Universitas Menara Kudus

Universitas Menara Kudus Laman universitas kehidupan. Setiap hari, kita terlibat dalam proses pembelajaran dimana setiap momen ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™™๐™ž ๐™ฅ๐™š๐™ก๐™–๐™Ÿ๐™–๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™—๐™š๐™ง๐™๐™–๐™ง๐™œ๐™–.

(Entertainment and learning account about life, not an official private or state educational account) ุนู† ุฃูŽุจูŠ ุงู„ุฏุฑุฏุงุก โ€“ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ โ€“ : ุฃู†ูŽู‘ู‡ ุณูŽู…ูุนูŽ ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ูŠู‚ูˆู„ : ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูุณู’ู„ู…ู ูŠุฏุนููˆ ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ุบูŽูŠู’ุจู ุฅูู„ุงูŽู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู…ูŽู„ูŽูƒู : ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู

Dari Abu Darda ra., ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, โ€œTidaklah seorang hamba muslim berdoa untuk kebaikan

saudaranya secara rahasia, melainkan ada malaikat yang akan berkata, โ€œDan untukmu pula yang sepertinya.โ€ (HR Muslim)

06/05/2026

Pengajian bersama KRM. SALIM ALQOSIMI trah Sunan Ampel.

Nahdlatul Ulama meneruskan ajaran wali9. Manuskrip tahlilan. Yasin Fadilah. Ijazah sambung ke Wali9

Syaikh Nawawi Tsani dari Banten di Zaman Modern.Wilayah Kresek dan Tanara merupakan dua wilayah yang secara geografis be...
01/05/2026

Syaikh Nawawi Tsani dari Banten di Zaman Modern.

Wilayah Kresek dan Tanara merupakan dua wilayah yang secara geografis berdekatan serta memiliki keterkaitan historis dalam perkembangan keilmuan Islam di Nusantara. Dari wilayah Tanara, lahir seorang ulama besar yang kontribusinya diakui secara luas, yakni Syeikh Nawawi al-Bantani. Karya-karya beliau yang berbahasa Arab telah menjadi rujukan penting dalam tradisi keilmuan Islam, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Dalam konteks perkembangan kontemporer, muncul p**a figur akademisi muda yang menunjukkan kapasitas intelektual, keberanian intelektual, serta ketegasan dalam menyampaikan gagasan keilmuan. Sosok ini merepresentasikan dinamika baru dalam upaya pengembangan dan reinterpretasi khazanah keislaman di era modernisasi.

Figur tersebut adalah KH. Imaddudin Utsman al-Bantani, M.A., seorang pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Dalam kiprahnya, beliau dikenal luas di kalangan umat Islam, baik pada lingkup lokal, nasional, maupun internasional, melalui kontribusi intelektual dan aktivitas akademiknya.

Lebih lanjut, peran beliau dalam menghidupkan kembali khazanah keilmuan Islam di era modernisasi tampak melalui berbagai karya ilmiah, khususnya penelitian terkait silsilah nasab para habib di Indonesia. Kajian tersebut tidak hanya memperkaya diskursus akademik, tetapi juga memicu perhatian dan perdebatan publik dalam skala yang lebih luas di kalangan umat Islam global.

Meskipun hasil penelitian tersebut memunculkan dinamika yang bersifat kontroversial, ditandai dengan adanya respons pro dan kontra fenomena demikian pada hakikatnya merupakan hal yang inheren dalam tradisi keilmuan. Dalam perspektif akademik, perbedaan pandangan justru berfungsi sebagai katalisator bagi percepatan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam diskursus keislaman.

Kondisi ini mendorong para akademisi Muslim untuk kembali mengaktifkan tradisi intelektual melalui penelaahan kritis terhadap literatur nasab, kajian naskah-naskah klasik, serta rekonstruksi historis atas berbagai fakta yang selama ini cenderung terabaikan dalam rentang waktu yang panjang.

Lebih lanjut, kontribusi KH. Imaddudin Utsman al-Bantani, M.A., dalam konteks ini dapat dipandang sebagai upaya signifikan dalam membuka kembali ruang-ruang diskursus intelektual umat Islam. Melalui pendekatan ilmiah yang sistematis, beliau turut menghadirkan perspektif kritis dalam menyikapi berbagai klaim yang berkaitan dengan dzurriyyah Nabi Muhammad di Nusantara.

Dengan demikian, kajian tersebut tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga mendorong lahirnya sikap yang lebih rasional, proporsional, dan berbasis evidensi dalam merespons berbagai narasi yang berkembang, sekaligus menguatkan penghormatan terhadap warisan ulama lokal dalam sejarah keislaman di Nusantara.

