31/08/2025
Prabowo 2025 dan Déjà Vu Politik 1998
Sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berputar, mencari ruang untuk menguji kembali manusia yang pernah bersentuhan dengannya. Prabowo, yang dulu terlempar dalam pusaran 1998, kini kembali berdiri di tengah arus 2025. Seperti lingkaran karma politik, masa lalu yang belum selesai kini mengetuk pintu lagi.
Sejarah politik Indonesia memang seperti lingkaran yang enggan putus. Tahun 1998 kita menyaksikan runtuhnya sebuah rezim, bersama jatuhnya nama-nama besar yang kala itu dianggap simbol kekuasaan gelap.
Di antara mereka, Prabowo Subianto menanggung beban paling berat: dicaci, dijauhi, bahkan diasingkan. Ia menjadi tokoh yang diidentikkan dengan masa lalu yang kelam, seolah pintu masa depan politik baginya tertutup rapat.
Namun, dua puluh lima tahun kemudian, panggung berbalik. Sosok yang dulu dihindari, kini dipuji dan didekati. Para aktivis yang dulu berteriak menolaknya, kini dengan wajah percaya diri berkata bahwa Prabowo telah berubah. Rakyat pun, entah karena letih atau karena kehilangan orientasi sejarah, memilih percaya pada narasi transformasi itu.
Ironisnya, sejarah tidak ikut berubah. Catatan-catatan lama tetap terjaga: tragedi, penculikan, penghilangan paksa, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab.
Hari ini, dua puluh tujuh tahun kemudian, bayangan itu seolah bangkit. Krisis ekonomi, keresahan sosial, dan riak-riak ketidakpuasan rakyat — atmosfer yang mengingatkan kita pada reformasi yang dulu.
Apakah ini kebetulan? Atau memang sejarah selalu menuntut utang yang belum dibayar? Dalam filsafat politik, ada sebuah gagasan bahwa manusia tak pernah benar-benar lepas dari masa lalunya. Seperti tokoh dalam tragedi Yunani, ia bisa menunda, tapi tak bisa menghapus garis takdir.
Prabowo di 2025 sedang diuji oleh cermin sejarahnya sendiri. Jika dulu ia menjadi bagian dari rezim yang digugat, kini ia adalah rezim itu sendiri. Jika dulu ia merasakan pahitnya ditinggalkan oleh arus, kini ia harus membuktikan apakah ia bisa menahkodai arus itu.
Mungkin inilah makna sejati dari déjà vu politik: ketika sejarah tidak hanya mengulang peristiwa, tapi juga mengulang pertanyaan yang sama — apakah engkau sudah benar-benar belajar dari masa lalu?
Dan bila jawaban itu tidak memuaskan, jangan-jangan sejarah sekali lagi akan menagih utang yang sama.