Jasa

Jasa Kumpulan jasa yang ditawarkan secara daring (online). Mungkin jasa yang kamu cari ada disini, lihat

30/12/2025
30/12/2025
29/12/2025
29/12/2025

Almarhum yang di Tahlilkan Gentayangan Saat Malam Tahlilan - Cerita Hantu

Nama saya Ramadhan, peristiwa ini pengalaman nyata yang saya alami di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Saya menuliskan semuanya agar apa yang saya alami tidak hilang begitu saja dan menjadi peringatan bagi siapa pun yang membaca.

Peristiwa ini bermula ketika saya pulang kampung setelah lama merantau di kota. Kepulangan saya bertepatan dengan kabar duka meninggalnya seorang warga yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari tempat tinggal orang tua saya.

Almarhum dikenal pendiam dan jarang bergaul, tetapi tidak pernah terdengar memiliki musuh. Warga desa sepakat mengadakan tahlilan selama tujuh malam berturut-turut di rumahnya.

Malam pertama tahlilan berjalan normal, dengan lantunan doa dan aroma kopi pahit yang biasa menemani obrolan pelan para tetua desa. Saya duduk di barisan belakang sambil memperhatikan wajah-wajah yang tampak lelah namun khusyuk.

Namun sejak awal, saya merasa rumah itu terlalu dingin meskipun malam sedang tidak hujan. Angin berembus pelan dari arah ruang tengah, padahal semua jendela tertutup rapat.

Malam kedua, saya mulai menyadari sesuatu yang aneh pada susunan kursi. Setiap kali tahlilan selesai, jumlah kursi selalu berkurang satu meski tidak ada yang memindahkannya.

Warga mengira kursi dipinjam anak-anak yang bermain di luar, sehingga tidak ada yang terlalu memikirkannya. Saya pun mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang mulai muncul.

Pada malam ketiga, bau tanah basah tercium sangat kuat di dalam rumah. Bau itu bukan seperti tanah biasa, melainkan seperti tanah kuburan yang baru digali.

Seorang ibu-ibu tiba-tiba terdiam di tengah doa, lalu menangis histeris tanpa sebab yang jelas. Ia mengaku melihat seseorang duduk di sudut ruangan dengan kepala tertunduk.

Tahlilan tetap dilanjutkan setelah ibu itu ditenangkan. Namun sejak saat itu, saya merasa selalu ada yang memperhatikan dari arah sudut ruangan tersebut.

Malam keempat, suara orang berdehem terdengar jelas dari barisan belakang saat doa sedang khusyuk. Semua orang menoleh, tetapi tidak ada siapa pun di sana.

Lampu ruang tamu berkedip beberapa kali sebelum kembali stabil. Anehnya, tidak ada satu pun alat elektronik lain yang terganggu.

Saya mulai memperhatikan bahwa foto almarhum di dinding seperti berubah ekspresinya. Tatapan matanya terlihat lebih tajam dan seolah mengikuti pergerakan orang-orang di ruangan.

Ketika saya menceritakan hal itu kepada sepupu saya, ia hanya tertawa dan mengatakan saya terlalu lelah. Saya memilih diam meski perasaan saya semakin tidak tenang.

Malam kelima menjadi titik awal teror yang lebih nyata. Saat doa berlangsung, suara langkah kaki terdengar dari arah kamar belakang menuju ruang tamu.

Langkah itu pelan dan berat, seperti kaki menyeret lantai. Namun pintu kamar tidak pernah terbuka.

Seorang bapak tua yang memimpin tahlilan tiba-tiba berhenti dan menutup kitabnya. Dengan suara gemetar, ia mengatakan ada tamu yang tidak diundang malam itu.

Beberapa orang mulai gelisah dan saling berpandangan. Udara terasa semakin dingin hingga napas kami terlihat samar.

Malam keenam, jumlah jamaah berkurang drastis karena kabar aneh sudah menyebar ke seluruh desa. Hanya orang-orang tertentu yang masih berani datang.

Saya duduk lebih dekat ke pintu, berniat keluar jika sesuatu terjadi. Namun entah mengapa, tubuh saya terasa berat setiap kali ingin berdiri.

Di tengah doa, terdengar suara orang mengucapkan aamiin dengan nada sangat rendah. Suara itu jelas bukan berasal dari siapa pun yang hadir.

