03/10/2026
⁴ ᴼᵏᵗᵒᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾
𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠
Oleh Sayup Kembara
Di lorong SMP sebuah kota kecamatan, dulu mereka berjalan di waktu yang sama, namun tak pernah beriringan. Anjas mencuri pandang ke arah Gendis; Gendis menoleh saat Anjas lewat. Kata tak pernah terucap di antara mereka, namun surat-surat yang sempat diselipkan diam-diam telah menjelaskan segalanya. Perasaan itu tumbuh tulus, murni, dan ragu — persis seperti usia mereka yang baru beranjak remaja.
Belum sempat bertemu dan berbicara jelas, masa belajar di SMP tamat. Anjas berangkat melanjutkan SMA ke kota yang jauh. Tak ada perpisahan yang panjang, tak ada janji yang diucapkan. Surat-surat perlahan terhenti, lalu hilang sama sekali. Gendis tetap di kampung halaman, melanjutkan pendidikan di kota tempat mereka tinggal, baru kemudian merantau ke kota lain di p**au seberang. Anjas melangkah lebih jauh lagi, hingga ke kota besar yang jauh beribu-ribu. Dua arah yang berbeda, tanpa kabar, tanpa titik temu.
Berbilang tahun berlalu. Anjas bekerja, menikah, membesarkan anak, menyempitkan lingkaran pertemanan, menua. Gendis pun demikian — kabarnya hidup tenang, sesekali bepergian jauh mengantar anak bertugas ke tempat yang berjarak jauh. Waktu menyibukkan keduanya; kenangan itu tersimpan diam di sudut hati, tak diganggu, tak dilupakan.
Hingga beberapa tahun terakhir, lewat grup kenangan sekolah yang kembali menyambung silaturahmi, Anjas mulai rutin menulis dan mengirimkan tulisan ke ruang bersama itu. Tidak untuk ditujukan khusus kepada seseorang. Tak ada tanggapan, tak ada balasan. Namun ia merasa cukup — jika Gendis masih membaca, jika sesekali namanya terlintas di ingatan perempuan itu, itu sudah lebih dari yang ia minta. Kabar tentang Gendis terdengar samar, menentramkan tanpa perlu dipastikan sepenuhnya. Masih ada pertanyaan halus yang tak dijawab: apakah dulu, setidaknya sesaat, hati itu bergetar sama?
Dan di usia menjelang senja, Pak Anjas akhirnya tersadar: jawaban itu mungkin tak pernah datang. Namun ia tak lagi menuntutnya. Cinta pertama bukan soal dimiliki atau diakui. Ia adalah bagian paling murni dari dirinya yang muda — yang tak berubah meski rambut memutih, yang tetap hangat meski tak pernah bersanding. Cukup pernah ada, cukup pernah dirasakan — itu sudah menjadi keindahan yang menemani sisa perjalanannya.