SilamoBaca

SilamoBaca celoteh remeh, cengkrama jelata Kesimpulan dari semua dialog dan perbincangan, sepenuhnya diserahkan kepada kesadaran dan kearifan masing-masing. Wassalam.

Sekilas Tentang "SilamoBaca"

SilamoBaca adalah Halaman dan Twitter resmi "Komunitas Ruang Baca SILAMO [Silaturrahim Layanan Aspirasi Masyarakat Otonom]" –sebuah kegiatan pembelajaran para pemerhati dan pengais gejala kesadaran sosial– guna memahami bentangan ruang antara harapan dan kenyataan yang terasa dalam kehidupan keseharian. Dengan mengais kesadaran dan pemahaman dari berbagai pihak, SilamoBaca mencoba mendialogkan –untuk tidak mengatakan mempersoalkan— berbagai dinamika sosial yang laten (tersamar atau tersembunyi) dan fenomenal yang menjadi gunjingan publik, baik di lingkup Lokal Sumbawa, Regional NTB maupun di tataran Nasionlal dan bahkan Internasional. Menyadari segala keterbatasan pemahaman, wawasan dan sumberdaya, SilamoBaca sama sekali tidak mengklaim, mengaku atau menempatkan diri sebagai penentu kebenaran, perumus kebijakan, dan bahkan tidak juga berpretensi sebagai pemecah masalah. Karenanya, SilamoBaca membuka diri dan mengundang semua pihak yang memiliki kesamaan visi untuk ikut berperan serta, mengirimkan naskah sebagai cermin kesadaran dan kearifan penulisnya. Tulisan yang diterbitkan tidak selalu mewakili pikiran dan pemahaman SilamoBaca. Terhadap semua naskah tulisan yang diterima, bisa jadi dilakukan penyuntingan redaksional tanpa mengubah substansi, untuk disajikan dalam langgam “celoteh remeh” atau “cengkerama jelata”, yang memungkinkan masyarkat awam sekalipun mudah menghayatinya. Karana –mengutip seorang penyair— kebanyakan orang adalah orang-orang kebanyakan. Selamat membaca, SilamoBaca!

⁴ ᴼᵏᵗᵒᵇᵉʳ ²⁰²⁶ # 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠Oleh Sayup KembaraDi lorong SMP sebuah kota kecamata...
03/10/2026

⁴ ᴼᵏᵗᵒᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾

𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠
Oleh Sayup Kembara

Di lorong SMP sebuah kota kecamatan, dulu mereka berjalan di waktu yang sama, namun tak pernah beriringan. Anjas mencuri pandang ke arah Gendis; Gendis menoleh saat Anjas lewat. Kata tak pernah terucap di antara mereka, namun surat-surat yang sempat diselipkan diam-diam telah menjelaskan segalanya. Perasaan itu tumbuh tulus, murni, dan ragu — persis seperti usia mereka yang baru beranjak remaja.

Belum sempat bertemu dan berbicara jelas, masa belajar di SMP tamat. Anjas berangkat melanjutkan SMA ke kota yang jauh. Tak ada perpisahan yang panjang, tak ada janji yang diucapkan. Surat-surat perlahan terhenti, lalu hilang sama sekali. Gendis tetap di kampung halaman, melanjutkan pendidikan di kota tempat mereka tinggal, baru kemudian merantau ke kota lain di p**au seberang. Anjas melangkah lebih jauh lagi, hingga ke kota besar yang jauh beribu-ribu. Dua arah yang berbeda, tanpa kabar, tanpa titik temu.

Berbilang tahun berlalu. Anjas bekerja, menikah, membesarkan anak, menyempitkan lingkaran pertemanan, menua. Gendis pun demikian — kabarnya hidup tenang, sesekali bepergian jauh mengantar anak bertugas ke tempat yang berjarak jauh. Waktu menyibukkan keduanya; kenangan itu tersimpan diam di sudut hati, tak diganggu, tak dilupakan.

