SilamoBaca

SilamoBaca celoteh remeh, cengkrama jelata Kesimpulan dari semua dialog dan perbincangan, sepenuhnya diserahkan kepada kesadaran dan kearifan masing-masing. Wassalam.

Sekilas Tentang "SilamoBaca"

SilamoBaca adalah Halaman dan Twitter resmi "Komunitas Ruang Baca SILAMO [Silaturrahim Layanan Aspirasi Masyarakat Otonom]" –sebuah kegiatan pembelajaran para pemerhati dan pengais gejala kesadaran sosial– guna memahami bentangan ruang antara harapan dan kenyataan yang terasa dalam kehidupan keseharian. Dengan mengais kesadaran dan pemahaman dari berbagai pihak, Silam

oBaca mencoba mendialogkan –untuk tidak mengatakan mempersoalkan— berbagai dinamika sosial yang laten (tersamar atau tersembunyi) dan fenomenal yang menjadi gunjingan publik, baik di lingkup Lokal Sumbawa, Regional NTB maupun di tataran Nasionlal dan bahkan Internasional. Menyadari segala keterbatasan pemahaman, wawasan dan sumberdaya, SilamoBaca sama sekali tidak mengklaim, mengaku atau menempatkan diri sebagai penentu kebenaran, perumus kebijakan, dan bahkan tidak juga berpretensi sebagai pemecah masalah. Karenanya, SilamoBaca membuka diri dan mengundang semua pihak yang memiliki kesamaan visi untuk ikut berperan serta, mengirimkan naskah sebagai cermin kesadaran dan kearifan penulisnya. Tulisan yang diterbitkan tidak selalu mewakili pikiran dan pemahaman SilamoBaca. Terhadap semua naskah tulisan yang diterima, bisa jadi dilakukan penyuntingan redaksional tanpa mengubah substansi, untuk disajikan dalam langgam “celoteh remeh” atau “cengkerama jelata”, yang memungkinkan masyarkat awam sekalipun mudah menghayatinya. Karana –mengutip seorang penyair— kebanyakan orang adalah orang-orang kebanyakan. Selamat membaca, SilamoBaca!

Segera terbit...Novel Sastra Budaya 🔖 SABALONG SAMALEWA Senandung Tradisi Menghadapi Pergolakan Zaman Di jantung Kota Su...
01/06/2026

Segera terbit...

Novel Sastra Budaya

🔖 SABALONG SAMALEWA

Senandung Tradisi Menghadapi Pergolakan Zaman

Di jantung Kota Sumbawa Besar, berdiri megah Istana Dalam Loka, rumah panggung kayu terbesar di dunia. Mahakarya yang didirikan tahun 1885 ini bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan kitab raksasa yang menceritakan ketinggian peradaban Samawa. Dibangun tanpa sebatang paku, hanya mengandalkan teknik pasak dan baji yang lentur namun kokoh, istana ini menyimpan makna mendalam di setiap jengkalnya: 99 tiang melambangkan Asmaul Husna, bentuk tangga merujuk pada tata krama ibadah, ornamen nanas dan bangkung menjadi simbol hubungan manusia dengan sesama dan dengan Tuhan. Di sinilah ajaran agung tertanam kuat: “𝐴𝑑𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡𝑖 𝑘𝑜 𝑆𝑦𝑎𝑟𝑎’, 𝑆𝑦𝑎𝑟𝑎’ 𝑏𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡𝑖 𝑘𝑜 𝐾𝑖𝑡𝑎𝑏𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ”, prinsip menyeimbangkan adat dan agama yang dikenal sebagai 𝑆𝑎𝑏𝑎𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑙𝑒𝑤𝑎.

Namun, jiwa kebesaran tanah ini tidak hanya berdiam di dalam tembok istana saja. Dikenal sebagai 𝑇𝑎𝑛𝑎' 𝐼𝑛𝑡𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑙𝑎𝑒𝑛𝑔, wilayah ini diberkahi Tuhan dengan kekayaan berlimpah: dari ketenaran Kuda Sumbawa yang gagah perkasa, kualitas Madu yang istimewa, hingga kandungan emas raksasa di kawasan Batu Hijau—salah satu tambang terbesar dunia yang kini dikelola oleh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), meneruskan konsesi PT. Newmon Nusa Tenggara (NNT) sebelumnya di wilayah Sumbawa Barat (kini kabupaten Sumbawa Barat (KSB), melingkar ke blok Elang Dodo Rinti di wilayah kecamatan Ropang dan Lenangguar, Sumbawa bagian selatan.

