HMI Printing Centre

HMI Printing Centre HMI Printing menawarkan Servis Printing/Cetak Baju T-Shirt Murah. Juga menerima tempahan:-
1. PAKAIA BAJET RENDAH? SELAI DUA HELAI? CAJ MAHAL? Hanya untuk anda!

Assalamualaikum & Salam Sejahtera semua ! ~
SELAMAT DATANG KE PAGE KAMI~!! Kami di HMI PRINTING amat berbesar hati di atas kesudian anda dan mengalu-alukan kedatangan anda untuk menjengah ke laman page kami. Di sini, kami menawarkan perkhidmatan printing t-shirt & printing digital yang sesuai di pakai dalam apa jua majlis. Ianya juga sesuai di pakai oleh semua pihak baik lelaki mahupun wanita dan

juga kanak-kanak. JANGAN BIMBANG, kami akan lakukan yang terbaik! Kami menyediakan perkhidmatan printing baju untuk:
~T-Shirt Family Day
~T-Shirt Rewang
~T-Shirt Event
~T-Shirt Kelab Dan Persatuan
~T-Shirt Kelas
~T-Shirt Branding
~T-Shirt Program
~T-Shirt S**an
~Customade T-Shirt
~Uniform
~Baju Korporat
ADA LAGI??? Ya…Kami juga menerima tempahan:
Sticker dan label
Banner
Bunting
Penanda Arah / Signboard
Sila klik album untuk melihat produk yang kami tawarkan. Semua barangan di biz hub kami harganya masih mampu dimiliki & dijamin dapat memuaskan hati anda semua :) In syaa Allah~
Untuk sebarang pertanyaan, order dan info lanjut, anda boleh pm/whatsapp/hubungi kami:
Dilia: +601161186311
Hajazi : +60193747786

21/11/2020

🍂بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

🌿QOBLIYAH JUM'AT ???

Di antara kebiasaan di banyak masjid di Indonesia, jika selesai azan dikumandangkan, setelah itu para jemaah bersama-sama bangkit untuk mendirikan shalat sunah qabliyah Jumat dua rakaat.
Kebiasaan ini tidak tepat, karena shalat sunah qabliyah Jumat tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dikenal oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan, “Jika bilal telah mengumandangkan azan Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhotbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua rakaat kala itu.
(Di masa beliau), azan Jumat hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jumat itu seperti shalat id yaitu sama-sama tidak ada shalat sunah qobliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan azan.
Jika azan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhotbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunah kala itu).
Inilah yang disaksikan para sahabat di masa beliau”.

Kenapa mereka yang mengaku ASWAJA tidak mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Agama ini dari Allah, ibadah ditujukan untuk Allah maka hendaknya cara beribadah pun mengikuti petunjuk dari Allah melalui Rasul-Nya.

Semoga bermanfaat untuk kita semua

SESYAR’I APAPUN HIJABMU, ENGKAU TETAP FITNAH BAGI KAMIDishare Oleh Ummu Sarah (Istri Ustadz Badru Salam)Seorang muslimah...
20/11/2020

SESYAR’I APAPUN HIJABMU, ENGKAU TETAP FITNAH BAGI KAMI

Dishare Oleh Ummu Sarah
(Istri Ustadz Badru Salam)

Seorang muslimah bercerita :

Ana mempunyai kawan penuntut ilmu syar'iy di Jakarta sini, biasanya jika telah tiba musim liburan dia dijemput oleh mahramnya (kakak kandungnya).

Pada suatu waktu ketika hendak safar kakaknya ingin singgah di tempat teman ikhwannya, maka dia pun menyuruh adiknya untuk menunggu di kos nanti kakaknya kembali lagi untuk menjemputnya, dan berkatalah adiknya :

"Ana ikut aja kesana, 'ntar ana tunggu antum di luar, kan cuma mau pamitan aja, daripada antum kesana-kemari"

"Gak boleh. Bahaya," Jawab sang kakak

"Bahayanya apa? ana kan udah berjilbab syar'iy begini (cadar, hitam p**a, longgar dan panjang lagi), ana juga gak ketemu teman-teman antum"

"Bahayanya besar, fitnahnya gede, bisa saja salah seorang melihat anti dan syeithan pun memasukkan penyakit di hatinya.. (kasian mereka belom sanggup nikah dan mereka juga masih semangat dan ingin tenang dalam menuntut ilmu) dan anti pun demikian"

"Emangnya ana dengan penampilan ana yang begini masih bisa menimbulkan fitnah?"

Simaklah jawaban si Kakak,...

"Sudah menjadi sunnaturrasul bahwa fitnah bagi kaum adam adalah antunna ukhti, antunna berjilbab atau tidak berjilbab, berjilbab gaul maupun berjilbab syar'iy, bercadar sekalipun (ana ingat waktu itu para akhwat sangat takut terjun dalam tabarruj sehingga pakaiannya tidak seperti pakaian bagi akhwat yang marak saat ini) maka tetap saja antunna adalah fitnah bagi kaum laki-laki...

▶ Bagi laki-laki yang awam, maka fitnah besar mereka adalah wanita-wanita telanjang (berpakaian tapi hakikatnya telanjang), yang tidak menggunakan hijab, yang berpakaian seksi...

▶ Adapun para ikhwan fitnah wanita yang berpakaian seksi itu bagi mereka besar juga, namun lebih besar lagi fitnah antunna yang sudah berpakaian dan berhijab syar'iy.

Mereka bisa menundukkan pandangan terhadap wanita-wanita seksi, namun sulit menundukkan hati terhadap akhwat yang berpakaian syar'iy.

Bagi kami (para ikhwan), wanita yang seksi di jalan-jalan itu biasa, kami bisa menundukkan pandangan dari mereka, namun yang tidak biasa bagi kami adalah mengetahui ada akhwat berpakaian syar'iy lewat di dekat kami dan sangat sulit untuk menjaga hati kami, benar kami menundukkan pandangan namun hati dan pikiran kami sulit untuk ditundukkan...

Melihat wanita yang berpakaian seksi lewat di depan kami, kemudian kami berpaling dan beristighfar itu tidak seberat, melihat kibasan ujung jilbab panjang dan hitam salah seorang dari antunna, itu akan *terus terbayang-bayang dan mengganggu hati-hati kami*..."

(Selesai perkataan kakaknya)

Ketika si adik menceritakan hal itu kepada kami, maka sejak itu kami menghindari jalan melewati tempat yang biasanya dilalui ikhwan, agar tidak mengganggu mereka dengan ujung jilbab kami..
Allahul musta'aan...

✍🏻Dikutip dari Note Maryam Habsyi dengan sedikit perubahan.

***

Buat akhwaty yang berniqab... berhati-hatilah dengan lambaian hijab hitam plus cadarmu yang kini semakin banyak model dan nampak indah dengan berbagai kreasi perancang busana hijab syar'i.

Modelnya saja sudah bermacam-macam dan menurut beberapa akhwat yang melihat jadi membuat tampak cantik yang mengenakannya. Padahal fungsi hijab adalah menutupi.. jika masih nampak cantik dan mengundang fitnah, apanya yang dihijabi?

Perlu direnungkan juga suara hati sebagian kaum adam di atas, warna hitam saja sudah membuat mereka sulit menahan hati, apalagi dengan berbagai model dan bentuknya.

📝Direpost oleh wag Ukhuwah Keluarga Sakinah

________________________________
Dishare Al Fawaid Al Ilmiyah / Pembimbing Ustadz Badru Salam, Lc Jumuah 14 Shofar 1439 H / 3 November 2017

(Dari http://www.salamdakwah.com/artikel/4538-sesyari-apapun-hijabmu-engkau-tetap-fitnah-bagi-kami )

APAKAH MENYENTUH ISTRI MEMBATALKAN WUDHU? Jawaban:Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini, ada berbagai...
20/11/2020

APAKAH MENYENTUH ISTRI MEMBATALKAN WUDHU?

Jawaban:

Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini, ada berbagai pendapat yang cukup banyak.

(Lihat al-Majmu’ 2:34 Imam Nawawi). Di sini kami akan sebutkan tiga pendapat saja:

Pendapat Pertama: Menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak, tetapi kalau ada pembatasnya seperti kain, maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini populer dalam madzhab Syafi’i. Pendapat berlandaskan dengan berbagai argumen, yang paling masyhur dan kuat adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 43.

أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ

“Atau kamu telah berjima’ dengan istri.” (QS. An-Nisa’: 43).

Mereka mengartikan kata لاَمَسْتُمُ dalam ayat tersebut dengan menyentuh. (Lihat al-Umm 1:30 oleh Imam Syafi’i dan al-Majmu’ 2:35 oleh Imam Nawawi).

Pendapat Kedua: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan beberapa dalil berikut:

Dalil Pertama:

Ketika seseorang berwudhu, maka hukum wudhunya itu hukum asalnya suci dan tidak batal sehingga ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asalnya. Dalam hal ini, pembatal itu tidak ada, padahal kita ketahui bersama bahwa menyentuh isteri adalah suatu hal yang amat sering terjadi. Seandainya itu membatalkan wudhu, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan kepada umatnya dan masyhur di kalangan sahabat, tetapi tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang berwudhu hanya karena sekedar menyentuh istrinya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21:235).

Dalil Kedua:

Dari Aisyah d bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi. Saya (Urwah) berkata: Tidaklah dia kecuali Anda kan? Lalu Aisyah tertawa. (Shahih. Riwayat Tirmidzi: 86, Abu Dawud: 178, Nasa’i: 170, Ibnu Majah: 502 dan dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah: 323. Lihat pembelaan hadis ini secara luas dalam at-Tamhid 8:504 Ibnu Abdil Barr dan Syarh Tirmidzi 1:135-138 Syaikh Ahmad Syakir).

Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu sekalipun dengan syahwat. Demikian ditegaskan oleh Syaikh al-Allamah as-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Nasa’i 1:104.

Dalil Ketiga:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Saya pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, maka beliau menyentuhku lalu saya pun mengangkat kedua kakiku, dan bila beliau berdiri, maka aku membentangkan kedua kakiku seperti semula. (Aisyah) berkata: “Rumah-rumah saat itu masih belum punya lampu”. (HR. Bukhari: 382 dan Muslim: 512).

Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1:638 bahwa kejadian di atas bisa jadi karena ada pembatasnya (kain) atau kekhususan bagi Nabi, maka takwil ini sangat jauh sekali dari kebenaran, menyelesihi dhahir hadis dan takalluf (menyusahkan diri). (Periksa Nailul Authar asy-Syaukani 1:187, Subulus Salam as-Shan’ani 1:136, Tuhfatul Ahwadzi al-Mubarakfuri 1:239, Syarh Tirmidzi Ahmad Syakir 1:142).

Dalil Keempat:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidur maka saya mencarinya lalu tanganku mengenai pada kedua punggung kakinya yang tegak, beliau shalat di masjid seraya berdoa: “Ya Allah saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu…”. (HR. Muslim: 486).

Hadis ini menunjukkan bahwa istri menyentuh suami tidaklah membatalkan wudhu. Adapun penjelasan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 4:152 bahwa kejadian tersebut bisa jadi karena ada pembatas kainnya, maka menyelisihi dhahir hadis. (Lihat at-Tamhid 8:501 Ibnu Abdil Barr dan Tafsir al-Qurthubi 5:146).

Dalil Kelima:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sedangkan saya tidur terbentang di depannya layaknya jenazah sehingga apabila beliau ingin melakukan witir, maka beliau menyentuhku dengan kakinya”.

(HR. Nasai 1/102/167. Imam Za’ilai berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat shahih dan dishahihkan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ 2:35).

Hadis ini menunjukkan bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu dengan kaki atau anggota badan lainnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam at-Talkhis hal. 48: “Sanadnya shahih, hadis ini dijadikan dalil bahwa makna “Laamastum” dalam ayat adalah jima’ (berhubungan) karena Nabi menyentuh Aisyah dalam shalat lalu beliau tetap melanjutkan (tanpa wudhu lagi -pent)”.

Pendapat Ketiga:

Rincian:

Batal wudhunya apabila menyentuh wanita dengan syahwat, dan tidak batal apabila tidak dengan syahwat. Dalil mereka sama seperti pendapat kedua, tetapi mereka membedakan demikian dengan alasan “Memang asal menyentuh tidak membatalkan wudhu, tetapi menyentuh dengan syahwat menyebabkan keluarnya air madhi dan mani, maka hukumnya membatalkan” (Lihat al-Mughni 1:260 Ibnu Qudamah).

Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua yaitu:

Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat ataupun tidak, kecuali apabila mengeluarkan air mani dan madhi maka batal wudhunya atau minimal adalah pendapat ketiga.

Adapun pendapat pertama, maka sangat lemah sekali karena maksud ayat tersebut adalah jima’ (hubungan suami istri) berdasarkan argumen sebagai berikut:

Salah satu makna kata لَمَسَ dalam bahasa Arab adalah jima’ (al-Qamus al-Mukhith al-Fairuz Abadi 2:259).

Para pakar ahli tafsir telah menafsirkan ayat tersebut dengan jima’ diantaranya adalah sahabat mulia, penafsir ulung yang dido’akan Nabi, Abdullah bin Abbas, demikian p**a Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Mujahid, Thawus, Hasan Al-Bashri, Ubaid bin Umair, Said bin Jubair, Sya’bi, Qotadah, Muqatil bi Hayyan dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/550). Pendapat ini juga dikuatkan Syaikh ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 5/102-103 dan Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid.

Mengkompromikan antara ayat tersebut dengan hadis-hadis shahih di atas yang menegaskan bahwa Rasulullah n menyentuh bahkan mencium istrinya (Aisyah) dan beliau tidak berwudhu lagi.

Imam Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid 8:506 dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Talkhis menukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: “Seandainya hadis Aisyah tentang mencium itu shahih, maka madzhab kita adalah hadis Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam”. Perkataan serupa juga dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi, pejuang madzbab Syafi’i. Hal ini menunjukkan bahwa kedua imam tersebut tidak menetapkan bahwa maksud لاَمَسْتُم dalam ayat tersebut bermakna “Menyentuh” karena keduanya menegaskan seandanya hadis Aisyah shahih, maka beliau berdua berpendapat mengikuti hadis. Seandainya kedua imam tersebut berpendapat seperti hadis, maka mau gak mau harus menafsirkan ayat tersebut bermakna “jima” sebagaimana penafsiran yang shahih. (Syarh Tirmidzi 1/141 oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Demikianlah jawaban yang kami yakini berdasarkan dalil-dalil yang shahih, bukan fanatik madzhab dan mengikuti apa kata banyak orang. Semoga Allah menambahkan ilmu dan memberikan keteguhan kepada kita. Wallahu A’lam

09/11/2019

SANGGAHAN MAULID 1

Benarkah Sunnah Menyambut Maulid Nabi???

SANGGAHAN

TERHADAP RISALAH PELAJAR PONDOK YANG BERTAJUK

‘MAULIDURRASUL DENGAN DALIL-DALIL YANG NYATA’
Disediakan oleh: Ibnu Umar, Kota Bharu, Kelantan.

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih

Segala puja dan puji bagi Allah Tuhan yang mengutus Nabi Muhammad untuk rahmat seluruh alam. Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi yang terakhir Muhammad s.a.w. dan ke atas keluarganya serta para sahabatnya.

Merujuk kepada risalah pelajar pondok Pasir Tumbuh yang bertajuk ‘Maulidurrasul Dengan Dalil-Dalil Yang Nyata’, maka kami kemukakan risalah ini untuk memberi penjelasan kepada masyarakat, bahawa ‘SEBENARNYA TIDAK ADA SATU PUN DALIL YANG NYATA SAMADA AL-QURAN, AS-SUNNAH, IJMA’ MAUPUN QlAS, BERKENAAN DENGAN AMALAN MERAYAKAN HARl KELAHIRAN NABI MUHAMMAD S.A.W.’

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pelajar pondok itu bukannya dalil ulamak Ahlissunnah, tetapi dalilnya sendiri semata-mata. Ini kerana tidak ada seorang pun di kalangan ulamak Ahlissunnah Waljamaah yang dahulu (salaf), bermula dengan para sahabat Rasulullah s.a.w., kemudian diikuti oleh para ulamak di kalangan tabien yang mengadakan sambutan maulidurrasul. Para Imam Mazhab Empat, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafie dan Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah mengadakan sambutan maulidurrasul. Demikianlah juga keadaannya, para Imam Hadis yang terkenal seperti Bukhari, Muslim, Tarmizi, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasai dan lain-lain tidak pernah kedengaran di telinga kita mereka ini telah mengadakan sambutan maulidurrasul sebagaimana yang diadakan sekarang.

