Citralanā Banjar Adat Tanglad

Citralanā Banjar Adat Tanglad 𝘔𝘦𝘥𝘪𝘢 Banjar Adat Tanglad

Tilem Sasih Kepitu, 18 Januari 2026, Ngemargiang Dresta Upakara Caru Sasih (NYEGEHIN) ring Pura Banjar Adat Tanglad - De...
18/01/2026

Tilem Sasih Kepitu, 18 Januari 2026, Ngemargiang Dresta Upakara Caru Sasih (NYEGEHIN) ring Pura Banjar Adat Tanglad - Desa Adat Tanglad

Purnama Sasih Kapitu Isaka Warsa 1947 utawi Tahun Masehi 2026 (Tumpek Krulut), 3 Januari 2026 | Sembahyang Bersama Ring ...
03/01/2026

Purnama Sasih Kapitu Isaka Warsa 1947 utawi Tahun Masehi 2026 (Tumpek Krulut), 3 Januari 2026 | Sembahyang Bersama Ring Pura Banjar Adat Tanglad - Desa Adat Tanglad

29/12/2025
19/12/2025
19/12/2025

Ida Bhatara Pelawatan Ratu Mas Banjar Adat Tanglad, lunga mesucian ring Pura Gunung Pandian sepisanan jagi ngelantur mesolah napak pertiwi (Calonarang) galah 20.00 ring Jaba Pura Banjar Adat Tanglad

18/12/2025

Ngias Ida Bhatara Pelawatan Ratu Mas Banjar Adat Tanglad, santukan benjang semeng Ida jagi lunga ring Pura Gunung Pandian sepisanan jagi ngelantur mesolah napak pertiwi (Calonarang) galah 20.00 ring Jaba Pura Banjar Adat Tanglad

Semangat 💪💪💪 Para Pemuda Harapan Banjar 🙏
18/12/2025

Semangat 💪💪💪 Para Pemuda Harapan Banjar 🙏

Pembuatan Dekorasi Calonarang Banjar Adat Tanglad
17/12/2025

Pembuatan Dekorasi Calonarang Banjar Adat Tanglad

𝙒𝙖𝙡𝙪 𝙉𝙖𝙩𝙚𝙣𝙜 𝘿𝙞𝙧𝙖𝙝 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙈𝙖𝙩𝙖𝙝 𝙂𝙚𝙙𝙚Dalam setiap pementasan dramatari Calonarang di manapun, termasuk di Banjar Adat Tangla...
17/12/2025

𝙒𝙖𝙡𝙪 𝙉𝙖𝙩𝙚𝙣𝙜 𝘿𝙞𝙧𝙖𝙝 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙈𝙖𝙩𝙖𝙝 𝙂𝙚𝙙𝙚

Dalam setiap pementasan dramatari Calonarang di manapun, termasuk di Banjar Adat Tanglad Walu Nateng Dirah sebagai aktor sentral protagonis (aktor utama). Walu Nateng Dirah adalah sebutan lain dari Ni Calonarang. Walu Nateng Dirah adalah sebuah nama yang terdiri dari kata walu artinya janda, nata artinya raja, ing artinya di- dan Dirah adalah negeri Dirah. Dengan demikian Walu Nata Ing Dirah artinya “Seorang Janda di Dirah”. Bagi masyarakat Bali dan di Kota Denpasar lebih lazim menyebut Walu Nateng Dirah karena “nata ing” disandikan (a+i) menjadi (e) sehingga disebut “nateng”. Selanjutnya Goris dalam catatannya menjelaskan tentang Ni Calonarang yang sering disebut dalam ceritera Bali adalah Walu Nateng Dirah, yakni seorang janda ahli sihir wanita (Rangda) dari negeri Dirah atau Jirah. Bahkan dalam catatan tersebut, Goris menduga bahwa Mahendradata atau Gunapriyadharmapatni sebagai Calonarang yang memiliki kekuatan yang lebih daripada suaminya raja Udayana. Hal tersebut di dasarkan atas sebuah catatan titah raja yang dikeluarkan raja Udayana yang selalu didahului dengan gelar Gunapriyadharmapatni.

Uraian tersebut bisa menjadi sebuah kemungkinan dan kebenaran, meskipun masih sangat sumir. Kebenaran tersebut diperkuat dari adanya catatan efigrafi dan ikonografi yang mengarah pada jalan yang sama. Terlebih Gunapriya dharmapatni dicitrakan dalam arca Durga Mahesasuramardini, yakni Dewi Durga dalam murthinya sebagai Durga berlengan delapan, dan Goris mengidentifikasikan ikonografi tersebut simbul kemarahan dan ajaran mistik kiri dari Gunapriyadharmapatni. Namun terlepas dari kontroversialnya tokoh Ni Calonarang dalam perspektif historikal, dalam pementasan dramatari Calonarang aktor Walu Nateng Dirah masih tetap menjadi aktor sentral pementasan.

