20/04/2025
HAM 1-2-3:
HAM-1: Maraknya premanisme dan banditisme membuat kita berpikir mungkin sebaiknya TEKAB (Tim Khusus Anti Bandit) yang dulu dihidupkan lagi. Para preman dan bandit ini harus benar-benar dibuat takut dan jera. Bubarkan juga semua Ormas yang hanya didirikan untuk mencari uang dengan memeras warga dan perusahaan.
Dulu kita bahkan mengenal si Petrus alias Penembak Misterius yang hasil operasinya selalu dengan meninggalkan karung di berbagai persimpangan jalan umum. Kalau dibuka, isinya mayat manusia bertato yang sudah ditembus peluru yang kemudian teridentifikasi sebagai bandit atau penjahat.
Lalu tentu akan banyak yang berteriak bahwa itu melanggar HAM. Padahal mereka hanya segelintir manusia yang hanya menakuti dan meresahkan seluruh masyarakat. HAM siapa yang seharusnya kita bela?
HAM-2: Klausal serupa sebenarnya terjadi dengan KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Papua yang puluhan tahun "dibiarkan" membunuhi warga sipil. Seolah-olah mereka adalah para penjahat biasa. Padahal baru-baru ini saja mereka bahkan membunuh sekaligus 13 orang warga sipil pendulang emas. Padahal kita semua tahu bahwa mereka bercita-cita dan berkali-kali menyatakan ingin mendirikan negara Papua Merdeka. Apakah ini bukan berarti makar, pemberontakan terhadap NKRI.
Mengapa istilah KKB itu tidak segera kita ganti dengan Kelompok Makar atau Kelompok Pemberontak. Dengan demikian, sebagai negara berdaulat, kita berhak untuk membasminya dengan operasi militer sepenuhnya, bukan atas "komando polisi" seperti sekarang. Takut melanggar HAM lagi? Atau takut reaksi internasional yang hanya berupa kritik, tapi tidak menyelesaikan masalah bangsa kita? Sekali lagi, HAM siapa yang seharusnya kita bela?
HAM-3: Dalam bahasa Inggris ada istilah "benevolent dictator". Google menerjemahkannya dengan "diktator yang baik hati". Diktator ini memang amat berbeda dengan "malevolent dictator" (diktator jahat), jenis diktator yang kerap kita dengar. Para "benevolent dictator" justru didukung dan disenangi rakyatnya. Contohnya adalah Mustafa Kemal (Presiden Turki). Josip Broz Tito (Presiden eks Yugoslavia), dan yang di tetangga kita, Lee Kuan Yew (Perdana Menteri Singapura). Sebabnya, karena mereka orang-orang yang jujur, ikhlas, dan berani. Karena itu mampu bertindak sangat keras kepada para koruptor dan penjahat.
Kalau di negeri Konoha ini ada "benevolent dictator", tentu kita bukan saja aman tenteram, tapi juga tidak akan banyak protes dan demo. Saya pun ikhlas mengorbankan HAM saya atas kebebasan dan demokrasi. ( @200525)