Kekayaan itu menyebar dari ujung timur di Empang hingga ke ujung barat di Alas (Alas Barat). Ia terasa dalam kehalusan tutur kata dan keramahan masyarakatnya, terwujud dalam aneka tradisi khas seperti 𝐾𝑒𝑡𝑎𝑡𝑜, 𝑀𝑎𝑛𝑗𝑎𝑟𝑒𝑎𝑙, 𝑆𝑎𝑘𝑒𝑐𝑜, 𝐵𝑎𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑜, serta tercipta dalam kekayaan kuliner seperti 𝑀𝑎𝑠𝑖𝑛, 𝐺𝑒𝑐𝑜𝑘, 𝑃𝑖𝑠 𝐼𝑝𝑖𝑛, dan 𝑆𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑖. Semua itu adalah bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Melalui perjalanan Lucia Moreno, seorang gadis berkebangsaan asing menempuh kuliah di salah satu universitas di Sumbawa sekaligus peneliti yang ingin menelusuri akar budaya, buku ini mengajak kita menyelami lapisan demi lapisan makna tradisi Samawa. Bersama Lalu Anggara, sosok pemuda ningrat yang bijaksana, Tenri Gra, penduduk asli yang penuh semangat, dan Sendo, masyarakat biasa yang masih setia 𝑡𝑒𝑑𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑟𝑒, tradisi warisan leluhur, kita diajak bertanya: Bagaimana nilai-nilai tua ini mampu bertahan, menyeimbangkan kemajuan dan kekayaan alam, di tengah derasnya arus modernisasi dan pergolakan zaman?

Buku ini adalah bukti bahwa "Sabalong Samalewa" bukan sekadar istilah, melainkan cara hidup. Sebuah senandung indah yang terus dilantunkan, menyelaraskan masa lalu dengan masa kini, agar jati diri tetap tegak berdiri di tengah dunia yang terus berubah.

Lagi, segera terbit, Novel Sastra Filisofis; "SilamoBaca: Melacak Jejak Budaya Sumbawa"📖 SINOPISSilamoBaca: Melacak Jeja...
31/05/2026

Lagi, segera terbit, Novel Sastra Filisofis; "SilamoBaca: Melacak Jejak Budaya Sumbawa"

📖 SINOPIS

SilamoBaca: Melacak Jejak Budaya Sumbawa

Di tanah kelahiran yang dahulu kala dikenal sebagai 𝑇𝑎𝑛𝑎 𝐼𝑛𝑡𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑙𝑎𝑒𝑛𝑔—Tanah Emas Pernata—terhampar kekayaan budaya yang tak ternilai harganya, namun perlahan mulai teruji oleh derasnya arus zaman. Kisah ini mengikuti perjalanan Lucia Moreno, seorang peneliti muda dari benua Amerika yang datang dengan pandangan ilmiah, logika tajam, dan ukuran efisiensi modern. Ia membawa satu pertanyaan besar: Bagaimana sebuah budaya lokal mampu bertahan kokoh, tanpa hilang jati dirinya, di tengah dunia yang terus berubah serba cepat?

Di tanah Samawa, Lucia bertemu dengan Lalu Anggara, seorang pemuda ningrat yang cerdas, intelek, sekaligus penjaga warisan leluhur. Melalui percakapan mendalam dan penelusuran jejak sejarah, Lalu Anggara membimbing Lucia menembus lapisan demi lapis makna yang tersembunyi di balik kehidupan masyarakat setempat.

Mulai dari sapaan 𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜 yang bukan sekadar ucapan, melainkan filosofi keterbukaan hati; bahasa yang dianggap "berbelit" dalam seni 𝑠𝑎𝑘𝑒𝑐𝑜 namun ternyata cara paling bijak menyampaikan pesan ke sanubari; tradisi seperti 𝐵𝑎𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑜 yang bergeser fungsinya dari mengolah tanah menjadi mengolah hati; hingga kuliner khas yang diambil dari mana saja namun selalu dibubuhi "rasa sendiri" agar tetap menjadi milik sejati.

