Sumatera Ekspres Mingguan

Sumatera Ekspres Mingguan Koran Sumatera Ekspres Mingguan Koran Sumatera Ekspres Mingguan, Koran terbesar Jawa Pos Group Sumatera Selatan

Ketika Bangkrutnya Bisnis Valas Fattriyal Member Jadi KLB di Air SugihanSudah Diingatkan Kyai Hukumnya Riba	Suasana berb...
19/09/2012

Ketika Bangkrutnya Bisnis Valas Fattriyal Member Jadi KLB di Air Sugihan
Sudah Diingatkan Kyai Hukumnya Riba

Suasana berbeda lain daripada biasanya terlihat di kegiatan pengajian sekaligus doa bersama yang dilaksanakan warga desa Sukamulya kecamatan Air Sugihan, OKI yang biasanya diwarnai keceriaan.
Hanya saja, kali ini situasinya berbeda seratus delapan puluh derajat diwarnai dengan kondisi yang sungguh memprihatinkan, hasil tani warga desa yang sudah dipupuk belasan hingga puluhan tahun lamanya ludes dalam waktu sekejap akibat bujuk rayu Faisol Muslim selaku direktur PT Fattriyal Member.
--------------
Sinyalemen sebagian kyai ‘melarang’ jamaahnya berbisnis valas (valuta asing) sudah 2 tahun yang lalu. Namun saat itu masih tarik ulur antara halal dan haram. Dikalangan masyarakat, terutama para ustadz, bisnis valas masih multi tafsir, sehingga masyarakat masih ragu.
Bahkan setelah diadakannya rapat antar tokoh agama di desa Sukmulya, yang dihadiri Khusnan, kyai Masjid Nurul Huda, Syamsuri, tokoh Ekonomi Syariah Pondok Gontor yang menyelesaikan S3 di Malaysia, serta para imam masjid di Airsugihan, usai pembicaraan itu bisnis valas bukannya berkurang, melainkan tambah tumbuh subur.
‘’Sudah dua tahun lalu kami bersama para tokoh kyai, ustad dan tokoh ekonomi syariah, menyarankan kepada masyarakat agar berhati-hati mengikuti bisnis yang cukup asing bagi masyarakat desa. Forex itu apa? Masyarakat saya rasa tidak tahu, begitu juga valas. Apa itu kok bunganya begitu menjanjikan. Kami memberikan sinyalemen bahwa yang namanya riba itu haram. Kami sempat merapatkan bersama para ustad dan memutuskan bisnis semacam ini haram bagi kami,’’ ujar Khusnan, tokoh agama desa Sukamulya Jalur 23, Kecamatan Airsugihan, Kabupaten OKI.
Menurutnya, bisnis semacam ini memang masih multi tafsir dikalangan umat islam. Mengapa multi tafsir? Hal itu karena umat islam masih kurang mengerti teknik dan cara kerjanya. Yang mereka tahu dari akad pertama, yaitu perdagangan mata uang antar Negara. Yang namanya dagang, boleh-boleh saja dan tidak dilarang. Makanya banyak kyai dan ustadz ikut valas. Begitu para kyai main valas, para jamahnya pun tanpa ragu langsung ikut.
‘’Kami sangat prihatin dengan kejadian luar biasa seperti ini. Setelah terjadi kerugian besar-besaran, masyarakat baru sadar. Mestinya dua tahun yang lalu tidak usah ikut. Saat itu sudah sering kami bahas bersama Syamsuri, tokoh ekonomi syariah. Begitu juga P3N dan para kyai masjid lainnya,’’ ujar Khusnan yang saat itu hadir dalam Istighosah bersama kyai Zainal Mutaqin, Misbahudin, P3N Junaidi, dan para kyai utusan jalur 25.
Di depan para jamaah Istighozah dan doa bersama, istilah valas dan aplikasi trader dipertontonkan agar masyarakat benar-benar memahami. Ternyata sebagian besar masyarakat hanya tahu namanya, gambar dan symbol-simbolnya sama sekali tidak tahu. Setelah diperlihatkan serta dipraktekan teknik dan trik men-trader-kan, ternyata bisnis valas ini tak beda jauh dengan sebuah permainan untung-untungan aliah gambling (bertaruh). Bisnis penuh risiko dengan mengandalkan feeling dan perkiraan belaka. Lantas yang menjadi pertanyaan, siapa yang mampu menganalisa secara benar dan tepat sebuah perkiraan?
‘’Namanya jual beli, tapi kok setelah dijual atau dibeli, kita harus menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu itu bisa membuat kita untung atau sebaliknya, kerugian yang besar. Sesuatu yang ditunggu-tunggu itulah yang namanya bertaruh. Ini jelas tidak sesuai dengan aturan jual beli yang diatur dalam Islam. Yang namanya jual beli itu hanya ada istilah untung dan rugi, bukan menang dan kalah. Kalau kita merasa menang atau kalah, itu hanya ada dalam istilah permainan atau bertaruh. Siapa menang untung besar, siapa kalah akan hangus modalnya. Kalau dalam jual beli biasa, modal tidak sampai lenyap begitu saja,’’ ujar salah satu ustadz yang namanya tidak mau disebutkan.
Sama halnya dulu pernah ada Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Sumbangan ini tidak bisa dikatakan judi karena memang akadnya adalah menyumbang. Tapi praktik dari SDSB adalah bertaruh untuk mendapatkan hasil yang berlimpah dari modal yang disumbangkan. Bila praktiknya demikian, apa namanya? Jelas ini adalah berjudi.
Doa bersama yang biasanya dihadiri para kyai se-Airsugihan ini, pada acara Minggu lalu hanya dihadiri perwakilan dari jalur 25 dan jalur 23. Sementara jalur 27 dan jalur 29 dipecah dilakukan sendiri mengingat tempat dan jarak tempuh yang tidak memungkinkan. ‘’Dulu acara seperti ini dihadiri seluruh utusan jalur se-Airsugihan, namun sekarang dipecah jadi dua karena tempatnya terlalu jauh. Bila musim hujan tiba, kasihan mereka kesulitan untuk menghadirinya,’’ ujar Ustadz Misbah.(hen)