Hingga beberapa tahun terakhir, lewat grup kenangan sekolah yang kembali menyambung silaturahmi, Anjas mulai rutin menulis dan mengirimkan tulisan ke ruang bersama itu. Tidak untuk ditujukan khusus kepada seseorang. Tak ada tanggapan, tak ada balasan. Namun ia merasa cukup — jika Gendis masih membaca, jika sesekali namanya terlintas di ingatan perempuan itu, itu sudah lebih dari yang ia minta. Kabar tentang Gendis terdengar samar, menentramkan tanpa perlu dipastikan sepenuhnya. Masih ada pertanyaan halus yang tak dijawab: apakah dulu, setidaknya sesaat, hati itu bergetar sama?

Dan di usia menjelang senja, Pak Anjas akhirnya tersadar: jawaban itu mungkin tak pernah datang. Namun ia tak lagi menuntutnya. Cinta pertama bukan soal dimiliki atau diakui. Ia adalah bagian paling murni dari dirinya yang muda — yang tak berubah meski rambut memutih, yang tetap hangat meski tak pernah bersanding. Cukup pernah ada, cukup pernah dirasakan — itu sudah menjadi keindahan yang menemani sisa perjalanannya.






POLRI DI TITIK BALIK: GANTI WAJAH ATAU MENGUBAH DIRI?
03/10/2026

POLRI DI TITIK BALIK: GANTI WAJAH ATAU MENGUBAH DIRI?

Pemerhati Sosial , Muis Debe Jakarta, sumbawanews.com– Pada 1 Oktober 2026, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang telah menduduki jabatan itu sejak Januari 2026. Pergantian ini bukan sekadar perpin...

² ᴼᵏᵗᵒᵇᵉʳ ²⁰²⁶ # 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏    ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭, 𝐒𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚, 𝐁𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐓𝐞𝐧𝐭𝐮 𝐉𝐞𝐥𝐚𝐬Belum genap sehari, semuanya s...
01/10/2026

² ᴼᵏᵗᵒᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾

𝐂𝐞𝐩𝐚𝐭, 𝐒𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚, 𝐁𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐓𝐞𝐧𝐭𝐮 𝐉𝐞𝐥𝐚𝐬

Belum genap sehari, semuanya selesai. Surat Presiden datang kemarin, uji kelayakan pagi ini, pelantikan siang ini (ANTARA, 1 Oktober 2026). Seolah urusan pimpinan lembaga penegak hukum terbesar di negeri ini tak lebih dari mengurus surat pengantar: ditandatangani, disahkan, lalu dilupakan. Tidak ada jeda. Tidak ada waktu untuk bertanya. Semakin cepat diselesaikan, sepertinya semakin baik — bukan karena hal itu menjadi semakin jelas, melainkan karena semakin sulit untuk melihat apa yang tersembunyi di baliknya.

Ketika ditanya mengapa pergantian terjadi persis saat ini, jawabannya sungguh sederhana: sudah waktunya. Seolah masa jabatan berjalan sendiri seperti jarum jam di dinding — berdetak, berhenti, berganti — tanpa perlu dijelaskan apa yang telah selesai, apa yang masih tertunda, atau mengapa tidak sehari lebih awal maupun sehari lebih lambat. Satu kalimat menutup segala percakapan. Menjawab segalanya, padahal sebenarnya tak menjawab apa-apa.

Hanya ada satu nama yang diajukan. Satu yang dibahas, satu yang disetujui. Yang disebut persetujuan itu terasa seperti pemberitahuan yang disampaikan dengan sopan. Tak ada pilihan lain. Tak ada perbandingan. Tak ada suara yang berbeda. Semua tampak tenang. Semua tampak sepakat. Seolah di seluruh negeri ini, hanya satu orang yang tersedia untuk duduk di kursi itu.

