Santri Nasional

Santri Nasional Halam Milik Akun Instagram :

20/12/2018

Penjelasan dari KH Ahmad zaini

14/07/2018

Kalau santri insyaAllah paham 😁
Yang udah paham koment ya
Yang belum , tanya yang paham 😅

Orang yang mempunyai pengalaman yang banyak adalah seorang santri. Senang dan susah selalu mereka jalani dengan tabah da...
24/10/2017

Orang yang mempunyai pengalaman yang banyak adalah seorang santri. Senang dan susah selalu mereka jalani dengan tabah dan sabar, oleh karena hormatilah santri dalam keadaan apapun, jangan sia2kan mereka karena memiliki jiwa yang teguh dalam mencari ilmu dan sifat kedisiplinan dan mandiri yang tetap terjaga.
Selamat hari santri nasional, 22 oktober 2017
📷
-

Mari Saksikan Bersama Peringatan Nuzulul Quran Dari PIQ Singosari Malang
12/06/2017

Mari Saksikan Bersama Peringatan Nuzulul Quran Dari PIQ Singosari Malang

10/06/2017

24/05/2017

Syubbanul Wathon

Siapa yang kemarin hadir di Acara Haul dan Harlah Ponpes Progresif Bumi Sholawat, Sidoarjo - Jawa Timur ????? 😃😃😃😃😃
❤ Bersholawat bersama Habib , , Abi , Ummi , , KH. Agoes Ali Masyhuri, Wagub Jatim Gus Ipul, Bupati Sidoarjo H. Saiful Illah, , , Syekhermania, Warga Jawa Timur , Para Santri Bumi Sholawat, dan lain lain ...

23/05/2017

.
Hmmm...
Buat kang dan nings yang masih jombloez. Kzl ngga?
*jleb
:p

22/05/2017

*From group Whatsapp Media Publikasi PIQ Singosari

BIOGRAFI KYAI ALWI MURTADLO
(Oleh: Ahmad Faiz Basori)

Almukarrom KHM Basori Alwi (pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur'an/PIQ Singosari Malang) adalah putra KH Alwi Murtadlo atau yang akrab dipanggil Kyai Alwi.

Berikut ini biografi Kyai Alwi yang dibacakan oleh penulis dalam acara Haul Bani Murtadlo tanggal 22 Mei 2017 di Singosari Malang.

1. ORANGTUA DAN SAUDARA-SAUDARA KYAI ALWI

Kyai Alwi adalah putra dari Kyai Murtadlo atau kadang dipanggil dengan nama Kyai Murtolo. Di lingkungan keluarga, nama Kyai Murtadlo kadang juga ditulis dengan ejaan Kyai Murtadho.

Kyai Murtadlo adalah putra dari Kyai Abdur Rohim, yang berasal dari Burneh, Bangkalan, Madura.

Kyai Murtadlo mempunyai 5 orang putra-putri.

1. Abdillah Murtadlo
2. Maslihah Murtadlo
3. Ahmad Murtadlo
4. Alwi Murtadlo
5. Abdul Manab Murtadlo

Mengenai asal usul keturunan Madura tsb, ada kisah yang menarik (sebagaimana yang diceritakan oleh Ibu Saudah putri dari Nyai Maslihah Murtadlo):

Suatu saat ada rombongan tamu dari Madura yg akan minta tolong kepada Kyai Alwi. Singkat cerita, agar semakin akrab dengan tamu, saat itu Kyai Alwi mengaku kepada mereka, bahwa Kyai Alwi itu termasuk keturunan Adipati Omben (Syarif Husen).

Setelah mendengar pengakuan Kyai Alwi tsb, ternyata rombongan tersebut malah turun dari kursi dan duduk di lantai, bahkan saat pulang, mereka merangkak mundur hingga di luar pintu rumah Kyai Alwi.

Belakangan baru diketahui bahwa pendahulu Kyai Alwi yang bernama Syarif Husein Adipati Omben, Sampang Madura tersebut adalah tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Dan beliau adalah cucu Sunan Giri.