Beberapa orang langsung berdiri dan lari keluar rumah. Saya terpaku di tempat sambil menatap sudut ruangan yang kini terasa semakin gelap.

Saya melihat bayangan seseorang duduk bersila di sana. Tubuhnya hitam pekat dan wajahnya tidak terlihat sama sekali.

Bayangan itu perlahan menoleh ke arah saya. Saat itulah saya merasakan dada saya sesak seperti ditekan sesuatu yang berat.

Malam ketujuh seharusnya menjadi malam terakhir tahlilan. Namun sejak sore hari, langit mendung pekat dan hujan turun tanpa henti.

Hanya sedikit orang yang datang malam itu. Ibu saya bahkan melarang saya pergi, tetapi entah mengapa kaki saya tetap melangkah ke rumah tersebut.

Saat tiba, saya merasa rumah itu jauh lebih besar dari biasanya. Ruangan terasa memanjang dan cahaya lampu terlihat redup meski lampu menyala terang.

Doa baru dimulai ketika pintu depan tertutup sendiri dengan suara keras. Tidak ada angin, dan tidak ada orang yang berdiri di dekat pintu.

Pemimpin tahlilan membaca doa dengan suara bergetar. Tangannya terlihat gemetar saat membalik halaman kitab.

Tiba-tiba, suara tangisan terdengar dari kamar belakang. Tangisan itu lirih namun jelas, seperti orang yang menahan sakit.

Seorang warga memberanikan diri membuka pintu kamar. Namun kamar itu kosong, hanya ada bekas tanah basah di lantainya.

Saat itulah listrik padam. Dalam kegelapan, saya mendengar seseorang berbisik tepat di telinga saya, menyebut nama saya dengan sangat jelas.

Saya merasakan sentuhan dingin di pundak saya. Tubuh saya membeku dan saya tidak mampu bergerak atau berteriak.

Ketika lampu kembali menyala, beberapa orang sudah pingsan. Rumah itu berubah kacau dengan teriakan dan doa yang dibacakan bersamaan.

Di sudut ruangan, saya melihat sosok itu berdiri. Tubuhnya menggantung, dengan leher tertekuk dan kaki tidak menyentuh lantai.

Wajahnya perlahan terlihat, dan saya mengenalinya sebagai almarhum yang ditahlilkan. Matanya terbuka lebar dan menatap semua orang tanpa berkedip.

Sosok itu menghilang bersamaan dengan suara benda jatuh dari langit-langit. Tahlilan malam itu berakhir dalam kekacauan total.

Keesokan harinya, rumah itu dikosongkan. Tidak ada lagi tahlilan lanjutan meski seharusnya masih ada doa empat puluh hari.

Beberapa hari kemudian, warga menemukan tali tergantung di balok kamar belakang. Tidak ada yang tahu sejak kapan tali itu ada di sana.

Seorang tetua desa mengatakan almarhum meninggal gantung diri, bukan sakit seperti yang selama ini diberitakan. Keluarga almarhum memilih diam dan tidak membantah.

Sejak saat itu, setiap malam tertentu, suara doa tahlil masih terdengar dari rumah kosong tersebut. Tidak ada orang yang berani mendekat.

Saya sendiri masih sering terbangun tengah malam mendengar suara aamiin di dekat telinga saya. Bau tanah basah kadang muncul tanpa sebab.

Hingga kini, tidak pernah ada penjelasan resmi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rumah itu tetap kosong dan perlahan ditelan semak liar.

Saya menulis kisah ini karena tahlilan seharusnya menjadi doa bagi yang telah pergi. Namun di Desa ini, ada satu tahlilan yang seolah tidak pernah selesai.

Dan saya tidak pernah yakin, apakah doa-doa itu benar-benar sampai, atau justru memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tinggal di alamnya sendiri.

29/12/2025
28/12/2025

Keluarga Tak Kasat Mata Penghuni Penginapan - Cerita Hantu

Nama saya Arif Rahman, liburan bersama keluarga yang seharusnya menyenangkan namun berubah menjadi mimpi buruk yang hingga kini belum memiliki penjelasan. Saya masih ragu setiap kali mengingatnya, karena terlalu banyak kejadian yang terasa nyata tetapi mustahil. Semua ini bermula dari sebuah penginapan yang kami pilih secara spontan.