Yang lama berpamitan dengan kata terhormat. Yang baru datang dengan sikap siap bekerja. Namun ada hal yang belum terjawab: apakah yang berubah hanya nama yang tertulis di papan nama depan kantor? Atau cara hukum itu sendiri akan berjalan berbeda? Apakah yang lemah tetap dilindungi, yang kuat tetap diperiksa — atau semua hanya akan mengikuti arah angin yang berhembus dari tempat-tempat yang tinggi?

Pergantian telah terjadi. Upacara telah selesai. Namun pertanyaannya tetap sederhana, dan tetap menunggu jawaban: apakah hukum akan sama bagi siapa pun? Hal itu tak bisa diganti dengan seragam baru. Tak dijawab dengan pidato yang manis. Tak diselesaikan dengan kecepatan. Ia hanya akan terbukti perlahan, dalam hari-hari yang akan datang.😇 -- 𝐺𝑜𝑒𝑛 𝑀𝑎ℎ𝑚𝑢𝑑

³⁰ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶ # 𝑮𝒆𝒍𝒊𝒕𝒊𝒌 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌    ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴿᵃᵇᵘ⁾ 𝐁𝐞𝐛𝐮𝐲𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐃𝐮𝐚 𝐒𝐚𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚Ketika Timnas Indonesia melangkah ke lapan...
29/09/2026

³⁰ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑮𝒆𝒍𝒊𝒕𝒊𝒌 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴿᵃᵇᵘ⁾

𝐁𝐞𝐛𝐮𝐲𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐃𝐮𝐚 𝐒𝐚𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚

Ketika Timnas
Indonesia melangkah ke lapangan menghadapi Malaysia di Gelora B**g Karno, yang diperebutkan bukanlah sekadar tiga angka untuk melangkah lebih jauh. Bukan p**a sekadar keinginan mengalahkan lawan yang berdekatan. Di sana, di setiap sentuhan bola, terselip sesuatu yang jauh lebih berat: kebanggaan yang hidup turun-temurun, harga diri yang dijaga setiap kali kedua nama itu disebut. Bagi kedua bangsa, ini bukan pertandingan biasa. Ini pertarungan tentang siapa yang berdiri lebih tegak di antara kita yang sama-sama berasal dari tanah yang serumpun.

Masing-masing membawa kenangan yang tak sama. Di satu sisi, masih teringat jelas kemenangan 4 : 1 pada Piala AFF tahun 2020 — bukti bahwa kita pernah lebih unggul. Di sisi lain, tak terlupakan p**a kekalahan 2 : 3 di tempat yang sama, saat kualifikasi Piala Dunia — bukti bahwa di kandang sendiri pun lawan bisa menaklukkan. Kini, masa lalu itu berdiri di belakang masing-masing punggung, mendorong untuk membuktikan: kemarin sudah berlalu. Hari inilah yang akan menentukan siapa yang sesungguhnya lebih baik.

Kita hidup berdampingan. Seringkali memiliki bahasa yang tak jauh berbeda, budaya yang bersumber dari akar yang sama. Namun di atas lapangan hijau, justru nama itulah yang paling membuat denyut nadi berpacu lebih cepat. Mengapa bukan tim lain yang jauh lebih asing? Mengapa justru yang paling dekat, yang paling ingin dikalahkan? Seolah-olah semakin erat persaudaraan itu, semakin besar p**a keinginan untuk membuktikan diri lebih dulu. Bukan kepada orang asing — melainkan kepada saudara sendiri.

Puluhan ribu orang akan memenuhi tribun. Mereka tidak sekadar datang menonton. Mereka datang untuk menjadi bagian dari apa yang terjadi di bawah. Setiap sorak adalah dorongan, setiap keheningan adalah tekanan. Bola ditendang oleh pemain, namun semangat yang menggerakkannya datang dari ribuan dada yang berdebar sama. Di sini terlihat jelas: pertandingan ini tidak dimainkan oleh dua puluh dua orang saja. Ia dimainkan oleh rakyat yang merasa nasibnya ikut dipertaruhkan di setiap detiknya.

