18/07/2022
REUNI MOMENT MERAIH JEDA UNTUK MAJU 1000 LANGKAH
Boleh jadi ada diantara kita mengeluh tentang keadaan, tentang kehidupan yang tak kunjung membaik pasca pandemi mereda.
Atau boleh jadi sebelum pandemi pun kembang kempis kehidupan kerap kali menyapa.
Menjelang Reuni Hamida, sebagian kawan-kawan alumni boleh jadi merasakan hal yang sama, aneka tagihan baru tetiba menyapa, dari mulai kewajiban geser, patungan koang, wakaf, hingga donasi sayuran untuk konsumsi. Bagi sebagian kawan-kawan alumni, boleh jadi ini sebuah beban. Atau tepatnya, beban tambahan.
Menoleh kembali sejarah boleh jadi hal yang penting untuk kita coba, jejak-jejak kehidupan dan masa saat penuh perjuangan menuntut ilmu adalah momen yang tentu saja layak untuk dikenang.
Jika dulu pernah mengalami momen pahit dan pilu semasa Mondok, boleh jadi saat kita kini mengenangnya, momen itu jadi sebuah kenangan indah yang terkadang jadi bahan tawa, perlahan senyuman tersimpul hingga p**i ditarik ke kanan dan kekiri pertanda rasa bahagia mulai terasa dalam jelaga jiwa. Kita tandai kata ini ya, Bahagia.
Sejenak kita berpindah semesta cerita, kita simak tentang cara meraih bahagia seorang pengusaha yang konon capaian suksesnya epik tak terkira.
Ketika ditanya jumlah angka pencapaian, saldo rupiah dan dolar yang terkumpul saat itu, pengusaha itu menolak memberi jawaban. Ketika ditanya lebih jauh kenapa, dia dengan singkat menjawab:
"Untuk apa?"
Dia lanjut menjelaskan, bahwa selama ini dia tak pernah melihat semua uang yang dia punya di satu tempat sekaligus, semua kini hanya berupa angka di dalam bentuk saldo rekening. Ingat hanya berupa angka. Tak lebih.
Dia lanjut bercerita bahwa hingga kini masih menyantap nasi putih yang sama, tak ada beda ketika jaman berjuang dulu. Saldo dan angka tidak merubah kebiasaan itu.
Saat ditanya apakah menjadi orang sukses membuat dia bahagia, sejenak dia berfikir lalu menjawab pelan.
"Tentu saja, saya bahagia dengan bonus yang saya dapat, walau bukan itu kebahagiaan utama saya."
"Lalu apa yang jadi kebahagiaan utama?"
"Saat mengenang masa-masa berjuang dulu, saat air mata dan keringat berebutan menghampiri saya, seolah Tuhan tak ada, tak membantu kesulitan hidup yang saya hadapi."
"Saat mengenang itu, saya merasa bahagia, masa-masa yang dulu memilukan, kini jadi sumber utama kebahagiaan saya saat mengenangnya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Saya sadar sekarang, apa yang saya dapat hanyalah bonus dari Tuhan, banyak yang bekerja sekeras saya, bahkan usahanya jauh lebih hebat dibanding saya, tapi tidak mendapat capaian yang saya alami sekarang, itulah kenapa saya sebut bahwa sukses itu bonus."
Sekilas cerita diatas boleh jadi sebuah pelajaran, tentang arti kehidupan, tentang harapan mencapai kebahagiaan. The anniversarry of happiness.
Semua orang berhak mendapat bahagia, apapun nasib yang dia alami kini, termasuk juga kawan-kawan Hamida yang belum beruntung.
Bertemu dengan teman seperjuangan dulu boleh jadi awal mula bahagia, mengingat kembali masa-masa yang layak untuk dikenang, bermuwajahah diantara balong dan sawah, hingga makan mie instan didalam gayung untuk disantap bersama-sama, kita tetap bergembira walau nampak seperti menderita.
Rasa gembira, boleh jadi sebagai penanda bermula bahagia, dan Reuni Hamida adalah tempat yang tepat bagi kawan-kawan Hamida untuk sejenak mengambil jeda, Arihnafsaka.
Berkumpul bersama Murobbi tercinta dan merasakan kegembiraan yang nyata, merayakan kebahagiaan. The anniversarry of happiness.
Seperti sosok pengusaha tadi, boleh jadi pahit getir kehidupan adalah masa-masa yang layak dikenang menuju kebahagiaan saat kita mengingatnya nanti.
Miftahul Huda menyambut kedatangan para alumni tercinta dengan sukacita seperti saat dulu para santri dan alumni diterima, saat semua bermula.
Sambut senyuman Murobbi dengan debam-debam cinta hingga jelaga jiwa.
Geser dan donasi tak akan lagi jadi penghalang untuk kita bertemu dan berbahagia.