Dalam tradisi pementasan dramatari Calonarang di Kota Denpasar, aktor Walu Nateng Dirah sangat jarang disebutkan dalam pementasan. Justru tokoh tersebut disebut dengan nama lain, yakni “Matah Gede” yang diperankan oleh laki-laki. Sama sekali belum ada “Matah Gede” diperankan oleh seorang perempuan. Sebutan “Matah Gede” sama misterinya dengan nama Ni Calonarang dan Walu Nateng Dirah. Banyak versi yang dimunculkan oleh praktisi Calonarang berkenaan dengan nama “Matah Gede” untuk merujuk Walua Nateng Dirah. Bahkan ada versi lain menyatakan bahwa “Matah Gede” bukan aktor atau tokoh dalam pementasan, tetapi “jenis tari” yang ditarikan oleh penari ketika mementaskan tokoh Walu Nateng Dirah dalam pementasan Calonarang. Sebagaimana dijelaskan Nyoman Geguh, seorang praktisi Calonarang menjelaskan :
“Bagi saya Matah Gede bukanlah nama tokoh melainkan jenis tarian yang ditarikan oleh penari pada saat menarikan tokoh Walu Nateng Dirah. Jadi orang menarikan tokoh itulah disebut dengan jenis tarian Matah Gede. Matah Gede sendiri dianalogikan seperti makanan yang setengah matang. Dalam bahasa Bali mara lebeng atenge. Artinya, manusia sakti yang masih berwujud manusia, tetapi wajahnya sudah berubah atau di Bali sering disebut dengan jelama matah”

Deskripsi tersebut kemungkinan dapat diterima dalam kerangka logis. Biasa jadi Matah Gede hanyalah sebuah gaya tarian bagi mereka yang akan menarikan tokoh Walu Nateng Dirah. Namun apapun itu, realitanya dalam lingkungan sosial, Matah Gede sudah menjadi tokoh protagonis sekaligus aktor simbolik mewakili citra Ni Calonarang atau Walu Nateng Dirah. Menyimak atas uraian makna harfiah dari Matah Gede sebagai manusia Śakti yang belum matang, dan masih berwujud manusia tetapi wajahnya sudah berubah, sangat tepat merefleksikan aktor Walu Nateng Dirah sebagai sosok manusia akti yang belum memiliki kematangan ilmu dan perempuan śpengetahuan.

Selain itu, pandangan lain yang berkenaan dengan Matah Gede tidak boleh diabaikan. Beberapa praktisi, penggiat dan pemerhati pementasan dramatari Calonarang justru mengatakan dengan tegas, bahwa Matah Gede adalah aktor bukan jenis pakem tarian. Ia adalah tokoh atau aktor utama dalam pementasan dramatari Calonarang. Bahkan Matah Gede sudah menjadi ikonik dari pementasan dramatari Calonarang. Sebab nama Matah Gede bukanlah hanya sekadar nama tetapi istilah yang merepresentasikan tokoh Ni Calonarang atau Walu Nateng Dirah. Meskipun hingga saat ini belum diketahui siapapertamakali menggunakan nama ini untuk menyebut Walu Nateng Dirah dalam seni pementasan Calonarang. Berkenaan dengan nama Matah Gede, Putu Adi menyatakan nama tersebut merujuk pada kawisesan (kesaktian) yang dimiliki Walu Nateng Dirah yang boleh dikatakan belum sempurna.

