15/09/2026
Raksasa aluminium asal Rusia, UC Rusal, kembali membidik Indonesia. Kali ini, perusahaan disebut akan membangun pabrik alumina di Kalimantan, dengan proses perizinan yang diklaim sudah memasuki tahap final.
Namun, ini bukan kali pertama Rusal mencoba masuk ke Indonesia.
Jejaknya sudah dimulai sejak 2007, ketika Rusal dan Antam berencana membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Tayan, Kalimantan Barat. Proyek dengan nilai sekitar US$1,2–1,5 miliar itu dirancang dengan kepemilikan Rusal 51% dan Antam 49%, tetapi akhirnya tidak terealisasi.
Rusal kembali mencoba pada 2013–2014. Perusahaan merencanakan refinery dan smelter di Kalimantan Barat dengan nilai investasi hingga US$6 miliar. Pada 2014, Rusal kemudian menggandeng PT Arbaya Energi untuk eksplorasi bauksit, pertambangan, dan pengembangan produksi alumina.
Namun, rencana tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan tidak berkembang menjadi fasilitas produksi besar. Salah satu persoalan proyek sebelumnya adalah krisis ekonomi global, sementara proyek alumina juga membutuhkan kepastian cadangan bauksit, lokasi, infrastruktur, serta kelayakan investasi.
Kini, hampir dua dekade setelah rencana pertamanya, Rusal kembali masuk radar Indonesia.
Sebagai salah satu produsen aluminium terbesar dunia, Rusal memiliki bisnis terintegrasi dari tambang bauksit, produksi alumina, hingga peleburan aluminium. Pada 2025, Rusal memproduksi sekitar 3,91 juta ton aluminium dan 6,85 juta ton alumina.