Nanti, satu pihak akan bersorak, pihak lain akan p**ang dengan kepala tertunduk. Namun setelah semuanya selesai, setelah lampu stadion meredup, kenyataan tetap sama: kita tetap bertetangga. Tetap serumpun. Tetap berdampingan di peta yang sama. Lalu, apakah kemenangan di atas rumput sungguh mengubah sesuatu yang mendasar? Apakah kita menjadi lebih baik bangsanya karena mengalahkan saudara sendiri? Atau justru sebaliknya — yang seharusnya membanggakan adalah bagaimana kita tumbuh bersama, bukan siapa yang menang satu sama lain? 😇 -- 𝑀𝑎𝑤𝑏𝑟𝑜𝑢𝑤.




²⁹ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶  # 𝑼𝒔𝒖𝒍 𝑰𝒔𝒆𝒏𝒈 ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉˡᵃˢᵃ⁾ 𝐒𝐲𝐚𝐫𝐚𝐭 𝐒𝐢𝐦𝐬𝐚𝐥𝐚𝐛𝐢𝐦Saat nama itu didaftarkan sebagai calon Wakil Pres...
28/09/2026

²⁹ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑼𝒔𝒖𝒍 𝑰𝒔𝒆𝒏𝒈
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉˡᵃˢᵃ⁾

𝐒𝐲𝐚𝐫𝐚𝐭 𝐒𝐢𝐦𝐬𝐚𝐥𝐚𝐛𝐢𝐦

Saat nama itu didaftarkan sebagai calon Wakil Presiden, yang dilampirkan bukan ijazah SMA sebagaimana yang lazim kita kenal. Bukan lembar kertas bertanda tangan kepala sekolah, bernomor urut, mencatat tahun masuk dan tahun tamat. Yang ada adalah surat keterangan setara — dikeluarkan menjelang tutupnya pendaftaran, datang mendesak, tak ada penjelasan cukup mengapa bukan dokumen yang biasa dipakai. Hingga kini, yang seharusnya menjadi bukti riwayat belajar itu belum terlihat jelas oleh mata rakyat. Bukan tidak percaya — rakyat hanya ingin melihat apa yang seharusnya sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Ijazah itu jejak. Ia menandai tempat, waktu, perjalanan yang dijalani. Surat setara bukanlah jejak yang sama. Ia pengakuan belakangan, bukan catatan yang tumbuh bersama perjalanan itu sendiri. Kalau ijazah hilang, sekolah membuatkan gantinya — tetap dari tempat yang sama, tetap menunjuk ke masa yang sama. Tapi ini berbeda. Ini seolah-olah mengatakan: ada yang setara, tapi tak perlu tunjukkan di mana dan bagaimana. Yang ditanya rakyat sederhana: apa bedanya hilang dengan tidak pernah ada?

Mengapa harus mendesak? Mengapa menunggu hingga pintu hampir tertutup baru surat itu lahir? Tak ada data yang dipaparkan, tak ada dasar penilaian yang dijelaskan. Yang terlihat hanyalah ini: kebutuhan datang, maka surat pun muncul. Rakyat berpikir — kalau ini hal yang biasa, mengapa terasa begitu luar biasa? Kalau ini sah sejak lama, mengapa baru sekarang diketahui?

Coba tanya pada diri sendiri: kalau kita yang berada di posisi itu — tanpa ijazah, tanpa jejak jelas — lalu mengajukan surat serupa, apakah akan diterima? Atau justru ditolak, disuruh kembali, disuruh melengkapi berkas yang seharusnya sudah ada? Kalau jawabannya tidak sama, maka yang berlaku bukan keadilan. Yang berlaku adalah ukuran yang bisa memendek dan memanjang sesuai siapa yang berdiri di depannya.

