06/12/2016
- Menjadikan Masalah sebagai Peluang Usaha -
Aminah, seorang wanita parubaya berumur 42 tahun. Tinggal di pemukiman padat penduduk, tepat di belakang proyek pembangunan yang nilainya triliunan rupiah. Setiap hari, Aminah bekerja sebagai buruh cuci di rumah saudagar kaya. Aminah hanya tinggal berdua dengan anak gadisnya yang baru saja tamat SMA, namun tak kunjung mendapatkan pekerjaan, jadilah putri tunggalnya itu tinggal sendirian di rumah menunggu ibunya p**ang kerja tanpa ada pekerjaan yang menghasilkan.
Pagi-pagi sekali, Aminah pergi bekerja dengan menggunakan angkutan umum. Saat menunggu Angkutan umum, Aminah selalu melihat rombongan anak muda dengan pakaian pekerja bangunan, dengan helm proyek berwarna kuning cerah dan sepatu booth anti air yang terkadang terlihat kumal terendam lumpur. Para pemuda itu adalah pekerja di proyek pembangun yang terletak tepat di depan rumah Aminah. Bukan sehari dua hari, setiap hari p**a Aminah mendengar mereka mengeluh, “Susah ya cari sarapan pagi di sini kecuali nasi. Kalo sarapan nasi kemahalan.” Celetuk salah satu pekerja.
Aminah merasa kasihan, benar juga, jika pekerja bangunan ini harus sarapan nasi setiap hari pastilah tidak punya uang. Pasalnya, proyek pembangunan yang terletak di tengah kota besar seperti ini hanya ada Rumah Makan sekelas restaurant. Begitu pikir Aminah saat itu. Mencari uang sekarang sulit, kalau tidak bisa hemat-hemat pada perut, maka habislah gaji terenggut, gumam Aminah.
Sep**ang Aminah dari bekerja sore hari, Aminah melihat para pekerja bangunan tersebut juga p**ang dengan pakaian yang semakin lusuh dan wajah lelah. Aminah mulai berfikir untuk membuat usaha, sembari membantu mereka yang tidak memiliki banyak uang untuk membeli sarapan dengan harga yang mahal.
Keesokan harinya, Aminah dan putri tunggalnya itu sudah nangkirng pagi-pagi sekali di depan pintu gerbang gedung proyek. Dengan membawa keranjang yang tidak terlalu besar, Aminah dan anaknya menjual gorengan yang pasti cukup untuk mengganjal perut untuk sarapan pagi. Pisang goreng, tahu goreng, bakwan dan risol yang menjadi senjata andalan Aminah untuk berjualan pagi itu. Aminah tidak menyangka, hari pertama ia berjualan, para pekerja sudah mengerumuninya. Mereka terlihat senang, ada yang berjualan gorengan pagi-pagi, sungguh sangat membantu mereka. Bahkan ada yang berpesan, “Bu, besok jualan bubur kacang hijau d**g. Kalau jual itu pasti lebih laris dari ini.” Aminah tersenyum simpul. Benar juga pikirnya.
Aminah berpikir untuk menambah jenis jualannya, bubur kacang hijau. Dengan berhenti bekerja sebagai buruh cuci, Aminah pasti lebih memiliki banyak waktu menyiapkan dagangannya. Bak mimpi baginya, Bubur kacang hijau yang ia bawa tidak banyak pagi itu ternyata kurang. Banyak sekali peminatnya, mengingat bubur kacang hijau pastilah lebih memberikan energi untuk pekerja di pagi hari. Harga minimal dengan efek maksimal.
Begitulah Aminah membaca peluang dari masalah yang timbul bagi para pekerja proyek pembangunan. Kini Aminah sudah mendapatkan penghasilan lebih dari berjualan gorengan dan bubur kacang hijau. Melihat banyaknya pekerja yang hilir mudik setiap hari, 80 % menjadi pelanggan setia Aminah. Aminah senang bisa membantu pekerja yang tidak perlu keluar uang banyak untuk sarapan. Aminah bangga bisa menjadi alasan mereka sarapan ringan setiap hari. Tentunya bisa membuat anaknya tidak menganggur lagi. Masalah selalu bisa jadi peluang usaha.