Lucia diajak memahami satu kebenaran besar yang dipegang teguh oleh 𝑇𝑎𝑢 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑤𝑎 (Orang Sumbawa): Bahwa budaya yang hidup bukanlah budaya yang kaku menolak perubahan, melainkan budaya yang cerdas beradaptasi. Mereka percaya, bentuk boleh berubah, cara boleh berganti, dan nama boleh berbeda bunyi — asalkan makna, nilai, dan akar luhurnya tetap tertanam kuat di dalam sanubari.

𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎: 𝑀𝑒𝑙𝑎𝑐𝑎𝑘 𝐽𝑒𝑗𝑎𝑘 𝐵𝑢𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑢𝑚𝑏𝑎𝑤𝑎 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan perjalanan filsafat yang mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada kemampuannya membendung zaman, melainkan pada kebijaksanaannya memilih apa yang harus dipertahankan dan apa yang boleh dikembangkan. Sebuah kisah tentang akar yang takkan pernah putus, tentang kebijaksanaan masa lalu yang tetap menjadi cahaya bagi masa depan.***

Segera terbit..! Novel Sastra Gagasan𝐃𝐞𝐚 𝐁𝐀𝐍𝐆 𝐝𝐚𝐧 𝐍𝐨𝐧𝐚 𝐃𝐀𝐈⁽ᶜᵃᵗᵃᵗᵃⁿ ᴵⁿᵗᵉʳᵃᵏˢᶦ ᵈᶦ ᴾᵉʳˢᶦᵐᵖᵃⁿᵍᵃⁿ ᶻᵃᵐᵃⁿ⁾Karya Muis DebeKomuni...
29/05/2026

Segera terbit..!
Novel Sastra Gagasan

𝐃𝐞𝐚 𝐁𝐀𝐍𝐆 𝐝𝐚𝐧 𝐍𝐨𝐧𝐚 𝐃𝐀𝐈
⁽ᶜᵃᵗᵃᵗᵃⁿ ᴵⁿᵗᵉʳᵃᵏˢᶦ ᵈᶦ ᴾᵉʳˢᶦᵐᵖᵃⁿᵍᵃⁿ ᶻᵃᵐᵃⁿ⁾
Karya Muis Debe

Komunitas Ruang Baca Silamo

²⁷ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶ # 𝑮𝒆𝒍𝒊𝒕𝒊𝒌 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌⁽ᴿᵘᵇʳᶦᵏ ᵀᵉᵗᵃᵖ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴿᵃᵇᵘ⁾𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐔𝐩𝐚𝐡 𝐋𝐞𝐦𝐛𝐮𝐫 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐛𝐮𝐫 𝐓𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧Ada kabar yang sepintas ...
26/05/2026

²⁷ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶
# 𝑮𝒆𝒍𝒊𝒕𝒊𝒌 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌
⁽ᴿᵘᵇʳᶦᵏ ᵀᵉᵗᵃᵖ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴿᵃᵇᵘ⁾

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐔𝐩𝐚𝐡 𝐋𝐞𝐦𝐛𝐮𝐫 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐛𝐮𝐫 𝐓𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧

Ada kabar yang sepintas terkesan menggembirakan dari perusahaan Indomaret yang berpusat di Pantai Indah Kapuk (P*K), Penjaringan, Jakarta Utara, yang diberitakan Kompas.com pada Selasa (26/5/2026).

Walhasil intinya sangat jelas: karyawan yang bekerja pada hari libur nasional kini tak lagi menerima uang sebagai upah lembur. Sebagai gantinya, mereka akan mendapatkan hadiah berupa hari libur tambahan.

Seolah seperti promosi jual beli yang sering kita lihat – beli satu dapat satu sehingga jadi dua. Cuma kali ini ada perbedaannya yang mencolok: tawaran "produk" berupa hari libur makin banyak ditawarkan, namun uang yang seharusnya masuk ke dompet pekerja malah makin menipis.

Karuan saja, jika perubahan skema upah lembur pada hari libur tersebut membuat para karyawan toko menjadi gamang dan menggelar aksi demo di Menara Indomaret– karena secara langsung menghilangkan sumber penghasilan tambahan yang selama ini mereka dapatkan dari jam kerja lembur.

Tapi menurut perusahaan, kebijakan baru ini adalah bentuk "keseimbangan ekonomi" yang baik. Ah, pintar sekali hitung-hitungannya yang dibuat. Seolah-olah dompet pekerja akan ikut menjadi lebih gemuk hanya karena jumlah hari kosong tanpa kerja makin banyak.