Kami memutuskan berlibur ke Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, karena ingin suasana sejuk dan tenang jauh dari hiruk-pikuk kota. Saya, istri saya, dua anak kami, dan ibu saya berangkat pagi hari dengan perasaan gembira. Tidak ada satu pun di antara kami yang menduga liburan ini akan meninggalkan bekas trauma mendalam.

Karena musim liburan, hampir semua hotel penuh, sehingga kami memilih sebuah penginapan kecil yang terlihat tua namun masih beroperasi. Bangunannya berdiri terpisah dari penginapan lain. Saat pertama melihatnya, saya merasakan perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Pemilik penginapan adalah seorang pria tua yang berbicara pelan dan jarang menatap mata. Ia memberikan kunci kamar sambil berpesan agar kami tidak keluar kamar setelah pukul sebelas malam. Saya menganggap itu hanya aturan biasa demi keamanan tamu.

Kamar kami berada di lantai dua, lorongnya panjang dan remang dengan lampu kuning redup. Saat berjalan melewati lorong itu, suara langkah kami bergema terlalu keras. Anak saya yang bungsu memegang tangan saya erat tanpa alasan jelas.

Malam pertama berjalan cukup normal meski suasana terasa sunyi tidak wajar. Tidak ada suara kendaraan, serangga, atau angin yang biasanya terdengar di daerah pegunungan. Kesunyian itu justru membuat telinga terasa berdenging.

Sekitar pukul sepuluh malam, ibu saya mengeluh melihat bayangan orang berdiri di ujung lorong dari balik jendela kamar. Saat saya cek, lorong itu kosong dan lampunya berkedip pelan. Saya menenangkan ibu dan meminta semua segera tidur.

Tengah malam, saya terbangun karena mendengar suara koper diseret di lorong. Suaranya pelan tapi konsisten, seolah seseorang berjalan bolak-balik di depan kamar kami. Ketika saya intip melalui lubang pintu, tidak ada siapa pun di sana.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan dari kamar sebelah. Ketukannya teratur, tiga kali, lalu berhenti. Anehya, kamar sebelah seharusnya kosong karena tidak ada tamu lain di lantai itu.

Istri saya mulai ketakutan ketika anak sulung kami berbisik bahwa ia melihat seorang perempuan berdiri di depan pintu kamar mandi. Anak saya berkata perempuan itu diam, rambutnya panjang, dan wajahnya tidak terlihat jelas. Saya memeriksa kamar mandi, tetapi tidak menemukan apa pun.

Malam kedua terasa jauh lebih berat dan menekan. Udara di kamar menjadi dingin meski pemanas dinyalakan. Bau apek bercampur wangi bunga tiba-tiba memenuhi ruangan tanpa sumber jelas.

Sekitar pukul satu dini hari, terdengar suara tangisan pelan dari bawah tempat tidur. Tangisan itu terdengar seperti suara perempuan dewasa yang menahan kesakitan. Saya hampir tidak berani menunduk untuk melihat ke bawah.

Ibu saya tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur sambil komat-kamit berdoa. Ia berkata ada seseorang berdiri di sudut kamar sejak tadi. Ketika saya menyalakan lampu, sudut itu kosong, tetapi rasa dinginnya masih terasa.

Anak bungsu saya menangis histeris dan menunjuk ke arah jendela. Ia mengatakan ada orang berdiri di luar, padahal kami berada di lantai dua. Tirai jendela bergerak pelan seolah disentuh dari luar.

Saya membuka tirai dengan tangan gemetar dan melihat halaman kosong yang diselimuti kabut tebal. Tidak ada pohon tinggi yang memungkinkan seseorang berdiri sejajar dengan jendela. Namun bekas telapak tangan samar terlihat di kaca.

Pagi harinya, saya mengadu kepada pemilik penginapan. Pria tua itu hanya terdiam lama sebelum berkata bahwa bangunan itu dulunya rumah peristirahatan keluarga. Ia tidak menjelaskan lebih jauh dan meminta kami mempertimbangkan untuk pindah kamar.

Kami memutuskan tetap tinggal karena sulit mencari penginapan lain. Namun sejak saat itu, perasaan diawasi tidak pernah hilang. Setiap sudut ruangan terasa seperti memiliki mata yang mengamati kami.