Dengan demikian, sebagai bagian dari komunitas Nahdliyin, terdapat alasan yang kuat untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hadirnya figur ulama muda yang memiliki kapasitas intelektual serta kebijaksanaan dalam merespons berbagai dinamika keagamaan kontemporer.

Dalam konteks ini, KH. Imaddudin Utsman al-Bantani, M.A., dapat dipandang sebagai representasi generasi intelektual yang mampu menghadirkan pendekatan kritis sekaligus konstruktif dalam menyikapi beragam klaim keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Kontribusi keilmuan yang dihasilkan melalui karya-karya ilmiahnya patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik dalam Islam. Penelitian tersebut tidak hanya memperkaya khazanah intelektual, tetapi juga berimplikasi pada terbentuknya sikap yang lebih hati-hati, proporsional, dan berbasis argumentasi ilmiah dalam menyikapi klaim-klaim yang berkaitan dengan dzurriyyah Nabi Muhammad di Nusantara.

Dengan demikian, ruang diskursus keislaman menjadi lebih sehat, dialogis, dan menjunjung tinggi etika keilmuan, termasuk dalam menjaga kehormatan para ulama pribumi sebagai bagian integral dari sejarah dan perkembangan Islam di Nusantara.

Penulis : Supeโ€™i Tangerang, 30 April 2026

14/04/2026

Diskusi ummat dibalik peristiwa anggota dewan merendahkan ulama dan pesantren di madura

14/04/2026
Membongkar Narasi "Kibin": Mengapa Snouck Hurgronje Disalahkan atas Runtuhnya Kepercayaan kepada Baโ€™alawi?Oleh: Gus Aziz...
27/03/2026

Membongkar Narasi "Kibin": Mengapa Snouck Hurgronje Disalahkan atas Runtuhnya Kepercayaan kepada Baโ€™alawi?

Oleh: Gus Aziz Jazuli, Lc, MH.

Belakangan ini, muncul sebuah fenomena menarik di tengah polemik nasab yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir. Ada upaya sistematis melalui tulisan-tulisan (salah satunya yang saya sebut sebagai narasi "Kibin") yang mencoba mengalihkan tanggung jawab atas hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap klan Baโ€™alawi kepada sosok orientalis Belanda, Snouck Hurgronje. Namun, benarkah demikian? Mari kita bedah secara ilmiah dan objektif.

1. Benarkah Masyarakat Hanya "Ikut-ikutan"?

Dalam artikel yang beredar, masyarakat yang kritis diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan rendah: mulai dari faktor psikologis "ikut-ikutan" (taklid sosial), faktor traumatik dengan oknum, hingga tuduhan digerakkan oleh buzzer politik dan "bisikan setan".

Sebagai pendidik, saya tegas membantah ini. Apa yang terjadi saat ini bukanlah kebencian personal, melainkan kesadaran kolektif berbasis data. Saya pribadi tetap menghargai karya-karya kitab ulama Baโ€™alawi, namun kritik terhadap klaim nasab dan perilaku sejarah adalah hal yang berbeda. Jika masyarakat mulai menarik kepercayaan, itu karena mereka mulai membandingkan narasi lisan dengan bukti-bukti manuskrip dan sejarah yang valid.

2. Mitos Dakwah vs. Fakta Ekonomi.

Narasi yang selalu didengungkan adalah para leluhur Baโ€™alawi datang ke Nusantara murni untuk dakwah. Namun, catatan sejarah internal mereka sendiri, seperti dalam kitab Al-Istizadah, serta kesaksian peneliti seperti Van den Berg dan Vander Mulen, menunjukkan fakta lain.

Kondisi ekonomi di Hadramaut saat itu sangat sulit. Motivasi utama migrasi besar-besaran adalah mencari penghidupan yang lebih layak atau "mencari cincin Nabi Sulaiman" (simbol kekayaan). Bahkan, Van den Berg mencatat bahwa dari puluhan ribu imigran Hadrami, hanya segelintir kecil yang memiliki kapasitas keilmuan setingkat kiai kampung. Maka, mengklaim mereka sebagai satu-satunya motor islamisasi Nusantara adalah pengkaburan sejarah yang nyata.

3. Menggugat Peran Snouck Hurgronje.

Artikel "Kibin" menuduh Snouck Hurgronje sebagai arsitek kebencian yang memutus hubungan rakyat dengan "Ulama Arab". Faktanya, sejarah justru mencatat hubungan yang sangat "mesra" antara beberapa tokoh utama Baโ€™alawi dengan pemerintah kolonial Belanda.