Ulamak dan Para Imam yang tersebut di atas adalah sudah diterima dan disepakati oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia sebagai muktabar, pandangan dan mazhab mereka dipegang dan diamal oleh umat Islam sehingga kini. Jadi, kenapa kita yang mengaku bermazhab Syafie tidak mahu mengikut dan beramal dengan amalan Syafie dalam hal ini? Mungkinkah kita hanya mengaku bermazhab Syafie tetapi pegangannya tidak kita ikuti! Agaknya kitab karangan Imam Syafie yang terkenal iaitu al-Umm pun tidak baca.

Oleh itu, jangan marah kalau kita katakan ‘ Hanya Orang-Orang Sesat Sahaja Yang S**a Melakukan Amalan Bidaah’.

CUBA KITA LIHAT SATU PERSATU

HUJJAH DAN DALIL YANG DIKEMUKAKAN OLEH PELAJAR PONDOK PASIR TUMBUH ITU.

1. Firman Allah yang bermaksud: “Maka mereka yang beriman dengannya (Muhammad), membesarkannya dan membantunya dan mengikut cahaya (al-Quran) yang diturunkan bersamanya. Mereka itulah yang mendapat kejayaan.” (Surah al-A’raf, Ayat:157)

Kita jawab:- Kalimah ‘membesarkan Nabi’ dalam ayat ini tidak ada kaitan dengan sambutan maulid yang diadakan. Tidak ada seorang pun Ulamak Salaf dan para mufassir yang muktabar mentafsirkan ayat ini dengan mengadakan maulid. Dan setakat ini kita belum pernah terbaca dalam mana-mana kitab tafsir yang menghubungkan ayat ini dengan maulidurrasul. Mungkin pelajar pondok yang berkenaan sahajalah yang mentafsir begitu.

2. Firman Allah Taala yang bermaksud: “Sesiapa yang membesarkan tanda-tanda Allah, maka membesarkan itu ialah setengah daripada menjunjung perintahNya dan menjauhi laranganNya.” (al-Haj : 32)

Kita jawab:- Ada sedikit perbedaan antara terjemahan yang dibawa oleh pelajar pondok dengan terjemahan yang terdapat di dalam Tafsir Pimpinan ar-Rahman Kepada Pengertian al-Quran yang ditulis oleh Shaikh Abdullah bin Muhammad Basmih, cetakan keenam 1983, yang berbunyi :

“Demikianlah (ajaran Allah); dan sesiapa yang menghormati syiar-syiar agama Allah, maka (dialah orang yang bertaqwa) kerana sesungguhnya perbuatan itu satu kesan dari sifat-sifat taqwa hati orang mukmin.”

Di sini kita tidak hendak bincang tentang perbedaan terjemahan itu, yang perlu dilihat apakah maksud ‘Syiar-Syiar Agama Allah.’ Cuba kita lihat nota kaki (hasyiah) yang terdapat di dalam Tafsir Pimpinan ar-Rahman itu sendiri yang berbunyi:

Syiar artinya : Lambang. Syiar agama Allah atau Syiar Islam ialah: Amal ibadat yang zahir dan benda-benda yang berhubung dengan ugama, yang melambangkan ugama Allah. Misalnya di dalam ibadat haji ialah tawaf, saie, berwuquf di Arafah dan sebagainya. Demikian juga binatang ternakan yang dijadikan qurban atau yang dijadikan hadyah kepada faqir miskin yang ada di Mekah.

Di dalam huraian yang dibawa oleh penulis tafsir tersebut, kita tidak dapati syiar Agama Allah dimaksudkan dengan maulid, bahkan dimaksudkan dengan amalan ibadat haji itu sendiri iaitu Tawaf, Saie dan Wuquf. Untuk keterangan lebih lanjut sila rujuk tafsir al-Azhar yang di tulis oleh Prof. Dr. Hamka. Saya mencadangkan buku ini kerana ianya boleh dibaca oleh semua orang samada yang berkemampuan dalam bahasa Arab atau tidak. Kalau anda berkemampuan dalam bahasa Arab, masih banyak lagi buku-buku tafsir yang boleh anda rujuk contohnya, Tafsir Ibnu Kasir, Qurtubi, al-Munir, al-Asas fi at-Tafsir tulisan Said Hawa dan lain-lain, kesemuanya tidak mentafsir ‘SYIAR-SYIAR ALLAH DENGAN MENGADAKAN MAULIDURRASUL.’ Hanya pelajar pondok berkenaan sahaja yang mentafsir begitu.

3. Meriwayat Imam Bukhari dalam Sohihnya, begitu juga Imam Ismail dan Abdul Razak :

“Bahawa diringankan azab Abi Lahab pada hari Isnin kerana memerdekakan Thuaibah iaitu hamba yang menceritakan khabar gembira tentang kelahiran Nabi s.a.w.”

Kita jawab:- Dakwaan penulis pondok berkenaan bahawa hadis ini terdapat dalam Sohih Bukhari itu adalah palsu semata-mata dan satu fitnah terhadap Imam Bukhari. Begitu juga ianya tidak terdapat di dalam riwayat Ismaieli dan Abdul Razak. Cuma Suhaifi ada mengemukakan cerita ini tanpa menyebut sanad. Sila lihat Umdatul Qari, karangan Badruddin Aini, juz. 20, halaman 95. Fathulbari, juzu’ 19, halaman 174 - 175. Karangan al-Hafiz Ibnu Hajar Asqalani. Raudhul Unuf, juzu’ 5, halaman 191. Karangan as-Suhaili.

Yang ada dalam Sohih Bukhari hanyalah kata-kata Urwah berkenaan dengan Thuaibah pernah menyus**an Nabi s.a.w. setelah dimerdekakan oleh Abu Lahab. Di sana ada satu riwayat lain yang mengatakan Thuaibah tidak dimerdekakan pada hari kelahiran Nabi s.a.w. bahkan ianya dimerdekakan selepas hijrah Nabi s.a.w. ( Ibid, juzu’ 5, halaman 191). Dan juga tidak terdapat kata-kata “Diringankan azab Abu Lahab pada hari Isnin kerana memerdekakan Thuaibah” di dalam kata-kata Urwah itu. Untuk keterangan lanjut, sila lihat Sohih Bukhari, Kitabun Nikah, Bab Wa Ummahatukumullati Ardha’nakum.

Apa yang menghairankan kita, tidak ada seorang pun di kalangan pensyarah hadis ketika menghuraikan kata-kata Urwah ini membuat kesimp**an bahawa dengan menyambut maulidurrasul, seseorang muslim akan diringankan azabnya di dalam neraka sebagaimana yang berlaku terhadap Abu Lahab. Jelaslah idea kelebihan menyambut maulidurrasul berasaskan kata-kata Urwah itu tidak berpandukan pendapat ulamak muktabar.

Berdasarkan kenyataan di atas, dapatlah kita ringkaskan seperti berikut:

1. Bahawa kata-kata tersebut adalah semata-mata kala-kata Urwah. Bukannya hadis Nabi. Lagi pun Urwah meriwayatkannya secara Mursal. Beliau tidak menceritakan daripada siapa beliau mengambil kata-kata ini. Riwayat yang mursal tidak boleh dijadikan hujjah syari’yyah.

II. Peristiwa diringankan azab Abu Lahab pada hari Isnin ini hanya mimpi Abbas sewaktu belum memeluk Islam. Kenyataan ini juga tidak terdapat dalam Bukhari. Ulamak sudah sepakat (ijma’) bahawa mimpi seseorang apalagi seorang kafir tidak boleh dijadikan hujjah syar’iyyah, biar bagaimana tinggi keimanan, keilmuan dan ketaqwaannya. Kecuali mimpi para Nabi, kerana mimpi para Nabi adalah wahyu dan wahyu adalah benar. Mengikut pendapat ulamak salaf dan khalaf, bahawasanya orang kafir tidak diberi pahala di atas amalan baik yang dikerjakannya apabila mati di dalam kekufurannya itu. Ini berdasarkan kepada firman Allah Taala yang bermaksud:

” Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.” (al-Furqaan, ayat: 23)

4. Diriwayatkan daripada Qatadah al-Ansori, Bahawasanya Nabi ditanya tentang berpuasa hari Isnin, berkata Nabi s.a.w: “Itulah hari yang dilahirkan aku padanya dan diturunkan kenabian ke atasku.”

