Affiliasi VOA Indonesia

Affiliasi VOA Indonesia Group ini dimaksudkan sebagai forum utk diskusi dan berbagi informasi tentang masalah content dan marketing, khususnya bagi media penyiaran di Indonesia

Jumat 2.12.2016, persis 7 tahun lalu,  terjadi unjuk rasa besar-besaran di Jakarta yang dimotori FPI.Kebetulan pada hari...
01/12/2023

Jumat 2.12.2016, persis 7 tahun lalu, terjadi unjuk rasa besar-besaran di Jakarta yang dimotori FPI.
Kebetulan pada hari itu saya menghadiri pertemuan di kantor Kemenko Maritim yang dihadiri oleh Dubes Australia saat itu, Paul Grigson, Pemda NTT, Deputi I Menko Maritim dan YPTB (Yayasan Peduli Timor Barat), sebuah yayasan yang sejak 2009 melakukan advokasi atas masalah tumpahan minyak yang dilakukan perusahaan minyak Thailand, PTTEP, di perairan Montara, Australia, selatan pulau Timor.
Sehari sebelumnya, 1 Desember 2016, Menko Maritim Luhut B Panjaitan mengadakan pertemuan dengan Pemda NTT dan para bupati NTT khusus tentang tragedi tumpahan minyak Montara.
Semula saya agak ragu kalau pertemuan di lantai 3 Kemenko Maritim bisa berlangsung karena sejak pagi hari jalan Thamrin sudah tumpah ruah dengan lautan manusia, umumnya dari luar Jakarta. Saya terpaksa parkir mobil di Sarinah karena memang tak bisa menembus Thamrin. Ternyata sekitar jam 10.00 pagi Dubes Australia dan staffnya tiba. Pertemuan itu sendiri berlangsung lancar karena Dubes Australia hanya mendengarkan pendapat Pemerintah RI dan YPTB. Dubes berjanji memberi jawaban setelah melaporkan ke Canberra.
Setelah pertemuan saya dan b**g Ferdi Tanoni turun ke jalan Thamrin bergab**g dengan para pendemo yang sudah selesai sholat Jumat. Mengira kami bagian dari ribuan pendemo, di jalan
Thamrin seorang pendemo berwajah Arab memanggil saya: “Bang Assegaf”. Saya yakin dia salah duga bahwa saya temannya bernama Assegaf. Saya hanya menjawabnya dengan melambaikan tangan.
Para pendemo lain yang melihat itu lalu menarik tangan saya dan mengajak untuk berfoto depan spanduk protes yang mereka bawa.
Di emperan jalan Thamrin seorang ibu memberi saya seb**gkus nasi campur Padang, yang juga dibagikan ke para pendemo lainnya. Nasi b**gkus itu kemudian saya berikan ke seorang tukang parkir di Jl. Sabang.
Kami lalu masuk ke sebuah kafe di Sarinah yang menghadap ke jalan Thamrin sehingga kami dapat menyaksikan iring2an mobil pengunjuk rasa yang bergerak menuju Senayan. Kini setelah 7 tahun, setelah beberapa tahun tiarap, tahun ini Gerakan 212 tampaknya mulai bergerak lagi karena tokoh utamanya HRS kini jadi salah satu anggota Tim Kampanye Nasional Prabowo-Ganjar dan Istana Presiden melalui Setneg sudah mengijinkan Gerakan 212 utk hari Sabtu 2-12-23 menggunakan Lapangan Monas untuk Pertemuan dan Doa Akbar.
Dan tentang kasus Tragedi Montara, pada Maret 2021 Pengadilan Sydney sudah memerintahkan PTTEP membayar ganti rugi kepada petani rumput laut di Laut Timor. Sayangnya uang ganti rugi tsb sampai kini ditahan kantor pengacara Maurice and Blackburn, Sydney tanpa alasan yang jelas dan kantor Kemenko Marinvest dan Pemerintah Indonesia tidak melakukan apapun 😱
Mudah2an setelah sembuh dari sakit di Singapura, Opung Luhut Binsar Panjaitan kembali aktif mendukung para petani dan nelayan rumput laut di NTT utk mendapatkan haknya.🙏