Malam ketiga, listrik di penginapan padam tepat pukul sebelas malam. Lorong menjadi gelap total, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela kecil. Suara langkah kaki mulai terdengar dari lantai bawah.

Langkah itu naik perlahan menuju lantai dua. Bunyi papan kayu berderit mengikuti setiap langkah yang semakin mendekat. Saya berdiri di depan pintu sambil menahan napas.

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa dari balik pintu. Suara itu sangat dekat, seolah tepat di depan kami. Anak-anak saya langsung bersembunyi di balik selimut sambil menangis.

Ketika suara itu berhenti, terdengar suara napas berat seperti seseorang kelelahan. Pegangan pintu bergerak perlahan seakan ada yang mencoba membukanya dari luar. Saya mengunci pintu dan membaca doa dengan suara keras.

Di tengah ketakutan itu, ibu saya pingsan tanpa suara. Wajahnya pucat dan tubuhnya dingin seperti es. Istri saya berusaha menyadarkannya sambil menangis ketakutan.

Lampu tiba-tiba menyala kembali dengan sendirinya. Semua suara langsung lenyap seolah tidak pernah ada. Keheningan itu justru terasa lebih mengerikan.

Pagi hari, kami menemukan bekas kaki berlumpur di lorong tepat di depan kamar kami. Bekas kaki itu kecil, seperti milik anak-anak, tetapi jari-jarinya terlalu panjang. Tidak ada bekas yang menuju tangga atau pintu keluar.

Kami memutuskan untuk segera pergi hari itu juga. Saat mengemasi barang, saya menemukan sebuah foto lama terselip di tas saya. Foto itu menampilkan keluarga asing yang berdiri di depan penginapan tersebut.

Yang membuat saya membeku adalah salah satu anak di foto itu sangat mirip dengan anak saya. Ekspresinya kosong dan matanya hitam tanpa pantulan. Di belakang mereka, terlihat sosok samar berdiri di jendela lantai dua.

Saya bertanya kepada pemilik penginapan tentang foto itu. Wajahnya berubah pucat dan ia meminta foto tersebut dikembalikan. Ia hanya berkata bahwa keluarga di foto itu tidak pernah kembali dari liburan mereka.

Kami meninggalkan penginapan dengan perasaan lega bercampur takut. Namun saat mobil mulai menjauh, anak saya berkata melihat seseorang melambaikan tangan dari jendela kamar kami. Saya tidak berani menoleh.

Dalam perjalanan pulang, ibu saya terbangun dan berkata ia bermimpi bertemu seorang perempuan yang meminta kami tidak kembali. Perempuan itu berkata tempat itu tidak s**a ditinggalkan begitu saja. Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Beberapa minggu setelah liburan, anak bungsu saya sering berbicara sendiri di malam hari. Ia berkata sedang bermain dengan teman dari penginapan. Ketika saya tanya seperti apa temannya, ia menjawab dengan senyum kosong.

Saya mencoba melupakan semua kejadian itu, tetapi foto penginapan itu terus muncul dalam mimpi saya. Setiap kali saya bermimpi, jendela lantai dua selalu terbuka. Dan selalu ada yang berdiri di sana.

Hingga kini, saya tidak tahu apa yang sebenarnya kami temui di penginapan itu. Tidak ada berita, tidak ada catatan resmi, seolah tempat itu sengaja dilupakan. Namun ingatan kami tidak pernah bisa menghapusnya.

28/12/2025
28/12/2025

Hantu Tukang Pijat - Dikirim oleh: Willma Rasyida

Suatu hari saya pernah ditugaskan perusahaan ke kota Bagansiapiapi dan karena beberapa hari jadi menginap di sebuah hotel. Hotel itu bernama Hotel H****n dan saya mendapat kamar no 209 paling ujung dekat tangga sementara teman saya yang lain di kamar 206 dan kamar 202.

Setelah check in saya diantar oleh office boy ke kamar 209 dan ketika mulai masuk kamar itu sudah mulai terasa ganjil.Ketika saya masuk kamar tercium bau balsem yang sangat kuat dan bahkan ketika office boy menyemprotkan pengharum ruangan bau itu masih tercium tapi saya masih terdiam. Setelah office boy keluar pintu saya tutup aroma balsem itu masih terbau bahkan baunya seperti di hidung saya saja.

