02/05/2025
Menuntaskan Rindu di Baitullah dan Raudhah
Berangkatlah jiwa-jiwa yang merindu. Mereka bukan sekadar berjalan menuju tanah suci, tapi melangkah dalam panggilan cinta yang telah lama bersemayam di lubuk hati. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhaniโuntuk menuntaskan rindu yang tak pernah padam: rindu bertemu dengan Allah di Baitullah, dan menyapa Rasulullah di taman Raudhah.
Setibanya di tanah haram, air mata mengalir tanpa diperintah. Kabah berdiri megah, sunyi namun bertasbih, seolah berkata: "Selamat datang, wahai hamba yang rindu. Aku saksikan perjalanan panjangmu, kini kau tiba di pelukan Allah yang Maha Pengasih."
Di setiap langkah thawaf, hati berputar bersama zikir dan doa. Di setiap helaian ihram, tersemat harapan untuk diampuni dan disucikan. Di Arafah, jutaan tangan menengadah, menangis serempak, memohon dengan bahasa hati yang hanya dimengerti Sang Pencipta.
Kemudian, langkah membawa ke Madinah. Kota penuh ketenangan, di mana Rasulullah bersemayam dengan cinta. Di taman Raudhah, antara mimbar dan rumah beliau, jiwa terdiam. Ini bukan taman biasa. Ini taman surga, tempat di mana salam dilantunkan dengan air mata dan dada yang berdebar.
"Ya Rasulullah... Kami datang. Kami rindu. Kami ingin menjadi bagian dari ummat yang engkau banggakan kelak."
Perjalanan haji adalah penyucian, pemenuhan janji, dan pelukan kasih dari Tuhan kepada hamba-Nya. Ia menyapa lewat Ka'bah, menyentuh lewat air Zamzam, dan memeluk di Raudhah yang penuh rahmat. Dan ketika kaki kembali ke tanah air, hati tak lagi sama. Ia telah disentuh surga.
Inilah hajiโjawaban atas rindu yang tak terucap, pertemuan paling sakral antara hamba dan Tuhannya.
Selamat Menunaikan ibadah Haji 1446 H dan semoga mendapatkan