Kita jawab :- Hadis ini tiada kaitan langsung dengan ‘Maulid’ bahkan ianya berkaitan dengan berpuasa sunat hari Isnin. Inilah sikap kita, sudah terbalik, mana amalan yang terdapat dalam hadis jarang kita amalkan, iaitu seperti berpuasa sunat hari Isnin tetapi amalan yang tiada nas seperti ‘Maulid’ itu kita amalkan dan kita pertahankannya mati-matian. Sudah terbalik nampaknya seperti kata orang “Burung punai kena kail, ikan sepat kena getah pemikat.” “Hujan ke langit, Air sungai deras ke hulu.”

5. Orang yang pertama merayakan maulid adalah sultan yang dikatakan seorang raja yang adil, warak, zuhud dan alim – Sultan Ibnu Malik al-Muzaffar – sehinggakan ulamak-ulamak yang muktabar didakwa telah menghadiri majlis maulidnya. Malah ulamak besar Syeikh Abu Khattab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab Al-Tanwir yang membicarakan amalan maulid.

Kita jawab:-

Raja ini (wafat 630 H) bukanlah seperti yang didakwa itu bahkan dia seorang yang pemboros, pembazir harta rakyat dan zalim. Dialah raja yang pertama mengada-adakan (bid’ah) perayaan maulid nabi sehingga terbantut segala kegiatan ekonomi masyarakat, kerana perayaan ini dilakukan secara besar-besaran bermula dari bulan Safar lagi. Sambutan ini disertakan dengan nyanyian, permainan, dan berbagai-bagai bentuk hiburan. Lihat Mu’jamul Buldan jilid 1 ms 87 karangan Yaaqut al-Hamawi, Al-Qaulul Muktamad karangan Imam Ahmad b Muhammad Misri al-Maliki, Wafayatul A’yan karangan Ibnu Khallikan dan Duwalul Islam karangan Imam Zahabi.

Kalau Suyuti memuji raja ini bagaimana p**a dengan ulamak-ulamak lain terutamanya Yaqut yang hidup sezaman dengan Raja Muzaffar itu sendiri. Siapakah agaknya lebih tahu tentang raja itu; Yaqut atau Suyuti?

Berkenaan Syeikh Abu Khattab Ibnu Dihyah – Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani menulis di dalam Lisanul Mizan jilid 4 ms 296. Dia seorang yang s**a memburuk-burukkan imam-imam dan ulamak-ulamak salaf (bermulut hodoh), dungu, sangat sombong, dangkal dan alpa dalam hal-hal agama. Hafiz Ibnu Hajar menulis lagi tentangnya; Ibnu Najjar berkata:

“Saya melihat ulamak bersepakat tentang dusta dan kelemahannya.” (Ibid ms 295)

Besar sungguh ulamak ini sehingga semua ulamak sepakat mengatakan dia pendusta dan lemah! Ulamak-ulamak seperti inilah yang sentiasa bersedia menjadi pengampu dan pembodek raja yang zalim!!

6 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah: Bersabda Rasulullah: “Tidak berhimpun satu perhimpunan pada satu majlis di dalam masjid daripada masjid-masjid Allah, lalu mereka membaca al-Quran dan bertadarus sesama mereka, melainkan turun ke atas mereka ketenangan yang diselubungi rahmat Allah serta dilingkungi para malaikat di sisinya.” (Sohih Muslim).

Kita jawab :- Hadis ini langsung tidak menyentuh soal Maulidurrasul, bahkan hadis ini menyentuh soal membaca al-Quran. Ini telah disepakati bahawa ianya sabit dan tidak ada apa yang hendak dibantah lagi. Yang kita bantah laiah perayaan menyambut maulidurrasul bukannya membaca al-Quran.

7. Bersabda Nabi s.a.w: “Tidaklah berhimpun satu perhimpunan di dalam suatu majlis lalu mereka tidak berzikir mengingati Allah dan tidak berselawat ke atasku, melainkan kekurangan dan penyesalan ke atas mereka di hari Qiamat.”

Kita jawab :- Hadis inipun tidak ada kena mengena dengan maulidurrasul, dan tidak ada kena mengena dengan berdiri sewaktu berselawat.

8. Firman Allah Taala: “Kami ceritakan kepada engkau setiap perkhabaran daripada kisah-kisah Nabi yang menguatkan hati engkau dengannya dan datang kepada engkau dalam perkhabaran ini, kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang yang beriman.” (Hud : 120).

Kita jawab:- Ayat ini juga tiada kaitan langsung dengan maulidurrasul yang sedang kita bicarakan. Saya pun tidak faham kenapa Pelajar Pondok berkenaan itu membawa ayat ini dalam memberi hujjah tentang maulid. Nampaknya beliau tidak kena memasang sekeru pada nat. Kalau begini jadinya maka akan rusaklah ugama kita. Nauuzubilaah min zaalik..

9. Meriwayatkan Imam Ahmad dan Hakim daripada Suhaib, Nabi bersabda: “Seseorang yang terlebih baik di antara kamu ialah mereka yang menjamu makanan dan menjawab salam.” Berkata al-lraqi hadis ini sahih sanadnya. Meriwayat Tirmizi: “Bahawa sahabat-sahabat Nabi tidak bersurai mereka daripada majlis bertilawah al-Quran dan berzikir, melainkan selepas menikmati jamuan.”

Kita jawab:- Hadis-Hadis ini juga tidak ada kena mengena dengan merayakan maulidurrasul. Kita nampak pelajar pondok berkenaan seolah-olah ingin menyatakan bahawa apa salahnya kita merayakan maulidurrasul kerana maulid itu pengisiannya ialah selawat, berzanji, baca rawi, berzikir, baca al-Quran dan makan minum. Semua perbuatan tersebut adalah ibadah dan boleh pahala. Jadi manakah yang dikatakan bidaah itu. Adakah baca al-Quran, berzikir, berselawat itu dikatakan bidaah? Mungkin pelajar pondok tersebut menjawab tidak bidaah sekali-kali! Bahkan mendapat pahala p**a.

Kalau begitu keadaannya cuba p**a jawab soalan ini iaitu: Kenapa kita menghukum Loteri Kebajikan Masyarakat itu sebagai judi? Tiket yang kita beli dengan harga satu ringgit itu adalah kita anggap sedekah semata-mata, kertas yang bertulis nombor itu adalah semata-mata kertas, tidak haram menyentuh kertas itu. Dan duit seratus ribu yang kita dapat itu ialah hadiah daripada Kebajikan Masyarakat semata-mata. Mana judinya, semua nampak halal belaka. Begitulah halnya maulid, kalau kila lihat pengisiannya memanglah baik-baik belaka. Sebab itulah ramai orang menjadi keliru. Yang kita persoal di sini ialah menyambut maulid itu sendiri, adakah ianya pernah dilakukan oleh sahabat, tabien dan para ulamak salafussoleh? Jawabnya tidak pernah.

Jadi, kenapa p**a kita memandai-mandai menokok tambah ibadat yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w, sahabat, tabien dan ulamak yang terdahulu?

10/09/2019

Adakah Bid'ah Hasanah Dalam Islam?

Mari kita cari tahu

Sebagian dari kaum muslimin masih bingung kalau dikatakan kepadanya bahwa "Setiap bid'ah sesat", diantara mereka ada yang mengatakan: "Imam Syafi'ie saja membaginya dua", yang lain akan mengatakan: "Umar bin Khaththab saja mengatakan: "Ini adalah sebaik-baik bid'ah", ada lagi yang mengatakan: "Yang pentingkan niatnya", dan banyak lagi, dan banyak lagi.