Saya periksa sprei dan sarung bantal apakah belum diganti ternyata baru semua dan saya cium setiap sudut sprei dan sarung bantal tapi tidak ada yang ganjil, sprei dan sarung bantal tidak berbau. Tetapi bau balsem itu terus saja tercium,karena lelah kuabaikan dulu dan sayapun tertidur. Dalam tidur saya bermimpi didatangi sosok perempuan,dia menunduk sambil tangannya memegangi sesuatu. Perempuan itu berdiri di depan kasur tempatku berbaring.

Lalu di mimpi itu saya melihat perempuan itu menunjukkan sesuatu di lehernya,saya melihat ada bekas membiru di tengah lehernya.Setelah itu saya terjaga.Tapi bau balsem itu masih tercium bahkan baunya seperti disebelah saya.Dari mimpi itu saya berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan kamar ini.

Keesokan paginya saya menceritakan kepada kedua teman saya dan kedua teman saya itu sepakat untuk tidur di kamar saya.Tapi waktu di kamar saya mereka berdua tidak mencium bau balsem dan hanya saya yang membaunya.

Ketika hari sudah mulai malam ada keanehan,salah satu teman saya menjerit karena dia melihat akan dicekik oleh seseorang. Kontan kami panik karena dia terus meronta-ronta walaupun sudah kami pegangi kuat. Mata temanku itu mendelik, sambil memohon mohon dilepaskan dari sesuatu yang tak terlihat.

Aku langsung menghubungi resepsionis dan datanglah beberapa orang ke kamarku untuk menolong temanku yang sudah meracau.Ketika ditanya siapa yang telah merasuki tubuh temanku, jin yang masuk itu bilang bahwa dia adalah arwah penasaran seorang tukang pijat yang dibunuh oleh pelanggannya setelah diperk**a dan dia mati di kamar 209, 20 tahun yang lalu.

Dan pembunuhnya tidak pernah ditemukan dan dia terus mencari dan menunjukkan eksistensinya kepada siapapun yang menginap di kamar 209. Dan ketika diusir dia bilang dia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan pembunuhnya.

Setelah kejadian itu saya dan kedua teman saya segera check out dan pindah ke hotel lain.

28/12/2025
28/12/2025

Jalur Alternatif Menuju Banyumas - Cerita Hantu

Nama saya Ardi Nugraha, saya sudah lebih dari sepuluh tahun mengemudikan truk pengangkut bahan bangunan, melewati jalan-jalan panjang yang sunyi dan kota-kota kecil yang jarang disinggahi. Dari semua rute yang pernah saya lewati, perjalanan menuju wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, adalah yang paling tidak bisa saya jelaskan sampai hari ini.

Perjalanan itu bermula biasa saja, dengan muatan semen penuh dan target tiba sebelum subuh. Cuaca cerah, radio menyala pelan, dan jalanan relatif sepi.

Sekitar pukul satu dini hari, saya memasuki jalur alternatif yang disarankan oleh sopir lain untuk menghindari perbaikan jalan. Jalur itu lebih sempit, gelap, dan diapit pepohonan tinggi yang membuat cahaya lampu truk terasa tenggelam.

Awalnya saya tidak curiga, meski sinyal ponsel menghilang perlahan. Yang membuat saya gelisah adalah suasana yang terlalu sunyi, bahkan serangga pun seperti enggan bersuara.

Beberapa kilometer kemudian, saya melihat sosok pria berdiri di pinggir jalan sambil mengangkat tangan. Saya memperlambat truk karena mengira dia butuh tumpangan atau bantuan.

Wajah pria itu tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan, tetapi pakaiannya seperti jaket lusuh dan celana gelap. Saat saya menurunkan kaca, dia hanya menunjuk ke depan tanpa berkata apa pun.

Entah kenapa, saya menurut dan kembali melajukan truk. Ketika saya menoleh ke kaca spion, sosok itu sudah tidak ada.

Beberapa menit setelah itu, saya merasa jalan yang saya lewati seperti berulang. Pohon yang sama, tikungan yang sama, bahkan batu besar di sisi jalan tampak identik.