Apabila nama Matah Gede mewakili kesaktian Walu Nateng Dirah, sangat pantas nama tersebut dilabelkan pada aktor Walu Nateng Dirah pada pementasan Calonarang. Matah Gede sebagaimana telah disebutkan di atas bukanlah jenis pakem tarian, tetapi sebuah makna simbol yang sedikit tidaknya mewakili ideologi atau ajaran pada sosok Walu Nateng Dirah. Sebagaimana merujuk pada diskursus teori semiotika dari De Sausser, bahwa setiap istilah (diksi) adalah sebuah semion atau penanda yang dapat ditafsirkan sebagai tanda yang penuh makna. Istilah “Matah Gede” dapat dikatakan adalah sebuah semion atau penanda yang tentunya memiliki makna yang dalam. Makna “Matah Gede” sesungguhnya adalah pesan dari sebuah simbol kedigjayaan dan kawisesan yang dimiliki Walu Nateng Dirah yang masih belum mencapai kesempurnaan. Artinya, ilmu pangiwa yang dimilikinya boleh dikatakan belum matang sehingga masih diliputi oleh rasa marah dan kebencian. Sebab pada hakikatnya manusia yang belajar mangiwa sangat utama, jika didasari dengan laku sadhu suci laksana. Ketika manusia yang dapat mempelajari ngiwa atau pangiwan sudah tinggi dan sudah dapat menaklukan musuh dalam diri, atas anugrah Hyang Bhattāri, tinggi tingkat ilmunya disebut “Pangiwan Ngisep Sari” sebagaimana disebutkan dalam lontar Pangiwan Buda Kecapi Putih sebagai berikut :
Nihan kotamaning sang mangiwa, den wruhan rumuhun, kagelarang dewatattwa, mwang panunggalaning Triaksara, tekeng Rwa Bhineda, apan wekasing wakas utamahakena, sekala niskla kawibawa, kinatwaning āra, mwah dening rat kabeh, kinasihin dening dewa Bhattkinabhaktya dening sarwa Bhuta-Bhuti----yan katekaning pati, wenang mantuking siwapada, Wisnupada, tekeng cintya bhawana----yan ketekening pati swarga pawitra kepangguh denta---kramanya byasake ring kalaning bulan rame. Mayoga sirap marep purwa, angeka citta, mamati bayu, mamti kroda mwang satru ri angga sariranta, masadana suci---nihan ta ngiwa ngisep sari ngaran… (Buda Kacapi Putih, 1b-2a)

Terjemahan:
Inilah keutamaan (orang) yang mangiwa (menekunipangiwan), menjadi sangat berpengetahuan, mengetahui hakikat dewatattwa, dan mampu menyatukan triaksara (Ang, Ung, Mang), dengan Rwabhneda (Ang dan Ah), sebab dari dahulu sangat utama dan maha utama, berwibawa di alam sekala-niskala, dan dihormati oleh semua penguasa, dikasihi oleh Dewa Bhattāra, disembah oleh para Bhuta-Bhuti----apabila kematian datang, pantas kembali ke alam Śiwa, alam Wisnu dan alam yang tak terpikirkan---bila meninggal sudah pasti mendapatkan surga---namun sepatutnya membiasakan diri pada saat bulan (purnama), beryoga menghadap timur, mengendalikan cita (pikiran), mematikan keinginan, mematikan kemarahan dan musuh dalam diri serta bersadhana perbuatan suci---demikianlah pangiwan (sesungguhnya) yang disebut ngisep sari,…(Gedong Kertya,1988:1-2).

Menyimak petikan lontar tersebut di atas, tanda dari orang yang tinggi atau sempurna tingkat pangiwannya disebut dengan ngisep sari. Tentunya anugrah itu didapatkan jika manusia atau penekun pangiwan sudah mampu melakukan sadhana (disiplin spiritual) sebagaimana disebutkan dalam teks. Namun Walu Nateng Dirah kendatipun sangat mahir dalam ilmu pangiwan, namun masih diliputi “alah dening-dening” tidak sempurnalah ilmunya. Nama “Matah Gede” yang dilekatkan padanya sesungguhnya mengisyaratkan hal tersebut. Dengan demikian, tokoh Matah Gede yang tiada lain adalah Walu Nateng Dirah adalah manusia śakti yang belum sempurna ilmu pangiwannya. Atas dasar semion tanda dalam makna tersebutlah, aktor Matah Gede (Walu Nateng Dirah) diwujudkan masih dalam wujud manusia, perempuan tua cantik tetapi memiliki wajah yang menyeramkan.

Penggambaran aktor “Matah Gede” dalam setiap pementasan dramatari Calonarang. Terlihat “Matah Gede” masih berwujud manusia, tetapi memiliki wajah yang menyeramkan setengah sudah berubah. Atribut yang dikenakan aktor menandakan bahwa Matah Gede memang sosok manusia perempuan yang sudah tua dan ringkih. Hal tersebut dicirikan dengan tongkat yang dibawa sang aktor sebagai sandaran pada saat berjalan. Selanjutnya “metengkuluk” kain warna putih usang dirajah dengan Bhuta Siu dan Dasaksara serta Dasabayu menjadi ciri khasnya. Dalam tengkuluk juga dirajah Ongkara Sungsang dan dalam, bab berikutnya akan dijelaskan terkait makna filsafatinya. Kain rembang kuno adalah ambed pada tubuhnya serta berhiaskan basang-basang atau jejeron manusia serta tengkorak. Tapih adalah kain penutup pada bagian bawah. Matah Gededisangdangkan untuk Janda Dirah berarti ia masih mentah yang merujuk pada fakta bahwa kawisesan berupa api belum tersembur dari mata dan hidungnya.