Oleh sebab itulah di dalam tulisan ini akan disampaikan pendapat manakah yang paling benar, karena kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Dan tulisan di bawah hanya fokus terhadap permasalahan ini, yaitu bantahan terhadap yang tidak percaya bahwa setiap bid'ah sesat, tulisan ini tidak mencakup semua yang berkenaan dengan bid'ah. jadi harap dimaklumi adanya.

Adakah Bid'ah Hasanah?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Artinya: "Jauhilah perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan di dalam neraka"[1].

Jadi, tidak ada di dalam Islam bid'ah hasanah dan bid'ah buruk, karena lafadz: كُلُّ di dalam hadits di atas menunjukkan keumuman dan keluasan, oleh karena itu setiap bid'ah di dalam agama sesat tanpa ada pengecualian dari sisi-sisinya, hadits ini senada dengan firman Allah Ta'ala:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ} [آل عمران: 185]

Artinya: "Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati"[2].

Apakah mungkin ada yang akan mengatakan: "Bahwa sebagian manusia ada yang tidak akan mati?!", lebih lagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memulai pernyataan beliau dengan peringatan: "Jauhilah perkara-perkara yang baru", apakah mungkin bersamaan dengan semua ini bahwa beliau menginginkan hanya sebagian bid'ah?

Imam Asy Syathibi rahimahullah menjelaskan tentang dalil-dalil umum pencelaan terhadap bid'ah: "Sesungguhnya dalil-dalil buruknya keumuman bid'ah, ada yang berupa mutlak global yang sangat banyak, tidak ada pengecualian sama sekali dan tidak ada di dalamnya yang menunjukkan bahwa sebagian darinya ada petunjuk dan terdapat p**a sebuah riwayat yang menyatakan: "Setiap bid'ah itu sesat kecuali ini dan itu", dan tidak ada sesuatupun yang semakna dengan ini"[3].

Dan kita bertanya kepada orang-orang yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak menginginkan bahwa seluruh bid'ah itu sesat dengan sabda beliau:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Maka ungkapan apakah yang lebih mengena dari ini untuk menunjukkan akan penolakan terhadap bid'ah-bid'ah secara menyeluruh?

Dan saya berharap dari saudara yang berbeda pendapat dalam masalah ini, agar berhenti sejenak di sebuah ungkapan syari'at yang sangat mendalam dari seorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu kecuali wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melampauinya, maka jadilah seorang muslim yang selalu berhenti di firman Allah Ta'ala dan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan janganlah pendapatnya membuat dirinya sombong yang pada akhirnya menyebabkannya berbuat dosa.

Berkata Ibnu 'Utsaimin rahimahullah: "Sungguh anda akan merasa benar-benar heran kepada sebagian orang yang mengetahui sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Artinya: "Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan di dalam neraka".

Perlu diketahui, bahwa sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam كُلُّ بِدْعَةٍ adalah sebuah keumuman dan menyeluruh yang dikuatkan dengan kata yang paling kuat untuk menunjukkan keglobalan dan keumuman, yaitu: كُلُّ , yang berbicara dengan perkataan umum ini adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengetahui makna dari ucapan ini, beliau adalah makhluk yang paling fasih dan orang yang sangat memperhatikan pemberian nasehat bagi umatnya, beliau tidak mengucapkan sebuah ucapan kecuali beliau menginginkan makna dari itu. Intinya, ketika Nabi bersabda: "Setiap bid'ah sesat", beliau mengetahui makna apa yang beliau katakan, ucapan ini keluar dari mulut beliau sebagai kesempurnaan untuk memberikan nasehat kepada umatnya.

Jika telah terkumpul secara sempurna tiga perkara di dalam sebuah ucapan; kesempurnaan keinginan memberikan nasehat, kesempurnaan penjelasan dan kefasihan serta kesempurnaan pengetahuan, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ucapan tersebut diinginkan sesuai apa yang ditunjukkan oleh makna tersebut.

Maka apakah setelah keumuman ini, layak bagi kita untuk membagi bid'ah menjadi dua bagian atau lima bagian? pembagian ini tidak akan benar selamanya, sedangkan apa yang disebutkan dari beberapa orang ulama tentang adanya bid'ah hasanah, maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan:

Pertama: perbuatan itu bukan bid'ah akan tetapi disangka bid'ah.

Kedua: perbuatan itu bid'ah maka ia sesat, akan tetapi tidak diketahui keburukannya"[4].

Kita juga bisa katakan kepada yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, pembuatan hukum adalah hak Allah Rabb semesta alam dan bukan hak manusia, jika boleh ada tambahan di dalam agama Islam, maka niscaya boleh juga pengurangan, oleh sebab itu Samurah menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا حَدَّثْتُكُمْ حَدِيثًا فَلَا تَزِيدُنَّ عَلَيْهِ

Artinya: "Jika aku berbicara kepada kalian sebuah hadits maka jangan pernah sekali-kali kamu menambahkannya"[5].

Oleh sebab itulah, para generasi salafush shalih mewasiatkan dengan ucapan yang senada. Seperti; Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, salah seorang shahabat yang dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan sunnah dan memerangi bid'ah, beliau berkata:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya: "Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat"[6].

Begitu juga perkataan Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau juga seorang shahabat yang sangat gigih untuk mengamalkan sunnah:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً.

Artinya: "Semua bid'ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya baik"[7].

Hasan Al-Bashry rahimahullah seorang tabi'ie terkenal (wafat: 110H) berkata:

اِعْرِفُوا الْمُهَاجِرِيْنَ بِفَضْلِهِمْ، وَاتَّبِعُوْا آثاَرَهُمْ، وَإِيَّاكُمْ وَمَا أَحْدَثَ النَّاسُ فِي دِيْنِهِمْ، فَإِنَّ شَرَّ الأُمُوْرِ اْلمُحْدَثَاتُ.

Artinya: "Kenalilah keutamaan-keutamaan kaum Muhajirin dan ikutilah jejak mereka, hati-hatilah kalian dari sesuatu baru yang dibuat-buat manusia di dalam agama mereka, karena sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru (di dalam agama)"[8].

Berkata Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (wafat: 241H):

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم وَالاِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعِ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ.

Artinya: "Landasan sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang ada di atasnya para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meneladani mereka, meninggalkan bid'ah-bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat"[9].

Alasan-alasan yang digunakan untuk menyatakan bahwa ada bid'ah hasanah di dalam agama Islam beserta bantahannya

1. Pemahaman yang keliru dari hadits:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Artinya: "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dari pahala-pahala mereka dan barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa dan dosa yang mengerjakan sunnah yang buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa sedikitpun pelakunya"[10].

Bantahan akan pendalilan dari hadits ini:

Bahwa makna مَنْ سَنَّadalah barangsiapa yang mencontohkan sunnah sebagai pengamalan bukan sebagai pensyari'atan, jadi maksud hadits ini adalah mengamalkan apa yang shahih dari sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan yang menunjukkan akan hal ini adalah sebab yang karenanya keluar hadits ini yaitu tentang bershadaqah yang disyari'atkan[11].
Yang mengatakan: مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً beliau juga lah yang mengatakan: كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, dan tidak akan mungkin keluar dari mulut Ash Shadiq Al Mashduq (gelar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya orang yang jujur dan perkataannya dibenarkan) sebuah sabda yang mendustakan sabda beliau yang lain, dan selamanya tidak akan mungkin pernah sabda beliau bertentangan[12].
Oleh karena inilah, maka tidak boleh bagi kita mengambil sebuah hadits dan berpaling dari hadits yang lain, sesungguhnya ini adalah sikap orang yang beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap yang lain.

Bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: مَنْ سَنَّ (barangsiapa yang mencontohkan sunnah) dan beliau tidak mengatakan من ابتدع (barangsiapa yang membuat yang baru), dan beliau juga berkata: فِى الإِسْلاَمِ (di dalam agama Islam) dan hal-hal bid'ah bukan dari Islam dan beliau juga bersabda: حَسَنَةً (yang baik) dan bid'ah bukan dari kebaikan[13].
Tidak pernah ternukilkan dari satu orang salaf ash shalihpun, bahwa ada yang menafsirkan as Sunnah al Hasanah dengan bid'ah, yang dibuat oleh manusia.
Bahwa makna dari مَنْ سَنَّ adalah barangsiapa yang menghidupkan sunnah yang tadinya ada kemudian hilang, lalu ia menghidupkannya, dan yang menunjukkan ini adalah lafazh hadits ini dari riwayat Ibnu Majah:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Artinya: "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik lalu dikerjakan maka niscaya baginya pahalanya dan seperti pahala yang mengerjakannya tidak mengurangi dari pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang memulai memberi contoh keburukan maka niscaya baginya dosanya dan mendapatkan dosa yang mengerjakannya setelahnya tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun"[14].