2. SILSILAH KYAI ALWI

Kyai Alwi adalah putra Kyai Murtadlo. Kyai Murtadlo wafat dan dimakamkan di Singosari

Kyai Murtadlo adalah putra Kyai Abdur Rohim yang berasal dari daerah Burneh Bangkalan Madura dan wafat serta dimakamkan di Singosari.

Kyai Abdur Rohim adalah putra Syarif Alwi yang berjuluk Agus Matal. Beliau berasal dari daerah Angsokah, Omben, Sampang Madura.

Syarif Alwi adalah putra Syarif Yusuf yang berjuluk Buyut/Bujuk Kadir yang berasal dari daerah Jrengik, Sampang Madura.

Syarif Yusuf adalah putra dari Syarif Hasan yang berjuluk Buyut/Bujuk Radin, dan berasal dari daerah Batonaong, Arosbaya, Bangkalan Madura

Syarif Hasan adalah putra dari Syarif Husein yang bergelar Adipati Omben atau Buyut/Bujuj Rokem, yang berasal dari daerah Rapa Laok, Omben, Sampang Madura.

Syarif Husein adalah putra dari Syarif Ibrahim yang dikenal juga sebagai Sunan Dalam, yang berasal dari Gresik Jatim

Syarif Ibrahim atau Sunan Dalam adalah putra pertama dari Assayyid Assyarif Maulana Muhammad Ainul Yaqin yang lebih dikenal dengan nama Sunan Giri, yang berasal dari dari Gresik Jatim.

Sunan Giri adalah salahsatu dari Wali Songo. Beliau adalah putra dari Maulana Ishak, yang wafat di Pulau Besar Malaka Malaysia. Nasab dan sejarah tentang Sunan Giri dan Maulana Ishak ini bisa dibaca di berbagai sumber sejarah.

3. MASA MUDA KYAI ALWI

Kyai Alwi terkenal sebagai seorang yang sabar, santun, tenang dan supel. Orang-orang kampung memanggil beliau dengan panggilan WAK ALWI atau KANG ALWI. Sedangkan orang-orang cina Singosari memanggil beliau dengan nama MAN ALWI.

Masa muda Kyai Alwi dihabiskan untuk mondok di beberapa pesantren, di antaranya di pondok Bungkuk Singosari dan pesantren Panji di Sidoarjo. Pada saat itu masih masa penjajahan Belanda.

Di pondok Bungkuk Singosari, Kyai Alwi langsung berguru kepada Mbah Thohir.

Selain belajar ilmu agama dan ilmu thoriqoh, sebagaimana para santri dan kyai pada zaman penjajahan Belanda, Kyai Alwi juga mempunyai ilmu kekebalan anti senjata atau anti peluru.

Dari Batu Ampar dan Sumenep Madura, Kyai Alwi mempelajari ilmu SONGERAJE. Mengenai ilmu kesaktian Kyai Alwi ini sudah tersohor di kalangan kyai-kyai tanah Madura.

Sedangkan dari tanah Jawa ada juga ilmu yang disebut Penganoman Otot Kawat Balung Wesi

Setelah selesai mondok, Kyai Alwi sempat merantau ke Surabaya dan bekerja sebagai penjahit.

Sebagaimana lazimnya kyai-kyai lain pada zaman penjajahan Belanda, Kyai Alwi punya semacam senjata pusaka. Diantara peninggalan Kyai Alwi yang masih ada sampai sekarang adalah sebilah pedang dan 2 (dua) bilah keris. Biasanya pedang tsb dipajang di tembok, dan kedua keris juga di pajang di tembok di kanan kiri pedang.

Menurut kisah dari beberapa sesepuh Bani Murtadlo, ketiga senjata ini punya keistimewaan. Diantaranya jika ada maling, maka ketiga senjata ini akan berbenturan sehingga menimbulkan bunyi yang akan membangunkan Kyai Alwi.