Saya mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa saya hanya lelah. Namun jam di dashboard menunjukkan waktu yang sama selama hampir dua puluh menit.

Udara di dalam kabin terasa semakin dingin meski AC mati. Nafas saya membentuk embun tipis di kaca depan.

Di kejauhan, saya melihat lampu motor mendekat dari arah berlawanan. Pengendaranya melaju pelan, terlalu pelan untuk ukuran jalan sepi seperti itu.

Saat motor itu berpapasan dengan truk saya, saya menoleh dan jantung saya hampir berhenti. Wajah pengendara itu seperti tertutup kabut, tidak memiliki mata, hidung, atau mulut.

Saya refleks menginjak rem dan truk berhenti mendadak. Ketika saya melihat kembali ke jalan, motor itu lenyap tanpa suara.

Di aspal, saya melihat bekas rem motor yang berakhir tiba-tiba, seperti terputus di tengah jalan. Tidak ada jejak lanjutan sama sekali.

Perasaan tidak enak mulai menekan dada saya. Saya teringat cerita sopir-sopir lama tentang arwah korban kecelakaan yang tersesat dan mengajak orang lain ikut berputar di jalur mereka.

Saya mencoba memutar balik truk, tetapi setir terasa berat seperti ditahan sesuatu. Mesin hidup, namun truk tidak bergerak satu senti pun.

Di kaca depan, muncul bayangan seseorang berdiri tepat di depan truk. Kali ini saya bisa melihat lebih jelas.

Itu adalah pengendara motor tadi, dengan tubuh penuh luka dan pakaian sobek berlumur gelap. Lehernya miring tidak wajar, dan wajahnya tetap kosong tanpa bentuk.

Dia mengangkat tangan perlahan dan menunjuk ke arah saya. Suara berbisik masuk ke kepala saya, bukan ke telinga, meminta saya untuk “mengantar pulang”.

Saya menutup mata sambil membaca doa sekuat yang saya bisa. Seluruh tubuh saya gemetar dan keringat dingin mengalir tanpa henti.

Tiba-tiba terdengar suara keras seperti benturan logam. Truk saya terguncang dan mesin mati mendadak.

Saat saya membuka mata, suasana berubah. Jalanan kembali normal, pepohonan tidak lagi terasa menekan, dan jam dashboard kembali berjalan.

Saya berhasil menyalakan mesin dan langsung melaju tanpa menoleh ke belakang. Saya tidak peduli lagi dengan muatan atau rute.

Ketika akhirnya saya tiba di pos istirahat terdekat saat subuh, tubuh saya terasa seperti baru selamat dari kecelakaan. Seorang petugas bertanya kenapa wajah saya pucat seperti melihat mayat.

Saya menceritakan secara singkat apa yang saya alami. Wajah petugas itu langsung berubah serius.

Ia berkata bahwa beberapa tahun lalu, seorang pengendara motor meninggal tertabrak truk di jalur alternatif yang saya lewati. Arwahnya sering menampakkan diri pada sopir yang tersesat malam hari.

Yang membuat saya tidak bisa berkata apa-apa adalah kalimat terakhir petugas itu. Menurutnya, jalan itu sudah lama ditutup karena longsor dan tidak bisa dilalui kendaraan besar.

Saya melihat ke luar, ke arah truk saya yang penuh debu. Di belakangnya, ada bekas jejak ban yang berhenti mendadak, seolah truk itu baru saja muncul dari jalan yang tidak pernah ada.

27/12/2025

Pohon Dengan Tali Bekas Gant... Di.. - Cerita Hantu

Nama saya Taufik, kisah ini nyata terjadi di sebuah Desa yang ada di Kabupaten Sukabumi, sebuah tempat yang tenang di siang hari namun berubah terasa berat saat malam turun. Saya tidak pernah berniat membuka luka lama desa ini, tetapi peristiwa yang saya alami memaksa saya mengingatnya kembali dengan cara yang paling menakutkan. Apa yang saya ceritakan berikut bukan untuk sensasi, melainkan karena bayangan itu masih mengikuti saya sampai hari ini.