16/09/2019

Di tengah banjir informasi dewasa ini, pertanyaan yang sering diajukan : Berita ini dapat dipercaya atau tidak?
Resep manjur untuk menjawab pertanyaan ini: “Follow the money!” Media atau pembuat berita tersebut dibayar siapa atau organisasi apa?
Jangan buang waktu berharga kita dengan baca atau nonton atau malah ikut-ikutan menyiarkan berita dari “spin doctor” - orang atau lembaga yang memang bertujuan untuk membela yang bayar.🙏 Banyak sekali sumber berita dan informasi lain yang obyektif dan tidak memihak yang dapat kita temukan hanya dengan sekali klik 😍

Pembunuhan Keji atas Wartawan Jamal Kashoogi di Turkey oleh Kelompok yang dekat dengan Pemerintah Arab Saudi adalah bukt...
16/09/2019

Pembunuhan Keji atas Wartawan Jamal Kashoogi di Turkey oleh Kelompok yang dekat dengan Pemerintah Arab Saudi adalah bukti jelas ancaman terhadap kebebasan Pers.
Dan Presiden Amerika Donald Trump menolak permintaan Konggres Amerika dan PBB untuk melakukan penyelidikan mendalam oleh FBI.

Lalu, masih perlukah kita diajar tentang kebebasan pers oleh pemerintah Amerika? 😱

US senators had asked the White House for a report on who killed the Saudi journalist.

16/05/2019

*Jangan terpesona dengan presentasi "pakar IT ITB" pada wkt acara perhelatan paslon 02 di Hotel Sahid Jakarta beberapa hari yang lali s🙈🙈🙈

Tulisan Prof Marsudi Kisworo, Guru Besar Ilmu Komputer, alumni ITB, tentang Situng KPU memberikan pencerahan kepada kita tentang sistem IT KPU👍👍

SITUNG KPU DAN ROBOT IKHLAS

Oleh :
Marsudi Wahyu Kisworo
Guru Besar Ilmu Komputer, Alumni Fakultas Teknik Elektro, Jurusan Ilmu Komputer ITB tahun 1978.

Sesuai dengan sistem perundang-undangan Pemilu di Indonesia, satu-satunya hasil penghitungan suara yang sah secara hukum adalah hasil penghitungan suara berjenjang yang dilakukan secara manual, mulai dari tingkat TPS sampai pleno KPU Pusat, sedangkan Situng hanya untuk mengonfirmasi hasil perhitungan suara manual berjenjang tersebut, dan sebagai alat kontrol publik agar hasil penghitungan suara manual berjenjang menjadi transparan dan dapat di akses oleh siapapun.

Mekanisme ini masih sama dengan yang ada pada Grand Design Sistem IT Pemilu tahun 2004, dimana saya pernah menjadi anggota tim yang mendisain Sistem IT KPU tersebut.

Artinya, apabila dalam menginput data form C1 yang telah dipindai pada Situng terdapat salah entri, salah algoritma, perangkatnya rusak, diretas, diacak-acak, disedot datanya, dimanipulasi atau apapun namanya, hasil Situng ini tidak akan memiliki pengaruh apa-apa terhadap hasil akhir penghitungan suara. Tidak ada gunanya jika ingin memanipulasi hasil Pemilu melalui Situng, kalau memang mau memanipulasi ya lakukan di penghitungan suara manual berjenjang, bukan di Situng.

Dalam grand design IT KPU, Situng juga dirancang sebagai salah satu mekanisme transparansi penghitungan suara dan sebagai alat kontrol dari masyarakat jika terjadi manipulasi suara dan kecurangan. Dengan demikian Situng bukanlah hal yang sepele, tetapi alat penting untuk mengonfirmasi perhitungan suara manual berjenjang, untuk itu Situng jangan disalahgunakan agar seolah-olah dapat menentukan hasil akhir penghitungan suara.

Dengan ditampillkannya hasil scan form C1 di Situng, maka masyarakat dapat berpartisipasi untuk memonitor hasil penghitungan suara di tingkat TPS. Jika terjadi manipulasi di tingkat ini, maka formulir C1 yang sudah dipindai dan diunggah di Situng bisa digunakan sebagai referensi.