Padahal bagi sebagian besar karyawan toko, penghasilan dari lembur pada hari libur nasional adalah urat nadi ekonomi mereka. Kalau sumber penghasilan tambahan itu ditarik begitu saja, tentu saja akan membuat kondisi keuangan mereka menjadi goyah dan gemetar.

Lucu juga logika perusahaan zaman sekarang ini. Kerja keras yang dilakukan karyawan dianggap sebagai sesuatu yang harus dibayar dengan utang, lalu dilunasi bukan dengan uang yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan dengan waktu kosong yang tidak menghasilkan apa-apa. Betul-betul sebuah akal licik yang coba menyamar sebagai kepintaran yang cerdik.😟💸⏰ -- AAN




²⁷ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶ # 𝑹𝒆𝒏𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑸𝒖𝒓𝒃𝒂𝒏⁽ᴹᵒᵐᵉⁿ ᴴᵃʳᶦ ᴿᵃʸᵃ ᴵᵈᵘˡ ᴬᵈʰᵃ⁾𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐈𝐛𝐚𝐝𝐚𝐡 𝐐𝐮𝐫𝐛𝐚𝐧 Qurban bukan sekadar ritua...
26/05/2026

²⁷ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶
# 𝑹𝒆𝒏𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑸𝒖𝒓𝒃𝒂𝒏
⁽ᴹᵒᵐᵉⁿ ᴴᵃʳᶦ ᴿᵃʸᵃ ᴵᵈᵘˡ ᴬᵈʰᵃ⁾
𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐈𝐛𝐚𝐝𝐚𝐡 𝐐𝐮𝐫𝐛𝐚𝐧

Qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban. Ia adalah wujud ketaatan sejati kepada Sang Pencipta – sebuah pengorbanan yang dilakukan untuk menundukkan keinginan diri sendiri di hadapan perintah Ilahi.

Di dalam ibadah ini tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya berbagi. Daging hewan kurban yang disembelih kemudian dibagikan secara merata, terutama kepada mereka yang kurang mampu dan membutuhkan.

Semua ini dilakukan agar kebahagiaan Hari Raya Idul Adha dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tanpa ada satu orang pun yang tertinggal.

Selain itu, qurban juga mengajari kita tentang ketulusan hati. Nilai ibadah ini bukan terletak pada besar atau kecilnya hewan yang dikurbankan, melainkan pada besarnya rasa takwa dan kesungguhan yang ada di dalam hati pelakunya. Sebuah pengingat akan cinta kasih yang nyata dan peduli terhadap sesama.

Pada hakikatnya, qurban adalah peristiwa kebersamaan dalam berbagi rezeki. Ia menghapus batas jurang yang seringkali ada antara mereka yang berkecukupan dengan mereka yang kekurangan, sekaligus menyatukan hati dalam ikatan persaudaraan yang kokoh dan penuh kedamaian. -- eMDe. 🐐❤️🕌

SEUSAI JEDA Salam hangat, sahabat SilamoBaca. Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi semacam vakum literasi. SilamoBaca ...
25/05/2026

SEUSAI JEDA

Salam hangat, sahabat SilamoBaca.

Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi semacam vakum literasi. SilamoBaca tiba-tiba menghilang – lenyap bagai asap yang dihembuskan angin. Tak seorang pun yang melintas melalui baris kata yang teranyam.

Vakum ini bukan karena hati berhenti mencipta, melainkan semata-mata karena perangkat tua andalan mengalami masa kesulitan. Ide-ide menumpuk, namun tangan terhalang tak mampu menjangkau layar.

Dua pilihan berat sempat menggoda pikiran: memperbaiki yang rusak, atau mencari yang baru. Kendala memang ada, namun semangat tak pernah pudar. Dengan memanfaatkan peluang yang ada, akhirnya jalan keluar terbuka lebar.

Hari ini, setelah jeda yang mengajarkan kesabaran, SilamoBaca kembali hadir. Berangkat dari semangat yang dulu, kini kekuatan terasa semakin bertambah.

Dengan memanjatkan rasa syukur, mari kita kembali menganyam makna. SilamoBaca, sesuai dengan makna dasarnya, tidak pernah berpretensi sebagai nabi atau rasul yang dapat menunjukkan jalan yang benar.