2. Pemahaman yang salah terhadap ucapan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu:

نِعْمَ الْبِدْعَة هَذِهِ

Artinya: "Inilah sebaik-baiknya bid'ah"[Hadits riwayat Bukhari (no. 2010)].

Jawabannya:

Tidak boleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanding dengan perkataan siapapun dari manusia, siapapun dia, tidak dengan perkataan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang merupakan orang yang paling utama di dalam umat ini setelah nabinya, tidak juga boleh ditanding dengan perkataan Umar radhiyallahu 'anhu, yang merupakan orang kedua paling utama di dalam umat ini, apalagi perkataan-perkataan selain mereka berdua[15].
Berkata Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:

يُوشكُ أَنْ تَنزلَ عَليكُم حِجارة من السماءِ ؛ أَقولُ لَكُم : قالَ رسولُ الله- صلى الله عليه وعلى آله وسلمَّ- وتقُولونَ : قالَ أَبو بكر وعُمر

"Aku khawatir bebatuan dari langit jatuh menimpa kalian, ketika aku katakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, tapi kalian malah mengatakan Abu Bakar dan Umar berkata seperti ini"[16].

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

لا رأي لأحد مع سنة سنها رسول الله صلى الله عليه وسلم

"Aku tidak membandingkan (ucapan) seseorang dibanding dengan sebuah sunnah yang telah disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"[17].

Berkata Imam Syafi'ie rahimahullah:

أجمع المسلمون على أنَّ من استبان له سنَّةٌ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ لم يحلَّ له أن يدعها لقول أحدٍ"

"Kaum muslimin telah bersepakat bahwa bagi siapa yang telah jelas baginya sebuah sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan seorangpun"[18].

Berkata Imam Ahmad rahimahullah:

من رد حديث رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فهو على شفا هلكة

"Barangsiapa yang menolak hadits nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka ia berada di tepi jurang kehancuran"[19].

Umar radhiyallahu 'anhu mengatakan ini ketika mengumpulkan seluruh manusia untuk shalat tarawih dan shalat tarawih bukanlah suatu yang bid'ah bahkan ia merupakan suatu sunnah yang sangat nyata, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummul Mu'minin Aisyah radhiyallahu 'anha: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu malam pernah shalat di dalam masjid, lalu orang-orang mengikuti shalatnya, kemudian beliau shalat pada malam berikutnya dan manusia bertambah banyak, kemudian mereka berkumpul pada malam keempat atau ketiga, akan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar menemui mereka dan ketika pagi harinya beliau bersabda:

« قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّى خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ »

"Aku telah melihat apa yang telah kalian kerjakan dan tidak ada yang menghalangiku keluar untuk menemui kalian, kecuali aku sangat takut shalat ini akan diwajibkan atas kalian" dan ini terjadi di bulan Ramadhan[20].

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan tentang penyebab kenapa sampai beliau meninggalkan shalat tarawih secara berjama'ah dan ketika umar radhiyallahu 'anhu melihat bahwa penyebab tersebut sudah hilang, maka beliau mengembalikan shalat tarawih dalam keadaan berjama'ah. Jadi, yang dikerjakan oleh Umar radhiyallahu 'anhu adalah asal ibadah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Makna bid'ah di dalam perkataan umar adalah bid'ah secara bahasa yang artinya: sesuatu yang dikerjakan tidak semisal dengan sebelumnya[21].
Berkata Asy Syathibi rahimahullah:

فَإِنْ قِيلَ: فَقَدْ سَمَّاهَا عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِدْعَةً وَحَسَّنَهَا بِقَوْلِهِ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ، وَإِذَا ثَبَتَتْ بِدْعَةٌ مُسْتَحْسَنَةٌ فِي الشَّرْعِ; ثَبَتَ مُطْلَقُ الِاسْتِحْسَانِ فِي الْبِدَعِ.

فَالْجَوَابُ: إِنَّمَا سَمَّاهَا بِدْعَةً بِاعْتِبَارِ ظَاهِرِ الْحَالِ; مِنْ حَيْثُ تَرَكَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتَّفَقَ أَنْ لَمْ تَقَعْ فِي زَمَانِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَا أَنَّهَا بِدْعَةٌ فِي الْمَعْنَى، فَمَنْ سَمَّاهَا بِدْعَةً بِهَذَا الِاعْتِبَارِ; فَلَا مُشَاحَةَ فِي الْأَسَامِي، وَعِنْدَ ذَلِكَ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى جَوَازِ الِابْتِدَاعِ بِالْمَعْنَى الْمُتَكَلَّمِ فِيهِ; لِأَنَّهُ نَوْعٌ مِنْ تَحْرِيفِ الْكَلِمِ عَنْ مَوَاضِعِهِ:

فَقَدْ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا: «إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ; خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ» ".

“Jika ada yang berkata: “Umar radhiyallahu ‘anhu sunnguh telah menamakannya bid’ah dan menganggapnya baik, dengan perkataannya: “Sungguh ini adalah sebaik-baiknya bid’ah”, dan jika telah tetap sebuah bidah yang dihasankan di dalam syariat maka telah tetap penganggapan baik di dalam perbuatan bid’ah.”

Maka dapat dijawab: "Beliau menamaknnya bid’ah dari ukuran keadaan secara lahir yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkannya dan bertepatan tidak terjadi di dalam masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, bukan bahwa hal itu sebuah bid’ah di dalam makna (yang syar’ie). Barangsiapa yang menamainya bid'ah dengan ukuran ini, maka tidak ada penarikan di dalam penamaan, maka pada saat itu tidak boleh dijadikan sebagai sebuah dalil atas kebolehan membuat sebuah bid'ah dengan makna yang dibicarakan di dalamnya, karena hal ini termasuk dari perubahan perkataan dari makna-maknanya; sungguh Aisyah radhiyallah anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan meninggalkan amalan padahal beliau menyukai untuk mengamalkannya, akrena takut beliau orang-orang mengerjakannya akhirnya diwajibkan atas mereka"[22].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan surat Al Baqarah ayat 117:

قال الإمام ابن كثير- رحمه الله- في "تفسيره" عند تفسير (سورة البقرة:117):"البدعة على قسمين: تارة تكون بدعة شرعية؛ كقوله - صلى الله عليه وسلم -: { كل محدثةٍ بدعة، وكل بدعةٍ ضلالة } وتارة تكون بدعة لغوية؛ كقول أمير المؤمنين عمر بن الخطاب عن جمعه إياهم على صلاة التراويح واستمرارِهم:"نعمت البدعة هذه" .

“Bid’ah itu dua bagian,; terkadang menjadi bid’ah yang syar’I seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap yang mengada-ngada adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” dan terkadang menjadi bid’ah secara bahasa, seperti perkataan Amirul mukminin Umar bin Khaththab dalam pengump**annya terhadap kaum muslim dalam shalat tarawih dan melanjutkannya atas mereka: “Sungguh ini adalah sebaik-baik bid’ah”.

Berkata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah:

"وأما ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية…" ثم ذكر رحمه الله قول عمر - رضي الله عنه -.

“Adapun apa yang disebukan di dalam perkataan para salaf berupa penganggapan baik sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanya di dalam bid’ah bahasa bukan syar’ie...”, kemudian setelah itu beliau menyebutkan perkataan umar radhiyallahu ‘anhu di atas. Lihat kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, hal. 233.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في "اقتضاء الصراط المستقيم" (2/592-593):

ثم نقول: أكثر ما في هذا تسمية عمر تلك بدعةً، مع حسنها، وهذه تسمية لغوية لا تسمية شرعية، وذلك أن البدعة في اللغة تعم كل ما فعل ابتداءً من غير مثالٍ سابقٍ، وأما البدعة الشرعية؛ فما لم يدل عليه دليل شرعي.