Bapak Mustahal (Bani Nyai Maslihah Murtadlo) pernah bercerita bahwa kerisnya Kyai Alwi pernah dipinjam oleh sahabat beliau yakni Habib Zein Baabud Singosari, tapi ternyata keris tersebut pulang sendiri ke rumah Kyai Alwi. Seolah olah tidak mau keluar dari rumah Kyai Alwi.

Pernah juga ada kisah tentang kesaktian Kyai Alwi ini. Suatu saat ada peristiwa "bacokan/carok" di Singosari. Maka Kyai Alwi mengambil pedang beliau dan keluar rumah untuk mendatangi orang-orang yang bacokan tsb. Kemudian Kyai Alwi mengelinting tembakau hitam dengan kertas putih. Asapnya kemudian ditiup-tiupkan ke arah orang-orang yg berkumpul tsb. Sontak orang-orang yang akan bacokan bubar semua. Setelah itu Kyai Alwi pulang dan menggantungkan kembali pedangnya di tembok.

Kyai Alwi juga terkenal ahli menyembuhkan orang yang sakit gigi. Dan kalau sudah diobati Kyai Alwi maka insyaallah tidak akan kambuh lagi. Diantara buktinya adalah yang dialami oleh besan Kyai Alwi sendiri, yaitu Mbah Khofsah (ibu mertua dari Ayahanda KHM Basori Alwi), yang tidak pernah sakit gigi lagi setelah diobati Kyai Alwi.

4. KELUARGA KYAI ALWI

Kakak Kyai Alwi yang bernama almarhum Kyai Abdillah Murtadlo menikahi Mbah Ning Riwati (seorang wanita sholihah yang berasal dari desa Kedungcangkring, Sidoarjo. Suatu desa di pinggiran Sungai Porong Sidoarjo).

Dari pernikahan tersebut lahirlah beberapa anak, diantaranya Kyai Abdus Salam dan ibu Muthmainnah.

Setelah wafatnya sang kakak, yakni Kyai Abdillah Murtadlo, maka Mbah Ning Riwati dinikahi oleh sang adik, yakni Kyai Alwi. Dalam komunitas santri ini dikenal dengan istilah "Turun Ranjang".

Motivasi pernikahan ini adalah demi berlangsungnya masa depan dan pendidikan putra putri Kyai Abdillah Murtadlo.

Dari pernikahan Kyai Alwi dengan Mbah Ning Riwati ini lahir beberapa putra:

1. KHM Basori Alwi
2. H. Abdullah Alwi Murtadlo
3. Anshor (wafat ketika kecil)
4. H. Abdul Karim Alwi Murtadlo.

Dengan demikian, putra putri dari Mbah Ning Riwati adalah:

1. Kyai Abdis Salam (Pasuruan)
2. Ibu Muthmainnah (Singosari)
3. KHM Basori Alwi (Singosari)
4. H. Abdullah Alwi Murtadlo (Jakarta)
5. Anshor (wafat masih kecil)
6. H. Abdul Karim Alwi Murtadlo (Jakarta)

Keenam putra putri tersebut diasuh semuanya oleh Kyai Alwi Murtadlo. Beliau juga mengasuh HM. Said Budairi (putra Ibu Muthmainnah yg wafat setelah beberapa bulan melahirkan). Said Budairi adalah cucu Mbah Ning Riwati tetapi juga anak susuan beliau (rodlo'ah).

Menjelang wafatnya Mbah Ning Riwati, Kyai Alwi menikah lagi dengan seorang perempuan yang bernama Muthmainnah, yang dalam keluarga dipanggil dengan panggilan Mak Nyik.

Dari pernikahan dengan Mak Nyik Muthmainnah itu Kyai Alwi tidak dikaruniai putra.

5. CUCU KYAI ALWI

Kyai Alwi memiliki 16 orang cucu. Dari KHM Basori Alwi diperoleh 11 orang cucu. Dari H. Abdullah Alwi Murtadlo diperoleh 3 orang cucu. Dan dari H. Abdul Karim Alwi Murtadlo beliau memiliki 2 orang cucu.