Jadi kalau ditemukan penyimpangan seperti ini, maka segera dilakukan koreksi terhadap perhitungan di tingkat TPS tersebut. Nah ketika kemudian perhitungan suara naik ke jenjang berikutnya yaitu di Kecamatan, maka hal yang sama dilakukan koreksi di jenjang tersebut.

Jadi mestinya kalau perhitungan suara sudah sampai ke sebuah jenjang, maka perhitungan suara di jenjang bawahnya sudah valid dan sah karena disaksikan oleh para saksi peserta Pemilu dan juga oleh masyarakat.

Sekarang soal aplikasi Situng itu sendiri. Dalam grand design, Situng yang tampil adalah hasil virtualisasi dari salah satu server di KPU. Karena merupakan virtualisasi maka Situng dibuat terbuka, siapapun bisa dan diberikan kemudahan untuk mengakses.

Namun hal ini punya dampak sampingan yang buruk, yaitu Situng dengan mudah dapat diretas, bahkan oleh anak-anak SMA. Hal ini tidak terlalu menjadi masalah, karena sebagai virtualisasi dari server, pihak KPU dapat dengan mudah mengembalikan ke status sebelum diretas, karena server yang sesungguhnya tidak tersamb**g ke Internet.

Karena Situng KPU merupakan sistem terbuka, maka siapa saja dapat mengambil data yang ada di Situng.

Beberapa hari yang lalu ada seorang profesor yang mengaku pakar IT, dimana latarbelakangnya saya tahu persis, membuat program saja tidak bisa, dengan bangga mengirimkan file Excel hasil download database Situng kepada saya, saya jawab “kalau hanya download data seperti itu, mahasiswa informatika semester awal pun bisa melakukannya”. Karena salah satu pelajaran dalam data analytics adalah bagaimana mengunduh data server kedalam file Excel.

Lalu bagaimana dengan “pakar” IT lulusan Teknik Elektro ITB bernama Hairul Anas Suaidi yang baru baru ini presentasi di Hotel Sahid, dengan Robot Ikhlas hasil karyanya yang katanya dapat memantau Situng KPU?

Terus terang saja, hasil karya Hairul Anas Suaidi itu biasa saja dan cenderung menyesatkan publik.

Seperti saya jelaskan sebelumnya bahwa Situng KPU adalah sistem terbuka. Jadi mau diunduh per-hari, per-jam, per-menit, per-detik, atau real time, ya mudah saja karena oleh KPU memang dibuat sedemikian transparan seperti itu. Bahkan mahasiswa yang semesternya agak tinggi sedikit bisa membuat salinan (mirroring) dari database Situng dengan mudah.

Robot yang katanya dapat memantau Situng KPU bukanlah sebuah karya yang fenomenal bagi masyarakat IT. Tidak perlu menjadi seorang pakar untuk membuat aplikasi seperti itu.

Mungkin ada yang menyanggah bahwa Robot Ikhlas bukan hanya melakukan mirroring saja, tetapi dapat menemukan ribuan kecurangan dari Situng.

Sekali lagi, mau ribuan, jutaan, milyaran, triliunan kesalahan atau apapun namanya di Situng, atau seandainya Situng dihancurkan sekalipun, tidak ada pengaruhnya terhadap penghitungan suara manual berjenjang.

Kalau begitu apakah sebaiknya Situng dihentikan saja? Menghentikan Situng berarti menutup akses partisipasi dan kontrol publik terhadap penghitungan suara manual berjenjang.

Karena itu menurut saya biarkan saja Situng berjalan seperti sekarang, tidak usah diributkan apalagi oleh pakar IT abal-abal, karena jika pakar yang benar-benar pakar, dengan penelitian dan karya-karya yang mendunia, pasti tahu bahwa Situng KPU tidak digunakan sebagai alat penghitungan suara yang sah, tetapi hanya alat kontrol saja, yang sah adalah sistem penghitungan suara manual berjenjang.

Jadi kalau mau memantau apakah dalam penghitungan suara terdapat kecurangan atau tidak, awasilah penghitungan suara manual berjenjang, bukan mengawasi Situng.

Address

Jalan H. Som No. 23
Jakarta

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

622122777626

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Affiliasi VOA Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share