14/01/2026
KELUARLAH DARI ZONA NYAMAN, kalimat tersebut benar adanya. Ketika kamu merasa, kamu punya potensi yang lebih, kamu jangan pernah takut untuk mencoba dan memulai. Saya lulusan S1 Pelayaran, tapi saya memutuskan untuk tidak berlayar.
Setelah lulus, saya melamar hampir semua lowongan kerja yang ada. Dari yang sesuai jurusan sampai yang sama sekali tidak ada hubungannya. Sampai akhirnya, tanpa rencana, saya terdampar di pulau bernama properti. Padahal kalau melihat data, sektor properti dikenal sebagai industri dengan risiko tinggi, modal besar, dan konflik yang tidak sedikit. Loh, kok bisa orang justru masuk ke sana tanpa latar belakang apa pun?
Satu tahun lalu, saya tidak pernah membayangkan dari sinilah uang mulai terkumpul, mimpi mulai punya bentuk, dan relasi luar biasa datang di usia saya yang masih 24 tahun. Faktanya, banyak anak muda hari ini terjebak di zona aman, padahal laporan ketenagakerjaan menunjukkan lulusan sarjana paling banyak mengalami job mismatch. Artinya, gelar tidak selalu menentukan arah hidup.
Di balik itu semua, pahit saya rasakan. Ditipu, dikhianati, bertemu mafia tanah, dihadang LSM, hukum, bahkan aparat. Sampai akhirnya saya hafal pola dan skema permainan bisnis ini. Dari situ saya sadar, peluang besar memang ada, tapi hanya satu hal yang tidak boleh dijual yaitu nama baik. Jangan menipu, jangan berbohong, jangan jual janji palsu. Anehnya, justru di industri keras seperti ini, integritas adalah pembeda paling langka. Loh, bukankah seharusnya yang licik lebih cepat kaya?
Saya dulu tidak pernah membayangkan perjalanan hidup bisa berubah sejauh ini. Tapi satu hal yang saya pelajari, setiap proses selalu punya pelajaran, bukan hanya hasil. Sekarang saya jadi lebih hati hati, lebih sadar, dan memilih berbagi pengalaman agar orang lain tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Menurut kamu, keluar dari zona nyaman itu nekat atau justru langkah paling waras?
Ditulis: Farid Wahyu Dyatmika