Kyai Alwi wafat setelah ke-16 cucu beliau lahir. Kyai Alwi wafat ketika putri terakhir KHM Basori Alwi (yakni Kholidah) sudah berusia sekitar 1 tahun, kira-kira pada akhir tahun 1973 atau awal 1974. Di akhir-akhir hayat Kyai Alwi, beliau masih sering menggendong Kholidah yang masih bayi.

Sementara Mbah Ning Riwati wafat tahun 1965-an

Cucu kesayangan Kyai Alwi dan Mbah Ning Riwati adalah Farid Basori dan Anas Basori.

6. PEKERJAAN KYAI ALWI

Setelah Kyai Alwi menetap kembali di Singosari selepas masa nyantri dan bekerja di Surabaya, dan sudah menikah, Kyai Alwi membantu meneruskan usaha dagang sang ayah, Kyai Murtadlo. Beliau berdagang rotan.

Pada sekitar tahun 1930an, saat itu perekonomian di pasar Singosari mulai menggeliat. Dokar berlalu lalang setiap hari. Suasana itu pun kemudian dimanfaatkan oleh Kyai Alwi.

Rumah Kyai Alwi (Jl Raya 94 Singosari) yang ada di dekat pasar disulap menjadi Toko sepeda. Kyai Alwi menjadi agen sepeda Batavus. Meski sederhana, toko sepeda itu sangat kondang. Maklum belum ada pesaing.

Kyai Alwi juga pernah menjadi agen rokok Misuho dan Koa, menjadi agen minyak kelapa & minyak tanah, serta menjadi distributor sarung/jarit/pakaian di pasar singosari.

Pada hari-hari tertentu (hari pasaran), Kyai Alwi menjajakan dagangan ke pasar-pasar lain di luar Singosari, seperti di daerah Karangploso dan Nongkojajar. Beliau naik dokar ke pasar-pasar tsb.

Kyai Alwi juga mempunyai toko peracangan yang cukup besar yang diberi nama TOKO AFIATI.

Nama Afiati adalah nama baru Mbah Ning Riwati, yang diubah karena Mbah Ning Riwati menderita sakit yang cukup lama.

Nama Afiati yang mempunyai arti KESEMBUHAN ini dipilih sebagai pengganti nama Mbah Ning Riwati.

Kyai Alwi memang tergolong pedagang pribumi yang maju. Beliau sangat profesional dalam menjalankan bisnisnya.

Kyai Alwi memiliki sebuah perusahaan seleb/penggilingan jagung dan beras, dan beliau beri nama CV. Derajat. Pengelolaan CV. Derajat ini sangat profesional. Pembukuan/akuntansinya sangat rapi dan tersimpan rapi sampai hari ini.

Bukan hanya rapi dalam pembukuan perusahaan, tetapi Kyai Alwi juga sangat rapi dalam memelihara dan menyimpan dokumen-dokumen dan kitab-kitab yang dimiliki. Semua kitab-kitab agama beliau tertulis di dalamnya nama ALWI MURTADLO

Kyai Alwi juga menggunakan teknologi dalam bisnisnya. Di CV Derajat tersebut sudah ada pesawat telpon, sesuatu teknologi yang jarang dimiliki oleh orang di Singosari saat itu. Dan CV Derajat itu adalah satu-satunya seleb padi dan jagung di Singosari yang berada di pinggir jalan raya.

Pada saat bekerja di perusahaan beliau, Kyai Alwi selalu berpakaian rapi dan perlente. Sehingga dalam benak cucu-cucu beliau, Kyai Alwi seperti pegawai kantoran. Ini merupakan salah satu bentuk profesional Kyai Alwi dalam urusan bisnis.

Aset yang dimiliki Kyai Alwi pada saat itu termasuk banyak. Beliau punya rumah pribadi yang cukup luas di Jl. Raya 94 Singosari. Beliau juga punya gedung CV Derajat yg luas di Jl. Raya 98 Singosari. Ada lagi beberapa tanah sawah. Bahkan Warung Biru yang ada di Selatan rel kereta api Singosari itu dulu adalah tanahnya Kyai Alwi.