- Habib Usman bin Yahya: Beliau adalah penasehat resmi pemerintah kolonial (kolega Snouck). Fatwa-fatwanya justru seringkali menguntungkan Belanda, seperti melarang rakyat melakukan pemberontakan (perlawanan) terhadap penjajah dengan dalih agama.
- Kasus Habib Abdurrahman Azzahir: Seorang tokoh Baโ€™alawi di Aceh yang pada akhirnya menyerah kepada Belanda dan menerima tunjangan bulanan sebesar 30.000 Golden seumur hidup dari penjajah.

Jadi, siapa sebenarnya yang menjadi kaki tangan penjajah? Menuduh Snouck sebagai penyebab kebencian saat ini adalah cara untuk menutupi jejak sejarah kolaborasi oknum-oknum tersebut di masa lalu.

4. Islam Sudah Tegak Sebelum Baโ€™alawi Datang.

Ada klaim seolah-olah tanpa kedatangan mereka, Nusantara tidak mengenal Islam. Ini adalah penghinaan terhadap para leluhur Nusantara. Berdasarkan manuskrip seperti Izharul Haq, pada abad ke-3 Hijriah (tahun 225 H), sudah berdiri Kesultanan Perlak dengan sultan bernama Abdul Aziz Syah. Saat itu, klan Baโ€™alawi bahkan belum lahir atau belum bermigrasi ke Hadramaut. Islamisasi Nusantara adalah jasa para ulama terdahulu yang namanya sengaja "ditenggelamkan" oleh narasi-narasi glorifikasi berlebihan.

5. Masalah Nasionalisme dan Identitas.

Saya juga menyoroti krisis identitas yang terjadi. Banyak yang lahir, makan, dan hidup di tanah air Indonesia, namun lebih bangga menyebut diri mereka orang "Tarim" dan mengagungkan budaya asing daripada mencintai tanah leluhurnya sendiri. Nasionalisme seperti ini patut kita pertanyakan.

Penutup.

Runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap Baโ€™alawi bukan karena Snouck Hurgronje, bukan karena Kiai Imaduddin, dan bukan karena saya. Kepercayaan itu runtuh karena kebenaran sejarah yang selama ini disembunyikan mulai terungkap. Kita tidak boleh lagi mau dibodoh-bodohi dengan dongeng khurafat atau ancaman kualat. Mari kita kembali ke sejarah yang jujur dan mencintai tanah air kita sendiri dengan sepenuh hati.

Serang, 25 Maret 2026
(umk)

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Dan Batin
24/03/2026

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Dan Batin

09/02/2026

Perjuangan Nusantara

02/02/2026

Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Tangerang berinisial R diduga menjadi korban penganiayaan Habib Bahar bin Smith dan pengikutnya.

Ia diduga dianiaya saat akan mengajak bersalaman hingga kondisinya babak belur.

Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota, AKBP Awaludin Kanur buka suara.

Peristiwa dugaan penganiayaan ini terjadi pada (21/9/2025), saat Bahar bin Smith menghadiri sebuah acara di wilayah Cipondoh, Kota Tangerang.

Korban yang merupakan anggota Banser datang ke lokasi untuk mendengarkan ceramah.

Namun ketika korban mendekat dan hendak bersalaman, ia justru dihadang oleh sekelompok orang yang mengawal kegiatan tersebut.

Korban kemudian dibawa ke sebuah ruangan, di mana ia diduga mengalami kekerasan fisik hingga mengalami luka-luka dan babak belur.

Selain dianiaya, korban juga diduga kehilangan telepon genggam yang disebut dirampas oleh Bahar bin Smith bersama pengikutnya.

Polisi menegaskan, tersangka dalam kasus ini tidak hanya Bahar bin Smith, melainkan dua orang lainnya yang turut terlibat dan saat ini masih dalam proses penyidikan.

Sementara, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tangerang, Midyani turut bersuara.

Ia mengatakan, jika R sempat dipukul oleh pengawal Habib Bahar di depan panggung sebelum dibawa ke rumah salah satu tersangka.

Menurut Midyani, R memang kerap menghadiri acara Maulid Nabi.

Namun, penyebab Habib Bahar melakukan kekerasan terhadap R hingga saat ini belum diketahui.

"Posisi jarak 2 meter, langsung dipiting sama pengawalnya dan ada pemukulan di depan panggung sampai dibawa ke rumah salah satu tersangka. Memang dia anggota yang s**a menghadiri Maulid Nabi," tutur Midyani.

(Tribun-Video.com/Tribunnews.com)

Address

Universitas Kehidupan
Kudus
59315

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Universitas Menara Kudus posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share