06/09/2012
Dewi AdaningrumAnak Petani Air Sugihan Tak Kenal ‘Nyerah’ Masuk UNSRIDewi Adaningrum, putri kedua pasangan Rohmanudin (5...
06/09/2012

Dewi Adaningrum
Anak Petani Air Sugihan Tak Kenal ‘Nyerah’ Masuk UNSRI

Dewi Adaningrum, putri kedua pasangan Rohmanudin (50) dan Siti Rosiah(40), warga Transmigrasi Jalur 27 Desa Nusantara Kecamatan Airsugihan, Kabupaten OKI, merupakan satu dari lima pelajar pintar yang masih bertahan kuliah. Yang lainnya putus ditengah jalan karena kurang biaya. Anak petani yang sempat diceburkan ke kolam lumpur oleh orang tuanya ini berhasil duduk di bangku Universitas Sriwijaya (Unsri) dengan mengantongi beasiswa dari PT SBA Palembang. Kini Dewi (Sapaan akrabnya) bahkan menjadi asisten dosen di UNSRI Palembang. Bagaimana kisah cewek lugu ini berjuang untuk bisa kuliah? Inilah kisahnya.

Semula tak menyangka bisa menjadi mahasiswi perguruan paling bergengsi di Palembang—Unsri—lantaran kantong keluarganya sudah bisa ditebak, jauh dari harapan. Sebagai petani yang pas-pasan. Bagaimana mungkin untuk biaya kuliah dan kos di kota Palembang.
Dewi tidak muluk-muluk untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi Unsri. Dia sadar apa yang harus dilakukannya itu sangat berat. Tapi Dewi hanya punya satu tekad untuk bisa keluar dari zona kesulitan orang tuanya. Syaratnya ‘’Man jada wa jada, barang siapa bersungguh-sungguh pasti mendapat,’’ kata Dewi singkat.
Keinginan dan kekawatiran yang dialami Dewi, sama halnya yang dialami kedua orangtuanya. Pintar dan punya cita-cita tinggi saja tidak cukup kalau tidak ditunjang biaya yang besar. Kuliah di perguruan tinggi bergengsi butuh modal besar, antara lain beli perlengkapan kuliah, biaya kos, biaya hidup sehari-hari di kota, akomodasi dan lain-lain. Bisa kuliah kalau tidak bisa membiayai, sama saja putus ditengah jalan seperti beberapa teman-teman Dewi.
‘’Kami tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan anak saya sampai perguruan tinggi. Itu sangat tidak mungkin. Bagaimana kami bisa membiayainya?’’ kata Rohmanudin kepada Sumatera Ekspres Mingguan di rumahnya yang sangat sederhana di desa Nusantara Jalur 27, Kecamatan Airsugihan.
Rohmanudin yang didampingi istrinya, Siti Rosiah, pada akhirnya mengakui kehebatan putrinya yang memiliki semangat baja. Keinginan kuat itulah yang mendorong Dewi mampu menyingkirkan segala kesulitannya. Diakui Rohman, dulu Dewi kecil, pernah diceburkan ke kolam lumpur karena kerap tidak masuk sekolah. ‘’Saat itu masih di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas V. Ngakunya dari rumah berangkat kesekolah, tapi gurunya melaporkan bahwa Dewi tidak berangkat sekolah. Setelah ditelusuri, ternyata Dewi sembunyi dirumah tetangga,’’ kenang Rohmanudin.
Dewi termasuk tipe anak pemalu dan pendiam. Dari peristiwa itulah, Dewi termotivasi untuk serius sekolah. Kini keadaan pun berubah 180 derajat—benar-benar memiliki tekat kuat untuk melanjutkan sekolahnya hingga ke perguruan tinggi. Hilal, kakak pertama Dewi juga sebenarnya ingin melanjutkan ke Universitas setelah tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA).