Saya datang ke desa itu untuk menjaga rumah paman yang ditinggal kosong setelah beliau pindah, rumah yang berdiri dekat kebun bambu dan sebuah pohon beringin tua. Warga sekitar jarang melintas malam-malam, dan mereka selalu menyarankan agar pintu dan jendela ditutup rapat setelah magrib. Saya menganggapnya sekadar kebiasaan desa, sampai suara aneh mulai terdengar.

Malam pertama berjalan sunyi, dengan angin menggerakkan daun bambu seperti bisikan panjang yang tidak selesai. Saya tidur dengan lampu menyala karena listrik desa sering turun naik, dan rasa tidak nyaman itu datang tanpa sebab jelas. Sekitar pukul dua dini hari, udara terasa dingin dan berat seperti menekan dada.

Saya terbangun oleh bunyi gesekan tali yang pelan, seperti serat kering digesekkan pada kulit kayu. Suara itu datang dari arah beringin di belakang rumah, tempat yang gelap meski bulan sedang terang. Ketika saya menengok dari jendela, saya hanya melihat bayangan batang dan daun yang bergerak tidak wajar.

Keesokan harinya, saya bertanya pada tetangga tentang beringin itu, dan mereka saling pandang sebelum mengalihkan topik. Seorang bapak tua berbisik bahwa dulu ada pemuda desa yang “mengakhiri hidupnya” di sana karena masalah yang tidak pernah diceritakan. Saya merasa tengkuk saya dingin mendengar kalimat itu.

Malam kedua, suara itu kembali, kali ini disertai bunyi napas tertahan yang panjang dan berat. Saya menutup telinga, tetapi suara tersebut terasa seperti berasal dari dalam kepala saya sendiri. Bau tanah basah dan kayu tua memenuhi kamar meski jendela tertutup.

Saya mencoba berdoa, dan suara itu mereda, tetapi tidak benar-benar hilang. Di sela keheningan, saya mendengar langkah kaki pelan mendekat ke dinding belakang rumah. Langkah itu berhenti tepat di bawah jendela kamar saya.

Saya mengintip dengan hati-hati dan melihat bayangan tubuh yang menggantung, tidak menyentuh tanah, bergoyang perlahan tanpa arah. Saya tidak melihat wajahnya, hanya siluet gelap dengan kepala menunduk. Jantung saya berdegup keras sampai telinga berdenging.

Saya mundur dan jatuh terduduk, berusaha menenangkan napas yang tersengal. Dari luar, terdengar suara lirih seperti orang memanggil minta tolong, tetapi kata-katanya terputus-putus. Saya tidak berani membuka pintu.

Pagi hari, saya menemukan bekas tanah teraduk di bawah jendela, seolah ada yang berdiri lama di sana. Tidak ada jejak kaki, hanya bekas seperti tali diseret di tanah lembap. Saya mulai mempertimbangkan untuk pergi, tetapi tugas membuat saya bertahan.

Siang itu, seorang ibu tetangga datang membawa makanan dan menatap rumah dengan wajah khawatir. Ia berkata dengan suara rendah bahwa arwah pemuda itu sering muncul pada orang yang tinggal sendirian. Ia berpesan agar saya tidak keluar rumah saat tengah malam.

Malam ketiga, listrik padam lebih lama dari biasanya, membuat rumah tenggelam dalam gelap pekat. Lilin yang saya nyalakan bergetar, dan bayangan dinding memanjang aneh. Suara gesekan tali terdengar lebih dekat dari sebelumnya.

Saya mendengar ketukan pelan di pintu belakang, diikuti bisikan yang memanggil nama saya dengan nada memohon. Suara itu tidak asing, seperti suara orang yang sudah lama saya kenal. Saya menahan diri agar tidak menjawab.

Ketika ketukan berhenti, suasana menjadi lebih sunyi dan menekan. Saya merasa ada sesuatu berdiri tepat di belakang saya meski saya sendirian di ruang tamu. Bau apek bercampur keringat dingin membuat perut saya mual.

Saya memberanikan diri menoleh dan melihat bayangan panjang jatuh dari langit-langit, bergoyang perlahan tanpa sumber. Bayangan itu tidak menyentuh lantai, dan ujungnya bergetar seolah tertiup angin yang tidak ada. Saya menutup mata dan membaca doa sekuat yang saya bisa.

Dalam keheningan itu, terdengar suara terisak, pendek dan tertahan. Saya merasakan tekanan di bahu, dingin seperti disentuh kain basah. Ketika saya membuka mata, bayangan itu sudah menghilang.

