29/01/2016
Meneropong prospek property 2016
Kutipan dari Koran-Sindo.com
Edisi 30 Desember 2015
Sebentar lagi kita segera memasuki tahun baru 2016 yang diprediksi sebagai masa transisi menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih bergairah. Bagaimana prospek sektor properti pada 2016?
Kita patut bersyukur karena pertumbuhan ekonomi Indonesia tampak makin subur. Pertumbuhan ekonomi mencapai 4,73% per kuartal III/2015 sedikit membaik dari 4,67% per kuartal II/2015 dan 4,72% per kuartal I/2015. Inilah salah satu sinar harapan baru pada 2016. Dalam industri perbankan nasional, kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau The Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari 0,25% menjadi 0,50% menjadi berkah tersendiri.
Mengapa? Karena kenaikan itu merupakan kepastian yang dinanti setahun terakhir ini. Demikian p**a, kepastian ini lebih baik bagi sektor riil daripada sepanjang 2015 yang diliputi oleh ketidakpastian. Apalagi Bank Indonesia (BI) seperti sudah diduga tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) 7,5% sejak Februari 2015.
Artinya, paling tidak suku bunga deposito tetap tidak berubah sehingga suku bunga kredit juga tetap bergeming di level yang sama. Industri perbankan nasional, kalangan bisnis dan investor sudah pasti memahami lebih dalam bahwa ketidaknaikkan BI Rate itu hanya bersifat sementara.
Kok begitu? Karena BI Rate suatu saat akan mendaki pelan sejalan dengan kenaikan lanjutan suku bunga acuan AS itu, yang diprediksi akan naik menjadi 1%-2% pada 2016 dan 2017. Namun, sekali lagi, kepastian kenaikan suku bunga acuan AS itu menjadi titik tolak bagi dunia usaha untuk menatap cahaya baru pada 2016 dengan lebih optimistis.
Tahun Lebih Optimistis
Lantas, bagaimana prospek sektor properti pada 2016? Sektor properti akan lebih mencorong. Faktor kunci keberhasilan (key success factors ) apa saja yang perlu dipertimbangkan? Pertama , pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2015 yang lebih subur dapat menjadi pemicu utama.
Sebagai informasi, target pertumbuhan ekonomi 5,7% ada 2015 yang kemudian direvisi beberapa kali menjadi 5,2%. Tatkala ekonomi per kuartal IV/2015 mampu tumbuh lebih subur yang diprediksi 4,9% di atas 4,73% per kuartal III/2015, maka optimisme akan makin melambung tinggi. Ini merupakan titik balik pertumbuhan ekonomi yang lebih bernas dengan target 5,3% pada 2016.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan target pertumbuhan kredit perbankan minimal 13% pada 2015. Tetapi target 2015 itu agaknya tidak akan tercapai sebab pertumbuhan kredit hingga September 2015 baru mencapai 11,1% (year on year ). Sebaliknya, dana pihak ketiga (DPK) yang meliputi giro, tabungan dan deposito tumbuh 11,7% pada periode yang sama.
Oleh karena itu, target 2015 hanya tercapai pada kisaran 12%. Bagaimana target pada 2016? OJK menetapkan target pertumbuhan kredit perbankan nasional minimal 13-14% pada 2016 lebih tinggi sedikit daripada target 2015 sebesar 13%. Kedua , Program Sejuta Rumah menjadi stimulus bagi sektor properti untuk makin bertumbuh dan berkembang.
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menunjukkan bahwa kementerian tersebut telah menyelesaikan pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan non-MBR 667.668 unit rumah hingga Desember 2015. Jumlah itu terdiri dari 429.875 unit rumah yang ditujukan untuk MBR dan 237.813 unit rumah untuk non- MBR (kredit komersial).
Program Sejuta Rumah yang mulai meluncur pada akhir April 2015 merupakan magnet tersendiri bagi sektor riil. Dengan bahasa bening, target yang belum selesai itu akan menjadi tantangan bagi Kementerian PUPR yang didukung oleh pengembang dan bank nasional sebagai mitra bisnis.
Tidak salah ketika Program Sejuta Rumah itu dianggap sebagai perhatian konkret pemerintah untuk menyediakan rumah yang layak huni bagi rakyat Indonesia. Namun, ingat kualitas pembangunan rumah wajib terus-menerus ditingkatkan. Jangan mentang-mentang karena 60% target Program Sejuta Rumah itu ditujukan untuk MBR. Ringkas tutur, rumah bersubsidi tidak berarti rumah berkualitas rendah.
Ketiga , kini semakin banyak bank nasional terjun menggarap kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA). Katakanlah, 10 bank nasional papan atas Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank Permata, Bank Panin, MayBank Indonesia (dulu BII) dan BTN.
Kenapa? Karena ketika pendapatan dari bunga kredit komersial (interest income ) menurun, maka bank nasional akan mengerek kredit konsumer (consumer banking ) yang menyasar kredit perorangan. Sebut saja misalnya kredit tanpa agunan (KTA) yang lebih bersifat kredit multiguna (antara lain pendidikan, kesehatan, perkawinan, liburan), kartu kredit dan kartu debet.
Kredit konsumer bakal menjadi primadona pendapatan yang gurih bagi bank nasional pada 2016. Gairah tersebut akan menjadi anak tangga bagi sektor properti untuk lebih berkembang. Satu hal yang wajib dicermati oleh bank nasional adalah semakin tinggi tenor KPR atau KPA akan semakin tinggi p**a risiko yang dihadapi ke depan. Itu logis mengingat tenor KPR dan KPA berkisar 5-20 tahun.
PAUL SUTARYONO
Pengamat Perbankan