فإذا كان نص رسول الله - صلى الله عليه وسلم -قد دل على استحباب فعلٍ، أو إيجابه بعد موته، أو دل عليه مطلقاً، ولم يعمل به ألا بعد موته، ككتاب الصدقة الذي أخرجه أبوبكر - رضي الله عنه -، فإذا عمل ذلك العمل بعد موته، صح أن يسمى بدعة في اللغة؛ لأنه عمل مبتدأ، كما أن نفس الدين الذي جاء به النبي - صلى الله عليه وسلم -يسمى محدثاً في اللغة؛ كما قالت رسل قريشٍ للنجاشي عن أصحاب النبي - صلى الله عليه وسلم -المهاجرين إلى الحبشة:"إن هؤلاء خرجوا من دين آبائهم ولم يدخلوا في دين الملك، وجاؤوا بدينٍ محدثٍ لا يعرف".

ثم ذلك العمل الذي دل عليه الكتاب والسنة ليس بدعةً في الشريعة، وإن سمي بدعة في اللغة.

وقد علم أن قول النبي - صلى الله عليه وسلم -: { كل بدعةٍ ضلالة } لم يرد به كل عمل مبتدأ؛ فإن دين الإسلام، بل كل دين جاءت به الرسل؛ فهو عمل مبتدأ، وإنما أراد من الأعمال التي لم يشرعها هو - صلى الله عليه وسلم -).

"Yang paling banyak (dijadikan alasan) dalam permasalahan ini adalah penamaan umar radhiyallahu 'anhu bahwa hal itu adalah bid'ah padahal itu baik, dan penamaan ini adalah secara bahasa bukan penamaan secara syar'ie, hal ini karena bid'ah secara bahasa umum mencakup seluruh perbuatan yang dilakukan secara permulaan tidak ada contoh sebelumnya sedangkan bid'ah secara syar'ie adalah seluruh perbuatan yang tidak ditunjukkan atasnya satu dalil syar'i pun"

Maka jika ada penegasan Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menunjukkan anjuran sebuah perbuatan atau pewajibannya setelah meninggalnya atau ditunjukkan atasnya secara umum dan tidak dikerjakan kecuali setelah kematiannyaseperti penulisan sedekah yang dikeluarkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, jika dikerjakan perbuatan tersebut setelah kematiannya, maka benar dikatakan bid’ah secara bahasa karena ia adalah amalan yang dilakukan permulaan, sebagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan sesuatu yang baru secara bahasa, sebagaimana yang dikatakan oleh para utusan kaum Quraisy kepada Najasyi tentang para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhijrah ke daerah Habasyah: “Sesungguhnya mereka leuar dari agama nenek moyang mereka dan tidak masuk ke dalam agaram sang raja dan datang dengan agama yang baru tidak dikenal.” Kemudian amalan yang telah ditunjukkan oleh syariat bukan bidah secara syar’ie tetapi bidah secara bahasa. Dan telah diketahui bahwa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Setiap bid’ah sesat”, beliau tidak menginginkan setiap amalan yang permulaan, karena sesungguhnya agama Islam bahkan seluruh agama yang dibawa olh para Rasul adalah amalan yang permulaan, tetapi yang diinginkan adalah amalan yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”[23].

3. Pemahaman yang keliru terhadap sebuah atsar:

ما رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ

"Perkara yang dianggap oleh kaum muslimin baik maka hal itu di sisi Allah adalah baik"[24].

Jawaban terhadap pendalilan dengan atsar ini;

Atsar ini adalah hanya perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bukan hadits yang shahih dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
Ibnu Abdil Hadi rahimahullah berkata:

"(وروي) مرفوعاً عن أنس بإسنادٍ ساقطٍ، والأصح وقفه على ابن مسعودٍ".

"Atsar ini diriwayatkan secara marfu' (tersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) dengan sanad yang sangat lemah dan yang paling benar adalah diriwayatkan secara mauquf (hanya sampai kepada) Ibnu Mas'ud"[25].

Jamaluddin Az Zaila'i rahimahullah berkata:

"غريب مرفوعا، ولم أجده إلا موقوفا على ابن مسعود".

"Atsar ini gharib (asing) secara marfu' dan aku tidak mendapatkannya kecuali secara mauquf dari perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu"[26].

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

"هذا الحديث إنما يعرف من كلام ابن مسعودٍ".

“Hadits ini hanya dikenal dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu”[27].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

"ليس من كلام رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، وإنما يضيفه إلى كلامه من لا علم له بالحديث، وإنما هو ثابت عن ابن مسعودٍ"

“(Ini) bukan dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan disandarkan kepada sabdanya seorang yang tidak ada pengetahuannya dengan hadits, dan ia adalah tetap dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.”[28]

Berkata Imam Al Albani rahimahullah:

لا أصل له مرفوعاً، وإنما ورد موقوفاً على ابن مسعود

"Tidak ada asal riwayatnya secara marfu' akan tetapi diriwayatkan secara mauquf atas Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu"[29].

Bahwa makna "kaum muslimin" yang ada di dalam atsar tersebut adalah kembali kepada para shahabat nabi radhiyallahu 'anhum, sebagaimana yang ditunjukkan dari perkataan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

إن الله نظر في قلوب العباد، فوجد قلب محمد - صلى الله عليه وسلم -خير قلوب العباد، فاصطفاه لنفسه، فابتعثه برسالته،ثم نظر في قلوب العباد، بعد قلب محمد، فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد، فجعلهم وزراء نبيه، يقاتلون على دينه، فما رأى المسلمون حسناً فهو عند الله حسن وما رأوا سيئاً، فهو عند الله سيئ"

"Sesungguhnya Allah melihat kepada hati-hati para hamba-Nya, maka Allah mendapati hati Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah sebaik-baik hati para hamba, lalu Allah memilih beliau untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya kemudian Dia melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad, maka Allah mendapati hati-hati para shahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba-Nya, lalu Allah menjadikan mereka penolong-penolong nabi-Nya, mereka memperjuangkan agamanya, apa yang dianggap kaum muslimin baik maka hal itu di sisi Allah adalah baik dan apa yang dianggap kaum muslimin buruk maka hal itu adalah buruk di sisi Allah"[30].

Jadi ال dalam kata المسلمون bukan untuk keumuman tetapi untuk perjanjian.

Jikalau kalimat "kaum muslimin" di dalam atsar maknanya bukan para shahabat radhiyallahu 'anhum, maka berarti maksudnya adalah ijma',
Al 'Izz bin Abdis Salam rahimahullah berkata:

"إن صح الحديث عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، فالمراد بالمسلمين أهل الإجماع"

"Jika hadits ini shahih maka maksud "kaum muslimin" adalah para ahli ijma'[31].

Mari perhatikan perkataan kebanyakan ulama yang menyebutkan atsar ini sebagai dalil ijma’

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

قال ابن كثير:"وهذا الأثر فيه حكايةُ إجماعٍ عن الصحابة في تقديم الصديق، والأمر كما قاله ابن مسعودٍ".

“Dan Atsar ini di dalamnya terdapat cerita tentang Ijma’nya para shahabat dalam pengedepanan Ash Shiddiq dan perkara sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.”

Ibnu Al Qayyim rahimahullah berkata setelah menyebutkannya dengan membantah orang-orang yang berdalil dengannya:

"في هذا الأثر دليل على أن ما أجمع عليه المسلمون ورأوه حسناً؛ فهو عند الله حسن، لا ما رآه بعضهم! فهو حجة عليكم".

“Di dalam atsar ini terdapat dalil bahwa apa yang di sepakati oleh kaum muslim dan apa yang mereka anggap itu baik, maka hal itu disisi Allah adalah baik, bukan yang dianggap sebagian dari mereka, maka ia adalah pemberat atas kalian.”[32]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

" الخبر دليل على أن الإجماع حجة، ولا خلف فيه".

“Riwayat ini adalah bukti bahwa ijma’ adalah hujjah pemberat dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.”[33]

Asy Syathibi rahimahullah berkata:

"إن ظاهره يدل على أن ما رآه المسلمون بجملتهم حسناً؛ فهو حسنٌ، والأمة لا تجتمع على باطلٍ، فاجتماعهم على حسن شيءٍ يدل على حسنه شرعاً؛ لأن الإجماع يتضمن دليلاً شرعياً".