Menurut Rohmanudin, ini bukan perkara mudah untuk dapat menyekolahkan kedua putra-putrinya hingga ke perguruan tinggi. ‘’Bagi kami ini sangat berat,’’ tutur Rohmanudin.
Habis menamatkan perguruan tinggi nanti, Dewi tak ingin berhenti sampai disitu. Dia ingin menjadi dosen dan melanjutkan lagi ke jenjang S2. Ini kedengarannya memang memaksa. Tapi justru inilah yang menurut Dewi merupakan tantangan. Anak kenceng belajarnya, bapaknya juga kenceng cari uangnya.
Mahasiswi program study Biologi ini, rencananya akan diwisuda pada 12 Desember 2012 mendatang, tapi rencana itu bisa terancam dibatalkan. Ini lagi-lagi masalah biaya yang menjadi faktor utama rencana tersebut dibatalkan. ‘’Penghasilannya cuma dari sawit. Kalau normal bisa dapet 1 ton dengan harga per-kilonya Rp 600. Kami cuma dapat Rp 600.000. sedangkan SPP Dewi itu Rp 740.000 pesemester. Belum lain-lainnya, ditambah adiknya juga masih duduk di bangku SMP ,’’ timpal Rosiah, ibunda Dewi.
Sementara penghasilan dari sektor tanaman pangan (padi), hanya bisa diraih sekali panen dalam 1 tahun. “Tanam padi seluruh modalnya didapat dari cara ngutang pada pemilik gudang pupuk, termasuk bibit, racun rumput dan lain-lainya. Bila pada satu musim menghasilkan 40 karung padi, yang 25 karung disetor sama pemilik gudang tempat kami pinjam untuk membayar hutang modal. Sehingga untungnya kecil sekali dan kami gak punya tabungan,’’ tambah Rosiah.
Sejak duduk dibangku SMAN 1 Air Sugihan OKI (2008), Dewi terkenal sangat berprestasi. Dia tidak pernah keluar dari 10 besar di sekolahnya. Terlebih saat kelulusan, dia menyabet peringkat pertama. Prestasi itu tetap dipertahankan sampai bangku perguruan tinggi. Untuk itulah Dewi akhirnya mendapat perhatian serius salah satu perusahaan perkebunan Sinar Mas untuk memberikan beasiswa sebesar Rp 5.000.000 per tahun dengan syarat nilai IPK harus diatas 2,75. Perjuangan tanpa kenal lelah, yang kemudian disupport PT SBA, membuat Dewi merasa terbantu. Dan ini memang komitmen PT SBA untuk memberikan bantuan dalam bentuk Corporate social responsibility (CSR), bahwa sebuah perusahaan tidak bisa lepas dari kesatuan ekologi lingkungan, masyarakat sekitar dimana perusahaan itu berdiri.
Rohmanudin gak bisa bayangkan bila tidak ada bantuan CSR PT SBA, sebab ada bantuan saja, biaya tak terduga yang menghadang di depan Dewi datang silih berganti. Mau tak mau Rohmanudin harus putar otak lebih kencang lagi. ‘’Mengandalkan beasiswa saja ternyata tidak cukup, Mas,’’ ujar Rohmanudin.
(hendro wibowo)

01/08/2012

Koran Sumatera Ekspres Mingguan

Aroma Busuk Kakus SenayanBelum hilang dari ingatan publik rencana Dewan Perwakilan Rakyat mengadakan proyek gedung baru,...
06/01/2012

Aroma Busuk Kakus Senayan

Belum hilang dari ingatan publik rencana Dewan Perwakilan Rakyat mengadakan proyek gedung baru, pengadaan laptop, dan proyek finger print absent, kini DPR kembali berencana mengajukan proyek renovasi toilet Gedung Nusantara I. Tak tanggung-tanggung, proyek renovasi tersebut nilainya mencapai 2 miliar. Bau busuk pun mencuat dari kakus Senayan.

BACA KORAN Sumatera Ekspres Mingguan BESOK!