Pagi berikutnya, saya mendapati tali rafia tua terikat di salah satu balok plafon, padahal saya yakin tidak ada apa pun di sana sebelumnya. Tali itu berayun pelan, lalu berhenti saat saya menatapnya. Saya memotongnya dan membuangnya jauh dari rumah.

Siang hari, saya mencari informasi lebih jauh dan menemui ketua RT. Ia mengakui kejadian lama itu, dan mengatakan arwah tersebut sering “mencari saksi” agar kisahnya diingat. Saya bertanya bagaimana cara menenangkannya, tetapi ia hanya menggeleng.

Malam keempat, mimpi buruk datang sebelum saya tertidur. Saya bermimpi berdiri di bawah beringin, menatap ke atas, dan melihat wajah tanpa mata yang menunduk ke arah saya. Saya terbangun dengan teriakan tertahan di tenggorokan.

Suara gesekan kembali terdengar, kini dari dalam rumah. Saya melihat tali yang telah saya buang muncul lagi, tergeletak di lantai ruang tamu. Ujungnya basah dan berbau tanah.

Saya merasa putus asa dan membaca doa dengan suara keras. Udara bergetar, dan suara tangisan berubah menjadi desahan panjang yang menyakitkan telinga. Lampu lilin padam seketika.

Dalam gelap, saya mendengar suara kursi terseret. Ada bunyi kayu berderit, lalu keheningan yang menekan. Saya meraba-raba dinding hingga menemukan pintu kamar.

Ketika saya menyalakan ponsel sebagai penerang, saya melihat bayangan tubuh tergantung di ambang pintu, lebih dekat dari sebelumnya. Kali ini, saya melihat sedikit detail, tetapi wajahnya tetap kosong seperti ditelan gelap. Saya menutup mata dan bersimpuh.

Suara itu berbicara, bukan dengan kata jelas, melainkan perasaan yang menekan dada. Saya merasakan kesedihan yang bukan milik saya, berat dan putus asa. Air mata saya mengalir tanpa sadar.

Setelah beberapa saat, tekanan itu mereda. Udara kembali terasa normal, dan saya berani membuka mata. Bayangan itu sudah tidak ada.

Keesokan paginya, saya memutuskan meminta bantuan ustaz setempat. Beliau datang sore hari dan membaca doa di sekitar rumah serta beringin. Angin bertiup kencang seolah menolak, lalu tiba-tiba berhenti.

Malam itu terasa lebih tenang, meski saya tetap terjaga. Tidak ada suara gesekan, tidak ada bisikan. Saya hampir percaya semuanya selesai.

Namun menjelang subuh, saya mendengar satu suara terakhir, pelan dan jauh. Suara itu terdengar seperti ucapan terima kasih yang terpotong.

Pagi hari, warga menemukan tali rafia tua terikat rapi di beringin, lalu terlepas dan jatuh sendiri. Tidak ada yang berani mendekat. Saya memilih pergi hari itu juga.

Dalam perjalanan pulang, saya merasa ada yang duduk di kursi belakang motor, meski saya sendirian. Udara di punggung saya dingin dan berat. Saya tidak menoleh.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat kabar bahwa rumah paman kembali kosong karena penjaga berikutnya tidak betah. Ia mengaku mendengar suara tali setiap malam. Saya tahu apa yang ia maksud.

Sampai sekarang, setiap melewati pohon besar di malam hari, dada saya terasa sesak. Saya selalu teringat bayangan yang menggantung tanpa wajah. Perasaan sedih itu datang kembali tanpa undangan.

Saya menulis kisah ini bukan untuk membuka luka, melainkan sebagai peringatan. Ada arwah yang tidak mencari teror, melainkan pengakuan. Dan ketika ia menemukannya, ia meninggalkan jejak yang tidak pernah benar-benar hilang.

Jika suatu malam kamu mendengar suara gesekan tali di tempat sepi, jangan menjawab panggilan itu. Diamlah, berdoalah, dan ingatlah bahwa tidak semua yang meminta tolong ingin ditemui. Karena beberapa di antaranya hanya ingin diingat, selamanya.

27/12/2025

Address

Jakarta

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 15:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jasa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Jasa:

Share