Kalau aturan bisa ditekuk semudah ini, mengapa tidak kita ganti saja secara terang-terangan? Tulis saja: siapa yang dipilih, dianggap sudah layak. Tak perlu ijazah, tak perlu surat setara, tak perlu kertas apa pun yang menyulitkan. Lebih jujur begitu. Rakyat pun mengerti — kalau kedudukan sudah menentukan segalanya, untuk apa repot-repot mempersulit diri dengan syarat yang hanya berlaku bagi orang lain? Biarlah jelas: yang diinginkan lebih penting daripada yang dibuktikan. Itu saja.— 𝐴𝑟𝑠𝑎𝑡 😇





²⁸ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶ # 𝑪𝒆𝒍𝒐𝒕𝒆𝒉 𝑹𝒆𝒎𝒆𝒉⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉⁿᶦⁿ⁾𝐌𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚Lima tahun adalah waktu yang panjang. Cukup lama untuk mengena...
27/09/2026

²⁸ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑪𝒆𝒍𝒐𝒕𝒆𝒉 𝑹𝒆𝒎𝒆𝒉
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉⁿᶦⁿ⁾

𝐌𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚

Lima tahun adalah waktu yang panjang. Cukup lama untuk mengenal seseorang. Dalam budaya kita, lima tahun dirasa lebih dari cukup untuk menelusuri kriteria bibit, bebet, bobot calon menantu, agar kehidupan ke depan berjalan harmonis.

Bibit menyangkut asal-usul, siapa sebenarnya dia. Bebet mengarah pada kedudukan, kemampuan, tata krama — bagaimana ia hidup dan bergaul. Sedangkan bobot adalah inti yang paling krusial: kualitas diri, akhlak, kecakapan, tanggung jawab — apakah ia layak dipercaya memikul beban bersama.

Tapi mengurus sebuah bangsa tentu tidak sesederhana membangun mahligai rumah tangga. Lima tahun itu panjang, namun mengapa rasanya tak cukup bagi rakyat untuk mengenal mereka yang duduk mewakili kita? Jangan-jangan wajah mereka terlalu licin, sehingga kita menjadi pangling — tak kenal lagi.

Survei Poltracking Indonesia, seperti diberitakan 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑎𝑠.𝑐𝑜𝑚 (25 September 2026), mencatat: 57,6 persen warga tidak tahu siapa orang yang katanya memperjuangkan aspirasi daerah pemilihannya. Hanya seperempat yang mengenal. Selebihnya diam. Bukan karena abai — melainkan tidak pernah diperkenalkan.

Mengapa? Ada yang datang saat lampu kampanye menyala, lalu menghilang begitu papan nama sudah terpasang di pintu kantor. Banyak yang hanya muncul saat butuh suara, bukan saat kita butuh diperjuangkan. Kedatangannya pun tak merata — hanya ke tempat kawan-kawan dekatnya. Wilayah yang jauh? Wassalam saja.

Memang benar daerah pemilihan yang luas sukar dijangkau. Namun yang lebih menyulitkan: banyak yang diutus ternyata tidak tumbuh dari tanah ini. Diambil dari tempat lain, dikenal sesaat sebelum pemilu, lalu diletakkan di atas panggung — tak ubahnya seperti perangko di amplop. Bagaimana pun juga, mereka tetap terasa seperti tamu, bukan bagian dari keluarga.

Menjadi wakil rakyat memerlukan biaya yang mahal. Maka banyak yang berutang — bukan kepada kita yang memberi suara, melainkan kepada mereka yang menyandang dana. Arah wajah pun berubah: bukan menunduk mendengar, melainkan menengok ke arah pemberi bantuan. Hubungan yang seharusnya tumbuh dari hati ke hati, berubah menjadi seperti lelang ikan — selesai dibayar, lalu berpisah.