“Sesungguhnya lahirnya menunjukkan bahwa apa yang dianggap oleh kaum muslim secara menyeluruh baik, maka ia adalah baik, karena umat ini tidak berkumpul di atas kebatilan. Jadi, kesepakatan mereka atas kebaikan sesuatu menunjukkan kebaikannya secara syari’at, karena ijma’ mencakup dalil yang sayr’ie.”[34]

Ibnu Hazm berkata setelah menyebutkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

" فهذا هو الإجماع الذي لا يجوز خلافه لو تيقن، وليس ما رآه بعض المسلمين أولى بالاتباع مما رآه غيرهم من المسلمين، ولو كان ذلك لكنا مأمورين بالشيء وضده، وبفعل شيء وتركه معاً، وهذا محال لا سبيل إليه"

“Maka inilah dia ijma’ yang tidak boleh diselisihi, jika telah diyakini, dan bukan apa yang dianggap baik oleh sebagian kaum muslim lebih utama untuk diikuti dari apa yang dilihat oleh selain mereka dari kaum muslim. Kalau demikian adanya, niscaya kita akan diperintahkan untuk mengerjakan sesuatu dan kebalikannya, melakukan sesuatu dan meninggalkannya secara bersamaan, dan ini mustahil, tidak ada jalan kepadanya.”[35]

Setelah disebutkan penjelasan-penjelasan para ulama di atas, maka kita tanyakan kepada mereka yang masih menyatakan adanya bid’ah hasanah dengan dalih riwayat di atas: "Apakah ada satu bid'ah yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin akan kebaikannya?", maka jawabannya adalah tidak akan pernah ada.[36]

Bagaimana mungkin berdalil dengan perkataan seorang shahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang adanya bid’ah hasanah, padahal beliau adalah seorang yang paling gigih melarang perbuatan bid’ah, beliaulah yang berkata:

"اتبعوا ولا تبتدعوا؛ فقد كفيتم، وكل بدعةٍ ضلالة" رواه الدارمي في سننه"

“Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid’ah, maka sungguh telah cukup bagi kalian, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[37]

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Rabu, 17 Rabiuts TSani 1434H, Dammam KSA

[1] Hadits riwayat Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43, 42), Ahmad (4/126-127) dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Al Hakim di dalam Al Mustadrak (1/95) dan juga Al Albani di dalam Irwa Al Ghalil (no. 2455).
[2] QS. Ali Imran: 185.
[3] Lihat: Al 'Itisham (1/108).
[4] Lihat: Al Ibda' fi kamal Asy Syar' wa Khathar Al Ibtida', hal: 12-14.
[5] HR. Ahmad (no. 20126) dan Abu Daud (no. 4958), lihat: Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (no. 346).
[6] Diriwayatkan oleh Ath Thabarani di dalam Al Mu'jam Al Kabir (no. 8770), Al Haitsami di dalam kitab Majma' Az Zawa-id menyatakan bahwa para perawinya adalah perawi kitab shahih.
[7] Diriwayatkan oleh Al-Laalaka-i di dalam Syarh Ushul Al I'tiqadi Ahlissunnah wal Jama'ah (1/134).
[8] Riwayat Ahmad di dalam kitab Az-Zuhd (4/124.)
[9] Lihat: Thabaqat Al Hanabilah, karya Abu Ya'laa (1/94).
[10] Imam Muslim telah menjelaskan sebab terjadinya hadits ini:

عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى صَدْرِ النَّهَارِ قَالَ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِى النِّمَارِ أَوِ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِى السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ « (يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ (إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) وَالآيَةَ الَّتِى فِى الْحَشْرِ (اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ) تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ - حَتَّى قَالَ - وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ». قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ - قَالَ - ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ ».

Artinya: "Al Mundzir bin Jarir menuturkan dari bapaknya radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada awal siang, datanglah beberapa orang dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tanpa baju, berselimutkan kain, sambil menenteng sejata, kebanyakan mereka berasal dari Mudhar, bahkan seluruh dari mereka berasal dari Mudhar, (melihat keadaan ini) wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerah karena melihat keadaan mereka yang miskin, kemudian beliau masuk (ke dalam rumah) lalu keluar dan memerintahkan bilal mengumandangkan adzan dan iqamah kemudian beliau mendirikan shalat, setelah beliau berkhutbah membaca ayat, artinya: "Wahai manusia, bertaqwalah kalian kepada rabb kalian yang telah menciptakan dari satu jiwa" sampai kepada akhir ayat yang artinya: "Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian". Dan kemudian beliau membaca ayat yang ada di dalam surat Al Hasyr, artinya: "Bertaqwalah kepada Allah dan perhatikanlah apa yang telah diperbuat oleh diri untuk hari besok( hari kiamat), dan bertaqwalah". Kemudian beliau bersabda: "Seseorang bershadaqah dari emas dan peraknya, dari pakaiannya, dari satu sha' gandumnya dan satu sha' kurmanya", sampai beliau bersabda: "Walaupun hanya dengan setengah dari satu biji kurma", lalu datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar membawa satu bungkusan, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu membawa bungkusan itu, bahkan memang dia tidak bisa membawanya, kemudian orang-orangpun mengikutinya (membawa bantuan) sampai aku melihat dua gundukan makanan dan pakaian, sampai aku melihat wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersinar seakan-akan lempengan perak yang bernyala-nyala, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik di dalam Islam maka untuknya pahala dan pahala orang yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya, tanpa mengurangi dari pahala-pahala mereka, dan barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang buruk di dalam Islam maka baginya dosa dan dosa yang mengerjakan sunnah yang buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa sedikitpun pelakunya".

[11] HR. Muslim (no. 1017), Tirmidzi (no. 2675) dan An Nasa-i (no. 2554).
[12] Lihat: Al Ibda', karya Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal: 19.
[13] Lihat: Al Ibda', karya Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, hal: 20.
[14] Hadits riwayat Ibnu Majah (207) dari Hadits Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu.
[15] Lihat: Keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma di dalam kitab Fadhail Ash Shahabah, karya Al 'Adawi, cet. Terbaru (hal. 31-64, 65-90).
[16] Diriwayatkan semisalnya oleh Ahmad (1/337) dan disebutkan Al Khatib di dalam kitab Al faqih wa Al Mutafaqqih (1/145), Ibnu Abdil Barr di dalam kitab Jami' Bayan Al Ilmi wa Fadhlih (2/239) dan Ibnu Hazm di dalam kitab Hajjat Al Wada' (hal. 268-269).
[17] Lihat: I'lam Al Muwaqqi'in (2/282).
[18] Lihat: I'lam Al Muwaqqi'in (2/282).
[19] Lihat: Thabaqat Al Hanabilah (2/15) dan Al Inabah (1/260).
[20]HR. Bukhari (no. 1129) dan Muslim (no. 761).
[21] Lihat: Lisan Al Arab (1/175).
[22] Lihat: Al 'Itisham (1/250).
[23] Lihat: Iqtidha' Ash Shirath al Mustaqim (hal. 276).
[24] HR. Ahmad 1/6379/84-85 (3600), cet. Ar Risalah dan lihat Kitab Al 'Ilal, karya Ad Daruqthni 5/66-67
[25] Lihat: Kasyf Al Khafa', karya 'Ajluni (2/245).
[26] Lihat: Nashb Ar Rayah (4/133).
[27] Lihat kitab Al Wahiyat, no. 452
[28] Lihat kitab Al Furusiyyah, hal. 61
[29] Lihat: Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, 2/17 (no. 533).
[30] HR. Ahmad
[31] Fatawa Al 'Izz bin Abdis Salam (no. 9).
[32] Lihat kitab al Furusiyyah, hal. 60.
[33] Lihat kitab Raudhatu An Nazhir, hal. 86
[34] Lihat kitab Al I’tisham, 2/655.
[35] Lihat kitab AL Ihkam Fi Ushul Al Ahkam, 6/197
[36] Lihat kitab Al Luma’ Fi Ar Radi ‘Ala Muhassin Al Bida’, hal. 30-31.
[37] HR. Ad Darimi di dalam kitab Sunan beliau.

Semoga bermanfaat.

Address

Pekan Baling
Baling
09100

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+60193747786

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when HMI Printing Centre posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to HMI Printing Centre:

Share