Banyak aset Kyai Alwi yang diberikan untuk perjuangan NU dan Madrasah.

Kyai Alwi tidak melulu mencari uang. Ada saat bekerja, ada saat beramal. Waktu luang beliau manfaatkan untuk berbagi ilmu.

Hampir setiap hari, sebelum membuka toko, Kyai Alwi membuka pengajian di rumahnya. Beliau sendiri yang menjadi pengajar tetap. Setiap pengajian dihadiri oleh puluhan jamaah.

Ketika tentara Jepang memasuki tanah Jawa dan Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang, Kyai Alwi diangkat menjadi TONARIGUMI (Ketua RT).

Kyai Alwi juga menjadi pengurus langgar di Jl. Kristalan. Beliau juga pernah menjabat Ketua Cabang NU Singosari (cikal bakalnya PCNU Kab. Malang). Sampai Kyai Alwi wafat, beliau tetap menjadi pengurus NU.

7. PERJUANGAN MELAWAN PENJAJAH

Kyai Alwi adalah seorang pejuang. Bahkan rumah tempat tinggal Kyai Alwi (di Jl. Raya 94 Singosari) pernah menjadi markas Laskar HIZBULLAH yang terbentuk pada awal tahun 1945. Pemimpin tertingi Laskar Hizbullah saat itu adalah KH Zainul Arifin.

Di barisan lain ada Kyai Masykur (Singosari) pada barisan tentara SABILILLAH. Kedua kyai ini saling mendukung dalam melawan penjajah juga dalam berdakwah.

Pada waktu agresi Belanda masuk Singosari, banyak rumah penduduk yang dibakar Belanda, tetapi rumah Kyai Alwi aman karena dijaga oleh tentara Hizbullah.

Tahun 1946-1949 Belanda sedang ganas-ganasnya melakukan agresi militer. Situasi ini mengharuskan Kyai Alwi membawa keluarganya untuk mengungsi ke Kediri. Di kota tahu ini Kyai Alwi mendorong putranya agar memanfaatkan waktu untuk belajar di madrasah, pesantren dan kyai yang ada di kota Kediri, seperti Kyai Mahrus Aly dari Lirboyo. Sampai sekitar tahun 1949, sesudah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah RI, keluarga Kyai Alwi pun pulang ke Singosari.

Di arena politik, Kyai Alwi menjadi anggota Majelis Konstituante RI.

Konstituante adalah lembaga yang ditugaskan untuk membentuk Undang Undang Dasar baru menggantikan UUDS tahun 1950. Kyai Alwi duduk sebagai anggota konstituante sebagai wakil NU Jawa Timur. Di dalam sidang-sidang konstituante tsb Kyai Alwi sangat aktif memberikan mas**an dan pendapatnya, dan banyak yang digunakan oleh konstituante. (Kesaksian ini disampaikan oleh Kyai Jamaludin Makasar sekitar tahun 1998).

Konstituante tsb dibentuk tahun 1955 berdasarkan hasil pemilu tahun 1955. Anggotanya ada 550 orang. Konstituante ini dibubarkan berdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

8. KELUARGA AL-QUR'AN

Kyai Alwi dikenal bersuara merdu. Beliau s**a membaca Al-Qur'an dengan lagu yang indah.

Bakat ini menurun dari Kyai Murtadlo (pen: atau lebih sering kami panggil dengan nama Buyut Murtadlo). Buyut Murtadlo memang dikenal mempunyai kelebihan suara yang indah dan keras. Sehingga sering terjadi saat Buyut Murtadlo tadarus al Qur'an di rumah di pagi hari, banyak orang yang mendengarkannya di luar rumah sampai Buyut Murtadlo selesai mengaji.

Kyai Alwi juga terkenal sebagai pemimpin terbangan (rebana), yang saat itu pemimpin terbangan dipanggil dengan istilah "Hadi". Beliau terbangan bersama Kyai Amin dan kyai-kyai lain di Singosari.