Akibatnya, tak ada ikatan yang benar-benar hidup. Tanpa percakapan yang jujur, bagaimana mungkin diketahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan? Keputusan diambil, undang-undang disusun, namun tak selalu lahir dari kenyataan yang kita hadapi sehari-hari. Kita menjadi asing dengan mereka. Dan yang lebih cilaka lagi: lambat laun, kita merasa tidak ada siapa-siapa yang mengenal kita.— 𝑒𝑀𝐷𝑒 😇



𝐒𝐞𝐧𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐁𝐮𝐚𝐭 𝐈𝐛𝐮𝑂𝑙𝑒ℎ 𝑁𝑒 𝑆𝑎𝑛𝑡𝑜𝑎𝑛𝑎Ibu hanyalah perempuan sederhana. Tak pernah ia berhias berlebihan, tak pernah b...
26/09/2026

𝐒𝐞𝐧𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐁𝐮𝐚𝐭 𝐈𝐛𝐮
𝑂𝑙𝑒ℎ 𝑁𝑒 𝑆𝑎𝑛𝑡𝑜𝑎𝑛𝑎

Ibu hanyalah perempuan sederhana. Tak pernah ia berhias berlebihan, tak pernah bicara memuji diri sendiri. Hatinya lugu, apa adanya—tidak pernah menyimpan curiga atau prasangka buruk kepada siapa pun, bahkan kepada mereka yang kadang berbuat kurang baik kepadanya. Kesederhanaan dan ketulusan itulah yang menjadi akar—tanpa diketahui siapa pun—dari segala kekuatan yang beliau miliki seumur hidup.

Lama‑kelamaan rambutnya memutih, langkahnya melambat, dan sakit pun datang menumpuk di tubuhnya. Namun tak pernah terdengar satu keluhan pun dari bibirnya. Ia hanya duduk tenang, menatap apa yang datang—entah sakit, entah susah—semua diterima dengan hati yang damai. Tak ada yang disalahkan, tak ada yang diprotes; apa yang mesti dijalani, dijalani saja apa adanya.

Ketabahan yang tenang itu bukanlah sesuatu yang tiba‑tiba muncul begitu saja saat masa tua datang. Ia tumbuh perlahan, bertahun‑tahun lamanya—dari cara hidup yang sederhana sehari‑hari, dari hati yang senantiasa bersih tak berprasangka, serta dari kebiasaan menerima segala hal yang datang—entah senang entah susah—apa adanya sejak dulu. Itulah yang membuatnya kokoh, tak mudah goyah apa pun yang menimpa.

Dan akhirnya aku paham: hal yang paling berharga serta paling kuat di dunia ini ternyata bukan perkataan yang indah, bukan p**a kemegahan yang tampak menyilaukan mata. Melainkan ketulusan yang diam tak banyak bicara, kesederhanaan yang tulus hati, serta kasih yang sederhana saja—tak berlebihan, tak dipamerkan—namun tetap kokoh berdiri, tak tergoyahkan oleh apa pun yang datang. ***





²⁶ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶ # 𝑴𝒆𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌 𝑻𝒂𝒋𝒖𝒌  ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵃᵇᵗᵘ⁾𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐍𝐞𝐠𝐞𝐫𝐢𝐤𝐮Dalam satu pekan ini, tersaji serentetan peristiwa s...
25/09/2026

²⁶ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑴𝒆𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌 𝑻𝒂𝒋𝒖𝒌
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵃᵇᵗᵘ⁾

𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐍𝐞𝐠𝐞𝐫𝐢𝐤𝐮

Dalam satu pekan ini, tersaji serentetan peristiwa secara terpisah. Namun di balik setiap peristiwa, tampak satu pola yang sama — benang merah yang menyambungkan semuanya.

Mulai dari dipersempitnya ruang perbedaan: suara kritis yang timbul bukan dianggap sebagai masukan, melainkan gangguan. Kebenaran yang tak diinginkan lebih baik dihindari daripada didengarkan.

Peristiwa OTT KPK ke‑21 kembali mengingatkan: ada sesuatu yang lemah dalam pendekatan kita. Betapapun penindakan terus dilakukan, yang tertangkap dijatuhi sanksi tegas — namun masalah yang sama berulang tiada henti, lantaran sistem yang memungkinkannya tetap dibiarkan terbuka.