SilamoBaca juga tidak hadir untuk memberikan solusi atau jalan keluar atas berbagai persoalan yang ada. Keberadaan SilamoBaca hanya untuk mengangkat persoalan dan berdialog dengan realitas. Dengan kesadaran demikian, diharapkan SilamoBaca tidak akan berhenti di sini untuk terus berbagi manfaat!
(Ed.)

¹⁸ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶ # 𝑪𝒆𝒍𝒐𝒕𝒆𝒉 𝑹𝒆𝒎𝒆𝒉⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉⁿᶦⁿ⁾ 𝐌𝐚𝐫𝐬𝐢𝐧𝐚𝐡Presiden datang. Rombongan panjang membentang sejauh mata memanda...
17/05/2026

¹⁸ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶
# 𝑪𝒆𝒍𝒐𝒕𝒆𝒉 𝑹𝒆𝒎𝒆𝒉
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉⁿᶦⁿ⁾

𝐌𝐚𝐫𝐬𝐢𝐧𝐚𝐡

Presiden datang. Rombongan panjang membentang sejauh mata memandang.

Mobil-mobil kinclong menyambar kilat, membelah debu jalanan di tanah Nganjuk.

Meresmikan museum yang indah dengan ornamen megah. Meninjau rumah singgah yang kokoh dan lapang.

Lalu berjalan kaki sejauh satu kilometer – menabur bunga di makam Marsinah. Khidmat sekali. Penuh dengan rasa hormat yang terlihat jelas.

Kata Bapak Presiden: "Ini kemauan seluruh buruh Indonesia. Satu suara, satu nama. Marsinah dipilih untuk mewakili mereka semua." Ia diangkat jadi Pahlawan Nasional.

Selesai sudah urusan pengakuan sejarah. Tinggal ukir nama di batu nisan yang rapi, pasang papan nama besar di pintu gerbang makam, lalu semua orang pulang dengan rasa puas – merasa sudah selesai berbakti pada sosok yang dulu berjuang.

Indah sekali pemandangannya. Seperti kita menanam bunga mawar berwarna merah di atas kuburan, lalu lupa sepenuhnya menyiram tanaman di halaman rumah yang sedang layak dan mengering.

Marsinah dulu mati karena berteriak keras – minta upah yang layak untuk hidup layak. Minta hak untuk berserikat dan berbicara. Minta diperlakukan sebagai manusia yang berharga, bukan sebagai mesin penghasil uang bagi majikan.

Ia hilang tanpa jejak. Setelah beberapa lama ditemukan kembali, dalam keadaan yang membuat hati siapa saja yang mendengarnya remuk redam. Itu terjadi tahun 1993 – terasa seperti zaman dahulu yang sudah jauh.

Sekarang, kita membangun gedung megah dengan biaya tidak sedikit untuk mengenang teriakannya yang dulu menggema.

Padahal, kalau kita mau pasang telinga dengan saksama ke jalanan, ke pabrik-pabrik yang masih beroperasi, ke perkampungan buruh yang kumuh dan sesak – teriak serupa itu masih saja menggema hingga kini.

Mungkin suaranya lebih pelan, lebih penuh rasa takut, tapi isi pesannya sama persis: "Kami minta keadilan. Kami minta dihargai sebagai manusia."

Lucu bukan? Kita bangun museum agar sejarah tak terlupa oleh generasi mendatang, tapi sengaja menutup mata agar sejarah yang sama tidak terulang di hari ini.

Kita dengan s**a hati menabur bunga di pusara pahlawan buruh, tapi diam saja seperti tuli saat buruh masa kini dipecat dengan sewenang-wenang, atau dibayar upah yang jauh di bawah standar rasa kemanusiaan.

Seolah cukup hanya menjadikan Marsinah sebagai patung yang berdiri kokoh di dalam museum.

Seolah cukup hanya menjadikan perjuangannya sebagai dongeng sebelum tidur bagi anak cucu kita.

Seolah setelah gedung museum berdiri megah, masalah buruh di negeri ini sudah tamat babak dan usai tuntas.

Padahal, gedung megah itu tidak akan berarti apa-apa pun, kalau isi dari perjuangannya masih jadi barang langka yang sulit diraih.

Kita sibuk dengan memuliakan mereka yang sudah tiada, tapi pelit sekali memberi hak pada mereka yang masih bernapas dan berjuang mencari nafkah.

Ah, Marsinah mungkin saja tersenyum pahit di sana, di balik makam yang kini penuh dengan bunga.

