09/11/2017
*CATATAN SINGKAT TENTANG LAFRAN PANE*
*_Oleh: Hariqo Wibawa Satria_*
(Penulis Buku : *Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya*),
Beji, Depok
9 November 2017
1/ KELUARGA JURNALIS, SASTRAWAN DAN PEJUANG KEMERDEKAAN, Lafran Pane lahir 5 Feb 1922, di Kp Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang jurnalis, sastrawan, kepala sekolah di HIS, pendiri Muhammadiyah di Sipirok, sangat komplit. Sutan Pangurabaan adalah pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan (terbit 1927), berbahasa Angkola, yang terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia, usahanya di bidang penerbitan dan percetakan. Sahat P. Siburian menyebut Sutan Pangurabaan sebagai juragan media cetak pada masa Kolonial. Dua kakak kandung Lafran Pane adalah Sanusi Pane (L: 1905), Armijn Pane (L: 1908), keduanya adalah sastrawan, budayawan yang sangat-sangat produktif (jika anda penggemar sastra, cek saja di internet tentang profil Sanusi Pane dan Armijn Pane, luar biasa). Lafran justru kurang produktif menulis, ia tipikal konsolidator, bidang studi Lafran juga terbilang serius, yaitu tata negara.
2/ SEDERHANA, Bahkan orang yang yang menurut saya sudah sangat sederhana hidupnya seperti Prof.Dr.Dochak Latief mengatakan: Lafran Pane itu sederhana sekali hidupnya. Soal kesederhanaan Lafran Pane ini sudah melegenda. sepertinya faktor didikan keluarga, faktor yogya, dll. Lafran tak punya rumah sampai meninggal. Saya sudah ke rumahnya, ke rumah teman dan murid2nya, ke ruang kerjanya di UNY, ke rumah anaknya di Bintaro dan ke kampungnya di Sipirok, semua jawabannya sama, Lafran sederhana sekali orangnya, Lafran tak punya ambisi politik mau jadi ini dan itu, padahal kesempatan ada dan tawaran tak pernah berhenti.
3/ LAFRAN PANE berhasil menanamkan semangat bela negara, rasa cinta tanah air, semangat persatuan, kepada salah satu kelompok strategis di masyarakat, yaitu mahasiswa. Itu terlihat dari dua tujuan HMI yang didirikannya: Pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Jadi kepentingan nasional diatas kepentingan lainnya. Di tahun 45, 50-an.