16/09/2026
Fahd A Rafiq “Hat-trick” Kasus Korupsi, Dokter Tirta Sentil Budaya Rakus dan Fee Proyek
Kembali berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Fahd El Fouz Arafiq alias Fahd A Rafiq menjadi sorotan. Perkara terbaru yang menyeretnya berkaitan dengan dugaan rasuah dalam pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di wilayah Kabupaten Bogor.
Perkara ini juga disebut sebagai “hat-trick” bagi Fahd karena menjadi kasus ketiga yang menyeret namanya dalam perkara korupsi.
Hal tersebut kemudian mendapat tanggapan dari dokter dan figur publik Dokter Tirta.
Dalam pernyataannya, Dokter Tirta tidak hanya menyoroti soal besarnya uang yang diduga berputar dalam perkara korupsi. Ia justru mempertanyakan mentalitas orang yang masih terus mengejar kekayaan melalui komisi atau fee proyek, meskipun secara materi sudah memiliki banyak.
Menurut Dokter Tirta, di luar sana masih banyak masyarakat yang harus bersusah payah bekerja keras hanya untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang relatif kecil. Sementara itu, praktik korupsi dapat membuat seseorang memperoleh uang dalam jumlah sangat besar melalui proyek dan fee.
Ia kemudian mengingatkan bahwa persoalan tersebut bukan hanya mengenai uang.
Ada persoalan mengenai contoh dan budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dokter Tirta menggambarkan kekhawatirannya apabila generasi muda melihat pejabat atau orang yang memiliki kekuasaan justru mendapatkan kekayaan melalui korupsi.
Bisa muncul pemikiran:
“Buat apa susah payah bekerja keras? Lihat yang di atas, pejabat saja korup.”
Menurutnya, pola pikir seperti itu berbahaya karena dapat membuat korupsi perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Dokter Tirta juga menyinggung soal rasa cukup.
Ia mempertanyakan untuk apa seseorang terus mengejar kekayaan hingga puluhan, bahkan ratusan miliar rupiah jika kebutuhan hidup sebenarnya sudah terpenuhi.
“100 M, 200 M, meh kanggo opo duitmu?” demikian nada sindirannya.
Ia menilai persoalan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan kerakusan, ketamakan, dan hilangnya rasa cukup.
Pesan Dokter Tirta kemudian diarahkan kepada generasi setelah kita.
Menurutnya, manusia hanya sementara hidup di dunia. Setelah itu, generasi berikutnyalah yang akan meneruskan kehidupan.
Karena itu, perilaku orang-orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan juga dapat menjadi contoh bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketika kerja keras dan kejujuran kalah populer dibandingkan jalan pintas untuk memperoleh kekayaan, maka yang dikhawatirkan bukan hanya kerugian negara akibat korupsi.
Tetapi juga lahirnya budaya baru yang menganggap korupsi sebagai jalan mudah untuk menjadi kaya.
Dan dari sinilah kritik Dokter Tirta terhadap istilah “hat-trick korupsi” menjadi lebih luas.
Bukan sekadar tentang berapa kali seseorang berurusan dengan KPK.
Tetapi tentang pertanyaan yang lebih mendasar:
Kalau orang-orang yang menjadi panutan justru terbiasa mengambil keuntungan dari jabatan dan proyek, nilai seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya? (Admin Mumet)