Saking s**a dan getolnya di kelompok terbangan/sholawatan itu, sampai-sampai ketika kelahiran putra kedua beliau, yaitu ketika lahirnya Abdullah (AA Murtadlo), saat itu Kyai Alwi tidak ada di rumah, karena memimpin terbangan. Karena kejadian tsb, sejak saat itu Kyai Alwi berhenti menjadi pemimpin terbangan.

Meskipun sudah tidak lagi menjadi pemimpin terbangan, tetapi kegemaran beliau terhadap sholawatan dan terbangan tetap ada dalam hati beliau.

Pernah pada suatu ketika, Kyai Alwi mengajak Mbah Ning Riwati bersama cucu (Anas Basori) untuk silaturahim ke rumah keponakan beliau (pen: Ibu Saudah) di Karangploso dengan naik dokar.

Ketika sampai di sekitar daerah Langlang, terdengar suara shalawat dan terbangan, maka seketika itu Kyai Alwi langsung minta turun dari dokar, dan Mbah Ning Riwati disuruh meneruskan perjalanan. Sementara Kyai Alwi mendatangi jamaah Shalawat tsb.

9. MENDIDIK LANGSUNG ANAK-ANAKNYA

Semua putra Kyai Alwi mengenal pertama kali huruf arab adalah diajari langsung oleh Kyai Alwi. Beliau ajarkan sendiri mulai mengenal huruf hijaiyah hingga benar-benar mampu membaca Al Qur'an.

Sudah menjadi tradisi dalam keluarga besar Kyai Alwi, bahwa semua anaknya diajar langsung oleh Kyai Alwi.

Jika mereka sudah mempunyai dasar-dasar yang kuat dalam membaca, barulah dilepas untuk mengaji kepada guru-guru yang lain.

Kyai Alwi memang seorang guru agama biasa. Majelis pengajiannya sangat sederhana. Muridnya pun tidak seberapa. Akan tetapi Kyai Alwi memiliki cita-cita yang mulia untuk masa depan anak-anaknya. Beliau titiskan darah seorang guru yg mukhlis kepada anak-anaknya. Sifat dan semangat itulah yang menggelora dalam hati KHM Basori Alwi dan menuntun beliau menjadi ulama besar.

Kyai Alwi adalah seorang pengajar yang bersahaja, sabar, santun, disiplin dan ceria. Beliau adalah orang yang s**a guyon.

Tutur katanya halus, pandai bergaul, selalu menghargai orang, jujur dan neriman, dan gemar membantu.

Salah seorang tetangga (yang bernama Wak Timbul) mengatakan: Kyai Alwi itu orangnya kharismatik, jadi hampir semua warga Singosari itu sungkan kepada beliau dan menganggap Kyai Alwi itu seperti orangtua sendiri bagi warga Singosari, apalagi beliau itu dalam bermasyarakat, akrab sekali dg warga Singosari.

Meski darah bisnis mengalir kuat dalam diri Kyai Alwi, tetapi beliau justru mengarahkan anak-anaknya untuk lebih dekat dengan dunia ilmu.

Demikian juga sang istri, yakni Mbah Ning Riwati (Afiati), kesehariannya lekat dengan perkumpulan pengajian.

Mbah Ning Riwati adalah seorang ustadzah pada zamannya. Meskipun ilmunya tidak banyak, tetapi Mbah Ning Riwati telah mengajar pelajaran dasar dalam fiqih, seperti:

- tatacara berwudlu
- sholat, puasa, zakat dll
- di setiap peringatan Maulid beliau yang membaca siroh (sejarah) Nabi dari kitab Nurul Yaqin.

Di Singosari, Mbah Ning Riwati terkenal dengan panggilan Wak Ning. Jamaah pengajiannya cukup banyak dari kalangan ibu-ibu muslimat NU, dan sangat menghormati Wak Ning.

