niat ibadah dan bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah) yang tidak ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an was Sunnah serta ijma’ Salaf." (Al-Qoulul Mufid fi Adillatit Tauhid hal. 182)

Di dalam Al-Qur'an, Allah telah menyebut bid'ah yang dilakukan oleh para pendeta Nashroni yaitu tidak mau menikah, Allah berfirman:

ورهبانية ابتدعوها ما كتبناه عليهم إلا ابتغاء رضوان الله

"Dan mereka mengada-adakan (bid'ah) kerahiban, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk (alasan) mencari keridhoan Allah." (Al-Hadid: 27)

Nabi shollallahu 'alaihi wasallam juga senantiasa memperingatkan umatnya dari bahaya bid'ah setiap kali beliau hendak memulai khutbah:

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Amma ba’d, maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara (agama) yang diada-adakan, setiap perkara (agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat." (HR. Muslim 867)

Maka bid'ah menurut syariat adalah mengada-ada dalam beragama yang tidak ada landasannya dari syariat baik secara perkataan, perbuatan, pemahaman maupun keyakinan. Semua bid'ah itu sesat meski orang memandangnya baik sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin 'Umar rodhiyallahu 'anhu. Ini prinsip yang harus dimengerti terkait bid'ah.

Adapun sholat sunnah setelah wudhu hukumnya sunnah yang dianjurkan bukan bid'ah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:

ما من مسلم يتوضأ فيحسن وضوءه ثم يقوم فيصلي ركعتين مقبل عليهما بقلبه ووجهه إلا وجبت له الجنة

“Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu sholat dua rokaat dengan khusyunya hati dan jiwa melainkan wajib baginya surga." (HR. Muslim 234)

Dari Utsman bin 'Affan rodhiyallahu 'anhu setelah beliau menyontohkan cara wudhu Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau menyebutkan sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:

من توضأ نحو وضوئي هذا ثم قام فركع ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, lalu dia berdiri mengerjakan sholat dua rokaat dan tidak berkata-kata dalam hati (tentang urusan dunianya), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori 162 dan Muslim 226)

Berdasarkan hadits ini para Ulama berkata dianjurkannya sholat dua rokaat setelah wudhu, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafii:

يستحب ركعتان عقب الوضوء للأحاديث الصحيحة فيها

"Dianjurkan sholat dua rokaat setelah wudhu karena adanya hadits-hadits shohih yang mendasarinya." (Al-Majmu' 3/545)

Adapun perbuatan Bilal yang mengerjakan sholat setelah wudhu maka itu bukanlah produk pikiran Bilal tanpa dalil. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam hanya bertanya kepada Bilal tentang amalan apa yang dikerjakannya lantaran beliau mendengar suara terompahnya di surga, dan beliau tidak bertanya amalan bid'ah apa yang kamu buat dan kamu ada-adakan dalam beragama?

Sedangkan para Shohabat Nabi adalah orang-orang yang paling meneladani sunnah beliau dan paling menjauhi perbuatan bid'ah yang mengada-ada dalam beragama. Bila saja ada amalan yang dilakukan Shohabat menyelisihi petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, maka beliau akan mengingkarinya sebagaimana pengingkaran beliau terhadap tiga orang Shohabatnya yang ingin sholat malam tanpa tidur, ingin puasa setiap hari, dan tidak ingin menikah, beliau bersabda:

أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له لكني أصوم وأفطر ، وأصلي وأرقد ، وأتزوج النساء ، فمن رغب عن سنتي فليس مني

"Demi Allah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan paling bertaqwa kepada-Nya. Akan tetapi, aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku sholat dan aku juga tidur, dan aku menikahi wanita-wanita, maka barangsiapa yang membenci sunnahku (ajaranku), maka dia bukanlah dari golonganku." (HR. Al-Bukhori 5063)

Kerasnya pengingkaran Nabi shollallahu 'alaihi wasallam tersebut karena bid'ah mengakibatkan amalannya tertolak meski niatnya baik. Beliau bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

"Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak bersumber dari ajaran kami maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim 1718)

Oleh karena itu Imam Malik berkata:

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمداً خان الرسالة

“Siapa saja yang mengada-adakan kebid’ahan dalam perkara agama yang dia klaim sebagai kebaikan, sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad mengkhianati risalahnya!" (Al-I'tishom 1/64)

Maka orang yang mengatakan sholat sunnah wudhu itu sebagai bid'ah hasanah hasil kreasi Bilal hanyalah orang yang jahil terhadap hadits atau ahlul bid'ah yang mencari-cari pembenaran atas kebid'ahannya. Karena hadits-hadits Nabi shollallahu 'alaihi wasallam tegas menganjurkannya dan beliau juga mengamalkannya sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Al-'Allamah bin Baz:

ثبت عنه -صلى الله عليه وسلم- أنه توضأ، فأحسن الوضوء، ثم صلى ركعتين، ثم قال: (من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه). هذا ثابت عنه -صلى الله عليه وسلم- من حديث عثمان ومن أحاديث أخرى

"Sah riwayatnya dari beliau shollallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu beliau sholat sebanyak dua rokaat, kemudian beliau bersabda, "Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, lalu dia berdiri mengerjakan sholat dua rokaat dan tidak berkata-kata dalam hati (tentang urusan dunianya), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." Riwayat ini telah sah dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, dari riwayat 'Utsman dan dari riwayat-riwayat para Shohabat yang lain." (Via binbaz)

Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada sunnah Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dan tidak menyelisihinya lantaran akal, perasaan atau kebiasaan setempat, wa billahit tawfiq.
_______

Fikri Abul Hasan

Jalan Salaf Lebih Selamat

Buku buku tematik karya guru kami hafidhohullohu ta'ala:
16/03/2018

Buku buku tematik karya guru kami hafidhohullohu ta'ala:

16/03/2018

Address

Genteng
68465

Telephone

+6281217668648

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Buku Muslim Banyuwangi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share