Semua atribut tersebut tentunya memiliki makna dan arti tersendiri. Namun secara keseluruhan atribut tersebut memberikan sebuah gambaran (visual), bahwa “Matah Gede” atau Walu Nateng Dirah adalah memang benar seorang walu (janda) tua Śakti tetapi sangat mempesona (baca cantik) sebagaimana disebutkan dalam teks satsra Calonarang. Aktor “Matah Gede” memiliki peran penting dalam pementasan. Sebagai aktor utama, Matah Gede memiliki peran strategis dalam membangun cerita dalam setiap pementasan. Oleh karena itu, ada memang pakem khusus untuk menarikan “Matah Gede”, sebagaimana Nyoman Geguh, seorang praktisi Calonarang menjelaskan sebagai berikut:
“saya beberapa kali pernah menjadi juri dalam lomba tarian “Matah Gede” yang sempat digelar oleh pemerintah Kota Denpasar. Bagi praktisi “Matah Gede” ada pakem khusus yang tidak boleh diabaikan saat menari. Atribut sudah pasti membawa tongkat, metengkuluk, metapih dan menggunakan amed dada. Sekarang banyak variasi dan kreasi Matah Gede yang terkadang jauh dari gambaran sastra, bahwa Calonarang adalah “janda” di negeri Dirah. Kemudian tarian pepesonnya harus mengikuti struktur seperti pepeson, pengawak terog, pengecet, betel maya, pengerang-erang dan pakeed. Demikianlah pakem menarikan Matah Gede yang sebaiknya diikuti oleh aktor ketika mementaskan pementasan Calonarang”.

Aktor Matah Gede kini dalam setiap pementasan memang menyuguhkan atribut yang sangat varitaif. Mereka berkreasidalam dunia seni yang tanpa batas, tetapi jangan sampai bergeser dan menjauhi sastra Calonarang. Teks sastra sudah memberikan visualisasi aktor Matah Gede sebagaimana gambaran Walu Nateng Dirah atau Ni Calonarang yang sangat sederhana. Penggambaran seorang janda tua tentunya adalah titik point yang tidak boleh dilupakan. Dewasa ini banyak penari Matah Gede lebih menonjolkan aspek estetik melupakan etika sastra sehingga terkadang aktor Matah Gede tidak merepersepsikan seorang “Janda Dirah”. Kemudian ketika aktor Matah Gede memainkan perannya di atas panggung juga hendaknya menjadi hal yang penting diperhatikan. Terutama pepeson, pengawak terog, pengecet, betel maya, pengerang-erang dan pakeed. Pengerang-erang misalnya, di sana aktor harus mampu ngucap-ucap dengan menggunakan bahasa sastra Jawa Kuna atau Kawi, sebab kisah ini menggambarkan kejadian pada masa berkuasanya raja Airlangga di Jawa. Kebanyakan Matah Gede tidak memahami sastra Kawi sehingga pementasan menjadi kurang menarik untuk disaksikan. Matah Gede adalah aktor protagonist, aktor memiliki peran strategis dalam hal sukses dan tidaknya pementasan dramatari Calonarang.

- Sumber : Buku CALONARANG (Ajaran Tersembunyi di Balik Tarian Mistis)
- Photo & Aktor : Oka Wiadnyana

Ngiring Piarsayang Sesolahan Calonarang “ GESENG WARINGIN”Ida Sesuhunan Ratu Mas Banjar Adat Tanglad Tedun Napak Pertiwi...
16/12/2025

Ngiring Piarsayang Sesolahan Calonarang “ GESENG WARINGIN”
Ida Sesuhunan Ratu Mas Banjar Adat Tanglad Tedun Napak Pertiwi.
__________________
Pinanggal : 19 Desember 2025 (Tilem Sasih Kanem)
Magenah : Jaba Pura Banjar Adat Tanglad
Galah : 20.00 Wita
___________________
“Medaging Watangan Kalih”
___________________
Penabuh : Sekaa Gong Giri Kerta Yasa Banjar Adat Tanglad
Pragina : Seniman Banjar Adat Tanglad
___________________
Pakeling : Nunas mangda ida dane trepti ritatkala Ida Bhatara Napak Pertiwi lan Ida dane ngangge busana adat Bali.

Address

Banjar Adat Tanglad, Desa Adat Tanglad, Nusa Penida
Klungkung
80771

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Citralanā Banjar Adat Tanglad posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share