Pernah beberapa tahun yang lalu, cucu Kyai Alwi (pen: Luthfi Basori) bermaksud memotong pohon kelapa di makam keluarga di Kadipaten, yg batangnya itu doyong dan menjorok ke makam keluarga. Setelah bertemu dengan pemiliknya, ternyata si ibu pemilik pohon tsb mengaku muridnya Wak Ning, dan mengatakan:
"Alhamdulillah Gus kalau sampean bersedia memotongnya, karena kami sendiri takut kuwalat kepada Mbah panjenengan, jika kami sampai naik pohon kelapa tersebut. Tapi kalau ada cucunya Mbah Alwi yg mau memotongnya, ya monggo mawon. Apalagi saya ini muridnya Wak Ning...!". Kata si ibu.

Mempunyai anak yang berilmu dijadikan pilihan dalam mendewasakan dan membekali putra putri Kyai Alwi dan Mbah Ning Riwati.

Sehingga hasilnya:
- Kyai Abdus Salam memiliki pesantren tahfidul qur'an di Bugul Kidul Pasuruan.
- KHM. Basori Alwi mendirikan Pesantren Ilmu Al-Qur'an Singosari.
- H. Abdullah Alwi Murtadlo menjadi Diplomat di luar negeri dan pernah menjabat sebagai Duta Besar di Iraq
- H. Abdul Karim Alwi Murtadlo menjadi dosen senior di beberapa universitas di Jakarta.

10. TIDAK S**A MEMANJAKAN ANAK

Kyai Alwi adalah seorang ayah yang disiplin dan tidak s**a memanjakan putra putra beliau.

Meskipun Kyai Alwi menjadi agen sepeda Batavus, tetapi ketika sang putra (KHM Basori Alwi) merengek minta dibelikan sepeda pancal, bukannya dituruti tetapi bahkan dimarahi.

Kata Kyai Alwi:
Mad... aku bisa membelikanmu 10 sepeda untuk kamu pakai sepuas puasnya. Tapi aku khawatir, kalau kamu sepedaan terus, kamu tidak akan bisa belajar. Nanti kalau kamu sudah pandai, kamu akan bisa beli sendiri.

Mad atau Muhammad adalah panggilan kesayangan Kyai Alwi untuk putra sulungnya (KHM Basori Alwi).

Dan, kata-kata Kyai Alwi tersebut menjadi kenyataan saat ini. Sang putra bisa membeli sendiri kendaraan, mulai sepeda pancal, sepeda motor sampai mobil telah dimiliki oleh putra-putra Kyai Alwi.

11. KYAI ALWI BERCITA-CITA MEMILIKI PESANTREN

Nampaknya ada suatu cita-cita yang mulia dalam diri Kyai Alwi. Yakni mendirikan pesantren. Akan tetapi situasi dan kondisi saat itu barangkali yang tidak memungkinkan.

Karena itu Kyai Alwi mendorong putranya untuk menjadi seorang ustadz. Beliau mengirim sang putra, yaitu KHM Basori Alwi, untuk mondok di beberapa pesantren. Mulai nyantri di Singosari, Bogor, Kediri, Gresik, Solo, Pasuruan (Sidogiri) dan lain-lain.

Setelah sang putra (KHM Basori Alwi) pulang dari mondok dan sudah ada di Singosari, maka sang putra didorong untuk mengajar beberapa orang di Singosari setiap hari Jumat. Saat itu yang diajarkan adalah kitab Bidayah Al Hidayah.

Pada saat sang putra (KHM Basori Alwi) mengajar kitab itu, Kyai Alwi ikut hadir mengaji. Kehadiran Kyai Alwi dalam pengajian anaknya itu semata-mata untuk memberikan semangat kepada sang anak agar terus mengabdi dalam dunia mengajar.

Hingga pada suatu pagi di hari Jumat, setelah pengajian Bidayah Al Hidayah, Kyai Alwi mengajak putranya untuk jalan-jalan di sekitar rumah.