"Terima kasih sudah membangun gedung cantik untukku," katanya dalam hati yang mendalam.

"Tapi tolonglah, perjuangan saya bukan untuk diabadikan dalam kaca pajangan atau buku sejarah.

Tapi untuk dijalani dan diperjuangkan oleh kalian yang masih bernapas dan merasakan panasnya matahari di atas pelataran pabrik."

Bunga yang ditabur tadi memang indah warnanya. Sayang sekali, jatuh di atas tanah yang masih basah – basah oleh air mata buruh-buruh yang hingga kini belum juga melihat kemenangan dalam perjuangan mereka.😔💐⚒️🇮🇩 eMDe.









¹⁷ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶ # 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾𝐃𝐮𝐚 𝐆𝐞𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠¹ 𝐝𝐢 𝐋𝐞𝐫𝐞𝐧𝐠 𝐁𝐮𝐤𝐢𝐭 𝐏𝐥𝐚𝐧𝐢𝐧𝐠²Oleh Dengke KoceCatatan kaki:¹ Gempang...
16/05/2026

¹⁷ ᴹᵉᶦ ²⁰²⁶
# 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾

𝐃𝐮𝐚 𝐆𝐞𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠¹ 𝐝𝐢 𝐋𝐞𝐫𝐞𝐧𝐠 𝐁𝐮𝐤𝐢𝐭 𝐏𝐥𝐚𝐧𝐢𝐧𝐠²

Oleh Dengke Koce

Catatan kaki:
¹ Gempang: (Bahasa Sumbawa) ladang, huma, areal tanah yang diolah untuk bercocok tanam rakyat.
² Planing: Nama bukit di kawasan Hutan Lindung Sabedo, Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa.

"𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑐𝑢𝑚𝑎 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑎𝑛𝑎𝑚, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑘ℎ𝑙𝑢𝑘 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝."

Di lereng Bukit Planing, yang terletak di kawasan Hutan Lindung Sabedo, ada dua gempang yang berdampingan. Tanahnya sama-sama subur, karena sama-sama disiram hujan musim dan terkena sinar matahari yang sama setiap hari.

Yang pertama diurus oleh Mek Potek. Ia bekerja cepat dan tekun. Setiap hari ia datang lebih awal, membersihkan segala sesuatu yang tidak jadi tanamannya – rumput liar, semak belukar, bahkan pohon kecil yang memberikan teduh pun ditebang. Ia menggali tanah dalam-dalam, memberikan pupuk banyak, lalu menanam benih rapat-rapat.

"Tanah ini harus menghasilkan sebanyak-banyaknya untukku," ujarnya dengan tegas saat melihat ladangnya yang rapi tanpa satu pun tumbuhan lain.

Di sampingnya, gempang yang diurus oleh Iyek S**o terlihat berbeda. Ia tak membersihkan semua rumput liar – hanya yang benar-benar mengganggu tanamannya. Pohon kecil yang tumbuh di pinggir ladang dibiarkan berdiri memberi naungan. Daun dan ranting yang jatuh dibiarkan membusuk di tanah, menjadi makanan bagi tanah.

"Tanah bukan milik kita sendirian," ujar Iyek S**o saat Mek Potek mengejeknya karena kebunnya tampak tidak rapi. "Ini rumah bagi banyak makhluk. Kalau kita merawat mereka, mereka juga akan merawat kita."

Musim panen pertama, hasil Mek Potek lebih banyak dan besar. Ia tertawa riang, merasa telah menang. Namun tahun kedua, tanahnya jadi keras dan gersang. Tanamannya tumbuh kecil dan mudah terserang penyakit.

Sementara itu, ladang Iyek S**o tetap subur. Tanahnya selalu lembab dan gembur. Hasil panennya tidak sebanyak yang pertama, tapi selalu ada setiap tahunnya.

Warga desa sering berkata: "Mek Potek dapat hasil banyak sekali di awal, tapi cepat habis. Iyek S**o merawat tanahnya dengan baik, jadi hasilnya tetap ada setiap tahunnya."

Tanah bukan hanya untuk kita manfaatkan, tapi juga untuk dijaga dan dirawat, karena ia adalah rumah bagi semua makhluk hidup. 🌱🏞️💬




Address

Samawa Tana Bulaeng
Sumbawa

Telephone

+6281213201633

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SilamoBaca posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to SilamoBaca:

Share