01/06/2026
Segera terbit...
Novel Sastra Budaya
🔖 SABALONG SAMALEWA
Senandung Tradisi Menghadapi Pergolakan Zaman
Di jantung Kota Sumbawa Besar, berdiri megah Istana Dalam Loka, rumah panggung kayu terbesar di dunia. Mahakarya yang didirikan tahun 1885 ini bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan kitab raksasa yang menceritakan ketinggian peradaban Samawa. Dibangun tanpa sebatang paku, hanya mengandalkan teknik pasak dan baji yang lentur namun kokoh, istana ini menyimpan makna mendalam di setiap jengkalnya: 99 tiang melambangkan Asmaul Husna, bentuk tangga merujuk pada tata krama ibadah, ornamen nanas dan bangkung menjadi simbol hubungan manusia dengan sesama dan dengan Tuhan. Di sinilah ajaran agung tertanam kuat: “𝐴𝑑𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡𝑖 𝑘𝑜 𝑆𝑦𝑎𝑟𝑎’, 𝑆𝑦𝑎𝑟𝑎’ 𝑏𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡𝑖 𝑘𝑜 𝐾𝑖𝑡𝑎𝑏𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ”, prinsip menyeimbangkan adat dan agama yang dikenal sebagai 𝑆𝑎𝑏𝑎𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑙𝑒𝑤𝑎.
Namun, jiwa kebesaran tanah ini tidak hanya berdiam di dalam tembok istana saja. Dikenal sebagai 𝑇𝑎𝑛𝑎' 𝐼𝑛𝑡𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑙𝑎𝑒𝑛𝑔, wilayah ini diberkahi Tuhan dengan kekayaan berlimpah: dari ketenaran Kuda Sumbawa yang gagah perkasa, kualitas Madu yang istimewa, hingga kandungan emas raksasa di kawasan Batu Hijau—salah satu tambang terbesar dunia yang kini dikelola oleh PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), meneruskan konsesi PT. Newmon Nusa Tenggara (NNT) sebelumnya di wilayah Sumbawa Barat (kini kabupaten Sumbawa Barat (KSB), melingkar ke blok Elang Dodo Rinti di wilayah kecamatan Ropang dan Lenangguar, Sumbawa bagian selatan.
Kekayaan itu menyebar dari ujung timur di Empang hingga ke ujung barat di Alas (Alas Barat). Ia terasa dalam kehalusan tutur kata dan keramahan masyarakatnya, terwujud dalam aneka tradisi khas seperti 𝐾𝑒𝑡𝑎𝑡𝑜, 𝑀𝑎𝑛𝑗𝑎𝑟𝑒𝑎𝑙, 𝑆𝑎𝑘𝑒𝑐𝑜, 𝐵𝑎𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑜, serta tercipta dalam kekayaan kuliner seperti 𝑀𝑎𝑠𝑖𝑛, 𝐺𝑒𝑐𝑜𝑘, 𝑃𝑖𝑠 𝐼𝑝𝑖𝑛, dan 𝑆𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑖. Semua itu adalah bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Melalui perjalanan Lucia Moreno, seorang gadis berkebangsaan asing menempuh kuliah di salah satu universitas di Sumbawa sekaligus peneliti yang ingin menelusuri akar budaya, buku ini mengajak kita menyelami lapisan demi lapisan makna tradisi Samawa. Bersama Lalu Anggara, sosok pemuda ningrat yang bijaksana, Tenri Gra, penduduk asli yang penuh semangat, dan Sendo, masyarakat biasa yang masih setia 𝑡𝑒𝑑𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑟𝑒, tradisi warisan leluhur, kita diajak bertanya: Bagaimana nilai-nilai tua ini mampu bertahan, menyeimbangkan kemajuan dan kekayaan alam, di tengah derasnya arus modernisasi dan pergolakan zaman?
Buku ini adalah bukti bahwa "Sabalong Samalewa" bukan sekadar istilah, melainkan cara hidup. Sebuah senandung indah yang terus dilantunkan, menyelaraskan masa lalu dengan masa kini, agar jati diri tetap tegak berdiri di tengah dunia yang terus berubah.