Ketika langkah mereka terhenti di pekarangan belakang rumah, Kyai Alwi mengatakan:

Mad, omah iki lek mene dadekno pondok iki hebat, Mad. (artinya: Mad, rumah ini jika suatu saat engkau jadikan pesantren, pasti hebat Mad)

Mendengar dawuh Kyai Alwi tsb, sang anak hanya terdiam seribu bahasa. Betapa tidak, keinginan sang ayah agar menjadikan lahan kosong tsb menjadi sebuah pesantren bukanlah perkara yang enteng. Tapi itu adalah sebuah amanat dari sang ayah.

Ternyata setelah beberapa tahun sejak wafatnya Kyai Alwi, cita-cita beliau tsb terwujudkan dengan berdirinya Pesantren Ilmu Al-Qur'an (PIQ) di rumah peninggalan Kyai Alwi.

Bahkan di bekas pabrik penggilingan jagung dan beras milik Kyai Alwi pun sekarang menjadi kampus PIQ 2.

Jumlah ustadz dan santri yang menetap di PIQ 1 dan PIQ 2 saat ini sekitar 550 orang. Sedangkan alumni PIQ jumlahnya sudah ribuan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

12. KYAI ALWI SANGAT KETAT MENJAGA SYARIAT

Kedisiplinan Kyai Alwi dalam memegang ajaran syariat sudah sangat masyhur di kalangan keluarga.

Saat itu tidak ada satupun orang perempuan di kalangan keluarga yang berani berpakaian yang tidak syar'i di hadapan Kyai Alwi.

Semua keluarga jauh dari luar kota, apabila silaturahim ke Kyai Alwi, pasti akan berhenti di masjid/musholah di luar Singosari untuk berganti pakaian yang lebih syar'i.

Kepada cucu-cucu perempuan yang masih kecil pun Kyai Alwi tetap disiplin.

Jika ada cucu perempuan yang menggunakan celana panjang, akan beliau marahi, beliau berkata: "aku luwe seneng koen nggawe rok cekak timbangane nggawe celono dowo. Koyok wong lanang" (arti: Saya lebih s**a kamu pakai rok pendek, daripada kamu pakai celana panjang, karena seperti laki-laki).

13. KYAI ALWI DICINTAI OLEH WALIYULLAH

Kyai Abdul Hamid Pasuruan, seorang Waliyullah, pernah berkata:

"Di Singosari ada seorang Waliyullah yang tidak diketahui oleh orang banyak tentang kewaliannya. Beliau adalah Habib Zein Ba'abbud".

Habib Zein Baabud ini adalah sahabat dekat Kyai Alwi. Habib Zein Baabud berwasiat kepada keluarganya:

Nanti kalau saya wafat, saya minta dikuburkan di dekat makam Kyai Alwi dan Kyai Murtadlo di pemakaman Kadipaten. Agar saya mendapat barokahnya. (Begitu wasiat Habib Zein Baabud).

Dan benar, ketika wafat Habib Zein Baabud dimakamkan di dekat pemakaman keluarga Kyai Alwi di Kadipaten, di sebelah timur makam keluarga Kyai Alwi.

14. KES**AAN LAIN KYAI ALWI

Kyai Alwi punya hobi berkebun dan beternak.

Di belakang rumah beliau yang luas ditanami berbagai tumbuhan, seperti mangga, jambu, belimbing, sirsat, apel, pepaya, dan lain2.

Kyai Alwi juga senang memelihara ayam dan ikan.

Bukan hanya itu, Kyai Alwi pernah memelihara SEMUT JEPANG, yang beliau letakkan di dalam toples yang diberi kapas. Belakangan baru diketahui, ternyata semut jepang itu berguna untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti:

- mengatur kolesterol
- sakit jantung
- diabetes
- mengatur tekanan darah
- menambah vitalitas
- penyakit hati
- penyakit asam urat
- mengobati stroke
- sebagai antioksidan dan lain-lain.

15/05/2017

.
Monggo ndereaken Kiai / Guru mawon...
🎥

Address

Jalan Sinabung 2 No 7
Malang
65153

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Santri Nasional posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share