•	Ultah Sumeks Minggu ke 3 tahunHarian Sumatera Ekspres Berevolusi  Menjadi Sumatera Ekspres MingguanSetelah 17 tahun Su...
06/01/2012

• Ultah Sumeks Minggu ke 3 tahun

Harian Sumatera Ekspres Berevolusi
Menjadi Sumatera Ekspres Mingguan


Setelah 17 tahun Sumatera Ekspres menjadi bagian dari kebutuhan pembaca, selama itu p**a kami menemukan pembaca setia. Sumatera Ekspres besar bukan bimsalabim langsung besar, tapi butuh perjuangan panjang dan penuh dengan pengorbanan. Sangat melelahkan memang. Tapi itu harus dilakukan meski kini Sumatera Ekpres telah memiliki pembaca aman. Memasuki era digital dan globalisasi yang memungkin segalanya serba bordeles, Sumatera Ekspres tidak tinggal diam, selalu memahami arah pembaca maunya bagaimana. Memahami era yang serba cepat, Sumatera Ekspres kemudian berevolusi menjadi Sumatera Ekspres Mingguan (Sumeks Mingguan) pada 3 Januari 2010 lalu dan kini telah memasuki tahun ke 2.
Seperti dikatakan Asrul Ananda, Direktur Utama Jawa Pos Group (Induk Koran Sumeks Mingguan), untuk menyiasati era yang serba cepat, memang harus melakukan inovasi. ‘’Sumeks tak hanya kreatif dalam hal perwajahan dan pembaruan, tetapi juga kreatif dalam hal inovasi sekaligus berevolusi menjadi Sumatera Ekspres Mingguan. Barangkali dua tahun lagi Jawa Pos bisa saja menjadi seperti ini,’’ ujar Asrul Ananda saat kunjungan ke Graha Pena pada Januari 2011 lalu.
Hasil evolusi Sumatera Ekspres yang dikomandoi Triyono Junaidi (Teje), selaku General Manager sekaligus Direktur Sumatera Ekspres Mingguan, langsung melejit dan mampu mengispirasi seluruh group, baik di Jawa maupun Sumatera. Tak hanya itu, Sumatera Ekspres Mingguan telah menyodok sebagai Koran Mingguan Terbesar Jawa Pos Group wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Banten dan Jawa Barat.
Mengapa Mingguan? Pertanyaan ini yang harus kami jawab, ketika era digital menguasai dunia, mau tidak mau kita semua menjadi pelaku utamanya. Kita selalu direpotkan oleh rutinitas yang memungkinkan kita tidak sempat membaca koran dihari kerja. Sumber berita bisa diperoleh dimana saja dan lewat media apa saja, bisa lewat internet atau media online lainnya. Maka Sumatera Ekspres mingguan merupakan sahabat cerdas dikala senggang.
Hasil survey yang kami lakukan lewat polling pembaca dan wawancara langsung ke masyarakat serta mitra bisnis, mereka hanya 5 sampai 10 menit membaca koran dihari kerja. Alasannya rutinitas pekerjaan. Mulai pagi bangun tidur, mereka baca Koran sebentar kira-kira 5 menit melihat berita terheboh, atau membaca berita yang ada fotonya sendiri—baru membaca, selanjutnya sibuk menyiapkan keperluan kantor. Setelah sampai kantor mereka tidak melanjutkan baca koran, melainkan menyalakan televise atau buka computer langsung kerja. Bila sempat, mereka buka internet mengenai info terbaru, mulai soal politik, sosial, ekonomi maupun budaya.
Pulang kerja, mereka capek lalu istirahat (tidur). Atas dasar inilah Sumatera Ekspres Mingguan hadir sebagai sahabat keluarga dikala senggang di rumah. Dan kami menjamin pada hari minggu dan hari libur, selama 60 menit masyarakat membaca koran Sumatera Ekspres Mingguan sampai tuntas. Selain itu, rubrikasi Sumatera Ekspres Mingguan juga sangat kreatif sehingga mampu menginspirasi jaringan Jawa Pos Group dan sejumlah Koran lainnya diluar jaringan.
Kreativitas awak redaksi.
Kreativitas sangat kami junjung tinggi. Kami membebaskan awak redaksi untuk membuat ide-ide baru mengenai rubrikasi halaman, mulai Undercover, Spirit of Live, Happy Family, Hitam Putih, Olah TKP, Xpresi, Wisata dan Kuliner. Sumatera Ekspres Mingguan memiliki keunikan dan satu-satunya Koran Mingguan jajaran jawa pos Group yang terbit di Sumatera bersinergi membentuk sel-sel baru dari induknya (Sumatera Ekspres). Jaringan yang sinergi ini juga dilakukan mulai dari induk besarnya, yaitu Jawa Pos Group sampai ke jaringan seluruh Indonesia.

30/12/2011

Baca Surat Kabar Sumatera Ekspres Mingguan besok!

30/12/2011

Baca Sumeks Minggu Besok!

Koran Sumatera Ekspres Mingguan

30/12/2011

Address

Gedung Graha Pena, Jalan Kolonel H Burlian 773 Palembang
Palembang
30152

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sumatera Ekspres Mingguan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share