Di saat yang sama, harga cabai melonjak rata-rata di atas 70% dalam hitungan hari. Beban itu ditanggung sepenuhnya oleh rumah tangga kecil, sementara pengawasan dan perlindungan terhadap rakyat belum terlihat nyata.

Dari dunia pendidikan muncul janji pendidikan gratis dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Disampaikan dengan harapan besar, namun rincian anggaran, sumber dana, maupun jangka waktu pelaksanaan belum terlihat jelas. Masyarakat diajak berharap, namun belum diberi pegangan yang kokoh.

Peristiwa mengejutkan datang dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan — tempat yang seharusnya menyamaratakan semua orang. Ditemukan hunian berfasilitas lengkap berstandar apartemen, kendaraan bernilai miliaran, dan dugaan pembayaran istimewa. Yang mampu membayar mendapat kenyamanan; yang biasa menerima apa adanya.

Kesemua itu terangkai menjadi satu — inilah wajah negeriku, hari ini. Tentu saja hal ini memprihatinkan. Semoga pekan yang datang membawa perubahan yang lebih baik, lebih adil, untuk semua.-- (𝑅𝑒𝑑.)




²⁵ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶  # 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏    ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐓𝐞𝐦𝐛𝐨𝐤Pintu lembaga pemasyarakatan itu ter...
24/09/2026

²⁵ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾

𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐓𝐞𝐦𝐛𝐨𝐤

Pintu lembaga pemasyarakatan itu ternyata berat untuk dibuka. Bukan sekali, melainkan dua kali Ombudsman dikecualikan, dihalangi, didorong — hingga ada kaki yang terjepit — sebelum akhirnya celah terbuka sedikit. Penolakan itu sendiri adalah pengakuan tanpa kata: ada sesuatu di balik tembok yang tidak ingin dilihat dunia luar. Demikian diberitakan dalam dua laporan terpisah 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑎𝑠.𝑐𝑜𝑚, Rabu,
23 September 2026.

Ketika akhirnya masuk, yang ditemukan bukan sekadar ruang tambahan. Di sudut tersembunyi berdiri lebih dari sepuluh bangunan yang tak menyerupai sel. Ada ruang tamu, dapur lengkap, tempat tidur yang layak, kulkas, alat masak — kemewahan yang di tempat lain disebut apartemen, bukan penjara.

Di sini, dinding tidak sama bagi semua orang. Sementara sebagian bernapas sempit, sebagian lain hidup seolah menginap di rumah sendiri. Jika itu tempat istirahat petugas, kenapa ada mobil miliaran menunggu tuannya yang seharusnya di dalam sel?

Yang lebih menggelisahkan: hunian itu dibayar. Kepada siapa, berapa nilainya, ke mana mengalir — belum ada yang tahu. Di halaman yang sama terparkir kendaraan bernilai miliaran, satu di antaranya Alphard, diam menunggu tuannya. Di tempat yang seharusnya menyamaratakan semua, ternyata pembedaan ditentukan oleh dompet.

Pihak pengelola menyebutnya tempat istirahat petugas. Namun perabotan, tata letak, hingga botol yang terselip di kulkas — semuanya bercerita lain. Kata resmi tak lagi menggambarkan kenyataan.

Inilah yang paling menyakitkan dipikirkan: penjara, tempat semua seharusnya sama di hadapan aturan, ternyata punya tingkatan sendiri. Yang kaya bisa menyewa kenyamanan; yang biasa menerima apa adanya. Lapas Cibinong bukan sekadar menyimpan pelanggar hukum — ia menyimpan pelanggaran terhadap hukum itu sendiri. Semoga pemeriksaan tidak berhenti pada temuan, melainkan sampai kepada pertanggungjawaban. Agar tak ada yang percaya: keadilan pun bisa disewakan.😇 -- 𝐺𝑢𝑛 𝑀𝑎ℎ𝑚𝑢𝑑





Address

Samawa Tana Bulaeng
Sumbawa

Telephone

+6281213201633

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SilamoBaca posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to SilamoBaca:

Shortcuts

Share